Berhentilah Mengeluh

Mengeluh

Mengeluh source

Masihkah kamu mengeluh dengan kondisi saat ini?

Kondisi ekonomi yang masih belum stabil, pekerjaan dengan gaji yang rendah, atasan yang otoriter, nilai kuliah yang tidak pernah beranjak dan lain sebagainya. Mengeluh merupakan satu hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaannya. Kalau kamu termasuk orang yang suka mengeluh maka ketahuilah bahwa kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang kamu hadapi saat ini akan menjadi lebih baik, malahan hanya akan menguras energi  dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri mu.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita sering mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Dan yang perlu kita sadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan yaitu kenyataan yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jadi cara mengatasinya sebenarnya mudah kita hanya perlu belajar bersyukur dalam segala keadaan yang kita hadapi.

Mulailah untuk mengambil waktu bersyukur setiap hari. Bersyukurlah atas semua yang telah Tuhan berkan padamu seperti : pekerjaanmu, kesehatanmu, keluargamu atau apapun yang dapat kamu syukuri. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah bahwa hidupini akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersamamu, karena kamu dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan karena  terlalu sibuk mengeluh.

Jika semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk disyukuri. Berarti semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang di alami, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk dikeluhkan.

Jangan mengeluh bila menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, tetapi lakukanlah hal berikut ini ; Tutuplah mata mu, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut , lalu buka mata mu, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti kamu akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.

Mulai saat ini biasakanlah diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh. Coba beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan kembangkan sikap penuh syukur lalu lihatlah perubahan dalam hidup mu mulai dari sekarang.

Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup hingga detik ini !
a. Life is a gift…
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. Fulfill it…
f. And enjoy it…
Sumber : pengalaman pribadi dan dari sini

 

~RTM
29-09-2014

Mengapa Ayah Mengajakmu Mendaki Gunung

Rinjani Tetap Semangat

Rinjani Tetap Semangat (koleksi pribadi)

Entah sudah berapa kali ayah mengajakmu menaiki tangga-tangga terjal hanya untuk sampai dipuncak gunung dan melihat kebesaran ciptaan-Nya. Mungkin sudah ratusan kali kita bertiga berjalan bersama kemudian beristirahat sejenak hanya sekedar untuk melepas rasa lelah yang mendera disela udara tipis, rasa dingin dan nafas yang tersengal. Dirimu tak pernah mengeluh letih, meski sering kulihat rasa itu terkadang sangat menyiksamu. Kamu hanya mengeluh lapar dan haus, meski sudah hampir beberapa botol air putih sudah masuk melalui sela-sela kerongkonganmu.

Masih ingatkah nak, ketika pertama kali ayah ajak kau bermain dengan alam di usiamu yang baru beranjak 2,5 tahun dulu ? Ketika itu ayah membawamu menapaki puluhan anak tangga dikaki Gunung Sanggabuana hanya untuk melihat dan merasakan kebesaran ciptaan Tuhan. Kamu masih tetap berlari kecil manapaki anak tangga, sementara kami berdua sudah kelelahan dengan keringat yang membasahi baju.

Mengapa ketika itu ayah tidak mengajakmu ke mall atau ke tempat lain yang teman seusiamu datangi ? Ayah tidak ingin dirimu menjadi gadis yang lemah. Dengan bermain di mall, kamu tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya angin dingin mendekap tubuh. Ayah tidak ingin kamu menjadi manja. Dengan bermain ditempat tersebut, kamu tidak akan pernah merasakan nikmatnya bermain dengan alam sekitar.

Ah anakku… ayah bangga memiliki putri sepertimu. Kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik tapi perkasa. Semangatmu sama seperti bundamu yang tak pernah letih membimbing ayahmu ini. Bicaramu lantang meski sekelilingmu mencemooh apa yang kau lakukan. Kau menjadi sosok yang bisa diandalkan ketika teman-teman lain seusiamu masih ditemani mama nya untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Kamu bisa memimpin dan mengatur mereka meskipun kebanyakan dari mereka berbadan lebih besar dan berusia lebih tua darimu. Dibalik semua itu, dirimu masih tetap putri kami yang cantik dan anggun. Meski sikap manjamu terhadap kami terkadang berlebihan, tapi kami yakin kamu adalah gadis yang tegar. Tegar dalam menghadapi kesulitan hidup dan bisa menjadi seorang yang bisa kami andalkan kelak.

Kelak kamu pasti akan mengerti nak, mengapa ayah mengajakmu mendaki gunung…

~RTM
25-09-2014

Aku Paling Benci Dengan 2 Hal Ini

Tahukah kalian, pekerjaan apa yang paling sangat-sangat dibenci oleh kebanyakan orang ?
Pasti mereka akan sepakat menjawab “PEKERJAAN MENUNGGU”.

