Coretan Tangan Untuk Ayah

Selamat Ulang Tahun Ayah...

Selamat Ulang Tahun Ayah…

Segala puji untuk-Mu Ya Rabb
Telah menganugerahkan kepadaku
Dua orang malaikat cantik
Secantik akhlak mereka

Terima kasih Ya Rabb
Kau sampaikan aku pada hari ini
Hari dimana 33 tahun yang lalu
Untuk pertama kalinya aku bernafas di alam dunia

Bantulah aku Ya Rabb
Jadikan mereka, mendekatiku, menyayangiku dan mencintaiku
Jadikan mereka orang yang mencintaiku karena-Mu
Berikan semua itu semua dengan petunjuk dan rahmat-Mu

Dan berikan kepada kami yang terbaik di dunia dan akhirat…
Amien

Big hugs for my beloved wife “ii”
and also for my little angel “rinjani”
Terima kasih atas ucapannya yach…
I love you so much
Dec 27, 2013

Iklan

Rel Kereta Dan Jalan Hidup…

Jalan lurus

Jalan lurus

Sebenarnya tak ada hal istimewa pada gambar di atas ini, hanya saja entah kenapa setiap kali aku melihatnya ada sesuatu yang sangat spesial. Entah karena memang momennya yang tepat karena gambar ini ku ambil di pagi hari selepas olahraga pagi bersama anak dan istriku tercinta. Atau entah karena hal yang kebetulan saja karena rel yang berada di belakang rumah mertuaku ini menampilkan sesuatu yang istimewa di pagi itu. Atau karena gambar ini ku ambil di saat hanya menyisakan waktu 2 hari lagi tepat hari lahirku. Entahlah….

Jika saja kehidupan ini lurus-lurus saja seperti rel kereta api  ini, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda karena pastinya tidak ada sesuatu yang bisa diceritakan. Mungkin sebuah hal yang mustahil jika hidup kita akan lurus-lurus saja seperti rel kereta ini. Pada awalnya mungkin saja hidup ini akan berjalan lurus saja, akan tetapi ketika sampai pada satu titik dimana hidup yang kita jalani terasa tidak lurus dan banyak ganjalan. Ganjalan-ganjalan tersebut mungkin akan semakin banyak seiring dengan bertambah dewasanya diri kita. Jika saja kita mengalami hal seperti ini, yang harus kita lakukan adalah mulai menata kembali hidup ini dengan perlahan-lahan menyingkirkan hambatan tersebut satu persatu dan berusaha untuk menapakinya selangkah demi selangkah. Pelajari dan evaluasilah apa saja yang bisa di benahi dari langkah yang telah kita lalui tersebut berdasarkan pengalaman kita. Kemudian kembalilah ke jalan awal hidup kita dengan panduan agama kita sehingga kita akan kembali ke jalan lurus tadi.

Bukankah hidup ini seperti sebuah roda? Terkadang posisi kita berada di atas dan terkadang berada di bawah. Ketika kita di bawah, tetaplah bersemangatlah dan berpengharapan. Karena Tuhan tidak akan membiarkan kita untuk selalu di bawah. Dan… ketika diri kita sedang berada di atas, maka hendaknya bersikap rendah hatilah karena suatu ketika Tuhan mungkin akan mengembalikan posisi kita di bawah untuk mengajarkan tentang makna apa itu nikmatnya hidup berada di atas?

Jika saat kita di atas berlaku seenaknya, maka ketika kita jatuh tak akan ada orang sudi mengulurkan tangan hanya sekadar untuk menyemangati moral kita. Begitulah hukum kehidupan, semoga saja hidup ini akan lurus-lurus saja seperti rel kereta api ini. Dan jika memang ada ganjalan, semoga saja kita bisa untuk menghadapinya dan mampu melaluinya dengan berpegang teguh pada Allah sang pencipta.

