Sengatta Journey Part II

Selepas merogoh kocek yang tidak terlalu dalam di toko mahdalena, akhirnya kuputuskan untuk melakukan perjalanan kembali menuju ke arah simpang empat bontang. Titik ini ditandai oleh berdirinya sebuah patung singa milik salah satu lembaga swadaya masyarakat kutai. Jika kita memilih arah ke kanan dari arah bontang maka kita akan menemui kota sengatta lama. Berhati-hatilah di sini, karena jalanan ke sengatta lama adalah jalan buntu yang berputar sehingga anda akan di bawa kembali menuju simpang empat tadi. Jika anda memilih arah lurus maka anda akan menemui jalan diponegoro dan kembali ke sengatta lama. Arah ke kiri adalah arah jalan menuju tambang KPC ataupun kota bengalon. Apabila anda meneruskan mungkin akan sampai ke kota wahau bahkan sangkuliran dan tembus di kota berau. Akan tetapi karena jalannya yang sudah cukup rusak, maka di sarankan jika akan ke berau harus mengambil rute pesawat dari balikpapan.

Patung Singa

Patung Singa

Sengatta trade center (STC) yang merupakan satu-satunya mall di sengatta terletak beberapa ratus meter dari simpang bontang. Fasilitas yang ada meski hanya beberapa stand saja, akan tetapi menjadi daya tarik tersendiri bagi para penduduk yang rindu akan suasana mall. Meskipun mall ini hanya ramai di saat-saat tertentu saja semisal pada akhir pekan, akan tetapi cukup memberikan sedikit hiburan bagi mereka para pekerja tambang.

Melanjutkan perjalanan maka kita akan melewati simpang tiga dan sampai di teluk lingga yang merupakan salah satu titik macet di sengatta, karena merupakan pasar tradisional. Di area Simpang tiga sendiri merupakan kumpulan beberapa sekolah, sehingga semakin menambah kemacetan ketika pagi ataupun sore saat para siswa masuk dan keluar sekolah. Jika kita mengambil arah ke kanan, maka kita akan sampai ke komplek perkantoran bukit pelangi. Bukit pelangi merupakan komplek perkantoran DPRD dan Kantor Bupati yang tertata dengan sangat rapih. Letaknya yang jauh dari rumah-rumah penduduk membuat komplek ini begitu sejuk dan asri sehingga membuat kita betah untuk berlama-lama di sini.

Kantor DPRD Sengatta

Kantor DPRD Sengatta

Ada beberapa spot yang bagus untuk mengintip pemandangan sengatta dari kejauhan dan melihat aktivitas pertambangan KPC serta monumen pesawat Cassa milik TNI yang berjarak kurang lebih 500 meter dari komplek kantor bupati. Dari titik ini pula kita bisa mengintip pemandangan pengapalan batu bara dengan antrian kapal tongkang yang berjejer. Sebuah pemandangan yang sangat indah dari kontur alam Sengatta yang sangat komplit mulai dari tanah rawa, bukit dan laut. Kembali ke arah teluk lingga, kita akan melewati deretan toko kelontong yang berjejer di kiri dan kanan jalan.

View Pit J From Top

View Pit J From Top

Area Pit J akan segera terlihat setelah kita melewati kantor PLN, jika kita mengambil arah ke kiri maka akan sampai di Town Hall dan sampai di check point untuk masuk ke area tambang milik KPC. Dan apabila lurus maka akan sampai ke kota Bengalon lalu sampai ke Berau. Town hall merupakan sebuah tempat untuk bersantai bagi para pekerja tambang, karena letaknya yang hanya beberapa ratus meter dari pintu masuk utama KPC. Di area ini juga terdapat sekolah YPSB yang diperuntukan bagi anak-anak para karyawan KPC.

Town Hall

Town Hall

Jangan khawatir untuk masalah transportasi di sengatta, karena ada beberapa angkot yang biasa mereka menyebutnya dengan nama taksi yang cukup murah. Hanya dengan membayar kurang lebih Rp. 10.000 kita bisa mengelilingi mulai dari sengatta lama sampai sengatta baru tepatnya Town Hall di dekat gerbang masuk tambang KPC. Perjalanan yang cukup menyita energi karena macet dan kesemerawutan kendaraan di sini membuatku sedikit berpikir, “apakah para wakil rakyat yang sekang sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye memikirkan hal ini sehingga para penduduk yang tinggal di sengatta merasa lebih nyaman?” . Semoga saja mereka memperhatikan hal tersebut, sehingga kami bisa betah untuk tinggal berlama-lama di kota ini. Semoga saja…

