Sayur Pucung Siput Sawah

Satu lagi kuliner asli cikarang yang sudah sangat langka kembali saya temukan di sini. Ya… ternyata makanan tersebut masih ada di rumah orang tua saya di Telaga Murni Cikarang Barat. Mungkin sudah hampir 5 – 8 tahun lebih saya sudah tidak pernah mencicipinya lagi, apalagi perubahan lahan pertanian menjadi lahan perumahan yang membuat makanan ini harus hilang dari peredaran semenjak tahun 1999 yang lalu.

Saya pun tidak mengerti nama makanan ini apa? Karena semenjak dahulu, kami biasa menyebut makan tersebut adalah sayur ciput (Bahasa Betawi). Ciput sawah (siput sawah) atau tutut dalam bahasa sunda adalah keong sawah yang banyak ditemukan di daerah pesawahan, dimana airnya menggenang meskipun berlumpur namun relatif bening. Biasanya hewan sawah ini hidup di air yang mengalir hingga terkadang hidup di dalam lumpur yang sudah mengering terutama pada musim kemarau.

Biasanya dahulu saya sangat mudah mendapatkannya hingga mencapai 1 sampai 2 ember ukuran 5 Kg jika kita berniat mengumpulkannya. Tinggal berjalan ke belakang rumah, berjalan di atas galengan (Pematang_red) sawah dengan perlahan sambil mata menunduk ke bawah. Biasanya mereka berada di sisi galengan tersebut dan terkadang berada di bawah pohon padi. Jika beruntung kita menemukan sebuah jalan air atau lubang yang airnya sedikit deras, biasanya mereka akan banyak berkumpul di sana sehingga memudahkan kita untuk mengambilnya.

Akan tetapi untuk saat ini, rasanya sulit sekali menemukan hewan tersebut. Bukan karena sudah punah, akan tetapi karena beralihnya fungsi lahan pertanian di kampung yang berubah menjadi lahan pemukiman.

Selain rasanya yang gurih, tutut mengandung zat gizi makronutrien, berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi akan tetapi rendah lemak, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif makanan tinggi protein yang rendah lemak. Dalam seratus gram bagian yang dapat dimakan terdapat 16 gram protein sehingga apabila kita mengkonsumsi sebanyak 100 gram, tubuh kita sudah mendapat 32% protein dari kebutuhan sehari-hari.

Berat daging satu ekor tutut dewasa dapat mencapai 4-5 gram. Tutut juga mengandung mikronutrien berupa mineral, terutama kalsium, yang dibutuhkan tubuh manusia. Dengan pengolahan yang tepat, tutut dapat dijadikan sumber protein hewani yang bermutu. Protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh dan juga berperan dalam proses kekebalan tubuh. Konsumsi protein hewani dalam makanan sehari-hari diperlukan oleh tubuh disamping protein nabati.

Sayur Pucung Ciput Sawah

Sayur Pucung Ciput Sawah


Seperti biasanya, sore tadi emak di rumah memasak olahan hewan ini dengan cara sama seperti memasak gabus pucung. Sehingga warnanya agak sedikit kehitaman bercampur dengan kemilau minyak. Selain air kaldu yang rasanya sedap, biasanya seni dalam mengeluarkan isi hewan tersebut dari dalam cangkangnya menjadi seni tersendiri. Apalagi jika kuahnya cukup pedas, akan memberikan kesan yang tidak biasa ketika kita menyantapnya.
Selapu Cangkang Siput

Selaput Cangkang Siput


Akan tetapi saya juga cukup berhati-hati dalam mengkonsumsi sayur ini, mungkin karena ada beberapa cangkang dan penutup cangkang yang sangat tipis sehingga terkadang akan ikut termakan. Jika kita kurang berhati-hati, efeknya cukup berbahaya karena akan menyangkut di sekitar tenggorokan dan membuat tenggorokan kita sedikit iritasi. Jadi berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menyantapnya adalah satu hal bijak dalam menikmati makanan ini.

Sumber :
1. Sini
2. Sini
3. Sini

4. Sini

Iklan

11 thoughts on “Sayur Pucung Siput Sawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s