Antara Cinta, Tugas & Kewajiban

Sudah di kasih enak masih saja merasa kurang bersyukur, mungkin sudah sifat dasar manusia seperti saya yang telah diberi kesempatan untuk bisa pulang kampung dengan gratis tapi tetap saja masih merasa kurang. Diberi kesempatan mengikuti training Basic Management Progam di Orchardz Hotel Jl. Industri – Gunung Sahari Jakarta Pusat selama 2 hari, mungkin bisa sedikit mengurangi rasa jenuh setelah hampir 2 bulan bersemedi di dalam hutan. Tetapi rasa rindu akan hangatnya dekapan istri dan senyuman si kecil tetap saja memaksaku harus kembali ke rumah untuk bertemu mereka di Bekasi.

Dengan jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya bisa saja untuk pergi dari rumah meskipun harus berangkat dipagi buta karena kondisi transportasi jakarta yang tidak menentu. Akan tetapi karena tugas dari perusahaan, keinginan untuk bertemu mereka sepertinya harus ku tahan untuk sejenak. Mungkin hari ini setelah training selesai pada jam 16.00 bbwi saya harus segera beranjak dari hotel dan pergi berjumpa dengan mereka karena beruntung tiket pesawat besok pada jam 15.00 bbwi. Alhamdulillah, ada juga kesempatan meski hanya sebentar saja dan saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Hidup seperti ini memang terasa sangat menjengkelkan dan memuakan, bagaimana tidak dengan waktu yang sangat sempit kita harus bisa mengatur skala prioritas jadwal selama berada di jakarta. Jika beruntung kesempatan untuk bertemu sahabat lama dari seluruh site di Indonesia bisa terlaksana, jalan-jalan di PRJ dan membeli beberapa barang elektronik pesanan teman di kalimantan bisa juga dilakukan dan yang terakhir kesempatan bertemu dengan keluarga pun bisa saya lakukan.

Akhirnya dengan hidup terbiasa seperti ini yang selalu dikejar-kejar jadwal, saya jadi semakin terbiasa untuk selalu memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Sehingga tidak banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan berleha-leha dan bersantai sejenak. Tidak banyak dari kita bisa mengatur waktu seperti yang telah saya lakukan, meskipun hal itu terpaksa. Mungkin sudah ditakdirkan oleh sang Maha Kuasa, jadi nikmati dan syukuri saja keadaan ini.

Insyaallah….

Iklan

Menggapai Tebing Klapa Nunggal – Cileungsi

Tebing Klapa Nunggal yang terletak di Klapa Nunggal kecamatan Cileungsi Kabupaten Bogor ini telah menghasilkan beberapa atlit panjat profesional di lingkungan Kabupaten Bogor, kabupaten Bekasi dan sekitarnya. Letaknya yang berada di area pertambangan kapur milik PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk ini dahulu ketika pertengahan tahun 2003an sempat akan diratakan oleh sang pemilik lahan. Dengan perjuangan beberapa rekan-rekan pecinta alam se-Jawa Barat & Jakarta akhirnya perusahaan urung untuk meratakan tebing tersebut dan sampai saat ini mungkin lokasi tebing masih dipakai untuk tempat berlatih teman-teman FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia).

Medannya Lumayan Sulit

Medannya Lumayan Sulit


Akses yang mudah dari arah Cikarang jika kita naik kendaraan adalah dari arah Warung Bongkok kemudian masuk ke dalam Kawasan Industri MM2100 dan carilah jalan keluar yang menuju ke Pasar Setu Bantar Gebang. Setelah melewati pasar, ambil jalan lurus menuju ke arah Kampung Gaok Bekasi kemudian Cileungsi. Jika telah sampai dipersimpangan Cileungsi, ambil jalan lurus ke arah Bogor dan jangan sampai mengambil arah ke kiri yang menuju Jonggol atau ke kanan menuju Cibubur Jakarta Timur.
Bukit Jempol

Bukit Jempol


Berhati-hatilah di persimpangan ini, karena keadaan yang masih sedikit tidak teratur dari parkir angkutan umumnya. Setelah melewati persimpangan, jalan raya yang membentang cukup lebar menuju ke arah kabupaten Bogor. Bisa dilihat di sebelah kiri dan kanan jalan banyak perusahaan berdiri, hal ini mungkin disebabkan lokasi yang strategis dekat dari jakarta. Beberapa saat sebelum memasuki Klapa Nunggal, ada jalan ke arah kiri yang menuju ke tebing tersebut. Pelankan laju kendaraan, karena kemungkinan besar kita akan sedikit bingung dibuatnya karena jalannya cukup sempit.
View Sunrise

View Sunrise


Kurang lebih 10-15 Kilometer, kita bisa sampai di tanah lapang milik perusahaan semen ini. Suasana panas yang menyengat sangat terasa disini dikarenakan area ini merupakan area tambang terbuka, sehingga panasnya masih terasa meskipun sudah malam. Untuk mendapatkan view yang bagus, ada baiknya mengambil salah satu tebing yang berada menghadap tebing jempol karena bentuknya mirip sekali seperti tangan sedang mengepal dan jempol yang mengacung. Ada area yang cukup luas di atas bukit tersebut, dan areanya sangat rata seperti sebuah meja besar. Cukup untuk menampung beberapa tenda dan bisa dipakai untuk tempat berbagi cerita melepas kelelahan.
Suasana Yang Selalu Di Tunggu