Check Point KPC

Check Point KPC

Sengatta Journey Part I

Menyusuri jalanan kota Sengatta kabupaten Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur memang agak sedikit membuat kita berpikir dua kali untuk melakukannya. Bukan cuma jalanannya yang rusak akan tetapi kendaraan yang terparkir sembarangan di bahu kiri dan kanan jalan. Ditambah dengan kemacetan di beberapa tempat yang cukup membuat stress bagi orang yang belum pernah berkunjung ke sini. Belum lagi debu beterbangan yang melebihi kotornya kota jakarta serta sampah berserakan di setiap tempat membuat kota ini tidak sebaik kota tetangganya seperti Bontang. Padahal dengan penduduk yang sangat padat dan ekonomi di atas rata-rata kebanyakan kabupaten lain, seharusnya kota ini bisa lebih mempercantik diri dengan cara berbenah dan melakukan berbagai kebijakan sehingga para pengunjung dan penduduk yang berkunjung ke sini bisa betah untuk tinggal berlama-lama di kota ini.

Meskipun dengan keadaan seperti inipun banyak dari para pendatang betah tinggal berlama-lama di kota ini bahkan ada diantara mereka yang enggan balik ke kampung halaman meski masa tugasnya sudah berakhir. Entah karena keramahtamahan masyrakat sini atau alasan lain sehingga mereka lebih memilih menghabiskan masa tuanya di sini. Padahal menurut hematku, dengan biaya hidup yang sangat tinggi di sini alangkah baiknya mereka memilih kembali pulang ke kampung halaman. Sehingga uang tabungan yang telah mereka kumpulkan selama bekerja di pertambangan bisa lebih bermanfaat ketimbang habis untuk biaya sehari-hari. Tetapi itulah salah satu fenomena yang cukup unik di sini. Mungkin juga karena rasa aman di sini, karena untuk tempat parkiran motor adalah sejauh mata memandang. Karena dimanapun kita parkir dan sampai berapa lamapun kendaraan kita akan aman dari pencurian meskipun kendaraan itu ditinggal selama berhari-hari.

Hotel Tempat Menginap

Hotel Tempat Menginap

Menyusuri kota sengatta lama, dan menginap selama beberapa hari di hotel kutai permai membuatku serasa bernostalgia setelah hampir 2 tahun tidak mengunjungi kota ini. Tidak ada perubahan yang begitu berarti, selain hamparan para karyawan tambang yang berjejer rapih di sepanjang jalan dan berbagai macam toko yang menjual kebutuhan sehari-hari masih terlihat dari ujung sengatta lama sampai area masuk tambang. Untuk itulah aku singgah di sebuah toko cindera mata untuk membeli beberapa oleh-oleh, yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempatku kost dahulu.

Ada hal menarik di sini, karena setelah sekian lamanya aku tidak berkunjung ke toko yang di beri nama Mahdhalena ini si pemiliknya ternyata masih mengenalku. Mungkin karena dulu setiap akan berangkat pulang untuk cuti, pasti ku sempatkan untuk mampir ke toko ini membeli beberapa oleh-oleh sebagai buah tangan untuk kerabat di bekasi. Bukan hanya 1 atau 2 buah saja, akan tetapi puluhan buah baju sudah ku beli di sini. Mungkin hal tersebutlah yang membuat sang pemilik masih mengenalku. Di toko ini menjual berbagai macam cendera mata mulai dari kaos-kaos bertemakan pulau kalimantan, ada juga gantungan kunci, kain batik khas dayak dan obat-obatan khas kalimantan.

Toko Souvenir Mahdalena

Toko Souvenir Mahdalena

Karena harga yang cukup terjangkau dan hanya berkisar antara Rp. 35.000 – Rp. 40.000/kaos, maka ku putuskan untuk membeli beberapa buah. Karena jika nanti membeli di bandara sepinggan balikpapan harga akan menjadi 2 kali lipat dari harga di toko ini. Selain kaos ada beberapa kain songket dan kain khas dayak yang menjadi pilihanku untuk ku beli. Padahal sebenarnya aku menginginkan kain untuk ikat kepala seperti yang pernah ku dapatkan dari flores NTT. Dua lembar khas dayak dan 1 songket sudah ku dapatkan, tinggal mencari beberapa item lagi untuk pesanan teman di kampung halaman. Hanya dengan merogoh kocek yang tidak terlalu dalam, ternyata masih bisa mendapatkan oleh-oleh yang begitu banyak di sengatta. Dan ternyata masih ada barang murah dengan kualitas yang cukup baik di sini.

