Wisata Budaya Baduy

Kampung Baduy

Kampung Baduy

Baduy atau orang kanekes, satu kata yang tampaknya tidak begitu asing di telinga kita dan pasti membawa kita membayangkan sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh prinsipnya untuk tetap hidup dalam kesederhanaan. Sekelompok masyarakat yang masih menolak untuk mengadaptasi serbuan teknologi dan tetap memegang tradisi untuk tidak terpengaruh dengan dunia luar.
Rumah Panggung

Rumah Panggung

Masyarakat baduy

Masyarakat baduy

Masyarakat yang sampai saat ini masih tetap mengandalkan berjalan kaki untuk bepergian dan menolak menggunakan alat transportasi modern. Dan tentunya banyak lagi ciri khas dari sekelompok masyarakat di sebelah barat pulau jawa ini berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya.
Warga yang akan melakukan aktivitas ekonomi

Warga yang akan melakukan aktivitas ekonomi


Padi Pocongan

Padi Pocongan


Ada sedikit kekhawatiran di hati ini, ketika seorang teman mengajak kami untuk mengisi liburan kali ini untuk melakukan perjalanan budaya ke baduy. Maklum saja, kali ini adalah moment yang lain dari biasanya karena kami biasanya melakukan liburan dengan melakukan pendakian ke gunung-gunung di seputaran pulau jawa. Apalagi kali ini anakku akan genap berusia 4 tahun, akankah kali ini aku merayakan ulang tahun ke 4 nya di Baduy? Sudah terbayang suasana sepi dan tanpa lampu akan menemani kami sepanjang liburan ini. Dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan istri tercinta, akhirnya kami putuskan untuk merayakan ulang tahun ke 4 “RE Rinjani Permata Hati Rahmat” di Baduy. Semoga saja perjalanan kami kali ini memberikan kesan yang begitu mendalam bagi si kecil. Dan semoga saja kelak jika dia dewasa akan terbiasa hidup bersahaja seperti masyarakat suku baduy yang akan kami datangi.
Lumbung Padi

Lumbung Padi


Belum saja bus kami berangkat menuju Kanekes, ada info yang sedikit mengecewakanku dari seorang. Informasi yang mengatakan bahwa kali ini kita tidak bisa masuk ke Baduy dalam, karena saat ini mereka sedang melaksanakan puasa tahunan. Sasada adalah hari besar bagi suku baduy. Jangankan kami yang nota bene orang luar, anak dan cucu mereka yang sudah tinggal di baduy luar pun tidak bisa masuk ke dalam Baduy dalam jika puasa ini sedang berlangsung dan harus rela menunggu selama lebih dari satu bulan untuk masuk menemui kerabatnya setelah upacara ini selesai. Baduy terbagi 2 yaitu baduy luar dan baduy dalam. Dan kehidupan merekapun sangat berbeda satu sama lainnya. Ini terlihat dari tata cara mereka berpakaian, baduy dalam menggunakan pakaian yang serba putih sedangkan baduy dalam menggunakan pakaian yang serba hitam. Baduy dalam masih berpegang pada aturan yang sangat ketat, seperti tidak memakai peralatan modern bahkan rokokpun mereka tidak menghisapnya serta untuk mandipun mereka tidak memakai sabun ataupun pasta gigi. Berbeda dengan baduy luar yang agak sedikit longgar dalam kehidupannya sehari-hari.
Jembatan Bambu

Jembatan Bambu


Tapi semangat untuk berangkat sangat menggebu-gebu tak peduli apakah tidak bisa ke baduy dalam atau tidak, yang pasti kali ini akan ku tinggalkan jejak kaki ku dan merayakan ulang tahun anakku di tanah baduy. Satu momen yang mungkin akan di ingat sepanjang hidupnya bisa menjalani hidup bersama masyrakat baduy selama beberapa hari. Hidup bersahaja tanpa bantuan teknologi selama beberapa hari, dan mengobati pengaruh buruk dari ketergantungan terhadap teknologi yang selama ini benar-benar menyiksaku. Membuang jauh segala macam hiruk pikuk gemerlap dunia kota dan mencoba hidup dengan keterbatasan dan kesahajaan masyarakat desa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s