Suasana Yang Selalu Di Tunggu


Member KPA RANTING

Member KPA RANTING


View Sunrise

View Sunrise


Jangan membawa baju yang terlalu tebal di area ini, karena pada siang harinya terik matahari terasa sangat menyengat kulit dengan kelembaban udara yang sangat rendah sehingga keringat akan menetes setiap saat. Untuk menuju tebing latihan, kita bisa menuruni bukit tersebut dan mengambil jalan ke kiri, nantinya akan masuk ke semak belukar yang cukup tebal dan barulah terlihat tebing tersebut. Temperatur udaranya sangat berbeda jauh dengan tempat tadi, di sini udaranya terasa sangat sejuk dan bisa dipakai untuk beristirahat sejenak ketika hari sedang terik-teriknya.
Tepar Sehabis Begadang

Tepar Sehabis Begadang


Dapur Umum

Dapur Umum


Go'a

Go’a

Menanti Fajar Pertama Tahun 2010 Di Cidahu – Sukabumi

Masih saja ada rasa khawatir ketika beberapa teman terbaikku mengajak untuk kembali mencumbui harumnya tanah basah di Gunung Salak pada pergantian awal tahun 2010. Mungkin karena sebelumnya kami (my beloved family) sudah punya rencana lain untuk menghabiskan malam pergantian tahun 2009. Tapi memang dasar panggilan alam, tetap saja langsung ku iyakan ajakkan teman-teman untuk kembali menikmati saat minum secangkir kopi panas di gunung salak. Akan tetapi ada hal agak berbeda kali ini, cantik “Rinjani” akan ikut beserta kami mencumbui rimbunnya rimba salak melalui jalur Cidahu Kabupaten Sukabumi.

Rinjani Terlelap Di Tenda

Rinjani Terlelap Di Tenda


Secepat kilat kami buatkan kaos dengan tema “Family Vacation” karena acara pendakian kali ini adalah acara kebersamaan keluarga kelompok pecinta alam RANTING. Meski hanya dengan pola yang sederhana, akan tetapi motif dari gambar yang dibuat oleh bang Opack & bang Tulang menjadikan sangat enak dilihat. Mungkin warna kasnya yang putih polos serta motif gambar hanya garis hijau sederhana menjadikan kaos ini adalah salah satu kaos favorite yang saya kenakan untuk sehari-hari.

Karena trayek Cikarang – Sukabumi sudah ditiadakan mungkin dikarenakan penumpang yang sedikit, dengan terpaksa akhirnya kami putuskan untuk ke terminal kampung rambutan dahulu dengan naik Patas 9B jurusan Cikarang – Kampung Rambutan, dengan harapan penumpang yang berlibur ke arah sukabumi agak sedikit berkurang. Ternyata perkiraan kami salah, bus menuju sukabumi selalu sarat dengan penumpang libur panjang. Beruntung kami masih mendapatkan tempat duduk dalam perjalanan kali ini, dengan posisi agak nyaman di belakang supir bus. Macet adalah hal biasa setelah keluar pintu tol jagorawi, bahkan untuk kali ini ternyata cukup panjang.

Salah Satu Vegetasi

Salah Satu Vegetasi


Vegetasi

Vegetasi


Sesampainya di pertigaan Cidahu, kami putuskan untuk mencharter sebuah angkot untuk melanjutkan perjalanan naik ke pintu masuk Wana Wisata Cidahu. Untuk ke Camping Ground Cidahu mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, ini merupakan yang ke empat kalinya aku menyambangi tempat ini. Sudah banyak perubahan sejak pertama kali aku mengunjungi tempat ini pertama kali pada tahun 1999 silam. Untuk menuju pintu masuk Gunung Salak, kita masih harus berjalan kaki lagi beberapa kilometer dengan pemandangan yang menakjubkan di kiri dan kanan jalan beraspal. Tapi untuk perjalan kali ini kami putuskan untuk menikmati pergantian tahun 2010 ini di depan gerbang saja dengan alasan cuaca yang sedang tidak baik dan membawa si kecil.
Gerbang Pendakian Puncak Gunung Salak

Gerbang Pendakian Puncak Gunung Salak


Menuju Gerbang Pos Pendakian G. Salak

Menuju Gerbang Pos Pendakian G. Salak


Ada beberapa spot menarik di area Cidahu, seperti : Air terjun di bawah pos masuk pertama dan Air terjun di bawah gerbang pendakian untuk ke puncak salak II. Akhirnya melewati pergantian tahun di Cidahu menjadi satu lagi kenangan manis yang membekas di lubuk hati kami dan memberikan pengalaman berharga lagi untuk si kecil Rinjani.
Curug Di Bawah Pos pendakian

Curug Di Bawah Pos pendakian


Bunda Menuju Jalan Ke Curug

Bunda Menuju Jalan Ke Curug


View Sunrise G. Gede

View Sunrise G. Gede


Thank Guy's For Nice Trip

Thank Guy’s For Nice Trip


Rinjani Tetap Semangat

Rinjani Tetap Semangat

Geliat Metropolis Tanjung Tabalaong Part II

Jika anda berangkat dari kota Banjarmasin, maka pertama kali ketika akan memasuki kota ini anda akan di sambut bunyi gemuruh kendaraan Hauling milik beberapa kontraktor pertambangan batu bara. Ya jalan hauling dari stock file menuju pelabuhan zeti milik PT. Adaro sejauh kurang lebih 84 Km dari area pertambangan memang membelah jalan provinsi Kalimantan Selatan dan berada di provinsi Kalimantan Tengah. Kemudian di sebelah sisi kiri jalan raya, anda akan melihat beberapa sumur minyak milik Pertamina yang masih aktif.

