Sudan & Semua Kisahmu…

Sudan sebuah kata yang cukup familiar di telingaku ketika pertama kali menjejakan kaki di tanah ini. Mungkin karena teringat kebiasan orang sunda yang selalu menyingkat dua kata menjadi satu kata seperti Gehu (Toge Tahu), sebuah cemilan ringan yang selalu ku beli ketika dulu masih menjadi mahasiswa d kota kembang bandung. Barangkali karena kebiasaan menyingkat kata tersebutlah yang membuatku berfikir keras sehingga menemukan arti dari kata Sudan ini. Ya.. Kota Satui atau biasa orang familiar menyebutnya Sudan (Sungai Danau), entah mengapa nama desanya lebih terkenal ketimbang nama kecamatannya. Satu fenomena unik di sini, para sopir travel lebih tahu lokasi sungai danau ketimbang satui yang merupakan ibukota kecamatan.

Rumah berlantai dua dengan pelataran cukup luas seakan menjadi saksi kehidupan di tanah rantau selama hampir 3 tahun kebelakang ini. Well… Life must go on, isn’t it…?i Selama beberapa waktu ini memang ada sedikit penurunan produksi yang berimbas pada tutupnya beberapa operasi penambangan batu bara di negeri tercinta ini. Apakah karena efek dari krisis global atau karena beberapa spekulasi dari para pengusaha untuk menurunkan target produksinya sehingga memaksa melakukan reduce cost yang berdampak pada turunnya pendapatan bagi sebagian karyawan. Sebagian orang memang beruntung dengan kondisi seperti ini, akan tetapi bagi sebagian lainnya yang menggantungkan ekonomi sepenuhnya pada sektor ini akan berdampak besar sekali. Begitulah memang kondisi yang terjadi ketika salah satu kontraktor tambang melakukan mogok operasi.

Keluarga Besar Sungai Danau

Keluarga Besar Sungai Danau


Karena kondisi seperti itulah, memaksa kami para karyawan yang ditugaskan untuk mensupport di area tersebut harus rela jika harus kembali di mutasikan ke tempat lain yang mungkin situasinya agak lebih baik. Bukannya menolak untuk dipindahkan ke tempat lain, akan tetapi ada alasan lain yang membuatku hati ini terasa kerasan tinggal di sini. Akses yang cukup dekat dengan bandara yang hanya memakan waktu perjalan darat sekitar 3.5 jam, dibandingkan site-site lainnya yang harus di tempuh dengan perjalanan minimal 6 jam. Begitupun dengan mess tempat kami tinggal selama menjalani tugas kantor yang merupakan mess terindah dan terbagus milik perusahaan 😀

Ada segurat asa tertinggal di tanah satui ini, kota penuh kenangan. Kenangan akan debu yang beterbangan hingga membuat olahraga yang kami lakukan serasa sia-sia. Kenangan akan keramah-tamahan ading-ading yang menjadi bahan ejekan kami, dan sejuta kenangan tentang arti sebuah persahabatan di mess H.Taufik. Bermain gitar melepas penat dan rasa rindu yang dalam pada keluarga yang ditinggalkan menjadikan satu titik terindah yang tidak akan terlupakan dalam hidup. Yang akan menjadikan satu cerita indah untuk anak cucu kami, bahwasanya leluhur mereka pernah membuat satu kenangan manis di tanah satui.

Semoga saja, semuanya cepat berlalu sehingga mereka yang menggantungkan hidup di sungai danau bisa kembali beraktifitas lagi. Sungai danau dan sejuta kenangan indahnya akan selalu membekas di hati ini…

Note : Maaf izin masang photo yach 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s