Beberapa Tips Saat Hendak Liburan Dan Mudik

Tradisi Mudik

Tradisi Mudik sumber

Aura liburan yang semakin dekat sering membuat semangat bekerja menurun. Beberapa orang teman sekantor kebanyakan sudah mengambil cuti menjelang hari raya idul fitri tahun ini. Alhasil kantor kosong melongpong tanpa ada aktivitas yang berarti. Meski kebanyakan dari mereka dalam setahun ini berulang kali pulang ke kampung halaman, akan tetapi tradisi untuk merayakan hari raya bersama keluarga terdekat rasanya sangat sayang untuk dilewatkan. Hingga kini tradisi ini memang masih menjadi pola bagi tindakan sebagian masyarakat kita.

Tradisi mudik adalah dialog antara tradisi Islam dengan tradisi Jawa, yaitu tradisi silaturrahmi dengan tradisi sungkeman di dalam tradisi Jawa. Jika di dalam tradisi Islam memang didapatkan teks mengenai aktivitas untuk saling berkunjung ke rumah, maka di dalam acara sungkeman yang khas Jawa adalah tradisi yang sesungguhnya diprakarsai oleh para raja dan keturunannya, namun juga menjadi tradisi masyarakat yang masih mengagungkan budaya Jawa.

Nah, berhubung kini sedang ramai-ramainya jalanan penuh sesak dengan para pemudik, maka tak ada salahnya kali ini saya akan berbagi tips agar merasa aman saat meninggalkan kantor dan rumah. Agar tenang meninggalkan kantor pada saat libur lebaran nanti, lalukan beberapa hal berikut ini :

  • Buat daftar
    Menjelang libur, buat daftar pekerjaan yang tersisa. Prioritaskan pekerjaan yang bisa diselesaikan sebelum liburan dan kordinasikan ke atasan atau rekan untuk pekerjaan yang belum selesai.
  • Informasi yang jelas
    Pastikan atasan, rekan kerja terkait, dan klien aktif mengetahui rencana cuti Anda. Agar ketika hari pertama masuk kerja semua mengetahui rencana anda.
  • Bersihkan meja
    Agar kembali kerja ketika selesai liburan menjadi menyenangkan. Bersihkan dan rapihkan meja serta buang snack yang tersisa agar tidak mengundang serangga.
  • Perhatikan keamanan
    Kantor yang kosong bisa jadi menarik bagi tangan-tangan jahil. Pastikan benda-benda berharga Anda berada dalam laci terkunci bila perlu bawa pulang.
  • Matikan alat elektronik
    Cabut charger atau alat listrik lain yang tak terpakai selama Anda liburan. Selain menghemat energi, kegiatan ini juga penting untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.
  • Sebelum meninggalkan kantor
    Jangan berniat menyisakan pekerjaan untuk diselesaikan di rumah bila Anda bisa menyelesaikannya sebelum pulang. Jika Anda tak mungkin lepas dari pekerjaan selama liburan, jangan lupa membawa berkas penting, daftar kontak, atau hal-hal yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan selama berlibur.

Dan untuk teman-teman yang akan melaksanakan mudik, berikut beberapa tips meninggalkan rumah saat akan mudik ke kampung halaman:

  1. Hindari hal-hal yang dapat menunjukkan bahwa rumah sedang kosong agar tidak menarik perhatian pelaku kejahatan. Misalnya, jika berlangganan koran, dengan meminta loper koran untuk tidak mengirimkan koran selama mudik. Upayakan agar lampu rumah tidak dalam keadaan menyala terus selama pergi. Bila perlu, pasang lampu otomatis yang dapat mati dan menyala sendiri dengan pengaturan waktu yang diinginkan. Selain itu, bisa juga dengan meletakkan sandal atau sepatu di depan pintu rumah.
  2. Selama mudik, pastikan tidak meninggalkan barang berharga seperti uang dan perhiasan di rumah. Agar lebih aman, simpan perhiasan dan uang di bank.
  3. Pastikan semua pintu dan jendela rumah terkunci rapat sebelum meninggalkan rumah. Jangan meninggalkan kunci rumah cadangan di bawah pot, keset atau tempat-tempat tertentu.
  4. Matikan semua listrik yang tidak digunakan untuk menghindari hubungan arus pendek yang dapat menimbulkan kebakaran.
  5. Bila perlu, titipkan rumah pada orang yang dipercayakan, tetangga atau satpam perumahan. Mintalah mereka untuk mengecek keadaan rumah sesekali.
  6. Bila diperlukan, pasang alarm sekuriti di rumah atau memasang kamera CCTV di beberapa titik di rumah seperti halaman rumah, ruang tamu dan ruang tidur.