Setelah melewati area perkampungan transmigrasi, barulah terlihat sedikit gemerlap suasana kota Tabalong ini. Bandara Warukin terletak di sebelah kiri jalan, kemudian komplek Islamic Centre dengan bangunan Masjid Al Abrar nan megah yang belum di resmikan terletak di sebelah kanan jalan dan menara dari masjid tersebut dapat terlihat dari kejauhan sebelum kita melewati Hotel Aston Tanjung dan komplek pertokoan. Berhadapan dengan hotel terletak tempat karaoke Inul Vista yang cukup besar dan terlihat sangat ramai ketika akhir pekan dan menjadi satu-satunya tempat berkumpul yang cukup bersahabat dengan kantong.

Masjid Al-Abrar

Masjid Al-Abrar


Masjid Al-Abrar

Masjid Al-Abrar


Komplek Islamic Center Tanjung

Komplek Islamic Center Tanjung


Melangkah ke depan, maka akan terlihat Terminal Mabuun yang terletak berdampingan dengan Tugu Obor Mabuun. Terminal ini letaknya sangat strategis, karena berada di simpang 5 mabuun yang merupakan persimpangan menuju provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Jika akan menuju ke pasar dan pusat kota maka kita harus mengambil ke arah kiri jika dari arah banjarmasin dengan di tandai jalan 4 lajur yang sangat terawat dan cukup lengang. Pusat kota dapat diketahui dengan bederetnya komplek pertokoan dan beberapa Bank serta terdapat gedung Saraba Kawa (Serba Bisa dalam bahasa Indonesia). Kita juga bisa menjumpai Masjid dan air mancur yang terletak di depan Taman Kota Tanjung Tabalong. Satu hal yang sangat menarik di kota ini adalah tidak adanya mall perbelanjaan dan puluhan langgar yang semakin menambah agamis karena memang suku banjar sangat mencintai agama islam.

Hotel dan beberapa penginapan dapat kita jumpai sejak kita memasuki kota ini, seperti Hotel Jelita Tanjung & Hotel Indiana dekat jembatan yang terletak di jalan Ir. PHM Nor dengan kamar yang cukup mewah. Untuk mereka yang senang bakpackeran dapat memilih penginapan murah yang banyak di jumpai seperti Hotel Surya.
Sepertinya geliat ekonomi dari kota ini perlahan menuju ke arah yang semakin bagus karena didukung infrastruktur yang sangat mendukung dan tata kota serta perencanaan yang cukup baik. Setelah cukup puas berkeliling, penulis akan mencoba melakukan perjalanan budaya di kota ini.

Bandara Warukin

Bandara Warukin


Pesawat Banjarmasin - Tanjung

Pesawat Banjarmasin – Tanjung

Pantai Ujung Genteng

Jika bukan karena omongan kakek mungkin rasanya malas sekali untuk melakukan silaturahmi ke Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Ya sudah hampir 18 tahun lebih saya belum mengunjunginya, karena kunjungan terakhir yang saya ingat adalah pada tahun 1995 ketika masih menjadi siswa kelas III SMP. Wajar saja si kakek selalu menanyakan keadaan saya karena sudah sekian lama tidak melihat saya dan kebetulan dia tahu akan rencana kedatangan saya untuk silaturahmi ke rumahnya selepas istirahat sejenak setelah melakukan perjalanan jauh dari Kalimantan. Cucu yang tidak tahu terima kasih, mungkinkah perasaan itu terbesit di pikiran si kakek :D?

Bersama Kakek & Istrinya

Bersama Kakek & Istrinya

 

Di Depan Halaman Rumah Kakek

Di Depan Halaman Rumah Kakek

 

Rumah Kakek

Rumah Kakek

 

Sungai Depan Rumah Kakek

Sungai Depan Rumah Kakek

Perjalanan selama kurang lebih 12 jam kami lakukan, untung saja perjalanan kali ini kami lakukan bersama dengan keluarga besar tercinta. Alhasil rasa letih yang mendera karena harus melakukan perjalanan ribuan kilometer seminggu kebelakang. Melewati macetnya tol Jagorawi, di sambung merayapnya kendaraan di Cidahu kemudian di Jl. Sudirman Kota Sukabumi menjadikan perjalanan ini terasa begitu berat. Mungkin karena rindu yang begitu mendalam karena ingin berjumpa dengannya setelah 18 tahun tidak berjumpa. Apalagi jika mengingat suasana perkampungan di rumah kakek yang begitu masih asri dan belum tersentuh listrik sama sekali, semakin membuat saya kembali teringat dengan suasana kampung baduy.

