Ubi Bene, Ibi Patria

Diam-diam ketika sedang sendiri di dalam kamar dalam menantikan cuti project yang ku nanti selama 3 bulan ke belakang untuk pulang kampung, aku menangis. Betapa aku sangat merindukan kampung halamanku. Kurasakan keindahan kampung halaman justru karena hidup bersama mereka yang sederhana, yang miskin yang bersyukur, yang menderita tanpa mengeluh, yang gagal tapi tetap optimis dan pantang menyerah, yang cerdas tapi tidak sombong dan dengan mereka yang suka berbagi karena rasa kemanusiaan, yang selalu ingin melihat kebahagiaan orang lain. Dengan mereka yang pandai mensyukuri nikmat Allah tinggal di negeri yang “Indonesia” ini…

“Ubi Bene, Ibi patria”… Kiranya pepatah dalam bahasa latin tersebut sangat sesuai dengan kondisi dari hampir kebanyakan orang. Pepatah latin yang dalam bahasa indonesia berarti ” Di mana seseorang merasa betah, di sana tanah airnya”, akan sangat terasa jika seseorang hidup diperantauan atau jauh dari keluarganya.

Ada beragam alasan bagi sebagian orang merantau ataupun tinggal berlama-lama jauh dari kampung halaman tercinta. Ada yang langsung betah untuk tinggal, akan tetapi pastinya akan lebih banyak orang yang merasa tidak kerasan. Sebagai keturunan tulen dari orang Betawi (Betah tinggal dalam wilayah), kiranya fenomena merantau ini sangat awam dilakukan oleh keluargaku. Malah bisa dikatakan menentang arus. Kegiatan merantau yang telah aku lakukan, mungkin lebih dari separuh usiaku kini. Berdasarkan hal tersebut, kiranya pengalaman ini akan sangat berguna bagi teman-teman yang berencana untuk melakukan perubahan nasib dengan cara merantau.

Perantau

Perantau

Secara garis besar ada beberapa alasan mengapa orang memutuskan tinggal diluar kampung halamannya, seperti :

  1. Alasan ekonomi : Karena kurang atau tidak adanya kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di kampung halaman.
  2. Alasan keluarga : Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang menikah dengan warga luar daerah atau ketika anak menginginkan orang tuanya untuk ikut tinggal dekat dengannya.
  3. Alasan pendidikan : Jika di daerahnya tidak memiliki tempat untuk memiliki pendidikan yang layak maka seseorang itu akan merantau demi cita-citanya.
  4. Alasan Konflik : Mereka biasanya mencari kehidupan yang lebih nyaman tanpa konflik.
  5. Alasan Bencana : Bagaimana bisa hidup nyaman jika tempat yang didiaminya selama ini rawan akan bencana, oleh karena itu bisanya mereka merantau.
  6. Alasan Kekuasaan : Menjadi pemimpin adalah pilihan seseorang. Mungkin pepatah “Jika ingin menjadi seorang jagoan, jadilah di kampung orang” ada benarnya juga. Karena kebanyakan para pemimpin sekarang banyak di impor dari warga tetangga sebelah.

Merantau memang sebuah pilihan hidup. Sedangkan alasan merantau adalah prinsip hidup pribadi masing-masing. Masih banyak alasan mengapa mereka merantau selain yang ku sebutkan diatas.

Dari pengalaman pribadiku, mereka yang betah tinggal berlama-lama di kampung orang (atau memang sengaja dibetah-betahkan 😀 ) di luar kampung halaman kebanyakan adalah tergolong perantau dengan alasan-alasan tersebut diatas. Faktor usia dan latar belakang keluarga juga sangat berpengaruh. Mereka yang dari usia muda terbiasa tinggal jauh dari orang tua entah sekolah keluar kota dengan tinggal di asrama akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru (contoh seperti penulis). Semakin muda seseorang akan semakin mudah untuk beradaptasi, demikian juga sebaliknya, semakin tua usia seseorang maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk beradaptasi.

Dalam hal latar belakang keluarga, mereka yang telah terbiasa hidup di tanah air dengan dikelilingi keluarga besar dan berpatisipasi dalam even-even keluarga adalah mereka yang merasa paling homesick dengan kampung halaman. Perasaan homesick bukanlah sebuah perkara ringan, dalam kasus ekstrim bahkan ada yang berujung pada perceraian. Si pria merantau ke seberang untuk mencari sebuah kehidupan yang lebih baik, setelah lumayan settle dan merasa mantap dengan karirnya dia memutuskan untuk menikah dan memboyong istrinya untuk datang menetap.

