Jakarta Oh… Jakarta

Kaget juga rasanya kembali menjalani aktifitas sehari-hari untuk bekerja di area head office pulo gadung setelah hampir 3 tahun meninggalkan hiruk pikuknya kehidupan kota metropolitan ini. Bukan saja suasana kantor yang membuatku merasa asing untuk berinteraksi, akan tetapi geliat kehidupan masyarakatnya lah yang membuatku agak sedikit tercengang. Sungguh sebuah kota yang tidak pernah tidur dan masih menjadi magnet bagi para sebagian pendatang untuk datang mengadu nasib di kota ini. Aneh memang, untuk sebagian orang jakarta adalah syurga untuk mencari peruntungan bagi mereka yang beruntung. Akan tetapi jakarta juga bak sebuah neraka bagi mereka yang gagal mengadu nasib di kota ini.

Jika bukan karena keinginan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan di kota ini, mungkin diriku akan lebih memilih untuk bekerja dan memiliki rumah di daerah penunjang seperti purwakarta atau cikampek. Pusing kepala ini jika tiap hari harus beradu cepat dengan orang lain agar datang ke kantor tidak terlambat dan masih ada sedikit waktu untuk beristirahat sejenak setelah melewati kemacetan. Bukan saja waktu untuk berkumpul dengan keluarga di rumah yang harus sedikit berkurang, akan tetapi waktu istirahat di kala malam selepas seharian bekerja yang menjadi hanya beberapa jam saja. Padahal jika kita mengikuti fatigue monitoring waktu istirahat yang baik adalah tidur selama 7 jam tanpa putus. Bagaimana bisa mencapai hasil 7 jam jika kita pulang dari kantor jam 17:00 dan baru sampai di rumah pada jam 20:00 nanti. Belum lagi mandi, makan dan bicara sejenak dengan keluarga yang memakan waktu lebih dari 1 jam.

Mungkin ada baiknya juga opini untuk memindahkan kawasan industri di sekitar jakarta ke arah timur seperti karawang ataupun purwakarta sehingga akan mengurangi resiko kemacetan parah di jakarta 2-3 tahun mendatang. Karena untuk saat ini, volume kendaraan setiap harinya di jakarta sudah melebihi kapasitas. Di tambah lagi dengan sistem transportasi negeri ini yang tidak terintegrasi dan kacau balau. Bagaimana tidak, dengan jumlah penduduk yang banyak tidak di imbangi dengan sistem transportasi yang baik. Kereta api yang menjadi andalan masyarakat, letak stasiunnya jauh dari terminal maupun jalan raya sehingga jika kita ingin bepergian naik kereta api terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk sampai di stasiun. Padahal transportasi dengan kereta api adalah yang paling murah dibandingkan moda transportasi yang lainnya.

Apakah para pembuat kebijakan tidak pernah memikirkan hal ini?

Sungguh sebuah tantangan yang harus di selesaikan di tengah kinerja para wakil rakyat yang sebentar lagi akan melakukan pemilihan umum. Andai saja mereka menjadi rakyat kecil yang mengharuskan menggunakan moda transportasi umum dan tidak memakai kendaraan pribadi, tentunya mereka akan memikirkan solusinya. Beruntung masih ada sebagian kecil pejabat yang masih menggunakan transportasi umum sehingga patut mendapat acungan jempol.

Iklan

2 thoughts on “Jakarta Oh… Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s