Apalagi pantai ujung genteng yang ketika terakhir saya ke sana pada tahun 1995 belum begitu terkenal, untuk itu semoga saja setelah silaturahmi ke rumah kakek di Ciracap ada baiknya sebelum kembali ke Bekasi nanti kami akan mengunjungi Pantai Ujung Genteng. Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta atau 230 kilometer dari Kota Bandung.

Pohon Ketapang

Pohon Ketapang

 

Anak, Adik & Sepupuku Terlihat Akrab

Anak, Adik & Sepupuku Terlihat Akrab

Pantai Ujung Genteng memiliki karakteristik umumnya pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal bersih airnya dan ombaknya yang besar. Walaupun demikian, pantai ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pantai Pelabuhan Ratu yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa karena ombaknya yang ganas. Walaupun pantai Ujung Genteng menghadap bebas ke Samudera Hindia, namun ombaknya yang besar tak membahayakan pelancong yang gemar bermain-main di laut. Ombak besar dari tengah samudera lebih dulu pecah berserak lantaran terhalang gugusan karang laut di depan bibir pantai, sehingga kita dapat menikmati alam dengan pantai yang indah, aman, dan nyaman. Anak-anak boleh berenang di laut sepuasnya dan memungkinkan memandang sekumpulan ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang, menandakan betapa alaminya lingkungan Ujung Genteng.

Candid View :D

Candid View 😀

 

Landscafe Pantai Ujung Genteng

Landscafe Pantai Ujung Genteng

Untuk menuju Ujung Genteng, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, tujuan pertama adalah terminal Sukabumi dan carilah angkutan kota menuju terminal Lembur Situ. Setelah itu, Anda bisa menggunakan bus atau elf jurusan Surade.

Sesampainya di Terminal Surade, Anda bisa naik angkot warna merah jurusan Ujung Genteng. Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, silakan langsung dari sukabumi menuju Ujung Genteng yang ditempuh selama 3-4 jam perjalanan.

Ujung Genteng adalah alam liar yang sungguh mempesona yang dimiliki oleh Indonesia. Sayangnya, ada beberapa tempat di sana yang kurang terawat dan kurangnya fasilitas-fasiltas pendukung. Banyak jalanan yang menuju Pantai Pangumbahan, Pasir Putih, dan Pantai Ombak 7 yang masih belum di aspal. Namun, hal ini mennjukan bahwa pantai-pantai itu masih alami. Ingat, mesin ATM juga tidak ada di sana lho!

Perahu Nelayan

Perahu Nelayan

 

Rinjani Kecil Di Tumpukan  Kulit Kerang

Rinjani Kecil Di Tumpukan Kulit Kerang

Saya menyarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk traveling ke Ujung Genteng. Hal ini dikarenakan banyak spot pantai dan air terjun yang jaraknya lumayan berjauhan. Selain itu, fasilitas kendaraan umum juga kurang.

Ini dia spot-spot pantai dan air terjun yang indah di Ujung genteng:

1. Pantai Tenda Biru
Pantai ini masih sangat alami karena berada di kawasan hutan lindung yang dijaga pihak TNI AU. Biaya masuknya sebesar Rp 5.000 saja. Pantai ini sangat bagus, karena disaat air surut kita bisa jalan hampir 200-300 meter dari bibir pantai ke tengah. Pasir putih dan hamparan batu karang begitu mempesona, sayang kurang terawatnya pantai ini mengakibatkan banyaknya sampah yang berserakan.

2. Pantai Minajaya
Pantai Minajaya mirip seperti Pantai Tenda Biru. Jika air laut surut, kita bisa melihat ibu-ibu pencari jukut hejo (rumput hijau) di pinggiran ombak dan bapak-bapaknya mencari udang lobster. Di sini, kita bisa membeli ikan atau udang tangkapan nelayan yang masih segar untuk dimasak dan makan di saung-saung pinggir pantai. Lagi-lagi saya tidak menemukan tempat sampah di area pantai.

3. Pantai Pangumbahan
Hamparan pasir putih menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan. Di sini banyak wisatawan asing yang bermain surfing dan adanya tempat penangkaran penyu. Bersyukur, saya bisa melihat pelepasan tukik sebanyak 150 ekor. Semua pengunjung bertepuk tangan di saat tukik-tukik penyu dilepas pemandangan yang mengharukan buat saya.

4. Pantai Amanda Ratu
Pantai ini terletak di villa Amanda Ratu. Kita bisa menikmati laut lepas Samudera Hindia dengan deboran ombak yang memikat hati.

5. Pantai Cipanarikan atau Pasir Putih
Hamparan pasir putih menghiasi pantai ini. Pemandangan yang sangat luar biasa antara pertemuan air laut dan air tawar muara di sini, seolah gurun pasir putih. Sangat alami! Untuk menuju ke pasir putih, kendaraan harus di parkir di sebuah kebun. Lalu kita jalan kurang lebih 3-5 menit menyusuri hutan lindung. Di sanalah kita disuguhi alam liar dengan hamparan pasir putih lambut yang masih perawan.