Sebuah makalah yang ditulis oleh Chris Thurber dan juga Edward Walton dalam jurnal American Academy of Pediatrics menuturkan bahwa rindu kampung halaman (homesickness) didefinisikan sebagai penderitaan atau kesengsaraan dan penurunan fungsional yang disebabkan oleh pemisahan dirinya dengan rumah atau objek-objek tertentu.”Homesick adalah suatu emosi spontan yang bisa dirasakan dampaknya oleh orang dewasa dan anak-anak, sehingga dibutuhkan periode waktu tertentu agar bisa beradaptasi dengan lingkungan baru,” ungkap Thurber. Sumber di sini.

Pada awalnya sang istri merasa senang sekali, membayangkan betapa enaknya tinggal di luar. Namun setelah beberapa bulan menetap, dia ribut minta pulang kampung. Makanan dan cuaca kurang cocok, kesepian, pekerjaan sulit didapat karena kualifikasi pendidikan, sementara suami menolak karena dengan standar gaji di kampung halaman dia merasa sulit memberi kehidupan layak untuk keluarga.

Cerita seperti ini sudah sering ku dengar berulang kali, sebenarnya sumber dari segala ketidak betahan bukanlah hanya tempat tujuan merantau saja. Hampir setiap kali keluhan yang ku dengar adalah karena mereka membanding-bandingkan kampung halaman dengan tempat tinggal barunya. Bila pulang kampung merupakan pilihan yang bisa diterima semua pihak tentu tidak ada masalah. Akan tetapi masalah akan timbul jika salah satunya tidak ada yang mau mengalah. Bisa runyam urusan jika memang kejadiannya seperti itu.

Terkadang perasaan homesick atau rindu kampung halaman memang bukanlah perkara yang mudah, tapi dengan mensiasatinya kita mungkin akan sedikit mengurangi beban tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi perasaan rindu kampung halaman adalah sebagai berikut :

  1. Aktif berkumpul atau nongkrong dengan teman senasib, seperti yang biasa aku lakukan dulu ketika masih menjadi mahasiswa di Bandung dengan berkumpul bersama di KAPEMASI (Keluarga Pelajar Mahasiswa Bekasi).
  2. Aktif melakukan kegiatan outdoor baik itu dengan kegiatan mendaki misalnya atau hanya berjalan-jalan  sejenak ke tempat kost kawan-kawan. Selain bisa membunuh waktu, lumayan khan dapat makan gratisan pula 😀
  3. Berkenalan dengan teman baru, dengan cara ini minimal anda akan sedikit melupakan kerinduan denga keluarga di rumah. Teman akan bisa jadi tempat curhat yang dapat menjadi salah satu obat kerinduan yang sempurna
  4. Jalin komunikasi dengan keluarga seperti dengan menelpon, akan tetapi komunikasi yang terlalu instensif dan sering juga terkadang akan memberikan efek yang tidak begitu baik.
  5. Warnet, Game Center, Perpustakaan, Tempat karaoke mungkin akan sedikit membantu ketika homesick asalkan tidak melampaui batas.
  6. Berdo’a dan beribadah, mungkin hal ini adalah puncak dari semuanya. Berdo’alah kepada Tuhan agar anda tetap sehat dan keluarga yg ditinggalkan pun demikian, serta tugas anda cepat selesai sehingga anda bisa kembali kerumah anda kembali.

Jika anda merasakan homesick upayakan untuk melaukan hal-hal di atas untuk mengurangi kejenuhan. Biasanya kejenuhan tersebut tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat Anda akan memperoleh hal-hal menarik lainnya dan akan terbiasa yang akan menjadikan betah untuk tinggal di tempat tersebut.

Memang tempat tinggal baru tentunya akan sangat jauh berbeda dengan tempat dimana kita dilahirkan, tetapi dengan mensiasatinya kita akan mampu bertahan dari segala penyakit kerinduan pada keluarga yang ditinggalkan. Semoga saja…

Diolah dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi.

~RTM
26-02-2014

Iklan

10 thoughts on “Ubi Bene, Ibi Patria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s