Pembuatan Plampang

Dalam berbagai macam keriaan atau perayaan penting yang melibatkan ribuan massa dan berdurasi panjang, terutama jika keriaan diselengarakan pada musin hujan atau musim kemarau biasanya masyarakat di negeri tercinta selalu menggunakan tempat untuk berteduh atau berkumpul. Mulai keriaan resepsi pernikahan, festival budaya, acara resmi pemerintah maupun swasta, dan sebagainya. Plampang atau plangpang adalah sebuah tempat yang sengaja dibuat untuk oarang yang berkepentingan dalam acara tersebut menerima tamu, memasak, membuat kue atau bisa juga untuk tamu yang berkunjung untuk beristirahat dan makan agar tidak sampai kepanasan atau kehujanan. CMIIW.

Tampak Plampang Yang Sudah Jadi

Tampak Plampang Yang Sudah Jadi

Biasanya pembuatan plampang ini dilakukan minimal beberapa hari sebelum acara hajat/keriaan ini berlangsung. Mungkin juga karena masyarakat betawi yang biasanya selalu beranggotakan keluarga besar, diharapkan plampang ini mampu menampung sanak keluarga yang datang dari jauh untuk bisa datang sekedar untuk menemani sang punya hajat pada malam-malam sebelum acara keriaan tersebut berlangsung. Bisa juga plampang ini digunakan sebagai tempat untuk proses masak-memasak ketika acara keriaan berlangsung atau tempat untuk membuat sesajen.

Pembuatan plampang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki mulai dari yang masih berusia muda hingga mereka yang sudah uzur. Pada hakikatnya para laki-laki yang sudah berumur akan melakukan beberapa metoda yang menurut mereka tidak bertentangan dengan tradisi yang sudah ada. Biasanya plampang terbuat dari rangkaian bambu yang dirakit secara sempurna hingga menyerupai tenda dan dibagian sisinya ditutup oleh lembaran kain terpal sehingga bisa melindungi orang-orang yang berada didalamnya.

Tiang Bendera & Kukusan Nasi

Tiang Bendera & Kukusan Nasi

Untuk pertama kali biasanya para sesepuh selalu menancapkan tiang bambu dengan mengikatkan bendera merah putih dan kukusan nasi di ujung tiang pancang tersebut. Entah kenapa maksud dan tujuannya, yang pasti ada sebuah nilai yang sakral bagi mereka sehingga mereka melakukan hal tersebut. Sebagai seorang yang masih belia, kiranya sangat tidak pantas jika saya menanyakan hal tersebut ditengah kondisi saat ini. Setelah itu tiang pancang yang lain ikut pula kami tancapkan, sehingga nanti akan membentuk sebuah rangkaian bambu yang menyerupai tenda. Ikatan tersebut dibuat dari bilahan batang bambu yang diiris tipis, sehingga lentur dan bisa mengikat rangkaian tenda tersebut.

Ada hal unik dalam proses pembuatan plampang ini yaitu ketika bagian ujung dari bambu tersebut disatukan. Ternyata ada sebuah alat yang berfungsi sebagai penguat ikatan mirip dengan klem pada jaman sekarang. Saya sendiri lupa namanya, mungkin karena merasa cukup asing di telinga hingga sulit untuk mengingatnya.

Ikatan Penguat

Ikatan Penguat

Setelah ikatan cukup kuat, barulah dipasang semacam reng di atas ikatan bambu tersebut untuk mengikatkan kain terpal agar tidak terbang ketika ada angin kencang. Kain terpal berfungsi agar mereka yang beristirahat tidak merasa kepanasan atau kehujanan. Proses akhir pembuatan plampang ini adalah dengan menutup bagian sisi plampang agar mereka yang berada didalamnya bisa lebih leluasa bekerja atau tidak terganggu dari luar area plampang tersebut.

Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan pada proses pembuatan plampang ini adalah :

  1. Tiang plampang paling luar tidak boleh diikatkan kepada pohon, sehingga mau-tidak mau tiang bagian luar harus dibuatkan tiang dari bambu.
  2. Susunan bambu harus sama dari bagian ujung yang satu hingga ujung lainnya sehingga tidak boleh berselang.
  3. Pembuatan plampang ini harus menunggu hari baik dari seorang yang dituakan, sehingga tidak bisa dilakukan sembarangan.

Memang terkesan agak sedikit tidak masuk di akal, akan tetapi mungkin ada beberapa hikmah yang terkandung didalamnya sehingga sesuatu yang tidak baik bisa diminimalisir. Demikianlah salah satu keunikan yang masih ada di kampung halaman saya, yang kiranya sangat sayang untuk tidak dibagikan…

~RTM

16-04-2014

Iklan

13 thoughts on “Pembuatan Plampang

  1. Ping-balik: Tradisi Kebudayaan Betawi Di Cikarang | rindutanahbasah

    • Hihihi…mungkin Lebih praktis, akan tetapi tidak kebayang kalau masak pakai kayu dibawah tenda.
      Mungkin tuan rumah bakal nyiapin dan lebih untuk mengganti tenda yang terbakar. Itu juga mungkin alasan yang dipakai sehingga masih digunakan plampang.

  2. Sebenarnya tradisi ini bagus, memupuk rasa gotong royong. semuanya ngumpul, semuanya terlibat. tapi klo sekarang terbentur dengan kata “efisiensi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s