Kemana Hilangnya Nasionalismemu….?

Mereka Yang Lebih Cinta Indonesia

Mereka Yang Lebih Cinta Indonesia


Mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia raya dikumandangkan selepas shift malam ketika upacara rutin para pegawai pemerintahan di sebuah alun-alun kota membawaku sejenak kembali berada di waktu tahun 1998. Entah menjadi tahun terbaik atau terkelam dalam catatan sejarah bangsa ini, yang pasti ketika itu di setiap sudut dikota tempatku tinggal tertulis dengan jelas kata “Milik Pribumi” dan “Pendukung Perubahan”. Tahun dimana aku harus sedikit menyingkir ke sebuah kota di Ciamis Jawa Barat, sehingga tidak disebut sebagai salah seorang provokator karena dianggap terlalu vokal untuk seorang remaja yang baru berusia belasan tahun. Tahun dimana setiap orang menaruh rasa curiga satu sama lainnya, dan tahun dimana nyawa seorang dianggap tidak berharga sama sekali.

Dulu ketika lagu ini dinyanyikan, selalu saja ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan. Sebuah perasaan bangga yang teramat sangat dengan kebesaran bangsa ini. Dulu ketika semua mata tertuju ke sebuah gedung di bilangan Jakarta Barat dan merupakan sebuah magnet yang sanggup menarik puluhan ribu atau mungkin jutaan mahasiswa meruntuhkan status quo, ketika lagu tersebut dikumandangkan seakan bergetar rasanya bumi dan gedung sekitar. Tertunduk, tetapi bukan menyerah…!!! Tertunduk karena untaian syairnya yang membuat jiwa-jiwa seorang anak bangsa bergelora untuk kembali menjadi seorang revolusioner. Bersama menghembuskan angin perubahan untuk sebuah negara Indonesia yang lebih baik lagi, lebih baik dari era Soekarno maupun era Soeharto.

Akan tetapi setelah lepas dari 15 tahun peristiwa tersebut telah terjadi jangankan untuk bergerak ke arah yang lebih baik, bangsa ini masih saja disibukan oleh tetek bengek persoalan yang seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari oleh para penyelenggara pemerintahan dan mereka yang berkuasa di negeri ini. Korupsi seolah menjadi budaya para penguasa, yang banyak merugikan uang negara dalam jumlah cukup besar. Sialnya lagi, mereka yang melakukan korupsi adalah mereka yang dulu aktif menggembor-gemborkan anti korupsi dengan iklan layanan masyarakat di televisi. Apakah negeri ini telah tertipu? Tertipu oleh anak bangsanya sendiri yang dengan tanpa rasa belas kasih, menghisap ibu pertiwi yang sedang sakit ini.
Sumber daya alam yang melimpah ruah seakan tidak ada gunanya, karena telah dikuasai oleh pihak asing. Apakah bangsa ini tidak sanggup untuk mengolah sendiri sumber daya alamnya? Bukan tidak sanggup, akan tetapi tidak adanya rasa simpati dan empati terhadap bangsa ini sehingga para pembuat kebijakan selalu saja mengatas namakan bangsa jika ingin membuat sebuah kebijakan meskipun kita tanpa pernah tahu apa yang mereka buat dan negosiasikan sehingga efeknya baru terasa setelah puluhan tahun berjalan. Menasionalisasi perusahaan asing sepertinya tinggal mimpi saja, apakah ini adalah sebuah pertanda bahwa bangsa ini sedang berjalan menuju kehancuran?

Merah Putih Hanya Sebuah Simbol...?

Merah Putih Hanya Sebuah Simbol…?


Terasa sekali kepentingan asing dalam kenaikan harga BBM kali ini adalah untuk menjalankan skenario Memorandum Of Economic and Financial Policies dengan IMF tahun 2000 yang lalu. Juga untuk memenuhi persyaratan untuk pemberian utang dari bank dunia seperti yang tercantum dalam Country Assistance Strategy pada tahun 2001. Semuanya itu dilakukan untuk kepentingan liberalisasi bisnis asing. Hal tersebut ditegaskan oleh Purnomo Yusgiantoro Menteri ESDM kala itu, “Liberalisasi sektor hilir migas akan membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas. Namun, liberalisasi ini akan berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena subsidi, pemain asing akan enggan masuk”. (Kompas, 14 Mei 2003).

Sebuah kondisi yang sangat di sayangkan, karena sepertinya kita tidak ingin negeri ini terus terjebak oleh keadaan yang tidak mengenakan ini. Seharusnya negara dan penguasa berkewajiba memelihara kepentingan rakyat dan menjamin kehidupan rakyat. Kekayaan umum seperti migas akan tetap menjadi milik umum. Negara mengelolanya mewakili rakyat dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk kesejahteraan mereka. Tetapi inilah bangsaku, sebuah bangsa yang besar dengan jutaan keragaman sehingga terus terlena dan terus tertidur dalam buaian beberapa elit politik…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s