Terkurung Diantara Nunukan – Tarakan

Sebuah perjalanan akan terasa lebih menyenangkan jika dipersiapkan dengan matang dan segala sesuatunya sudah tersedia apalagi gratis dan dibiayai oleh perusahaan. Hal yang sangat menggembirakan memang, kali ini aku harus melaksanakan tugas di belahan utara pulau Kalimantan tepatnya Site Sesayap. Menurut cerita dari beberapa orang teman yang pernah melakukan tugas ke sana, suasanya mirip seperti penjara Nusa Kambangan di Cilacap Jawa Tengah. Bagaimana tidak, untuk akses menuju ke sana jalan satu-satunya adalah melalui Kota Tarakan kemudian dilanjutkan dengan naik speed boat selama kurang lebih hampir 2 jam. Laut yang cukup dalam dan suasana asing yang masih terisolasi semakin membuatku penasaran untuk segera menuju ke sana secepatnya.

Seperti biasa setelah melakukan istrahat sebentar karena melakukan tugas di Samarinda, kami lanjutkan perjalan ke Kota Balikpapan selama kurang lebih 2 jam. Melewati Loa Janan dan tepian sungai mahakam memberi kesan tersendiri ketika kendaraan kami berada di samarinda seberang. Taman Bukit Soeharto yang memisahkan kota Samarinda dan Kota Balikpapan masih cukup baik, meskipun beberapa ratus meter dari bagian luarnya sudah rusak akibat aktifitas tambang dan perkebunan kelapa sawit. Mampir sejenak untuk sekedar minum kopi ditengah perjalanan menuju balikpapan biasanya dilakukan oleh beberapa orang karena suasana yang cukup nyaman.

Tiket menuju kota Tarakan dengan pesawat Batavia Air sudah di tangan, sehingga bisa sampai di bandara Juwata pada tengah hari karena nanti ada yang langsung menjemput menuju hotel. Beruntung karena masih bisa menginap di Tarakan, sehingga masih ada 1 hari tersisa untuk bisa keliling kota Tarakan ini. Kota yang berada di pulau yang terpisah dari pulau Kalimantan ini ternyata sangat padat dan sangat ramai seperti sebuah kota besar. Mall dan pusat perbelanjaan berjejer di sepanjang jalan menuju hotel tempat kami menginap. Akan tetapi jangan paksakan perut anda jika masih kosong karena mencari warung makan agak sedikit sulit di sini, bukan karena warungnya yang jarang akan tetapi harganya yang cukup mahal. Untuk makan saja bisa-bisa kita mengeluarkan Rp.30.000 sampai Rp.50.000 untuk satu porsi, cukup fantastis jika kita terbiasa hidup di pulau jawa.

Kota kecil beriklim tropis ini ternyata sangat panas, ataukah karena memang panas dari uap air laut sehingga untuk berjalan kaki beberapa ratus meter saja baju sudah basah oleh keringat. Hanya beberapa ratus meter dari hotel memang ada sebuah mall yang cukup besar sehingga masih sempat berbelanja stock logistik seperti rokok atau snack di sini karena di site nanti tidak ada penjual rokok maupun makanan kecil. Jadi jangan sampai lupa untuk membelinya di sini, karena jika tidak anda akan puasa di sana :D.

Bandara Juwata - Tarakan

Bandara Juwata – Tarakan


Pelabuhan speed boat ternyata dekat saja dengan hotel tempat menginap, hanya beberapa menit saja kami sudah berada di sana. Dan ternyata banyak juga dari teman-teman pekerja yang akan ikut bersama kami, karena maksimal kapasitas bangku untuk speed boat kurang lebih 20 orang. Nampak jelas perbedaan antara pekerja yang hendak cuti dan pekerja yang kembali setelah cuti dari raut wajahnya, karena bisa dibayangkan selama hampir 3 bulan mereka yang akan bekerja tidak bisa keluar dari area hutan. Melewati hutan bakau serta sungai yang meliuk-liuk dan terkadang beberapa pulau kecil akhirnya kami sampai di pelabuhan speed boat milik perusahaan di Sesayap, Kabupaten Nunukan.
Speed
Pemeriksaan rutin pun selalu dilakukan oleh petugas keamanan dengan harapan para pekerja yang datang tidak membawa minuman keras, senjata tajam dan barang lain yang membahayakan pekerja lainnya.
Benar saja perkataan teman-teman yang sudah melakukan tugas di sini, ternyata lokasi tambangnya mirip sebuah penjara mini karena tidak ada akses keluar masuk kecuali melalui air. Bisa dibayangkan untuk keadaan darurat, sepertinya harus berpikir dua kali jika di mutasi ke tempat ini. Sinyal hand phone sangat sulit di dapatkan, apalagi sial bagi ku saat tugas tower milik telkomsel sedang mengalami gangguan sehingga nyaris tanpa sinyal selama beberapa hari. Bisa dibayangkan hidup tanpa komunikasi selama beberapa hari untuk sebagian orang pasti akan membuat stress dan membuat jenuh. Untung saja para pekerja di sini bisa mensiasatinya dengan membuat sebuah “Kandang Monyet” untuk melakukan aktifitas komunikasi. Tempatnya ternyata cukup tinggi dan berada di atas pohon, jadi wajar saja jika mereka menyebut nama tersebut.

Tugas selama beberapa hari saja membuat ingin cepat-cepat keluar dari sini, apalagi mereka yang harus bertugas selama beberapa bulan di sini. Ternyata mencari uang untuk anak & istri sulit juga harus mengorbankan semua hingar bingar kemewahan dan harus rela di cekam kesepian. Sebuah pengalaman berharga yang bisa ku ceritakan untuk anak cucuku kelak, sehingga mereka bisa lebih bersyukur kepada sang Khalik….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s