Jika Seorang Sarjana Teknik Menjadi Kuli Panggul

“Kalo elo semua bisa gua duit buat jajan dan beli sebatang rokok setiap harinya, maka gua baru berhenti dari pekerjaan ini…!”. Sebuah jawaban yang cukup membuat semua teman-teman agak sedikit melongo dan sedikit heran. Heran, karena jawaban itu muncul secara spontan dan keluar dari mulut ini tanpa sedikitpun merasa malu. Malu menjadi seorang kuli panggul di sebuah proyek perumahan dan harus bermandikan keringat dahulu hanya untuk mendapatkan uang sebesar Rp.10.000 – Rp.20.000 saja. Bertitel ST (Sarjana Teknik_red) dibelakang nama belum tentu menjadi jaminan seseorang akan diterima bekerja di sebuah perusahaan apalagi notabene perusahaan sekarang selalu mengutamakan pengalaman kerja dan fresh graduate jangan berharap ingin mendapatkan gaji yang cukup tinggi meskipun terkadang ada juga mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar karena rejeki itu Tuhan yang mengatur.

Kuli Panggul (Ilustrasi)

Kuli Panggul (Ilustrasi)


Sumber gambar
Jika ketika kuliah tingkat I sampai tingkat III dahulu keinginan untuk cepat lulus dan mendapatkan gelar sarjana dalam waktu yang singkat adalah sebuah cita-cita dan ambisi, ambisi untuk cepat melewatkan Mekanika Fluida, Thermodinamika Teknik, Mesin Konversi Energi, Kalkulus dan beberapa mata kuliah lain yang membuat sebagian rambut di kepala menjadi kurang subur. Akan tetapi ketika sedang melaksanakan tugas akhir, cita-cita tersebut hilang karena beberapa bayangan sudah tampak di depan mata. Bukan status pengangguran yang mengkhawatirkan akan tetapi status penilaian masyrakat terkadang sedikit ekstrim. Hidup di tengah masyrakat terkadang lebih kejam dibandingkan dengan nilai E dari dosen maupun coretan revisi di skripsi. Mereka terkadang selalu melihat bahwasanya seorang sarjana harus mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang hanya sekolah sampai tingkat SMU.

Hidup tanpa kekurangan dan berkecukupan adalah menjadi impian setiap orang meskipun mereka tentunya harus bekerja keras sehingga rela mengorbankan beberapa hal yang bagi sebagian orang tentunya sangat mustahil dilakukan. Terkadang mereka harus rela pergi jauh meninggalkan dekapan hangatnya keluarga dan orang yang dicintainya demi untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Begitupun denganku, karena terlahir sebagai keluarga yang berkekurangan sehingga telah terbiasa untuk bekerja keras untuk mendapatkan posisi nyaman dan penghasilan yang lumayan cukup untuk sekedar memanjakan diri.

Bagaimana kita membiayai pulsa dan modal pacaran untuk malam minggu jika setelah lulus kuliah masih menganggur dan untuk membiayai semuanya itu kita merasa malu untuk minta sedikit uang kepada orang tua. Meskipun sebenarnya orang tua tentunya akan selalu memberi lebih jika kita memang memintanya, karena bagaimanapun juga kasih sayang mereka akan selalu beserta kita sepanjang masa. Beruntung proyek perumahan dibelakang rumah sudah mulai berjalan dan lahan pekerjaan menjadi kuli bongkar muat bahan bangunan banyak dibutuhkan. Jika sehari saja bisa mendapatkan 2-3 kali giliran maka uang Rp.30.000 – Rp.50.000 bisa didapatkan dan bisa untuk budgeting selama satu minggu ke depan. Jadi untuk biaya pacaran tentunya tidak melulu harus minta kepada orang tua.

Meskipun terkadang pundak terasa terbakar karena memanggul semen dan jari tangan yang lecet karena terjepit batu bata merah, akan tetapi setelah mendapatkan uang hasilnya semua itu akan terasa hilang tak terasa. Dan ternyata uang hasil kuli tersebut lebih nikmat dirasakan ketika kita memakainya, mungkin terasa sulitnya mencari uang sehingga hasil kerja keras tersebut sangat berasa jika kita hendak menghabiskannya.

Itulah dulu sekitar tahun 2003 – 2004, sekarang meskipun dengan status agak berbeda tetap saja masih menjadi kuli. Tapi semua itu terasa indah dan sangat indah ketika sekarang setelah 10 tahun lamanya masih mengingat ketika tengah malam harus membawa sekop dan berlari kecil mengejar mobil truk untuk membongkar pasir dan batu atrass serta batu quary. Ketika semua mata sedang terlelap dibuai mimpi kami harus bermandikan keringat demi sebuah prinsip, bahwa kami ingin berguna di masyrakat dan tak ingin menyusahkan orang tua. Cukup mereka menyekolahkan saja dan jangan bebankan lagi dengan uang jajan kami setelah lulus. Menjadi seorang kuli bukanlah sebuah pekerjaan hina sehingga menjadi pilihan untuk mereka yang baru lulus. Selain mendapatkan uang dari pekerjaan tersebut, satu hal lain yang sangat baik adalah menjadikan badan kita lebih sehat karena efeknya seperti olahraga berat.

Jadi, adakah kalian yang ingin mencobanya…?

Iklan

2 thoughts on “Jika Seorang Sarjana Teknik Menjadi Kuli Panggul

  1. “…tetapi setelah mendapatkan uang hasilnya semua itu akan terasa hilang tak terasa.” yupz, pas beli nasi dari hasil kerja dulu, rasanya gimana gitu.. mau nangis inget zaman susah dulu *skrang pun masih susah -_-*
    nice share kang 🙂

    • Betul … Hidup adalah perjuangan… !!!
      Hasil dan nikmat dari pengalaman hidup adalah sebuah pembelajaran paling berharga dari semuanya 😀
      Semoga kenangan di saat-saat susah tersebut akan membuat kita lebih bersyukur kepada Nya…
      Terima kasih sudah berkunjung saudarku 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s