6. Pantai Ombak 7
Untuk menuju ke sana, menurut penduduk setempat, harus menggunakan ojek dengan tarif Rp 150 ribu lalu menyusuri hutan melewati 3 sungai dengan jalan setapak. Jika hujan, tarif ojek bisa sampai Rp 200-250 ribu karena jalanan sangat terjal. Ombak 7 ini diberi nama oleh wisatawan asing, karena di sana ombaknya bagus untuk surfing. Mudah-mudahan saya bisa ke sana dilain waktu.

7. Curug Cikaso
Air terjun Cikaso memiliki pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Letaknya memang sangat jauh dari pantai-pantai. Jika Anda membawa kendaraan sendiri, bisa kembali ke arah Surade dan jika anda menggunakan kendaraan umum, Anda bisa menyewa ojek atau angkutan kota karena untuk menuju wisata air terjun Cikaso belum ada kendaraan umum. Dari tempat parkir kendaraan, Anda bisa naik perahu dengan membayar Rp 60.000 per rombongan. Atau, Anda bisa jalan kaki dengan jarak tempuh sekitar 5 menit, kurang lebih 200 meter.

8. Curug Luhur
Jika pertama kali melihatnya seperti kurang tertarik, karena curug ini sebuah sungai. Tetapi, setelah saya turun ke bawah, pemandangannya sungguh menakjubkan. Sungai dengan dasar bebatuan menghiasi keindahan tersendiri seperti taman surga, karena saat musim kemarau air terjun ini tidak ada airnya.

Sumber : Disini

Aquatic Beach Dan Segala Macam Aturannya

Belum lengkap rasanya dua tahun hidup di Sengatta jika belum mengunjungi Aquatic dan Tanjung Bara, apalagi mungkin ini adalah kesempatan terakhir sebelum berangkat menuju belahan bumi lain di bagian selatan pulau Kalimantan. Pantai ini tepat terletak di bibir selat makasar dan terletak di kabupaten Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur. Tentunya dengan berbekal Id KPC yang masih berlaku dan mempersiapkan diri dengan APD (Alat Pelindung Diri) karena pelabuhan ini berada di area penambangan batu bara milik PT Kaltim Prima Coal.

Pengapalan Batu Bara

Pengapalan Batu Bara


Pelabuhan Tanjung Bara

Pelabuhan Tanjung Bara

Untuk masuk ke area aquatic ini diperlukan beberapa persyaratan khusus, seperti KTP, Id karyawan KPC dan safety helmet. Jadi jangan sekali-kali mencoba masuk ke area ini jika anda tidak memakai helm, karena tentu saja security KPC akan menahan anda agar tidak memasuki area pertambangan. Akses ke area ini sebenarnya cukup mudah jika kita memiliki beberapa persyaratan tersebut, karena kita melalui jalan hauling tambang KPC. Jadi bisa di bayangkan betapa berbahayanya jika anda berada di jalan tersebut, apalagi bagi anda yang belum familiar dengan aturan di area pertambangan.

Tugu

Tugu


Memasuki kawasan Tanjung Bara banyak ditemukan monyet dan ada pengumuman bertuliskan “do not feed the monkey” jangan memberi makan monyet. Mungkin supaya monyetnya hidup alami, sehingga tidak terbiasa makan dengan cara mudah dari pemberian atau belas kasihan manusia. Kawasan ini memang berada di wilayah hutan bakau sehingga tidak hanya monyet yang bisa dijumpai disini ada juga buaya muara dan buaya air asin yang terkadang melintasi jalan menuju aquatic beach.
Gazebo

Gazebo


Tidak jauh dari situ ada papan yang bertuliskan CAUTION CROCODILE…!!!, kemungkinan ada buaya lewat jalan ini, karena memang Buaya di Sengatta terkenal karena ukurannya dan masih banyak di temukan di area tambang ! Itu belum seberapa, di dekat pantainya sendiri ada pengumuman lagi yang bertuliskan hati-hati daerah sini ada jellyfish (ubur-ubur), stingfish (ikan pari), stonefish (ikan kerapu batu) selain crocodile (buaya).

Pengumuman-pengumuman tersebut sudah ada sejak dahulu kala, akan tetapi bedanya kali ini kami perhatikan benar-benar karena ada pengumuman kecil tentang kejadian yang terjadi 25 Maret lalu saat seorang anak yang sedang berenang tersengat oleh sesuatu yang diperkirakan sebagai ubur-ubur kotak (box jellyfish) yang berujung pada kematian. Jadi jangan pernah berpikir untuk berenang ataupun snorkling di Aquatic beach, jika tidak mau berurusan dengan buaya air asin, Ikan pari dan ubur-ubur kotak. Beruntung, saya tidak pernah ingin mencoba untuk berenang di pantai ini…

Salah Satu Peringatan :D

Salah Satu Peringatan 😀

Jawaban Klasik Para Pendaki Gunung

Untuk apa bersusah-susah payah mendaki gunung sampai puncak jika setelah sampai puncak hanya beberapa menit kemudian turun…?. Untuk apa mencintai olahraga yang menantang maut dan menyerempet bahaya seolah tidak ada lagi olahraga lain yang lebih baik?. Mungkin terkadang bagi kita para penikmat olahraga kegiatan alam terbuka atau olahraga yang sedikit agak ekstrim terkadang sering dibingungkan oleh berbagai pertanyaan semacam ini. Termasuk penulis sendiri yang sampai saat ini masih belum menemukan jawabannya.