Bagi sebagian orang, menunggu adalah salah satu hal yang paling dibenci dan sangat menyebalkan sekali. Tak heran banyak dari mereka yang akan marah besar atau cemberut jika diharuskan melakukan pekerjaan tersebut. Meski hanya dilakukan beberapa saat saja, pekerjaan menunggu sangat-sangat tidak enak untuk dilakukan. Toh meskipun kita sudah berusaha melakukan berbagai macam aktivitas pekerjaan untuk membunuh waktu, akan tetapi banyak diantara kita merasa sangat tidak nyaman jika diharuskan untuk menunggu. Pekerjaan ini sangat-sangat menyita waktu, apalagi jika harus menunggu ditempat yang tidak nyaman bahkan harus menunggu tanpa ditemani oleh gadget. Nah kebayang khan, harus ngapain kita selama berjam-jam menunggu…?

Ilustrasi

Ilustrasi

Aku pun merasa demikian. Akan tetapi setelah aku selidiki track record ku selama ini dalam melaksanakan pekerjaan tersebut, sepertinya aku termasuk salah satu orang yang sabar dalam hal menunggu. Meski menunggu ditempat yang sangat tidak nyaman dan tanpa ditemani gadget kesayangan, sepertinya pekerjaan menunggu ini sudah menjadi hal yang biasa aku lakukan.

Bisa dibayangkan, zaman masih kuliah dulu. Jangankan memakai gadget, HP hitam putih yang suaranya sangat khas pun masih menjadi barang yang mahal. Apalagi aku yang notabene masih jadi mahasiswa rantau, makan pun harus diatur kalau ingin uang saku bisa sampai akhir bulan. Nah, kebetulan pas itu sedang tidak ada uang sama sekali. Mau balik kerumah jaraknya sangat jauh dan harus mengeluarkann ongkos juga, oleh karena itu aku berpikir bagaimana caranya agar tidak pulang. Nah itu dia, jawabannya adalah menunggu. Jadi biar tidak bolak-balik ke kampus, lebih baik menunggu aja sampai besok pagi.

Nah ternyata kejadian ini semakin intens terjadi di kehidupanku selanjutnya. Zaman masih nganggur dulu, si bunda khan belum kelar nyusun skripsi nya. Nah, sebagai calon suami yang baik adalah nemenin si dia bolak-balik kampus untuk kuliah dan ngerjain skripsi. Klo udah sampe kampus, otomatis dia masuk kelas. Tinggalah aku yang melongo sendirian diluar kelas. Tidak lama sih cuman dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, tapi kebayang khan selama 4 jam harus melongo nungguin si do’i keluar kelas.

Sampai hari ini, aku masih sering mengalami pekerjaan ini. Entah untuk menunggu pesawat yang delay lah, seperti kejadian ketika akan pulang dari Banjarmasin ke Sengatta kemarin. Mana dapat tiketnya pesawat terusan, yang harus transit dulu di Surabaya. Perjalanan yang seharusnya cuman 45 menit jadi seharian. Apalagi pas di Suarabaya, pesawat ke Balikpapan delay selama lebih dari 6 jam. Tuh khan aku tetep sabar dalam hal ini meskipun mulut udah monyong mengumpat sana-sini. Kalau sudah begini, sepertinya aku termasuk orang yang sabar dalam menghadapi pekerjaan menunggu.

Ada satu lagi pekerjaan yang menurut aku yang paling aku benci, yaitu hadir pada saat-saat terakhir (Last few minutes) sebelum bel berbunyi. Bukan apa-apa, kalau udah kejadian datang pas akhir-akhir kaya nya dunia itu sempit banget. Boro – boro untuk ngerjain sesuatu, sudah bisa datang juga kaya nya sudah beruntung. Apalagi kalau sudah ditunggu orang segambreng dan cuman aku sendirian yang belum datang, rasanya tuh semua orang matanya melototin aku. Klo udah kaya gitu, amit-amit deh kudu datang di menit-menit akhir. Apalagi kalo kita udah buru-buru berangkat, eh dijalan macet total. Klo ikut hadir undangan acara sih gak masalah, cuman klo udah nyangkut sama tiket pesawat pasti urusannya jadi runyam. Kebayang berapa duit yang hilang buat ganti tiket pesawat tersebut. Yakin deh, semua yang ngalamin macet disaat-saat kita lagi ngejar pesawat bikin kita panas dingin.