Bersambung…

Dusun Lok Padee Dan Jembatan Gantung Yang Mendebarkan

Kangen juga rasanya naik mobil double cabin menyusuri jalan hauling dari simpang sumpol sungai danau menuju kantor di area tambang satui Tanah Bumbu. Bukan karena bisa istirahat sejenak sebelum bekerja, karena perjalanannya yang memakan waktu hampir 1 jam lebih akan tetapi karena pemandangan sepanjang jalan hauling tersebut yang membuatku rindu akan suasana hijau di sana. Apalagi jika dahulu masih di area office gatot kaca ketika hanya perusahaan kami yang di tinggal sendirian di sana karena semua kontraktor yang lain pindah ke area yang baru. Selain suasananya yang sedikit agak sunyi, ada beberapa titik yng menurutku sangat spesial dan menjadi salah satu tempat favoritku ketika rindu dengan suasana kampung halaman.

Memasuki gerbang desa bukit baru kita akan melewati kampung pabilahan, sebuah kampung di tengah area kontrak karya pertambangan milik PT. Arutmin Indonesia ini mungkin satu tempat yang paling ramai di banding desa-desa yang lain. Karena kampung yang di apit oleh dua buah area pertambangan ini terdapat beberapa rumah permanen milik para penduduk kampung. Kampung yang berjarak kurang lebih 30 km dari kecamatan satui ini telah memiliki fasilitas listrik sehingga para penduduk tidak kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setelah melewati jembatan di pabilahan yang di bangun oleh salah satu pemilik lahan untuk kelancaran mengangkut batu-bara ke pelabuhan kita akan memasuki perempatan yang akan menuju area pertambangan dan desa lok padi.

Nich dia Jembatan Gantungnya

Nich dia Jembatan Gantungnya


Di Tengah Banjir

Di Tengah Banjir


Desa lok padi sendiri berada di sebelah utara area tambang dan berjarak kurang lebih 10 kilometer dari simpang tersebut. Dahulu sebenarnya ada jalan yang di buat oleh pengusaha tambang yang menuju ke desa ini, akan tetapi karena area ini sudah mulai di tambang jalan akses yang menuju desa pun kini sudah di tutup sehingga kita harus memutar sejenak untuk sampai ke desa lok padi. Jika kita memakai kendaraan yang memiliki akses di tambang, maka kita dapat melalui jalan ini dan akan menemukan beberapa spot menarik seperti danau bekas lahan tambang yang sudah di tinggalkan dan pemandangan pegunungan meratus yang nampak dari kejauhan serta jembatan gantung di tengah sungai lok padi yang sangat sayang untuk di lewatkan.
Dari Kejauhan

Dari Kejauhan


Di Sisi Jembatan

Di Sisi Jembatan


Sunrise Menyambutku

Sunrise Menyambutku


Jembatan ini biasanya digunakan oleh penduduk ketika jalan untuk ke perkebunan sawit tidak bisa di lewati karena banjir akibat hujan di hulu sungai. Sebenarnya agak sedikit iseng juga untuk mencoba melewati jembatan ini. Karena jembatan gantung yang memiliki panjang lebih dari 50 meter ini memiliki ketinggian yang cukup membuat jantung ini sedikit berdebar. Akan tetapi bukan tingginya yang ku takutkan, tetapi ketinggian air sungai akibat banjir dan arusnya yang begitu kencanglah yang membuatku sedikit menahan nafas untuk melewatinya. Belum lagi efek dari jembatan yang bergoyang akibat di depanku sudah ada yang lewat dengan cara berlari makin membuat keringat dingin sedikit bermunculan.
Safety Sign...

Safety Sign…


Menegangkan....

Menegangkan….


Bukan pecinta kegiatan alam terbuka jika harus melewatkan momen yang menegangkan ini, karena mungkin momen banjir ini tidak setiap hari aku dapatkan. Dengan perasaan tak karuan akhirnya kuberanikan diri menjejakan kaki di papan pertama jembatan gantung ini. Satu per satu papan terlewati, akan tetapi setelah beberapa saat keadaanjembatan mulai sedikit bergoyang dan memaksaku untuk menahan langkah sejenak di tengah sungai yang sedang banjir dengan arus yang sangat kencang dan debit air yang sangat tinggi. Wow… pengalaman yang tak bisa terlupakan bagaimana tidak di saat para pekerja lain di evakuasi, kami malah masuk ke zona bahaya. Setelah jembatan agak sedikit berhenti goyangannya, akhirnya kulanjutkan untuk menyebrangi sungai ini.
Bikin Ciut Nyali Juga Nich :D

Bikin Ciut Nyali Juga Nich 😀


Sebuah pengalaman menakjubkan, melewati jembatan gantung di desa lok padi ketika banjir dan menenggelamkan jalan menuju kantor kami….
Di Tengah Jembatan