Menanti Sunrise

Menanti Sunrise


Ada sebagian orang berkata “ Apakah ingin mati kalian pergi ke gunung?”. Sebuah kalimat yang membuat saya tercengang, karena menurut saya untuk mati tidak perlu pergi ke gunung. Dengan berjalan kaki di atas trotoar saja bisa saja anda mati karena tertabrak kendaraan dari belakang karena memang sudah takdir atau bisa saja ketika anda mandi kemudian terpeleset di kamar mandi dan membentur wastafel. Hidup dan mati adalah urusan yang maha kuasa, kita tidak boleh mendahului-Nya. Sebenarnya olahraga mendaki gunung adalah olahraga yang sangat aman, jika kita dibekali oleh kemampuan mengatur sebuah perjalanan itu sendiri. Pengetahuan tentang kondisi alam di sana bisa dipelajari dari berbagai informasi yang bisa anda peroleh dengan mencarinya di internet.

Dengan mengatur perbekalan logistik, peralatan yang lengkap untuk mendaki, persiapan fisik dan mengetahui kondisi sekitar adalah modal sebelum kita mendaki gunung. Karena alam bukan untuk di taklukan akan tetapi untuk disiasati. Jangan berfikir dengan telah mencapai puncak, kita sudah menaklukan alam. Akan tetapi berpikirlah bahwa dengan sampai ke puncak gunung kita sudah bisa menaklukan keegoisan diri kita sendiri dan resapilah bahwasanya kita hanyalah mahluk kecil yang tidak berdaya di hadapan Tuhan, dan berusaha menggapai ridho-Nya.

Hidup ini tidak hanya di isi dengan lahir, besar kemudian mati….!!! Akan tetapi makna dari proses itulah yang paling penting. Tidak ada seorang pun yang ingin terlahir untuk susah, dan jika boleh memilih tentunya semua orang akan memilih untuk dilahirkan sebagai orang yang serba berkecukupan. Memang tidak salah jika kita berpikir dan berharap menjadi orang yang terlahir dari rahim seseorang yang serba berkecukupan, akan tetapi jika nyatanya sekarang kita telah dilahirkan sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa. Apakah kita harus menyesalinya seumur hidup kita? Apakah kita akan melacurkan diri dan kemudian terus-menerus meratapi nasib sepanjang umur kita.

Untuk itulah saya mendaki gunung untuk mengetahui begitu kerasnya proses kehidupan yang harus kita jalani. Dengan mendaki gununglah saya bisa menemukan arti sebuah kehidupan, dan dengan dekat dengan alamlah saya bisa merasakan bahwa saya hanyalah satu noktah kecil diantara lingkaran besar kehidupan. Saya menemukan kedamaian yang tidak mereka dapatkan di kota serta saya merasakan lebih dekat dan nyaris tanpa penghalang dengan sang khalik. Dengan mendaki gunung saya merasakan cinta yang begitu besar dari –Nya meskipun terkadang saya lalai dan sering melupakannya.

Berselimut angin dingin dan nafas tersengal di tengah udara tipis adalah sebuah seni tersendiri dalam proses pendakian. Berteman pacet yang selalu setia menemani dan menghirup harumnya aroma tanah basah adalah hal yang selalu di nanti. Menggelar matras di depan tenda dan hangatnya api unggun serta tidur di bawah langit malam dengan memandang bintang serta celotehan dan ejekan kecil khas pendaki gunung merupakan suasana yang selalu di rindukan. Berbagi gelas minuman dan sendok adalah hal biasa yang membuat kami semakin akrab, seolah tidak ada penghalang antara kami semua.

Melepas Letih

Melepas Letih


Dengan proses yang membutuhkan waktu antara 2 – 3 hari perjalanan, saya menemukan bahwa teman sejati adalah mereka yang tetap bersama di saat penuh ketidakpastian. Untuk itulah terkadang saya menguji sifat teman-teman saya dengan mengajak mereka untuk ikut mendaki gunung, karena saya percaya sifat jelek mereka akan terlihat di saat proses tersebut. Dan beruntunglah bagi mereka yang telah menjadi sahabat-sahabat baik saya yang telah melewati ujian tersebut, karena mereka adalah pilihan yang baik dari yang terbaik untuk saya.

Karena hal itu pula lah, keluarga kecil saya terkadang saya ajak untuk mendaki beberapa gunung yang tidak tinggi hanya untuk sekedar melepas penat dan saling mengakrabkan ikatan emosi kami termasuk bersama si kecil yang sampai saat ini sedang giat-giatnya menagih janji untuk mencumbui lebatnya hutan tatar pasundan. Entah sampai kapan saya akan mendaki gunung, yang pasti dengan mendaki gunung saya menemukan arti sebuah kehidupan dan semakin mendekatkan diri saya kepada-Nya. Biarlah jawaban tentang mengapa saya mendaki gunung tetap menjadi rahasia terdalam bagi saya dan menjadi sebuah motivasi bagi saya untuk lebih menghargai alam dan pencipta-Nya….

Mengajarkan Sedari Kecil

Mengajarkan Sedari Kecil

Jangan Pernah Untuk Berharap….!!!

