Melak Dan Taksi Air Mahakam

Awalnya agak ragu untuk mengambil rute kembali pulang dari Melak menuju Sengatta dengan menggunakan transportasi ini, karena memang belum pernah sekalipun saya melakukannya. Tapi berbekal informasi dan mengingat perjalanan kemarin yang memakan waktu lebih dari 18 jam melalui darat, akhirnya saya putuskan untuk mencoba transportasi lewat air menggunakan perahu dari Melak ke Samarinda. Dengan di antar oleh salah seorang teman mekanik, dari Hotel akhirnya saya tiba dipelabuhan kecil di tepi sungai mahakam. Melak, sebuah pelabuhan kecil sungai Mahakam di Barong Tongkok, pedalaman Kalimantan Timur.

Pelabuhan Melak Ketika Senja

Pelabuhan Melak Ketika Senja

Harga tiket kapal ke Samarinda pada saat itu adalah Rp. 125 ribu, menempuh waktu 12 jam. Setiap hari hanya ada satu kapal yang berlabuh, waktu senja. Harga tiketnya ternyata berbeda kurang lebih Rp 10 ribu untuk dek atas dan dek di bawah, karena di dek atas kita mendapatkan fasilitas berupa kasur yang lumayan empuk meski hanya dengan tebal beberapa centimeter saja. Apabila kawan-kawan tidak tahan dengan udara malam yang dingin, saya sarankan untuk mengambil tempat duduk di atas, karena dek di bawah kita hanya beralaskan tikar saya. Bisa dibayangkan perjalanan selama lebih dari 12 jam badan kita dihantam angin malam yang membacok tulang.

Posisi Dek Atas

Posisi Dek Atas


Posisi Dek Bawah

Posisi Dek Bawah


Jangan bayangkan kenyamanan di transportasi ini, untuk bisa tidur dengan posisi enak saja sepertinya sudah cukup bagus apalagi untuk diri saya yang tinggi badannya lebih dari 175 cm. Posisi tidur kita harus dengan kaki di tekuk, karena otomatis kaki kita akan menghalangi jalan orang lain. Untuk bagasinya sendiri ternyata cukup unik, posisi bagasi berada tepat di bawah tempat tidur kita. Jadi taruh barang bawaan kita dulu, baru kita bisa menghampar kasur untuk tempat tidur. Cukup simple dan efektif, dan pasti aman. Tapi pastikan dulu untuk tepat bagasi kita tidak ada yang mencurigakan, karena bisa saja bagasi tersebut bolong dan mengarah ke dek bawah. Bukankah waspada itu perlu? Beruntung untuk perjalanan ini saya mendapatkan tempat di dekat jendela, jadi saya bisa melihat beberapa aktivitas masyarakat di sekitar tepi sungai Mahakam ini.
Posisi Dekat Jendela

Posisi Dekat Jendela


Tepat pukul 18.30 Wita, kapal bertolak menuju Samarinda. Well… Perjalanan yang cukup mengesankan, tidur beralaskan kasur tipis, bantal yang cukup hitam karena keringat, bonus asap rokok serta bau ketiak penumpang di samping memberikan kenangan yang tak terlupakan. Cukup mengesankan karena ketika itu panen durian, jadi bonus bau asap rokok + ketiak + buah durian, memberikan aroma yang cukup sulit untuk dilukiskan :D.

Untuk MCK nya sendiri ternyata ada di posisi belakang kapal tersebut. Sebagian penumpang mengantre di depan empat kamar mandi yang berada di bagian paling belakang kapal. Kamar mandi sekaligus WC itu hanya berupa sebuah ruang yang disekat menjadi empat bagian berukuran sekitar 1 x 1,5 meter. Bagian tengah lantai berlubang. Dari lubang ini, penumpang melakukan segala kegiatan di kamar mandi, mandi atau buang air. Sebuah timba kecil dari plastik untuk mengambil air sungai melewati lubang itu. Selain itu juga dilengkapi sebuah selang yang airnya mengalir setiap kali mesin kapal digas.

Toilet Langsung Nyemplung :D

Toilet Langsung Nyemplung 😀

Kapal-kapal ini, selama bertahun-tahun telah menghidupkan perekonomian di daerah pedalaman. Taksi air tersebut melayani jalur pelayaran Sungai Mahakam sepanjang sekitar 350 kilometer dari Kota Samarinda hingga Melak, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kapal yang terbuat dari kayu itu mampu dimuati hingga 50 ton barang dengan 300 penumpang. Jika dimuati barang saja, kapasitasnya mencapai 80 ton! Wow, mengesankan sekaligus menakutkan untuk saya yang baru pertama kali menaikinya. Di setiap kampung, baik ke arah hilir maupun mudik, kapal ini biasanya berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang dan barang. Atau, kapal berhenti jika dihadang perahu ces yang mengantarkan barang atau penumpang.

Ternyata di sepanjang tepi sungai Mahakam diramaikan oleh aktivitas perusahaan tambang yang beroperasi di sekitar area tersebut. Alhasil, lampu penerangan ribuan watt menemani perjalanan malam itu menuju kota Samarinda.

Tepi Mahakam Ketika Malam Hari

Tepi Mahakam Ketika Malam Hari


Tongkang Pengangkut Batu Bara

Tongkang Pengangkut Batu Bara


Kapal Penarik Tongkang

Kapal Penarik Tongkang


Jembatan Tenggarong Ketika Masih Tegak Berdiri

Jembatan Tenggarong Ketika Masih Tegak Berdiri


Jembatan Tenggarong Ketika Masih Tegak Berdiri

Jembatan Tenggarong Ketika Masih Tegak Berdiri


Patung Lembuswana Tenggarong

Patung Lembuswana Tenggarong

Iklan

One thought on “Melak Dan Taksi Air Mahakam

  1. Ping-balik: Mengintip pesona alam Melak | rindutanahbasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s