Di Tengah Jembatan

Pesan Emak Nyang Bikin Geli

Ada-ada saja pesan emak nyang bikin perut ane mules nahan tawa sebelon pergi kembali ke Kutai Timur buat ngelaksanain tugas kantor selama beberapa hari ke depan. Pesan singkat nyang bikin sebagian orang mungkin agak sedikit mengerutkan dahi karena mungkin gak masuk akal. Emang menurut sebagian orang katanya : ” Kalo dah ngerasain air kalimantan, susah rasanya buat ninggalin banua etam ini”. Tapi menurut pendapat ane pribadi, semua itu rasanya cuman sebuah mitos belaka. Buktinya, ane sendiri nyang ngalamin dan dah ngerasain pergulatan hebat di dalam batin nyang ngebutuhin pemikiran mendalam buat ninggalan tanah kalimantan. Biar agak sedikit berat, ternyata karena tekad dan keinginan buat ngumpul ma keluarga akhirnya bisa juga ijin buat pulang dan kerja di jakarta lagi.

Pesan emak nyang begitu mendalam membuat ane sedikit terhenyak mikirin apa bener ntu nyang dia omong. Pesannya cukup singkat : ” Ati-ati Tong…! Kalo elo ntar nyampe sono langsung (Maaf) berak, ntu tandanya elo masih betah di sono…”. Hahaha…emang dasar orang dulu pinter-pinter kali ya? Ampe kepikiran ke sono, padahal para ilmuwan sekarang aja belum tentu mikir sejauh ntu. Gak abis pikir, apa karena orang dulu betah berlama-lama di dalem wc sehigga mereka punya kesimpulan seperti itu?

Tapi buat ngehormatin nyokap nyang udah ngelahirin, ngegedein dan nyekolahin ane, akhirnya dengan bibir nyang agak di tutup dikit ane iyain aja. Mungkin ada benernya juga kali, buat orang jepang nyang negaranya udah maju aja kalo ngelakuin audit pada anak perusahaannya di negeri tercinta Indonesia hal pertama nyang pasti diliat adalah toiletnya. Karena jika toiletnya aja udah bersih, kemungkinan besar tempat-tempat lain di area perusahaan pasti akan lebih bersih juga. Mangkanya kalo dah ngerasain buang air besarnya betah apalagi buat tinggal, pasti akan betah pula.

Semoga saja semua ntu cuman mitos belaka, karena pada akhirnya semua ntu tergantung kita sendiri nyang ngejalanin. Bukankah segala sesuatu sebab akibat ntu berasal dari diri kita sendiri. Satu lagi pesen emak nyang bikin ane makin sayang ma dia. I Love U mom….

Menggapai Puncak Gunung Lawu 3265 Mdpl

Keangkuhan puncak abadi Mahameru (3656 Mdpl) selalu saja mengusik jiwa petualang kami, entah karena pesonanya yang begitu memikat hati atau karena cerita yang kami dengar semakin menambah rasa penasaran kami untuk melakukan pendakian ke sana. Beruntung kali ini cuaca agak bagus karena bulan agustus adalah bulan dan momen tepat untuk melihat bunga edelweiss mekar. Dan memang kali ini adalah pendakian pertama setelah lama tertidur panjang mencari modal, karena notabene hobby olahraga mendaki gunung pada tahun 1999 adalah salah satu hobby yang cukup banyak memakan biaya. Begitulah kenyataannya, hidup sebagai anak kost harus bisa memilih mana yang menjadi prioritas untuk kuliah atau untuk hobby.

Berbagai informasi tentang gunung ini kami kumpulkan sebagai penambah informasi yang akan kami butuhkan ketika hendak mendaki nantinya. Berangkat dari rumah kost di jalan kebon gedang – Binong, akhirnya kami berangkat menuju ke stasiun Kiara Condong Bandung. Karena di sinilah kami akan membeli tiket kereta ekonomi menuju Malang. Baru saja sampai di ruang tunggu, mata ini tertuju pada sebuah berita di TV yang memberitakan tentang status gunung mahameru. Agak sedikit kecewa mendengar berita tersebut, karena persiapan yang sudah matang harus kembali gagal. Gagal untuk mencumbui pasir putihnya, berlari kecil di luas sabananya, gagal untuk bermalam dan mandi di dinginnya ranu kumbolo. Terpaksa rencana pun di alihkan ke salah satu gunung di perbatasan antara provinsi jawa tengah dan jawa timur, tepatnya Gunung Lawu.

