Menggapai Puncak Gunung Lawu 3265 Mdpl

Keangkuhan puncak abadi Mahameru (3656 Mdpl) selalu saja mengusik jiwa petualang kami, entah karena pesonanya yang begitu memikat hati atau karena cerita yang kami dengar semakin menambah rasa penasaran kami untuk melakukan pendakian ke sana. Beruntung kali ini cuaca agak bagus karena bulan agustus adalah bulan dan momen tepat untuk melihat bunga edelweiss mekar. Dan memang kali ini adalah pendakian pertama setelah lama tertidur panjang mencari modal, karena notabene hobby olahraga mendaki gunung pada tahun 1999 adalah salah satu hobby yang cukup banyak memakan biaya. Begitulah kenyataannya, hidup sebagai anak kost harus bisa memilih mana yang menjadi prioritas untuk kuliah atau untuk hobby.

Berbagai informasi tentang gunung ini kami kumpulkan sebagai penambah informasi yang akan kami butuhkan ketika hendak mendaki nantinya. Berangkat dari rumah kost di jalan kebon gedang – Binong, akhirnya kami berangkat menuju ke stasiun Kiara Condong Bandung. Karena di sinilah kami akan membeli tiket kereta ekonomi menuju Malang. Baru saja sampai di ruang tunggu, mata ini tertuju pada sebuah berita di TV yang memberitakan tentang status gunung mahameru. Agak sedikit kecewa mendengar berita tersebut, karena persiapan yang sudah matang harus kembali gagal. Gagal untuk mencumbui pasir putihnya, berlari kecil di luas sabananya, gagal untuk bermalam dan mandi di dinginnya ranu kumbolo. Terpaksa rencana pun di alihkan ke salah satu gunung di perbatasan antara provinsi jawa tengah dan jawa timur, tepatnya Gunung Lawu.

Mungkin karena rute menuju ke sana yang sudah familiar di telinga kami, atau karena ingin menikmati Grojogan Sewu (Air terjun) sehingga kami alihkan rencana mendaki puncak gunung semeru ke puncak hargo dumilah gunung lawu. Dengan membayar tiket seharga Rp. 10.000, Kereta ekonomi yang namanya terkadang membingungkan karena efek perang bubat yang masih melekat dihati orang sunda membawa kami menuju stasiun solo balapan. Perjalanan selama kurang lebih hampir 14 jam terasa sangat menyiksa karena padatnya penumpang sehingga kami harus berdiri. Tapi memang orang Indonesia selalu untung karena perjalanan itu berlangsung pada waktu malam sehingga rasa panasnya agak sedikit berkurang meskipun harus beberapa kali terpaksa masuk toilet demi sekedar untuk ganti kaki saja.

Kereta yang kami tumpangi akhirnya merapat di stasiun balapan solo, dengan istirahat yang seadanya kami putuskan untuk langsung menuju terminal tirtonadi untuk naik bus yang akan membawa kami menuju sukoharjo untuk kemudian naik angkutan pedesaan menuju pos pendakian. Pos pendakian ini merupakan tempat yang dingin meskipun di waktu siang. Maka cocok jika akan kita jadikan sebagai tempat aklimatisasi atau tempat penyesuaian suhu tubuh terhadap ketinggian. Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pos II Lawu

Pos II Lawu

Pos IV Lawu

Pos IV Lawu

Before Summit Attack Lawu

Before Summit Attack Lawu

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air : Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5. Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik. Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang.

Area Sendang Drajat

Area Sindang Drajat

Sindang Drajat

Sindang Drajat

Pendakian melalui jalur Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata. Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke 4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos 2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris (karena seperti di iris). Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam. Untuk mendaki melalui Cemorosewu (bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula.

Sisi Utara Puncak Lawu 3265 Mdpl

Sisi Utara Puncak Lawu 3265 Mdpl

Iklan

2 thoughts on “Menggapai Puncak Gunung Lawu 3265 Mdpl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s