Kumpul Gak Kumpul Asal Makan

Sebagai seorang yang lahir dan besar di negeri tercinta INDONESIA pepatah “makan gak makan asal kumpul” tentunya sudah kita ketahui bersama. Secara tidak sadar pun, pepatah tersebut sangat akrab di telinga kita karena terus menerus selalu diucapkan dan didengarkan secara berulang. Hal tersebut sedikit banyak akan memberi dampak yang cukup besar bagi pola pikir dan pola hidup seseorang atau dalam sebuah kelompok. Bagi sebagian orang, tentunya hal tersebut memiliki ruang tersendiri dihatinya bagi kenangan akan kebersamaan bersama kawan-kawan atau keluarga. Hal ini tentunya sangatlah mahal, bahkan tidak bisa dibeli dengan uang rupiah atau dolar sekalipun.

Makan Di Bawah Pohon Pinus

Makan gak makan kumpul

Beberapa orang rela untuk tidak mengambil promosi jabatan sehingga mereka tidak dimutasikan jauh dari keluarga besarnya. Bahkan pada beberapa kasus, mereka rela melepaskan karir atau jabatannya sehingga tetap bisa berada di tengah-tengah keluarga. Begitulah fenomena yang terjadi di kampung halaman saya, mereka lebih baik tetap berkumpul bersama keluarga meski terkadang untuk makan satu hari saja sulit. Padahal jika mereka mau berusaha, tentunya ditempat yang sedikit jauh banyak peluang untuk mencari rejeki dan tentunya dengan tidak meninggalkan keluarga.

Sekarang bagaimana jika pepatah tersebut di balik menjadi “Kumpul gak kumpul asal makan” ? Bagi sebagian orang pepatah tersebut tentu sangat mengena dan mereka tentunya mempunyai alasan yang kuat sehingga menjadi follower pepatah kedua. Begitu juga dengan saya, memilih jauh dari keluarga tercinta dan teman-teman tersayang untuk mencari sesuap nasi di negeri orang merupakan suatu hal yang sangat berat untuk dijalani. Untuk itulah selama menjalani cuti beberapa minggu untuk pulang ke kampung halaman, sebisa mungkin akan saya kunjungi beberapa orang teman maupun keluarga untuk tetap menjaga tali silaturahmi.

Beberapa alasan kuat yang membuat seseorang melakukan hal ini pernah saya bahas disini. Barangkali alasan untuk mengambil resiko pekerjaan yang jauh dari keluarga adalah karena pekerjaan tersebut biasanya menghasilkan pendapatan yang jauh di atas rata-rata. Sehingga banyak dari kami yang bekerja jauh dari keluarga adalah dengan alasan tersebut.

Sekarang tinggal bagaimana kita semua menyikapi kedua pepatah tersebut. Memang tidak ada yang salah dengan kedua pepatah tersebut, tinggal bagaimana kita melihat dan menilainya sehingga semuanya bisa berjalan sesuai dengan harapan kita masing-masing. Kalau saya sendiri, untuk kondisi saat ini saya lebih memilih untuk “kumpul gak kumpul asal makan” demi satu tujuan yang pada akhirnya makan gak makan asal kumpul juga.

Bagaimana dengan anda…?

~RTM
25-03-2014

Iklan

21 thoughts on “Kumpul Gak Kumpul Asal Makan

  1. maunya sih tetap makan dan kumpul ya…tapi apa daya kl suami dpt promosi dan di tempatkan di luar jawa..mau ga mau demi dapur tetap ngebul, demi tagihan dan cicilan yg harus dibayar..utk sementara ikut prinsip yg kedua aja, kumpul ga kumpul asal makan.. πŸ™‚

  2. Aku memilih realistis aja Mas. Kalau memang rejeki dan karir mengharuskan jauh dari keluarga ya apa boleh buat; eh tapi yang aku maksud dengan keluarga di sini adalah keluarga besar ya. Kalau keluarga inti, dalam artian istri dan anak ya harus tetap dekat lah. Bahaya kalau jauh-jauhan πŸ˜€

  3. Keputusan sudah dibuat, yang memegang teguh keputusannya biasanya akan berhasil dan survive, sedangkan mereka yang labil terhadap keputusannya iya apa enggak malah bingung sendiri. Tapi yang pasti, semua yang kita lakukan adalah untuk keluarga bukan ….

    • Super sekali komentarnya bang mandor ini, semuanya kita lakukan untuk keluarga juga. Toh meski harus meninggalkan keluarga, tetap saja semuanya sudah dipertimbangkan masak-masak…

  4. kalo keluarga saya kayanya bakat LDR an deh. dr saya bayi ibu dan bapak ud LDR jawa papua. sejak SMP kami ud jauh2an lagi. sekarang Ibu, Bapak, dan 4 anak beliau(paling gede usia 26, paling kecil 3 SMP) di 5 kota berbeda, 2 bagian Indonesia berbeda, dan masing2 di rumah yg berbeda2 pula. komunikasi gak putus sih jd gak berasa sih jarak tuh. paling nangis2 aja kalo rekening lagi gak sehati sama harga tiket flight. hahahaha

    • LDR sebenarnya gak masalah selama komunikasi terus terjalin, yang menjadi masalah adalah ketika komunikasi tidak ada. Saya rasa selama ada saling kepercayaan dan komunikasi yang intensif, semuanya akan baik-baik saja. Isn’t it…?

  5. sekarang saya juga jauh dari rumah karena pekerjaan,hiks..hiks.. tapi sebelum bekerja emank udah biasa jauh dari rumah, dari SMA memutskan untuk sekolah diluar pulau, eehh keterusan sampe sekarang, kadang sempat terpikir buat pulang kampung deket dengan keluarga, berencana inih ituh tapi Tuhan malah berkata lain dan mau tak mau sampe sekarang harus tetap menjalani LDR dengan keluarga πŸ™‚

    • Hidup itu pilihan, saya juga menjalani LDR selama hampir lebih dari 15 tahun sejak STM. Jika LDR tidak menjadi masalah dan selamanya baik-baik saja toh tidak akan menjadi kendala yang berarti bagi keharmonisan keluarga…

      Saya bangga dan salut bagi mereka yang kuat menjalani LDR…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s