Mungkin karena rute menuju ke sana yang sudah familiar di telinga kami, atau karena ingin menikmati Grojogan Sewu (Air terjun) sehingga kami alihkan rencana mendaki puncak gunung semeru ke puncak hargo dumilah gunung lawu. Dengan membayar tiket seharga Rp. 10.000, Kereta ekonomi yang namanya terkadang membingungkan karena efek perang bubat yang masih melekat dihati orang sunda membawa kami menuju stasiun solo balapan. Perjalanan selama kurang lebih hampir 14 jam terasa sangat menyiksa karena padatnya penumpang sehingga kami harus berdiri. Tapi memang orang Indonesia selalu untung karena perjalanan itu berlangsung pada waktu malam sehingga rasa panasnya agak sedikit berkurang meskipun harus beberapa kali terpaksa masuk toilet demi sekedar untuk ganti kaki saja.

Kereta yang kami tumpangi akhirnya merapat di stasiun balapan solo, dengan istirahat yang seadanya kami putuskan untuk langsung menuju terminal tirtonadi untuk naik bus yang akan membawa kami menuju sukoharjo untuk kemudian naik angkutan pedesaan menuju pos pendakian. Pos pendakian ini merupakan tempat yang dingin meskipun di waktu siang. Maka cocok jika akan kita jadikan sebagai tempat aklimatisasi atau tempat penyesuaian suhu tubuh terhadap ketinggian. Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pos II Lawu

Pos II Lawu

Pos IV Lawu

Pos IV Lawu

Before Summit Attack Lawu

Before Summit Attack Lawu

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air : Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5. Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik. Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang.

Area Sendang Drajat

Area Sindang Drajat

Sindang Drajat

Sindang Drajat

Pendakian melalui jalur Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata. Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke 4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos 2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris (karena seperti di iris). Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam. Untuk mendaki melalui Cemorosewu (bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula.

Sisi Utara Puncak Lawu 3265 Mdpl

Sisi Utara Puncak Lawu 3265 Mdpl

Lost Treasure In Cibarusah Bekasi

Selepas memanjakan mata dan mencuci paru-paru diseputaran area curug cipamingkis jonggol, ada sebuah pemandangan menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kali ini bukan pemandangan alam yang menarik mataku untuk mendekat, akan tetapi 2 unit mobil pengangkut batu yang membuatku tertegun dan berdecak kagum. Mobil truck berwarna hijau dan abu-abu yang terparkir hanya beberapa meter di depanku ini memang lain dari biasanya. Kendaraan tanpa logo yang mungkin keluaran ketika perang dunia ke dua ini begitu mempesona karena bentuknya yang masih terlihat orisinil dan masih sangat terawat dengan baik.

Si Hijau Nan Anggun

Si Hijau Nan Anggun


Si Abu-Abu Nan Elok

Si Abu-Abu Nan Elok


Sebagai seorang lulusan teknik mesin tentu saja segala sesuatu yang berhubungan dengan kendaraan sangat aku sukai, apalagi pekerjaanku sebagai teknisi alat berat membuatku semakin mencintai segala sesuatu yang berhubungan kendaraan. Untung saja saatnya tepat ketika aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat ini karena selain sungai dengan bebatuan yang tersusun dengan indah, sang pemilik mobilpun datang untuk mengganti beberapa bagian kendaraan yang rusak. Akhirnya dengan berbekal bahasa sunda karena cukup lama tinggal di bandung, aku putuskan untuk menanyakan segala sesuatu tentang mobil ini untuk meredakan rasa penasaranku terhadapnya.
Sang Pemilik

Sang Pemilik


Mobil yang menurut pemiliknya mungkin umurnya 3 kali lipat dari dia, masih menggunakan beberapa suku cadang yang masih asli. Anehnya lagi truck berkapasitas besar dengan empat roda ini menggunakan tenaga bensin sehingga bisa dikatakan sekelas mobil pick up padahal dari bannya saja dapat terlihat bahwa truck ini sekelas mobil truck dengan kapasitas lebih dari 3000 cc. Cukup membuat buatku salut terhadap para pemilik mobil ini, karena mereka merawatnya dengan sangat baik. Untuk dump body (Bak) nya masih menggunakan manual, hal ini bisa terlihat dari pipa baja panjang dari depan ke belakang bagian bak tersebut.
Si Cantik Tak mau Ketinggalan Narsis :D

Si Cantik Tak mau Ketinggalan Narsis 😀


Narsis Dulu :D

Narsis Dulu 😀


Narsis Dulu :D

Narsis Dulu 😀


Semoga saja kendaraan ini akan tetap terawat seperti tahun-tahun sebelumya, sehingga anak cucu kita dapat menikmati salah satu ciptaan manusia yang sampai saat ini masih bertahan.