 

Diolah dari berbagai sumber & pengalaman pribadi

~RTM
23-07-2014

Perbedaan Bahasa Betawi Jakarta Dengan Betawi Bekasi

Masyarakat Betawi Cikarang

Masyarakat Betawi Cikarang

“Et dah ntu bocah, kagak prele pisan dah urusannya. pegawean dikit doang ge, ampe ora kelar-kelar…!!!” (Gawat anak itu, tidak beres urusannya. Pekerjaan sedikit saja sampai tidak bisa selesai…!!!)

Satu lagi pembicaraan khas warga kampung saya yang kembali membuat saya untuk membahasnya. Bukan apa-apa, pembicaraan dengan logat betawi sudah amat sangat jarang terdengar di telinga saya. Sebenarnya ada perasaan bangga ketika bahasa ini masih dipakai oleh beberapa orang di kampung, akan tetapi dengan jumlah penuturnya yang sedikit saya agak khawatir lama kelamaan bahasa ini akan punah. Padahal bahasa ini sangat kaya dengan kosa kata dan kata serapan dari berbagai bahasa sehingga sangat sayang jika sekarang sudah sangat jarang yang menuturkannya. Nah dikarenakan saya adalah seorang warga betawi yang lahir dan besar di kota Cikarang, maka kali ini saya akan coba mengulas sedikit tentang perbedaan antara bahasa betawi kota dengan bahasa betawi ora.

Berbicara masalah kata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia memang agak sedikit sulit. Hal ini disebabkan karena identitas bahasa Betawi itu sendiri yang pada eksistensinya sudah tercampur dengan banyak bahasa, baik bahasa Jawa, Sunda, bahkan bahasa Asing lain, seperti Belanda, Inggris dan Portugis. Contoh yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti contoh berikut ini :

“Gimana din, ntu gawean udah kelar apa belon ?” (Bagaimana din, pekerjaannya sudah selesai atau belum?)

Kata kelar kemungkinan berasal dari B.Inggris “clear”. Menurut para ahli sejarawan dan budayawan, bahasa betawi asli berasal dari masyarakat Betawi sendiri yang dahulu mendiami Kota Jakarta (Batavia) dan kota pelindung Batavia (Jabodetabek), lalu karena banyaknya masyarakat pendatang dari luar kota Jakarta banyak yang menetap, mengakibatkan masyarakat asli betawi bergeser atau berpindah tempat ke pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Karawang, Bogor, dan Banten.

Masyarakat betawi asli yang pindah tersebut membawa bahasa asli betawi, sedangkan masyarakat asli betawi yang masih menetap di Jakarta (Batavia) berubah bahasa dikarenakan terjadi pencampuran antar bahasa dan juga budaya dengan kelompok masyarakat pendatang atau etnis (seperti orang Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa ). Tak heran jika saat ini terdapat perbedaan bahasa atau pengucapan kata serta budaya antara Betawi Jakarta dengan Bekasi.

Masyarakat pada umumnya saat ini banyak yang menyebut atau mengenal Betawi Bekasi dengan sebutan Betawi pinggiran (Betawi Ora), sedangkan yang tinggal di ibu kota Jakarta menyebutnya dengan Betawi pusat. Intinya adalah dari para ahli mengatakan aslinya tidak ada perbedaan antara Betawi Bekasi dengan Jakarta karena mereka satu nenek moyang. Hal yang ingin ditekankan di sini adalah sulitnya untuk meneliti kosakata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut menjadi sulit karena dalam bahasa Betawi sendiri banyak sekali kosakata yang diserap dari bahasa lain. Untuk daerah Bekasi sendiri daerah yang masih menggunakan bahasa Betawi Ora adalah daerah Cikarang, Babelan serta Tambun masih menggunakan logat Betawi Ora, sedangkan yang di Bekasi kota sudah terjadi percampuran Bahasa.

