Orang Tua Yang Di Buang …

Jika saja aku yang menjadi salah satu anak atau bahkan cucu dari orang tua tersebut, maka rasanya akan marah jika membiarkan orang setua tersebut harus pergi membeli obat ke apotik yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Mungkin karena kesibukan mereka sehingga membiarkan ayahnya yang tua renta harus berjuang untuk mendapatkan obat penghilang rasa sakit sendirian. Atau mungkin orang tua tersebut yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya dan mengganggu aktivitas mereka. Akan tetapi, hari ini adalah hari minggu dimana semua pekerja seharusnya libur dan bisa meluangkan waktu untuk sekedar menemani orang tua tersebut.

Ilustrasi ketika kecil

Ilustrasi ketika kecil


Berjalan tertatih dengan menggunakan dua buah tongkat yang diselipkan di ketiaknya, orang tua tersebut seolah bingung dengan arah jalan yang akan di lewati. Luapan air got di depan terminal cikarang seolah menyurutkan langkahnya untuk menuju peron dan naik bus patas jurusan cikarang – senen. Dari bangku bagian depan, kuperhatikan orang tua tersebut nampak kebingungan mencari cara untuk sampai ke bus yang ku tumpangi. Beruntung, bus tersebut berjalan perlahan sehingga sampai di depan orang tua tersebut. Akan tetapi setelah bus sampai di hadapannya, ada masalah lain yang timbul karena dia nampak bingung untuk membuka pintunya karena kedua tangannya masih memegang tongkat untuk menopang kakinya. Karena letak tempat dudukku yang dekat dengan pintu, maka kubuka pintu tersebut dan ku topang dirinya yang masih bingung dengan apa yang ku lakukan. Akhirnya dia bisa naik ke bus dan duduk di sebelahku karena lebih mudah untuk turun nanti.

Setelah beristirahat dan menyeka keringat yang membasahi tubuhnya yang renta meski cuaca pagi ini cukup dingin, ku buka pembicaraan dengan menanyakan keperluannya. “Saya ingin membeli obat jantung di daerah depan atrium senen dik, karena obatnya hanya ada di apotik tersebut…”. Kondisi bapak yang sakit dengan kaki yang saat ini masih luka, mengapa tidak mengajak atau menyuruh anak-anak bapak saja tanyaku kembali. ” Bapak tidak ingin merepotkan mereka, karena saat ini mereka sibuk dengan urusan dan dunianya masing-masing”. Subhanallah… dengan kondisi yang setengah fit dan tubuh yang sudah sangat renta karena usia yang hampir mendekati 71 tahun, anda masih tidak ingin merepotkan anak-anak. Sebuah kata yang membuatku tercengang, dan malu untuk melanjutkan pertanyaan tersebut.

Ilustrasi orang tua cacat

Ilustrasi orang tua cacat


Sumber gambar
Apakah kita yang masih muda harus berpangku tangan melihat keadaan ini…?
Harusnya kita malu menyaksikan orang setua itu masih bisa untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, bahkan bantuan dari anaknya sendiri. Paddahal dari pembicaraan kami pak tua tersebut memiliki 6 orang anak yang dua diantaranya sudah lulus S1 dan bekerja di salah satu pusat pertokoan di cikarang. Cukup fantastis, dengan hanya modal nekat dan keberanian saja orang tua tersebut sanggup untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Dimanakah letak hati kita…? Di saat usia lanjutnya sang bapak harus tertatih-tatih hanya untuk membeli obat penghilang rasa sakit.

Apakah kita tidak punya hati jika membiarkan hal ini terjadi…?
Tak pernahkah terlintas di benak kalian bahwa untuk membesarkan kalian, orang tua meski berkorban dengan segenap tenaga. Bahkan tak jarang harus berkorban nyawa demi sang buah hati agar bisa hidup lebih baik dari hidupnya. Tak pernahkah terbayang di otak kalian untuk meluangkan waktu sebentar saja untuk menyenangkan dan membahagiakan hidup orang tua kita yang telah membesarkan kita? Uang dan materi tidak akan pernah ada habisnya untuk d kejar, akan tetapi kebahagian orang tua adalah sesuatu hal yang tanpa kompromi harus kita lakukan sebagai tanda balas budi dan pengabdian seorang anak yang mesti dilakukan.

Marilah sejenak kita luangkan waktu sejenak untuk sekedar menanyakan kabarnya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan. Marilah sejenak kita luangkan waktu sekedar untuk menanyakan kepada orang tua kita bahwa ingin makan apa sekarang? Selagi mereka masih hidup, bahagiakanlah mereka dan buatlah mereka tersenyum karena dengan begitu berkah Tuhan akan selalu mengiri kita. Jangan biarkan mereka di akhir hidupnya merasa terbuang dan dibuang oleh anak yang telah di besarkannya. Semoga saja…

*Sebuah pelajaran hidup di atas P.122 tujuan cikarang – senen, menuju lokasi kampus*
(03 November 2013)

Iklan

One thought on “Orang Tua Yang Di Buang …

  1. Ping-balik: Belajar Bersyukur Dari Orang Yang Cacat | rindutanahbasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s