Menapaki Tangga Terjal Menuju Curug Cipamingkis

Jadwal cuti proyek yang sangat pendek yang hanya menyisakan beberapa hari setelah lebaran 1434 H, membuat isi kepala sedikit berputar menentukan lokasi mana yang tepat untuk melakukan liburan. Bukan masalah waktu saja, akan tetapi sebagai seorang pekerja rendahan yang hanya menghasilkan sedikit uang tentu saja agak sedikit malas untuk mengambil beberapa tempat yang agak mewah untuk dijadikan tempat liburan keluarga. Begitulah nasib para pekerja seperti kami yang hanya bisa gigit jari ketika uang gajian yang sudah di tunggu selama satu bulan hanya transit selama beberapa jam saja di rekening tabungan. Belum lagi untuk bayar kontrakan serta cicilan kredit beberapa barang yang mengharuskan kami memutar otak sehingga gaji sebulan tidak habis dalam waktu beberapa jam. Dan jika bisa masih menyisakan sedikit untuk tabungan dan bekal di masa depan.

Dengan kondisi yang serba sulit seperti ini karena harga batu bara yang turun drastis, memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi besar-besaran. Bukan hanya jam kerja yang dikurangi, tetapi beberapa fasilitas dan kegiatan yang tidak menghasilkan profit terpaksa dihilangkan. Efekya tentu saja terjadi pada kami para pekerja. Untuk itu suatu pilihan yang tepat di usulkan oleh salah seorang teman yang kebetulan memiliki keluarga di daerah seputaran kabupaten bogor mengajak kami sekeluarga untuk berlibur sekaligus silaturahmi dengan orang tuanya. Selain bisa berwisata alam karena kebetulan selama hampir 3 tahun ke belakang kegiatanku mendaki gunung agak vakum, kami juga masih bisa memangkas beban biaya yang akan timbul ketika berwisata. Agak sedikit pelit memang, tapi begitulah kenyataannya karena minggu depan biaya kuliah S2 harus sudah dilunasi.

Curug Cipamingkis adalah sebuah tempat wisata alternatif untuk keluarga yang terletak di Kabupaten Bogor tepatnya di Kecamatan Sukamakmur. Air terjun yang tingginya tidak lebih dari 40 meter ini dapat di jangkau dengan mudah dari berbagai arah, karena letaknya tepat di jalur ramai. Dengan kondisi jalan yang cukup baik meskipun beberapa menit sebelum sampai lokasi ada jalan yang rusak tetapi untuk akses ke sini sangat baik. Kombinasi pemandangan pematang sawah, gunung dan liukan sungai sangat memanjakan mata.

Pintu Masuk Ke Curug

Pintu Masuk Ke Curug


Menuju Pintu Masuk

Menuju Pintu Masuk


Apalagi kondisi jalan yang cukup membuat jantung ini sedikit berdebar kencang karena sempitnya jalan dan tanjakan yang cukup terjal, bisa membuat kita sedikit berolahraga jantung. Disarankan untuk memeriksa kondisi fisik dan kendaraan dahulu jika kita berniat mengunjungi tempat ini. Karena beberapa tanjakan terjal dapat membuat kondisi fisik anda terkuras dan kondisi kendaraan anda sedikit bekerja keras. Maka dari itu selalu utamakan “Safety riding” sehingga anda bisa dengan nyaman berwisata ke tempat ini.
Fresh Setalah 2.5 Bulan Terjemur Di Tambang

Fresh Setalah 2.5 Bulan Terjemur Di Tambang


Berbasah Ria Bersama Si Kecil

Berbasah Ria Bersama Si Kecil


Agak sedikit heran ketika memasuki kawasan wisata curug cipamingkis ini, karena letaknya yang di apit beberapa gunung sehingga suhu udara di sini berkisar 200 – 240 C sehingga cukup membuat anda yang tidak terbiasa dengan dingin agak sedikit menggigil. Pohon pinus yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pintu masuk dan di gerbang pintu masuk semakin menambah sejuk suasana dan membuatku betah untuk berlama-lama sejenak di lokasi ini.
Aliran Sungai

Aliran Sungai


Aroma tanah basah dan harumnya batang pinus membangkitkan semangat untuk mendaki dan melihat curug ini dari dekat meski fisik yang sudah sedikit melebar ini sepertinya menolak untuk membakar kalori. Bagaimana tidak untuk dapat melihat curug ini lebih dekat, kita harus melalui tanjakan yang hampir 900 dengan kondisi jalan yang sangat licin. Karena si kecil Rinjani yang penasaranlah akhirnya ku putuskan untuk menaiki anak tangga untuk sampai di curug ini.
Curug Cipamingkis