“Ketika kamu bertemu dengan orang kamu sayangi, maka kamu harus siap berkorban untuk mereka……!!!” satu penggal kalimat dari film Drama romantis “ Kimi No Todoke” yang dibintangi oleh Mikako Tabe dan Miura Haruma. Film ini bercerita tentang melodrama percintaan antara Kuronuma “Sadako” Sawako (Mikako Tabe) dan Shota Kazehaya (Miura Hiruma) serta pahit getir perjalanan persahabatan antara Sawako, Yona dan Yoshida. Sangat menarik, sebuah film yang wajib di tonton oleh para penggemar film-film romantis meski sedikit telat karena film ini pertama kali tahun 2011 yang lalu.

Ada benarnya juga, ketika kita bertemu dengan orang yang kita sayangi maka kita harus menerima segala konsekuensinya baik itu senang maupun sedih. Jika kamu benar sayang terhadap mereka, maka kabulkanlah keinginan mereka dan menurutlah dengan permintaan mereka. Terkadang kita sebagai manusia lupa bahwasanya begitu banyak orang yang menyayangi diri kita akan tetapi kita selalu berpikir bahwa permintaan mereka adalah sebuah kekangan dan sebuah belenggu. Sadarkah kita bahwa terlalu sering kita membuat mereka yang menyayangi kita menangis?

Mari kita ambil contoh sederhana saja, misalnya : “ Bisa gak sich untuk hari ini saja gak merokok?”. Mungkin sebagian diantara kita akan tetap ngotot dengan seribu alasan untuk tetap merokok, padahal untuk kebaikan jika kita mengambil opsi untuk berhenti merokok tentunya hal itu lebih baik. Meskipun saya sendiri terus terang masih tetap merokok meski mereka selalu meminta untuk berhenti. Bukan hanya sekali akan tetapi sudah terlalu sering mereka meminta saya untuk itu, akan tetapi dengan angkuhnya saya tetap tidak mempedulikan permintaan mereka.

Begitulah manusia, terkadang kita baru menyadari semuanya setelah terlambat dan orang-orang yang menyayangi kita dengan sepenuh hati telah pergi meninggalkan kita. Mungkin pada saat itulah kita berada di titik terendah dalam hidup, dan baru pada saat itulah kita menyadari bahwa ternyata perkataan mereka adalah benar. Percaya atau tidak kita terkadang merasa sangat sombong dan angkuh serta seolah tak mempedulikan mereka yang begitu menyayangi kita.

Untuk itulah saatnya untuk berubah, sedikit demi sedikit menuju ke arah yang lebih baik dengan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Lebih peka terhadap sikap mereka yang sangat menyayangi kita dan mencoba untuk lebih peduli dengan nasihat atau masukan dari mereka. Mencoba untuk lebih dekat dengan keluarga dan orang-orang yang menyayangi kita termasuk teman-teman kita. Cobalah untuk kembali membuka buku telepon kita dan lihat list daftar nomor telepon teman-teman kita yang belum kita hubungi beberapa bulan terakhir ini. Mereka tidak meminta hadiah ataupun barang berharga lainnya, akan tetapi hanya ucapan “Halo, bagaimana kabarmu kawan…?” itu sudah sangat-sangat membuat mereka bahagia. Cobalah hubungi e-mail yang lama tidak terbalas atau coba cek sosial network teman kita dan tinggalkan pesan dengan menanyakan kabar mereka, tentunya mereka akan sangat senang sekali bahwasanya masih ada yang peduli dengan dia.

Jadi jangan berharap untuk di mengerti jika anda sendiri belum mampu dan mengerti tentang lingkungan sekitar anda…

Gambatte minna san…!!!

Geliat Metropolis Kota Tanjung Tabalong Part I

Menempuh perjalanan lebih dari 150 km bukanlah sesuatu yang baru bagiku, karena sejak tahun 1998 kebiasaan tersebut sudah kulakukan dikarenakan harus melanjutkan pendidikan di kota Bandung. Akhirnya karena seringnya melakukann perjalanan jauh tersebutlah, aku mulai terbiasa dengan melakukan perjalanan darat ke tempat kerja yang baru ini. Kabupaten Tanjung Tabalong, Kota yang terletak di bagian utara provinsi Kalimantan Selatan ini memang bukan yang pertama kali kudatangi. Tahun 2011 lalu ketika baru saja beberapa bulan menginjakan kaki di bumi kalimantan, aku pernah di tugaskan untuk bekerja di kota ini selama kurang lebih hampir 1 bulan. Kini setelah hampir 2 tahun tidak mengunjungi kota ini, masih saja menjadi kota yang cukup sejuk untuk ditinggali.

Meskipun kota ini ramai oleh aktivitas pertambangan batu bara, tetapi karena letaknya yang lumayan cukup jauh dari lokasi tambang menjadikan kota ini cukup sejuk dan terlihat cukup cantik jika dibandingkan beberapa kota di Kalimantan Timur. Mungkin karena penataan kota dan jalan yang sudah rapi menjadikan kota ini sedikit enak di pandang mata atau karena tidak adanya sampah di sepanjang pinggiran jalan yang menjadikan kota ini masih baik.

