Ketika kami terpaksa harus meracunimu anakku….!!!

Seorang gadis kecil duduk termenung di atas teras rumah berwarna hijau yang nampak usang di makan usia, tangannya yang lucu memegang sebuah alat dan jarinya dengan cekatan memainkan tombol PSP hadiah pemberian dari ayahnya karena hasil mendapatkan nilai yang cukup fantastis di tahun ini. Terkadang matanya yang polos terlihat begitu sibuk memandang lalu lalang kendaraan yang lewat di depan rumah tersebut. Rambutnya yang sedikit agak kecoklatan menyibakan raut wajah manis ketika di hempas angin di siang itu. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, entah apa yang saat itu sedang dinantikannya? Tak pernah ia bercerita apa yang telah terjadi selama ini, hanya saja hari itu dia terlihat begitu senang dan bahagia sekali.

Senyum indahmu

Senyum indahmu

Ayah pulang…..!!! Ayah pulang…..!!! Suara itu menyambutku di depan teras rumah, ku dengar kata itu diucapkannya berulang-ulang. Ada perasaan bangga dalam hatiku ternyata anakku selalu menantikan kepulangannku mencari rejeki di tanah seberang. Akan tetapi perasaan sedih selalu mengusikku setiap kali harus pulang mengambil jatah cutiku selama 2 minggu ke depan. Bagaimana tidak…? Waktu dua minggu terasa begitu cepat. Belum saja kami puas melepas rasa rindu yang mmendera waktu untuk bekerja dan setumpuk pekerjaan memaksaku kembali dan menanti selama 10 minggu ke depan untuk bertemu dengannya. Rutinitas 3 bulanan yang sungguh-sungguh menyiksa kami bertiga.

Belum Genap 1 Tahun Usiamu

Belum Genap 1 Tahun Usiamu

Sungguh terlalu besar pengorbanan gadis kecil ini, dari semenjak dirinya dilahirkan dan sampai saat inipun masih saja dia harus rela kehilangan perlindungan dan dekapan hangat seorang ayah untuk beberapa minggu. Ketika lahirpun aku merasa malu karena tidak mendampingi disaat penting, untuk mendengar tangisannya pertama kali. Ya itu memang salahku, ketika itu baru saja 2 hari aku bekerja di perusahaan asing dan tidak mungkin dalam waktu yang masih baru tersebut aku meminta izin untuk pulang dan memang saat itu juga tak ada tanda-tanda serta kabar dari bundamu yang memberitahukan bahwa dirimu telah lahir. Hanya saja, ada perasaan yang tidak menentu di saat dirimu dilahirkan ke dunia ini. Rasa tidak percaya bahwa aku telah menjadi seorang ayah, dan rasa bahagia karena dirimu lahir ke dunia ini dengan selamat.

Menuju Kampung Baduy

Menuju Kampung Baduy

Kini dirimu telah menjelma menjadi seorang gadis kecil yang cantik dan meskipun terkadang kamu terlihat begitu manja di sisi bundamu, tapi aku tahu bahwa dirimu adalah seorang anak yang kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupan kecilmu. Tanpa bimbingan penuh dariku kamu telah berhasil mengendarai sepedamu sendiri. Tanpa bantuanku kamu berhasil menyelesaikan semua permainan yang sangat sulit yang ada di laptop bunda. Tanpa ku ajari berhitung kamu berhasil mendapat nilai matematika 100 untuk ulangan harian padahal ketika aku seusiamu aku merasa begitu sulit belajar matematika. Kau membuatku bangga dengan berdiri di atas penggung untuk mendapatkan piala atas prestasimu, dan aku bangga ketika namaku juga ternyata di sebut di belakang namamu meskipun itu adalah hasil kerja keras dirimu dan bundamu.

Hari ini telah kuputuskan, akan ku bayar semua pengorbananmu selama ini. Akan ku ikuti kata hatiku untuk berada di dekatmu, melihatmu tumbuh besar dan mengantarmu kemanapun kamu mau. Hari ini kuputuskan untuk meninggalkan kemewahan fasilitas yang dimiliki karyawan pertambangan hanya untuk menemanimu menyelesaikan permainan dan menemani tidurmu. Akan kutemani dirimu untuk tidur di dalam tenda dome yang selalu kita bertiga lakukan ketika aku masih di rumah sana, dan memandang serta kita menghangatkan diri di depan tenda sambil menyalakan api unggun. Ya…. mendirikan tenda di alam terbuka seperti kita dahulu melakukannya di dekat Tebing Klapa Nunggal atau di kaki Gunung Sanggabuana atau sekedar mencoba menjadi orang pedalaman seperti yang kita bertiga lakukan dahulu ketika ke Kampung Baduy di saat dirimu berulang tahhun yang ke-4. Atau mandi di laut seperti yang kita lakukan di pantai Samudera baru dan Ujung genteng ketika itu.

Tebing Klapa Nunggal, Cileungsi

Tebing Klapa Nunggal, Cileungsi

Kampung Baduy, Banten

Kampung Baduy, Banten

Ujung Genteng, Sukabumi

Ujung Genteng, Sukabumi

Bersama Riyani Jangkaru

Bersama Riyani Jangkaru

Dirimu pun tak pernah sedikitpun mengeluh ketika kami berdua meracunimu untuk terpaksa menyukai hobby kami berdua menggiati olahraga alam terbuka. Meski kami merasa sangat bersalah karena anak seusiamu seharusnya tetap nyaman bermain bersama teman-teman kecilnya bukan malah bermain dengan bahaya seperti yang kamu lakukan saat ini. Ya itulah dirimu seorang gadis perkasa yang rela harus menempuh ribuan kilometer dan lebatnya belantara kalimantan hanya untuk bertemu denganku dan sekedar tahu di mana ayahmu bekerja.

Di Gate KPC Coal Mine Project Sengatta Kal-Tim

Di Gate KPC Coal Mine Project Sengatta Kal-Tim

Aku yakin kamu pasti menantikan saat itu akan tiba, saat dimana ayahmu sudah tidak akan kembali ke Kalimantan hanya untuk mencari segenggam rejeki. Semoga saja, waktu dua bulan ini akan cepat berlalu dan aku bisa kembali bersamamu gadis kecilku…

Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

May 28, 2013

Iklan

10 thoughts on “Ketika kami terpaksa harus meracunimu anakku….!!!

  1. Mas Rahmat.. asli judulnya serem banget !!!
    Gimana skrg mas, mudah2an udah bisa kumpul sama keluarga ya… sedih juga baca ceritanya… hiks…
    Tetep samangat mas Rahmat…

  2. Hahaha…Sorry mbak judul nya agak serem, biar menarik teman2 supaya mampir di blog yang belum sempurna ini 😀
    Masih belum bisa kumpul, tapi alhamdulillah sekarang 1 minggu di Jakarta jadi masih bisa pulang ke rumah
    Terima kasih yah, sudah mampir (y)

  3. mantaps,,,, say salah satu penggema berat tulisan anda,,,, tulislah menulis kawan,,,,
    jangan lupa tahun baru,,,,,, tanjakan kopi sangga buana menunggu,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s