Lurus sejauh mata memandang dan menuju satu titik …

Rute Nekat Menuju Pantai Tanjung Pakis Karawang

Pintu Masuk Kawasan

Pintu Masuk Kawasan

Sumber gambar : Klik
Sebenarnya perjalanan ini telah lama saya lakukan, tetapi entah mengapa setelah melihat daftar tulisan-tulisan sebelumnya tidak ada satupun yang membahas tentang tempat ini. Mungkin sudah menjadi kebiasaan yang selalu telat untuk memutuskan apakah akan menuliskannya di sini atau tidak, atau mungkin karena rentetan tugas kampus yang seolah sangat menyita waktu saya belakangan ini sehingga hampir lebih satu bulan blog ini tidak terurus.

Jika bukan karena bro proleevo mungkin satu lagi titik perjalanan ini akan sedikit redup di ingatan. Begitulah memang jika menjadi warga biasa yang harus membagi waktunya dengan pekerjaan, pendidikan dan keluarga. Sehingga target bisa menulis minimal 10 buah tulisan dalam sebulan tidak pernah bisa terealisasi.:D

Kembali ke tujuan semula, kali ini saya akan berbagi lagi satu buah spot menarik yang sangat-sangat sayang untuk dilewatkan terutama bagi anda yang berdomisili di seputaran Jakarta, Bekasi, Karawang, Bogor dan Purwakarta. Kawasan wisata keluarga Pantai Tanjung Pakis Karawang. Kawasan wisata yang terletak di Desa Pakisjaya Kecamatan Kecamatan Pakisjaya, kurang lebih sekitar 60 – 70 kilometer dari pusat kota Karawang.

Survey Lokasi :D

Survey Lokasi 😀

Kawasan wisata yang mulai ramai di awal 90an ini sudah sangat terkenal oleh para penduduk yang berdomisili di seputaran area bekasi dan karawang. Meskipun sangat sederhana dan terkadang airnya sangat keruh, tempat wisata ini adalah sebuah alternatif liburan yang cukup murah. Sehingga ketika musim liburan tiba seperti lebaran maupun liburan sekolah, kawasan ini selalu ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Alhasil saya pernah terjebak macet selama hampir 5 jam untuk sampai dikawasan ini.

Ada beberapa alternatif untuk mencapai lokasi ini, pertama melalui Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, atau anda bisa melalui pintu masuk Tol Karawang Barat.
Jika anda menginkan waktu tempuh yang singkat dan jalur yang menantang, pilihlah alternatif melalui Bekasi, tetapi jika ingin lebih lama namun bisa pergi ke objek wisata lain seperti Rumah Laksmana Maeda, Candi Batujaya atau mau mengenang Chairil Anwar di Tugu Perjuangan Karawang-Bekasi.

Dari Kabupaten Bekasi anda bisa melalui rute menuju Masjid At-taqwa pondok pesantren KH.Noer Alie pahlawan nasional asli Bekasi. Dari sana anda lurus saja melalui Babelan. Rute disana cukup ekstrim dan gersang. Jalannya cukup seru untuk dilalui dengan kendaraan off road, maklum rute ini sering digunakan oleh truck pengangkut minyak mentah milik PT Pertamina. Setelah melewati hamparan sawah, dan pipa penyalur minyak bumi, anda akan menemukan sebuah kapal terdampar dari sebuah jembatan, lokasi ini disebut dengan Kali Cibe’el (CBL = Cikarang Bekasi Laut). Kembali berjalan beberapa kilometer, baru anda akan memasuki perbatasan Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Karawang yang dibelah oleh sungai besar, kawasan ini disebut Muara Gembong.

Sedangkan apabila anda dari Cibitung atau Cikarang, anda bisa melalui jalan Fatahilah – RE Martadinata – KI Hajar Dewantara – Sukatani – Garon. Atau biasanya dari arah cibitung setelah melewati terminal cikarang anda akan melewati SGC (Sentra Grosir Cikarang) kemudian mengambil arah ke Kampung Pilar (sebeleh kiri) dengan menyebrangi rel kereta api untuk menuju ke Sukatani.