Curug Cipamingkis


Ternyata untuk sampai ke curug ini hanya dengan menaiki anak tangga tersebut saja, karena setelah menaiki anak tangga tersebut jalanan sudah datar dan langsung sampai ke lokasi curug cipamingkis. Curug yang memiliki ketinggian kurang dari 40 meter ini memiliki debit air yang cukup deras sehingga dengan berdiri di depan curug meskipun cukup jauh jaraknya, baju yang kami pakai sudah basah. Setelah mengambil beberapa photo untuk dijadikan dokumentasi kami putuskan untuk kembali pulang karena jam sudah menunjukan lewat tengah hari.
Makan Di Bawah Pohon Pinus

Makan Di Bawah Pohon Pinus


Fasilitas untuk pengunjung saya rasa cukup lengkap mulai dari toilet, mushola dan warung-warung yang berjejer di sepanjang jalan masuk sehingga memudahkan pengunjung untuk memilih beristirahat setelah berkeliling mengunjungi curug ini. Untuk mereka yang hobby berbasah ria, dapat memilih spot mandi di sungai aliran curug yang terletak di sebelah anak tangga menuju lokasi curug. Kebersihan air sungai dan lokasi curug ini cukup terawat sehingga penulis merekomendasikan tempat ini untuk menjadi pilihan alternatif bagi mereka yang ingin berwisata alam dengan biaya murah dan cukup dekat lokasinya dari Bekasi, Karawang Maupun Cianjur.

Naik Pick Up Truck, Sebuah Tradisi Yang Nyaris Punah

Mobil barang atau Pick up truck biasa kami menyebutnya adalah sebuah kendaraan beroda empat yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang pada hari-hari biasa. Akan tetapi untuk hari istimewa misalnya hari besar seperti lebaran (Idul Fitri), kendaraan ini biasanya digunakan untuk mengangkut penumpang berupa manusia. Memang terlihat agak beresiko jika kita sebagai orang yang mengutamakan “Safety di atas segalanya” melihat perbuatan tersebut, akan tetapi jika hal tersebut merupakan sebuah tradisi yang sudah turun menurun mustahil rasanya untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. Bukan karena tidak mampu untuk membeli kendaraan yang cukup nyaman untuk membawa mereka kemanapun mereka inginkan, akan tetapi ada satu hal yang tak bisa di ungkapkan untuk melukiskan sensasinya.

Tradisi Kebersamaan

Tradisi Kebersamaan


Terdengar kurang masuk akal memang hidup di zaman yang serba mewah dan serba di manjakan ini. Akan tetapi satu hal yang masih dipegang oleh nenek moyang ku bahwasanya : “ Kebersamaan adalah segalanya….!!!”. Sebagai mahluk sosial, memang manusia tidak bisa lepas dari saling ketergantungan dengan orang lain. Apalagi nenek ku yang notabene adalah keluarga besar yang terdiri dari 13 orang besaudara, hal tersebut menjadi hal yang utama. Maka tak salah jika prinsip kebersamaan menjadi hal yang sangat di elu-elukannya. Dan pilihan untuk memiliki sebuah kendaraan pick up menjadi pilihan yang tepat untuk dapat mengangkut seluruh keluarga besarnya ketimbang memiliki kendaraan station wagon, Sub Urban ataupun Minibus. Sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ya…dengan memiliki kendaraan pick up selain bisa mengangkut puluhan karung padi ketika musim panen tiba, bisa juga untuk mengangkut keluarga besar jika mereka akan bepergian ke suatu tempat.

Jika kebanyakan orang kota beranggapan bahwa kenyamanan adalah segalanya, maka orang yang biasanya hidup di kampung atau di daerah pedesaan biasanya lebih mementingkan kebersamaan. Maka tak salah jika mereka lebih memilih membeli kendaraan pick up dibandingkan dengan kendaraan minibus yang hanya dapat memuat beberapa orang saja. Karena hal tersebut, tak salah jika momen seperti hari lebaran atau hari libur menjadi saat yang dinantikan oleh keluarga besarku. Selain bisa bersantai dan mengunjungi beberapa tempat wisata, mereka bisa melupakan sejenak aktifitas sehari-hari yang menyita waktu mereka.

Terkadang orang tuaku sengaja meluangkan waktu beberapa hari untuk mempersiapkan kendaraannya sehingga terasa cukup nyaman untuk bepergian. Mulai dari memasang tutup dari plastik tebal, dan membuat semacam pegangan di atas bak terbuka sehingga mereka yang nantinya akan menaiki mobil ini terasa tidakkepanasan dan cukup nyaman. Bukan hal yang mustahil apabila mereka yang menaiki mobil ini serasa menaiki kendaraan mewah. Karena segala sesuatu apabila di syukuri akan terasa lebih nikmat bukan? Untuk itulah meski hanya di saat-saat tertentu saja dapat menaiki kendaraan ini di jalan umum, kesan yang tersirat pada setiap orang yang pernah merasakan menaiki kendaraan ini selalu menunjukan ekspresi yang cukup membuat kita sedikit berbangga.