Tugu Obor Mabuun Tanjung

Tugu Obor Mabuun Tanjung

Sumber Gambari Disini
Akses untuk ke kota ini jika dari Banjarmasin pun cukup mudah, karena transportasi sudah melayani penumpang 24 jam penuh. Cukup membayar sekitar Rp 50.000,- jika kita naik kendaraan Colt L300 Jurusan Banjar – Tanjung atau Rp. 150.000,- dengan mobil travel minibus dengan jumlah penumpang maksimal 5 orang kita sudah sampai di kota ini. Dengan kendaraan tersebut anda bisa mampir dulu di Pasar Intan Martapura untuk sekedar membeli oleh-oleh khas Kalimantan Selatan seperti Kain Sasirangan atau yang lainnya. Untuk lebih jelasnya tentang Martapura silahkan lihat postingan saya sebelumnya.

Apabila ingin lebih cepat, kita bisa menggunakan pesawat udara dari Bandara Syamsudin Noor menuju bandara kecil yang bernama Warukin. Ada beberapa pesawat yang melayani penumpang umum tujuan Banjarmasin. Bandara Warukin sendiri terletak jauh dari pusat kota, dan lebih dekat dengan lokasi pertambangan. Mungkin saja bandara ini didirikan untuk menunjang aktifitas pertambangan batu bara di sini.

Bandara Warukin

Bandara Warukin


Untuk kondisi jalan sudah lumayan bagus, karena sepanjang penulis melakukan perjalanan dari Banjar baru tidak mendapatkan jalan yang rusak. Hal berbeda nampak jelas apabila kita melakukan perjalanan dari arah Kaliimantan Timur. Jalan lubang dan berbatu tentu menghiasi perjalanan kita sejak dari simpang kuaro atau Batu Kajang. Dua kondisi yang sangat berbeda jika kita melihat bahwa potensi di kedua wilayah sama-sama kaya akan sumber daya alamnya terutama batu bara. Sedikit pemikiran idealis, kemana menguapnya hasil pajak yang cukup besar ini?
Suasana Pagi Di Jalan Kota

Suasana Pagi Di Jalan Kota

And If There’s No Tommorow…

Dan jika memang tak ada hari esok, kita sudah memilikinya hari ini. Jika ini hanyalah sebuah mimpi maka aku tidak tertidur dan aku tak ingin sedikit pun untuk terbangun. Untuk kesekian kalinya mata ini tetap tak bisa dipejamkan, meski jam di dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam. Isi kepala tetap menerawang ke satu sisi yang tak dapat ku mengerti, pikiran tetap berkecamuk diantara kegelisahan yang melanda diri ini. Kenangan manis itu memaksaku untuk tetap terjaga di sudut kamar membayangkan apa yang akan terjadi esok hari? Kenangan manis ketika kita masih bersama di sebuah rumah kontrakan, rumah yang menjadi surga dengan berbagai kenangan manis saat kita masih bersama berkumpul dan berbagi rasa.

Rumah di sudut Blok L yang dulu pernah kita tinggali bersama si kecil, merupakan hal terindah yang pernah kita rasakan dan lewati bersama. Ah ….andai saja saat itu kita terima tawaran untuk membeli rumah tersebut dan ayah tidak mengambil kesempatan bekerja jauh darimu mungkin saja kita bertiga masih bersama dan tetap berbagi kasih sepanjang hari. Jika saja tawaran bekerja jauh di negeri orang ini tidak pernah ku ambil, apalagi di saat itu posisiku sudah berada di tempat aman. Andai saja, semua itu tak pernah terjadi….

Tapi semuanya sudah terjadi, semuanya sudah terlanjur menjadi sebuah sejarah hidup kita. Untuk saat ini aku tak mau lagi melewatkan cerita indah perkembangan anak kita, aku tak mau lagi melewatkan datangnya pagi hari tanpamu di sisiku. Tak mau lagi ku lewatkan masakan lezatmu menyambutku ketika letih setelah seharian bekerja, tak mau lagi ku lewatkan pijatan mesramu ketika badan ini terasa pegal sekujur tubuh. Jangankan untuk berhari-hari, untuk sekejap pun tak ingin lagi ku lewati hari indah melewati malam hari dengan duduk berdua di depan tenda ungu yang kita beli untuk membuang rasa bosan kehidupan kota dengan membawa si kecil bermalam di punggungan gunung.

Kanekes Baduy 2010

Kanekes Baduy 2010


Maafkan jika saat ini memang semestinya aku harus di sisimu, saat ini seharusnya ku bimbing si cantik belajar tentang algoritma dan aljabar untuk bekal dia nanti sehingga bisa mengambil jurusan kedokteran. Meski untuk saat ini dia mampu belajar sendiri dan matematikanya cukup baik, tetap saja bimbingan dan masukan dari kita berdua selalu dinantikan olehnya. Lihat saja, meskipun tanpa kehadiranku di sisi kalian ternyata dia bisa hebat seperti sekarang ini apalagi jika kita berdua yang membimbingnya.
Rindu Kebersamaan Seperti Ini :'(

Rindu Kebersamaan Seperti Ini 😥


Cukup rasanya sudah hampir 3 tahun ini ku jejakan kaki di penjuru nusantara hanya untuk memuaskan hasrat dan keegoisanku. Dan kini rasanya aku harus membayar pengorbanan kalian selama kutinggalkan dan kini saatnya lah aku harus berkorban untuk kalian yang telah berkorban begitu banyak untukku…