Untuk saat ini kondisi jalan di Muara Gembong sudah cukup rapih dengan coran beton yang cukup kuat. Pembangunan jalan ini dimulai kurang lebih sekitar tahun 2008 dimulai dari arah Sukatani – Garon – Muara Gembong.

Eretan

Eretan

 

Jembatan Baru

Jembatan Baru

Dimulai dari daerah garon, Anda akan banyak menemukan tulisan “Sewa Eretan” di sepanjang jalan. Eretan menjadi satu-satunya alat transportasi penghubung antara Kabupaten Karawang dan kabupaten Bekasi yang dibelah oleh Sungai Muara Gembong atau Sungai Citarum. Eretan adalah perahu yang terbuat dari susuanan kayu, dan ditarik menggunakan tali seling, hampir mirip dengan Getek, namun eretan lebih kokoh. Meski agak sedikit ngeri untuk menyeberang, akan tetapi eretan cukup aman untuk di naiki. Sekedar tips keselamatan : “Ada baiknya jika naik eretan, anda harus turun dari kendaraan sehingga apabila terjadi sesuatu akan lebih mudah dan leluasa untuk menolongnya”.

Jika anda beruntung, anda akan menemukan Biawak dengan ukuran yang cukup besar lalu lalang di pinggir jalan, atau hanya sekedar untuk menyebrang menuju rawa-rawa di sepanjang jalan.

Biaya untuk menyebrang dengan eretan bervariasi mulai Rp.10.000 untuk motor, dan Rp.30.000 – Rp.50.000 untuk mobil, tergantung jenis mobil, dan Rp.2.000 untuk penumpangnya. Setelah menyebrang anda akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Pakis sekitar 1.5 jam. Jika sudah menemukan banyak tambak udang dan bandeng, artinya anda semakin dekat dengan tujuan.

Hamparan Pasir...

Hamparan Pasir…

 

Mencari Rebon

Mencari Rebon

 

Kerang

Kerang

 

Kelomang

Kelomang

Anda harus membayar sebesar Rp 25.000/orang untuk memasuki kawasan Pantai Tanjung Pakis, karena sudah dikelola dengan pihak pemerintah setempat, sehingga kondisi Pantai Tanjung Pakis sudah lebih baik. Disana anda bisa menyantap hidangan laut yang masih segar dari tangan para nelayan tambak yang menjual hasil tambaknya di rumah makan yang berjejer apik di pinggir pantai dengan tambahan buah kelapa hijau, anda juga bisa menyewa penginapan dari harga termurah Rp.100.000/kamar sampai yang paling mahal Rp.700.000/kamar, adapula olahraga pantai seperti ATV, bodat, dan permainan ketangkasan lainnya yang cocok untuk putra putri anda.

Menikmati Kelapa Hijau

Menikmati Kelapa Hijau

 

Merenung...

Merenung…

 

Hmm...

Hmm…

Nah selamat berlibur…..

Sumber :
1. Klik
2. Klik

Jika Kita Sudah Tervonis Mati…

Alangkah terkejutnya saya ketika seorang teman berkata : “Sepertinya hampir semua orang indonesia selalu menganggap enteng tentang waktu…!!! “

Ilustrasi

Ilustrasi


Entah karena kesal karena jadwal ujian yang selalu berubah-ubah atau karena kesal menunggu dosen dari pagi yang tak kunjung datang atau karena hal lain yang membuat beliau seperti itu. Akan tetapi ada sebuah hal menarik yang membuat saya kembali menulis untuk masalah ini.

Ya… “Waktu” sebuah kata yang sangat familiar di telinga kita dan sudah sangat akrab dengan segala macam hal yang berhubungan dengan itu. Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Sebagai contoh: masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat, masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang terus berulang tanpa akhir. Cara pandang terhadap waktu bukan hanya sekedar cara melihat detikan arloji pada dinding yang terus berputar tanpa henti dan menunggu komando dari setiap orang, namun waktu lebih dilihat sebagai kesempatan, uang dan karya yang terus berlangsung mengukir hidup yang tiada hentinya. Kebebasan waktu terjadi di mana orang mampu memberikan segala karya, cipta, dan karsanya bagi semua.

