Calon Presiden Kami

Yang satu membela si Wowo
Yang satu lagi membela si Koko
Lalu siapa yang akan membela kami…. ?

Sesungguhnya kami tidak butuh pemimpin yang mengobral janji
Kami juga tidak butuh pemimpin yang terus mengumbar mimpi
Yang kami butuhkan saat ini adalah pemimpin yang bisa memberi kami sesuap nasi… !!!

Namun siapakah yang bisa menjamin kami
Menjamin semua mimpi-mimpi kami
Memiliki rumah dan tetap menyekolahkan anak-anak kami…

Wahai presiden yang akan memimpin kami
Mampukah kalian menjadi panutan kami
Menebar kemakmuran negeri tanpa menebar janji

Janji hanyalah janji…
Yang mudah di ucap tapi tak ditepati
Haruskah kami menunggu hingga di akhirat nanti

 

 

~RTM
28-06-2014

 

Mimpi Si Kaka

Kebersamaan yang indah

Kebersamaan yang indah

“Gak usah kembali ke Kalimantan lagi ya yah, biar ayah tetap disini aja…!”, pinta si kaka dengan mata berkaca-kaca…

Kembali pernyataan si kaka menohok telinga saya. Bukan untuk yang pertama, akan tetapi untuk yang ke sekian kalinya kalimat tersebut meluncur tanpa terbendung dari si kaka. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, sehingga dia kembali mengingatkan saya untuk tidak pernah meninggalkannya kembali ke tanah seberang.

Hidup di tengah himpitan ekonomi memang gampang-gampang susah. Di satu sisi, saya dengan istri sudah sepakat bahwa saya akan bekerja dengan sepenuh tenaga untuk menjamin kesejahteraan bagi keluarga kami di masa depan nanti. Dan saya baru akan kembali setelah modal untuk pendidikan kedua anak kami nanti sudah sedikit terjamin. Akan tetapi di satu sisi  kehilangan kasih sayang seorang ayah bagi si kaka  yang ditinggalkan bekerja dinegeri seberang selama hampir 3 bulan memberikan dampak yang cukup besar bagi psikologis nya.

Sepertinya selalu saja saya di hadapkan pada dua masalah rumit yang terkadang sangat menyita waktu dan pikiran. Untuk saat ini, memang kondisi keuangan keluarga agak sedikit aman. Bahkan untuk si kaka, kami sudah memiliki tabungan pendidikan untuknya kelak yang mungkin meskipun tidak seberapa akan tetapi saya pikir cukup untuk menunjang dirinya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Tekadang hal ini menjadi dilematis, apalagi saat dirinya sedang membutuhkan saya seperti saat sekarang ini. Bayangkan saja ketika teman-temanya datang ke sekolah ditemani oleh ayahnya, dirinya malah hampir setiap hari berangkat ke sekolah dengan si bunda. Bukan tak ingin mengantar dirinya ke sekolah, akan tetapi lokasi pekerjaan yang terlampau jauh memaksa saya harus berangkat ke kantor ba’da shubuh ketika dirinya masih terlelap di buai mimpi. Terkadang, meskipun sebelum berangkat saya selalu sempatkan untuk mencium kedua pipinya tetap saja dirinya menanyakan apakah ayah sudah berangkat atau belum ?

Ah…semoga saja saya bisa memutuskan satu dari beberapa hal yang terbaik dari masalah ini. Semoga saja, saya tidak akan lagi mendengar dirinya untuk memohon kepada saya hanya untuk menahan agar saya tidak kembali ke tanah seberang. Semoga saja nak,  karena jujur saja ayah jauh lebih menyayangi kamu dan bunda bila dibandingkan dengan pekerjaan ayah…

~RTM
25-05-2016

Dirgahayu RANTING Ke 15

Menjelang shubuh aku berdiri
Jauh dari keriangan lembah mandalawangi
Memandangi hamparan gunung di awal pagi
Tepat dimana saat itu kami berjanji…

Tanah dimana aku berpijak mulai bergema
Melantunkan nyanyian dedaunan dan ranting bersama
Angin pagi menyapa dan membelai seirama
Aku terperanjat, dihentak kenangan penuh makna…
Tetapi aku tetap berdiri penuh makna
Memandang lemah wajah kusam negeri tercinta
Dan fajar mulai kemerahan
Menepis semua rasa penderitaan
Aku tetap berdiri disini…!!!
Tepat 15 tahun kami berjanji
Menggenggam sesuatu yang lebih berharga
Dari apa yang telah kami capai sebelumnya….!!!

Bangkitlah…
Bangkitlah…
Satukan tekad dan tujuan bersama
Demi lestari bumi tercinta….!!!

Dirgahayu RANTING ke 15…
Perhimpunan Penjelajah Hutan dan Pendaki Gunung (KPA – RANTING)
Gunung Gede, 02 Juni 1999