Jawaban Klasik Para Pendaki Gunung

Untuk apa bersusah-susah payah mendaki gunung sampai puncak jika setelah sampai puncak hanya beberapa menit kemudian turun…?. Untuk apa mencintai olahraga yang menantang maut dan menyerempet bahaya seolah tidak ada lagi olahraga lain yang lebih baik?. Mungkin terkadang bagi kita para penikmat olahraga kegiatan alam terbuka atau olahraga yang sedikit agak ekstrim terkadang sering dibingungkan oleh berbagai pertanyaan semacam ini. Termasuk penulis sendiri yang sampai saat ini masih belum menemukan jawabannya.

Menanti Sunrise

Menanti Sunrise


Ada sebagian orang berkata “ Apakah ingin mati kalian pergi ke gunung?”. Sebuah kalimat yang membuat saya tercengang, karena menurut saya untuk mati tidak perlu pergi ke gunung. Dengan berjalan kaki di atas trotoar saja bisa saja anda mati karena tertabrak kendaraan dari belakang karena memang sudah takdir atau bisa saja ketika anda mandi kemudian terpeleset di kamar mandi dan membentur wastafel. Hidup dan mati adalah urusan yang maha kuasa, kita tidak boleh mendahului-Nya. Sebenarnya olahraga mendaki gunung adalah olahraga yang sangat aman, jika kita dibekali oleh kemampuan mengatur sebuah perjalanan itu sendiri. Pengetahuan tentang kondisi alam di sana bisa dipelajari dari berbagai informasi yang bisa anda peroleh dengan mencarinya di internet.

Dengan mengatur perbekalan logistik, peralatan yang lengkap untuk mendaki, persiapan fisik dan mengetahui kondisi sekitar adalah modal sebelum kita mendaki gunung. Karena alam bukan untuk di taklukan akan tetapi untuk disiasati. Jangan berfikir dengan telah mencapai puncak, kita sudah menaklukan alam. Akan tetapi berpikirlah bahwa dengan sampai ke puncak gunung kita sudah bisa menaklukan keegoisan diri kita sendiri dan resapilah bahwasanya kita hanyalah mahluk kecil yang tidak berdaya di hadapan Tuhan, dan berusaha menggapai ridho-Nya.

Hidup ini tidak hanya di isi dengan lahir, besar kemudian mati….!!! Akan tetapi makna dari proses itulah yang paling penting. Tidak ada seorang pun yang ingin terlahir untuk susah, dan jika boleh memilih tentunya semua orang akan memilih untuk dilahirkan sebagai orang yang serba berkecukupan. Memang tidak salah jika kita berpikir dan berharap menjadi orang yang terlahir dari rahim seseorang yang serba berkecukupan, akan tetapi jika nyatanya sekarang kita telah dilahirkan sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa. Apakah kita harus menyesalinya seumur hidup kita? Apakah kita akan melacurkan diri dan kemudian terus-menerus meratapi nasib sepanjang umur kita.

Untuk itulah saya mendaki gunung untuk mengetahui begitu kerasnya proses kehidupan yang harus kita jalani. Dengan mendaki gununglah saya bisa menemukan arti sebuah kehidupan, dan dengan dekat dengan alamlah saya bisa merasakan bahwa saya hanyalah satu noktah kecil diantara lingkaran besar kehidupan. Saya menemukan kedamaian yang tidak mereka dapatkan di kota serta saya merasakan lebih dekat dan nyaris tanpa penghalang dengan sang khalik. Dengan mendaki gunung saya merasakan cinta yang begitu besar dari –Nya meskipun terkadang saya lalai dan sering melupakannya.

Berselimut angin dingin dan nafas tersengal di tengah udara tipis adalah sebuah seni tersendiri dalam proses pendakian. Berteman pacet yang selalu setia menemani dan menghirup harumnya aroma tanah basah adalah hal yang selalu di nanti. Menggelar matras di depan tenda dan hangatnya api unggun serta tidur di bawah langit malam dengan memandang bintang serta celotehan dan ejekan kecil khas pendaki gunung merupakan suasana yang selalu di rindukan. Berbagi gelas minuman dan sendok adalah hal biasa yang membuat kami semakin akrab, seolah tidak ada penghalang antara kami semua.

Melepas Letih

Melepas Letih


Dengan proses yang membutuhkan waktu antara 2 – 3 hari perjalanan, saya menemukan bahwa teman sejati adalah mereka yang tetap bersama di saat penuh ketidakpastian. Untuk itulah terkadang saya menguji sifat teman-teman saya dengan mengajak mereka untuk ikut mendaki gunung, karena saya percaya sifat jelek mereka akan terlihat di saat proses tersebut. Dan beruntunglah bagi mereka yang telah menjadi sahabat-sahabat baik saya yang telah melewati ujian tersebut, karena mereka adalah pilihan yang baik dari yang terbaik untuk saya.

Karena hal itu pula lah, keluarga kecil saya terkadang saya ajak untuk mendaki beberapa gunung yang tidak tinggi hanya untuk sekedar melepas penat dan saling mengakrabkan ikatan emosi kami termasuk bersama si kecil yang sampai saat ini sedang giat-giatnya menagih janji untuk mencumbui lebatnya hutan tatar pasundan. Entah sampai kapan saya akan mendaki gunung, yang pasti dengan mendaki gunung saya menemukan arti sebuah kehidupan dan semakin mendekatkan diri saya kepada-Nya. Biarlah jawaban tentang mengapa saya mendaki gunung tetap menjadi rahasia terdalam bagi saya dan menjadi sebuah motivasi bagi saya untuk lebih menghargai alam dan pencipta-Nya….

Mengajarkan Sedari Kecil

Mengajarkan Sedari Kecil

Iklan

4 thoughts on “Jawaban Klasik Para Pendaki Gunung

  1. ternyata ente berbakat juga jadi penulis
    3 hal syarat untuk menjadi manusia hebat

    1. dia bisa berpikir
    2. dia bisa berbicara
    3. dia bisa menulis

    karena tidak ada syair yang indah selain kata,,,, terus berkarya sahabat lewat tulisan,,, karena kata2 yang ditulis bisa mengalahkan ruang dan waktuuuuuuuuuuuuu

  2. Terima kasih Kawan..
    Lewat sebuah tulisan beban dihati terasa sedikit berkurang.
    Hanya dengan tulisan, Aku mampu kembali bangkit dari keterpurukan…

    Selamat datang di rumah tulisanku… 😀

  3. Bener kata mas Rahmat, aktivitas mendaki gunung itu bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri & mengenal kepribadian asli teman2 seperjalanan kita. Biasanya memang keliatan tuh akhirnya sifat2 yg selama ini mereka coba sembunyikan..

    Jadi bisa juga nih buat ajang menguji pacar… ajak naek gunung aja ya mas.. trus pasti bakal keliatan tuh sifat aslinya… selanjutnya terserah anda mw dijadiin suami ato dibuang aja kelaut… hehehe..

    Nice share mas Rahmat… ^_^

  4. Terima kasih mbak, semoga semakin banyak makna yang tersirat setelah kita melakukan perjalanan mendaki gunung

    Klo ane udah buktiin sendiri, waktu masih pacaran sering diajak naik ke gunung. Awalnya ampe tobat-tobat ga mau ngikut, eh selanjutnya malah dia yang minta dianter naik gunung 😀

    Terima kasih udah berkunjung di blog yang masih sangat sederhana ini ^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s