Bekerja Sebagai Seorang Welding Inspector II

Untuk ikut pelatihannya pun bukan hal yang mudah, karena perusahaan yang akan mengirimkan kandidatnya harus membeli tool seharga Rp. 270.000.000,- mungkin seharga kijang inova. Sehingga sebelum mengikuti training ini para petinggi perusahaan sudah memikirkan masak-masak dan berharap semoga investasi yang sudah mereka tanam akan memperoleh minimal kembali modal dalam beberapa tahun saja. Jadi jika di total jumlah pengeluaran perusahaan untuk kami berempat mulai dari tiket pesawat sampai biaya akomodasi hotel sekitar Rp. 500.000.000,-. Sebuah angka yang cukup fantastis ditengah harga batu bara dan kondisi bisnis yang sedang lesu. Maka tak salah jika ancaman pemotongan gaji oleh sang Bucho (baca : General Manager) di ucapkan sebelum kami berangkat. Meski dia hanya bercanda, akan tetapi ucapannya menjadi cambuk bagi kami terutama saya karena teman yang lain sudah lulus sertifikasinya walaupun ada seorang teman yang sudah mempunyai lisensi akan tetapi karena dari perusahaan lama maka dia di wajibkan untuk ikut kembali ujian sertifikasi.

Mencari cacat pada spesimen lasan baru

Mencari cacat pada spesimen lasan baru


Panas dingin memang, karena saya sebelumnya belum pernah menggunakan tool yang satu ini. Bagaimana tidak, sang traineernya adalah orang jepang asli yang sengaja di datangkan khusus untuk mengajarkan kami bagaimana cara menggunakan tools ultrasonics test. Parahnya, sang traineer tidak begitu fasih berbahasa inggris sehingga sebagian dari kita harus bersusah payah mengikuti kemana arah pembicaraan sang traineer. Beruntung ada Pak Heru Kristianto, sehingga dengan fasihnya dia berusaha menerjemahkannya. Meski terkadang ada beberapa kata yang terkadang sulit di mengerti akan tetapi dengan kehadiran pak heru di ruangan tersebut suasananya lebih hidup. Thank for your advice sir

Akhirnya di setelah hanya 2 hari di ajarkan cara untuk menggunakan tool, tiba saatnya untuk ujian sertifikasinya. Jum’at 16 desember 2011, saat menegangkan untuk saya. Di hadapan sang traineer Yamamoto san, saya di uji untuk bisa mencari cacat pada spesimen uji yang sudah di modifikasi sedemikian rupa sehingga cacat yang ada di spesimen tersebut mungkin agak sedikit aneh. Jangankan untuk menengok kiri atau kanan, dengan gerakan mencurigakan sedikit saja kami akan langsung di diskualifikasi. Jadi kejujuran adalah hal yang paling utama sebenearnya dalam ujian ini. Waktu yang diberikan pun sangat minim, kami diberikan waktu sekitar 30 menit untuk proses kalibrasi tools dan pencarian cacat.

Kontan keringat dingin sebesar biji karet 😀 bermunculan, karena sayalah orang yang pertama di panggil untuk di uji dengan alasan bahwasanya kami datang dari jauh dan sekarang sedang di tunggu untuk melaksanakan tugas di site. Well… dengan membaca bissmillah, akhirnya saya lakukan. Dan ternyata….. Gagal 😥 . Gagal karena ada pemahaman dan persepsi yang salah antara saya, interpreter dan sang traineer. Sehingga apa yang di ucapkan oleh traineer di tanggapi berbeda oleh penerjemah dan termasuk saya, oleh karena itu saya diperbolehkan diberi kesempatan untuk melakukannya lagi. Memang jika sudah adem, ada aja kejadian yang bikin jantung hampir copot. Sedang asyik-asyiknya mencari indikasi cacat, eh baterai toolnya habis. Kontan saja display tool tersebut mati total, sehingga ujian saya dilaksanakan pada hari berikutnya.

Hari kedua ujian yang sebenarnya tidak ada dalam jadwal terpaksa dilakukan, karena battearai tool yang habis. Karena mendapat kesempatan yang lebih, akhirnya persiapan diri yang matang membawa saya melakukan ujian ini hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sehingga tinggal menunggu saja di kantor untuk hasil akhirnya apakah lulus atau gagal. Butuh waktu hampir sebulan untuk mendapatkan hasilnya, dan beruntung email di inbox memberitahukan bahwasanya saya lulus untuk sertifikasinya. Malang ada beberapa teman se-angkatan yang tidak lulus, termasuk salah satu teman sekantor saya meskipun dulu dia sudah pernah lulus akan tetapi ketika ujian kedua bersama saya kali ini dia gagal.

Alhamdulillah… lisensinya sudah keluar, sehingga dengan berbekal lisensi ini saya bisa keliling site di seluruh nusantara untuk melakukan pengujian pada unit-unit yang perusahaan kami jual. Berbekal lisensi ini pula, saya jadi semain percaya diri dalam bekerja. Berbekal lisensi ini pula saya menjadi semakin bersemangat untuk melanjutkan pendidikan S2 saya dan jika Tuhan mengizinkan mungkin bisa sampai jenjang S3. Semoga saja, ilmu yang saya dapatkan ini akan bermanfaat buat diri saya pribadi khususnya dan untuk mereka yang membutuhkan jasa saya sebagai seorang welding inspector

NDT License from HCM jepang

NDT License from HCM jepang

Iklan

2 thoughts on “Bekerja Sebagai Seorang Welding Inspector II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s