Waktu atau kesempatan yang gratis akan menjadi sangat berharga jika kita memanfaatkan setiap detiknya untuk hal-hal bermanfaat sebagaimana diperintahkan untuk membangun kualitas diri menjadi manusia terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi manusia-manusia lainnya baik di hadapan Tuhan maupun dimata manusia lainnya. Jika tidak ada waktu berarti tak ada hari esok apalagi hari kemarin. Tidak akan ada siang maupun malam, dan tidak akan ada dunia ini.

Kembali ke awal, bagi sebagian orang-orang yang hidup di negeri tercinta ini terkadang dengan tenangnya mereka menyepelekan waktu ini. Contoh kasus : ketika sedang melakukan pertemuan baik dalam rangka pekerjaan atau masalah lain yang membutuhkan pembahasan di suatu majelis, terkadang ada sebagian orang yang sengaja untuk datang di akhir waktu ketika pertemuan akan selesai. Atau ketika akan shalat, banyak diantara kita yang terkadang sengaja menunda-nunda waktu shalat hingga akhir waktu padahal ketika itu kita sedang tidak sibuk. Apakah tidak terfikir oleh kita bahwa waktu yang tidak akan pernah akan kembali. Waktu akan terus berjalan dan semakin jauh berjalan meninggalkan kita.

Coba kita lihat beberapa ayat dari al-qur’an yang membahas tentang waktu :

Al Ashr 1-3

Al Ashr 1-3


Sumber gambar
Demi Waktu
Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi…
Kecuali bagi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal shaleh
serta saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.
(QS Al Ashr: 1-3)

Coba kalian perhatikan baik-baik…!
Dalam surat tersebut Allah mengawalinya dengan sumpah “Demi waktu.” Mengapa Allah bersumpah demi waktu? Ada apa dengan waktu? Bagaimana cara pemanfaatan waktu yang baik? Ini dia jawabannya…
Karena waktu adalah:
1. Sesuatu yang paling berharga
2. Sesuatu yang yang PASTI selalu hilang
Penjelasan :

Waktu adalah sesuatu yang paling berharga
Mengapa…? Karena waktu tidak bisa berulang, apabila sudah terlewat maka waktu akan jauh dan akan semakin menjauh meninggalkan kita yang masih tanpa sadar bahwa sanya kesempatan hanya akan datang satu kali. Jadi apabila kesempatan itu terlewat jangan berharap bahwa kesempatan tersebut akan datang untuk kedua kalinya bagi kita. Maka beruntunglah orang-orang yang masih di beri kesempatan untuk yang kedua kalinya.

Ilustrasi

Ilustrasi


Oleh karena itu jika saat ini kita masih di beri kesempatan untuk bernafas dan masih bisa menghirup udara segar maka jangan sia-siakan kesempatan ini, karena kesempatan kita hidup hanya sekali. Jadi perbanyaklah ibadah dan berbuat baiklah terhadap sesama sehingga kelak jika kita mati kita akan di kenang sebagai seorang yang pernah melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Dengan begitu kita akan di kenang sebagai sosok pahlawan meskipun hanya bagi sebagian orang.

Waktu akan terus bergulir meninggalkan masa lalu yang tak akan pernah terulang, sedang umur kita sejatinya akan berkurang dan berkurang hingga sampai suatu saat kita akan mati. Ya mati… sebuah hal yang sangat di takuti oleh sebagian orang yang masih hidup. Siap atau tidak siap kita pasti akan bertemu dengannya, entah dalam keadaan baik atau dalam keadaan buruk. Marilah sejenak kita renungkan sobat, bahwa segalanya akan berakhir. Entah hari ini, esok atau nanti… Persiapkan bekal kita selagi masih di beri kesempatan, karena waktu tidak akan kembali untuk kedua kalinya….!

Semoga saja kita akan mati dalam keadaan khusnul khatimah….
Semoga saja…

Sumber di sini :
1. Lihat