Pembuatan Sesajen

Bagi beberapa masyarakat Betawi, terutama yang hidup di daerah pinggiran kota pada umumnya masih banyak yang percaya dengan keberadaan mahluk halus. Mahluk tersebut pada umumnya berpangkalan di bawah pohon kayu yang besar atau di simpang jalan yang agak sepi. Keluarga yang telah meninggal dunia pun dianggap arwahnya masih berada di sekitar rumah, sehingga masih banyak orang yang masih menyuguhkan sesaji atau ancak. Meskipun saya sendiri tidak melakukannya, ini adalah sebuah sistem kepercayaan serta tradisi yang turun-temurun.

Persiapan Pembuatan Sesajen

Persiapan Pembuatan Sesajen

Yang intinya pada sistem ini meyakini arwah, setan, dan makhluk halus lainnya masih mempengaruhi kehidupan manusia di alam nyata. Bahkan masih memiliki kekuatan. Orang Betawi mengatakan bahwa orang mati itu bukanlah sebuah kedebongan pisang, batang pisang yang sudah tidak berguna sama sekali.

Masyarakat Betawi masih memiliki warisan-warisan animisme yang sampai sekarang masih dapat dilihat dalam perkawinan Betawi, setiap akan diadakan hajatan kawinan (keriaan) biasanya yang punya hajat terlebih dahulu mengadakan ritual dibarengi dengan pemberian sesajen, maka di empat penjuru pekarangan rumahnya selalu dipasang sesajen (ancak). Begitu juga dibagian atas atap rumahnya, hal ini diyakini untuk memberi makanan para mahluk halus lain yang menghuni kampung atau roh nenek moyang mereka.

Dengan menyediakan sesajen itu dimaksudkan untuk menjaga supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penyelenggaraan hajatan berlangsung. Di sinilah terjadi negosiasi dalam perkawinan Betawi, di mana unsur agama dan budaya lokal bertemu dalam satu tempat. Begitulah kenyataannya, dua unsur bertemu dan saling mengisi ruang kosong diantara keduanya sehingga tetap berjalan selaras dan seimbang. Meski hal ini merupakan sebuah tradisi akan tetapi mereka melakukannya secara sukarela dan dilakukan dengan khidmat.

Kue Apem

Kue Apem

Pembuatan sesajen yang saya maksud dalam tulisan ini adalah pembuatan beberapa macam makanan yang nantinya akan diletakan di dalam pangkeng pemberasan. Pangkeng pemberasan atau biasa disebut kamar pendaringan adalah ruangan untuk menyimpan beras. Biasanya setelah makanan tersebut telah matang, para tetua langsung membawa sesaji tersebut ke dalam untuk nantinya dilakukan upacara mangkeng.

Kue Pepe Sebelum Di Potong

Kue Pepe Sebelum Di Potong

Makanan yang dipakai untuk sesajen ini terdiri dari beberapa macam yaitu : kue uli, kue geplak, kue wajik, kue tape ketan, kue pepe, kue apem, kue pais, kue bugis, tumpeng nasi kuning, bubur merah, bubur putih, pisang ambon, gula, lisong, dll.

Kue Pais

Kue Pais

Kue Apem :D

Kue Apem ๐Ÿ˜€

Sebenarnya setelah upacara mangkeng selesai, makanan tersebut tidak dibuang. Akan tetapi diberikan kepada mereka yang datang dan yang terlibat dalam keriaan. Jadi makanan tersebut tidak mubazir, sehingga masih bisa kita makan lagi. Biasanya para orang tua akan melarang beberapa orang untuk memakan makanan tersebut seperti para gadis dan bujang perawan dengan alasan takut kualat nantinya. Entah karena rasanya yang sudah tidak enak atau apa, akan tetapi biasanya selalu ada makna dibalik semua larangan para orang tua.

Upacara Mangkeng

Upacara Mangkeng

~RTM

17-04-2014

Iklan

12 thoughts on “Pembuatan Sesajen

  1. Ping-balik: Tradisi Kebudayaan Betawi Di Cikarang | rindutanahbasah

    • Mangkeng sebenernya berasal dari kata pangkeng (kamar), hanya mangkeng berupa sebuah kegiatan yang dilakukan didalam pangkeng (kamar). Kalau kue pais sendiri sebenarnya sama dengan kue bantal bang, jenisnya ada yang dalamnya isi pisang atau isi kue bugis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s