Nah, berikut ini adalah beberapa kata yang saya ambil dari bahasa betawi Cikarang :
1. Bagen = biarkan
2. Nanan = biarkan saja; digabung dengan kata bagen menjadi bagen temenanan (Biarkan saja)
3. Nibla =Loncat
4. Engkong =Kakek
5. Enyak = Ibu
6. Baba = Bapak
7. Tegongan/blekukan = Tikungan
8. Jaro=Pagar dari bambu
9. Gutekan = Area/wilayah
10. Kempek = Tas
11. Bujug = Astaga
12. Ge = Saja
13. Kaga urup = Tidak pantas
14. Ora Danta = Tidak jelas
15. Ora ngoh = Tidak tahu
Para pembaca mungkin bisa menambahkan beberapa kata lagi. Dari sekian banyak kosa kata tersebut mungkin kata Ora danta adalah kata yang paling populer bagi masyarakat betawi. Bagaimana tidak, kata ini menjadi semacam branded bagi kami para penduduk Cikarang. Adapun beberapa kata yang mungkin pengartiannya masih kurang saya pahami adalah kata kilangbara, seperti tercantum pada kalimat dibawah ini :

“Et dah elu mah tong, kilangbara ke maen ke rumah engkong mah bawa besek ama gabus pucung. Nah elu mah kalah minta banda ame gua, kaga urup pisan dah…!”

Sumber :
1. Dimari
2. Dimari

~RTM
21-07-2014

Bahasa Betawi Pinggiran

“Mat…!!! tulung engkong napah, elu ambilin bako di atas benggel. Engkong mau ngerokok nich..!”
Mamat yang patuh pada engkongnya langsung saja berangkat tanpa pikir panjang dan langsung berlari menuju rumah.
Tetapi begitu sampai didalam rumah, dia malah melongo dan bingung memikirkan apa yang tadi diperintah oleh engkongnya. Maklum, mamat adalah anak yang lahir dan tinggal di kota besar dan jarang mendengar kata-kata tersebut.

“Benggel…?” gumam si Mamat apaan tuh ? si Mamat membathin, pikirannya menerawang jauh memikirkan kata tersebut.
karena penasaran dengan kata tersebut, akhirnya maat memutuskan untuk menanyakan kembali pada engkongnya. Engkong yang dari tadi melihat gerak-gerik si mamat yang kebingungan, senyam-senyum dari jauh. Sesampainya di tempat engkong beristirahat, dengan muka memerah akhirnya mamat memberanikan diri.
M : “Kong, tadi nyuruh apaan sih…?”
E  : “Elu ambil bako engkong di benggel pintu…!”
M : “Ntu die kong, mamat gak ngerti apa ntu benggel…”
E  : “Ah elu mat, ntu di atas kusen pintu…”
M : “Et dah, mamat kira apaan….”
E  : “Hahaha…dasar elu mat, gak ngerti mah dari tadi kek..”
Akhirnya mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal menertawakan sikap si mamat yang kebingungan dengan kosa kata yang keluar dari mulut engkongnya.

Sekilas itulah gambaran anak jaman sekarang pada umumnya. Apalagi anak betawi yang begitu tidak faham dengan kosa kata betawi. Saya sendiri sering tidak nyambung jika berbicara dengan bahasa Betawi tempo dulu. Beruntung, masih ada nenek sama engkong ane dari sisi ibu yang masih sehat dan saya bisa belajar banyak dari mereka berdua.

Bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau Melayu Batavia (bew) adalah sebuah bahasa yang merupakan anak bahasa dari Melayu. Mereka yang menggunakan bahasa ini dinamakan orang Betawi. Bahasa ini hampir seusia dengan nama daerah tempat bahasa ini dikembangkan, yaitu Jakarta. Bahasa Betawi adalah bahasa kreol (Siregar, 2005) yang didasarkan pada bahasa Melayu Pasar ditambah dengan unsur-unsur bahasa Sundabahasa Bali, bahasa dari Cina Selatan (terutama bahasa Hokkian), bahasa Arab, serta bahasa dari Eropa, terutama bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Bahasa ini pada awalnya dipakai oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah pada masa-masa awal perkembangan Jakarta. Komunitas budak serta pedagang yang paling sering menggunakannya. Karena berkembang secara alami, tidak ada struktur baku yang jelas dari bahasa ini yang membedakannya dari bahasa Melayu, meskipun ada beberapa unsur linguistik penciri yang dapat dipakai, misalnya dari peluruhan awalan me-, penggunaan akhiran -in (pengaruh bahasa Bali), serta peralihan bunyi /a/ terbuka di akhir kata menjadi /e/ atau /ɛ/ pada beberapa dialek lokal.

Bahasa ini pada dasarnya adalah bahasa yang simple dan mudah dimengerti oleh orang baru. Akan tetapi karena logat dan gaya bahasa serta pengucapannya yang sedikit cepat, terkadang orang sulit mengerti ketika pertama kali mendengarnya.

Karena kondisi kali ini kurang memungkinkan saya untuk membahasnya lebih lanjut, insyaallah lain kali akan saya bahas beberapa kosa kata yang hingga saat ini masih di gunakan di keluarga saya.

~RTM
19-07-2014

Sumber :
1. sini