Tak ada salahnya untuk mencoba karena meskipun agak sedikit beresiko untuk menaiki kendaraan ini, kesan pertama yang ditimbulkan selalu saja membuat kita sedikit tersenyum. Semoga saja bapak-bapak pejabat tidak melarang tradisi bepergian menggunakan kendaraan terbuka, karena hal ini bukan hanya sebuah tradisi akan tetapi ada sebuah pesan tersembunyi yang ingin mereka sampaikan bahwa : “ Kebersamaan adalah hal yang utama….!”.

Asyik….Waktu Mudik Telah Tiba

Mudik….? Satu kata cukup singkat tetapi penuh dengan jutaan makna. Satu kata kerja yang cukup membuat semua orang yang melakukannya tidak bisa tidur semalaman atau bahkan mungkin beberapa hari sebelum hari H tersebut tiba. Bukan karena letihnya perjalanan atau mungkin berdesak-desakannya sesama pemudik di angkutan umum, akan tetapi moment yang paling di tungggu selama setahun ini memang memberikan kesan tersendiri bagi kami para pekerja yang jauh meninggalkan keluarga di tanah seberang.

Tradisi Mudik

Tradisi Mudik

Sumber gambar
Tradisi mudik adalah tradisi Indonesia yang saya rasa sangat unik. Tradisi ini rasanya tidak akan dijumpai di negara-negara lain. Bahkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam, maka tradisi mudik ini tidak dijumpai. Yang ada adalah tradisi silaturahmi yang memang sudah ada semenjak lama, yaitu ketika Islam turun di Negara Arab. Jika tradisi silaturahmi memang ada relevansi teksnya, misalnya Sabda Nabi Muhammad saw, “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yashil rahimah”. Yang artinya, bahwa “barang siapa mempercayai Allah dan hari akhir, maka hendaknya menyambung tali silaturahmi”. Kemudian, di dalam tradisi Jawa juga didapatkan tradisi sungkeman, yaitu tradisi yang dilakukan oleh yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dari anak, cucu atau kerabat yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dituakan. Misalnya di dalam tradisi mantenan atau perkawinan, dan bahkan ketika ada acara pertemuan keluarga dan sebagainya.

Tradisi mudik adalah dialog antara tradisi Islam dengan tradisi Jawa, yaitu tradisi silaturrahmi dengan tradisi sungkeman di dalam tradisi Jawa. Jika di dalam tradisi Islam memang didapatkan teks mengenai aktivitas untuk saling berkunjung ke rumah, maka di dalam acara sungkeman yang khas Jawa adalah tradisi yang sesungguhnya diprakarsai oleh para raja dan keturunannya, namun juga menjadi tradisi masyarakat yang masih mengagungkan budaya Jawa. Hingga kini tradisi ini memang masih menjadi pola bagi tindakan sebagian masyarakat kita.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum atau kendaraan melalui jaringan jalan yang ada sehingga sering mengakibatkan penumpang/pemakai perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. Mungkin bagi orang luar negeri, perjalanan mudik adalah penyiksaan dan bahkan pengalaman yang traumatic. Akan tetapi kemacaten bagi para pelaku mudik adalah bagian dari tradisi mudik. Bahkan jika seandainya mudik tanpa macet, maka tradisi mudik menjadi kurang bermakna. Justru mudik yang penuh dengan kemacetan dan kesulitan itu bisa dilampaui maka rasa mudik menjadi sebuah cerita yang menarik. Maka memikirkan mudik tanpa macet rasanya juga tidak menjadi signifikan. Yang penting adalah bagaimana mengatur agar ketika terjadi kemacetan mereka tetap nyaman berkendaraan. Hanya saja yang diperlukan adalah bagaimana menihilkan kecelakaan di saat mudik. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah memanej perjalanan kendaraan agar sesuai dengan aturan. Jadi, tradisi mudik merupakan tradisi yang khas dan kemacetan di dalam tradisi mudik juga menjadi bagian dari festival mudik yang memang harus terjadi.

Well… Meski sudah berulangkali melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman di Cikarang, tetap saja perjalanan mudik kali ini serasa menguras tenaga. Mulai dari packing barang bawaan sampai tetek bengek oleh-oleh buat keluarga dan si kecil di sana menjadikan satu keunikan tersendiri bagi diri saya. Semoga perjalanan mudik malam nanti di mudahkan. Dan semoga saja tidak ada lagi delay pesawat dari Banjarmasin, sehingga planing untuk sampai rumah tepat pagi hari bisa terlaksana. Amien…