Jadi sebenernya kalau disuruh memilih antara MENUNGGU atau DATANG DIMENIT-MENIT TERAKHIR yang paling dibenci dalam hidup aku, maka aku akan memilih DATANG DIMENIT-MENIT TERAKHIR adalah pekerjaan yang paling aku benci. Itulah alasan kenapa sejak jaman dulu, aku gak pernah mau nyoba untuk melakukan pekerjaan yang kedua. Bertolak belakang dengan si bunda yang seneng betul datang di penghujung waktu 😥

Nah bagaimana dengan teman-teman menyikapi dua hal tersebut ?

~RTM
23-09-2014

Ketika Saya Dipaksa Harus Melangkah

Time To Move

Time To Move source

“Ketika kita dituntut sebuah keputusan antara harus tetap diam atau melangkah, maka saya akan memilih untuk melangkah terus meski yang harus saya hadapi adalah jalan yang terjal…”

Sebuah kalimat yang cukup membuat saya sedikit tersenyum, ketika menuliskannya di salah satu sosmed, saya hanya bisa tersenyum membayangkan apakah ini sebuah pembenaran diri atau sebuah kemunduran diri bagi saya pribadi. Jujur saja, ada beberapa kejadian selama hidup ini yang membuat saya harus membuat beberapa keputusan sulit. Bagi sebagian orang, mungkin harus membutuhkan waktu berhari-hari bahkan mungkin hingga berbulan-bulan untuk mengambil keputusan sulit tersebut. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak yang pastinya akan membuat keputusan itu jadi bertambah sulit.

Sebuah kata yang cukup sederhana keluar dari bibir si bunda ketika saya menanyakan tentang masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Apakah saya harus tetap bertahan dengan kondisi yang sudah terbilang aman dan nyaman untuk kami bertiga atau saya harus kembali meninggalkan zona nyaman saya di kantor ? Dengan kondisi ekonomi seperti ini, kiranya posisi kami akan cukup aman untuk sedikit menabung pendidikan rinjani dan adiknya kelak, serta menabung untuk menyicil rumah idaman yang sudah lama kami impikan. oleh karena itulah, keluar dari zona nyaman merupakan salah satu seni menjalani hidup yang harus kita pelajari dan kuasai serta kita siasati.

Bergelut dengan aktivitas yang stuck dan konstan membuat hidup saya seperti terhenti. Belum lagi saat ini sudah mulai dikejar-kejar deadline untuk segera menyusun proposal tesis yang hingga saat ini baru beberapa bait saja saya kerjakan. Ditambah dengan rencana pembuatan rumah idaman serta persiapan kelahiran adiknya Rinjani, yang membuat pikiran saya tidak bisa fokus kepada salah satunya. Saya harus melepaskan dan meninggalkan salah satunya sehingga bisa membuat saya kembali fokus pada keluarga terlebih dahulu.

Meninggalkan zona aman, berarti saya harus kembali bergelut dengan segala ketidakpastian hidup. Tapi saya punya prinsip “bahwa zona aman adalah musuh terbesar saya, yang membuat saya tidak bisa berkembang dan takut akan persaingan diluar sana”. Saya harus bisa keluar dari zona ini secepatnya, karena jika tidak maka akan timbul berbagai macam persepsi negatif akan rasa khawatir dan cemas saya. Memang rasa was-was serta khawatir akan selalu hadir menemani saya dalam mengambil sebuah keputusan ini. Sudah sifat alami manusia yang takut dan was-was akan suasana asing dan baru. Tapi saya akan terus dan terus berusaha untuk bisa survive dari keadaan ini.

Tetapi saya masih punya “Tuhan” yang masih membimbing saya dalam mengambil keputusan ini. Sehingga saya bisa kembali menata pikiran saya jauh ke depan untuk menjamin bahwa anak cucu saya kelak tidak hidup seperti saya saat ini. Sehingga pada akhirnya nanti saya hanya bisa berserah diri kepada Allah bahwa keputusan yang akan saya ambil ini adalah sebuah keputusan yang terbaik bagi mereka semua.

~RTM
17-09-2014
21:15

Undangan Terbuka Rapat Penolakan PT Gunung Garuda

Semoga akan ada kejelasan bagi warga Kecamatan Cikarang Barat dalam menuntut keadilan bagi perusak lingkungan…

tolakekspansigununggaruda

Ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat Desa Telaga murni dan masyarakat Kecamatan Cikarang barat yang peduli akan isu perusakan lingkungan oleh aktivitas perluasan pembangunan pabrik peleburan baja PT Gunung garuda, bahwasanya akan dilakukan rapat terbuka yang akan dilaksanakan pada :
Hari          : Senin
Tanggal   : 15 September 2014
Jam           : 09.30 – Selesai
Tempat   : Aula Kecamatan Cikarang barat kab. Bekasi
Mengingat pentingnya acara tersebut, diharapkan kehadirannya untuk mengikuti rapat terbuka ini.

Diusahakan untuk memakai baju hitam sebagai simbol perlawanan terhadap ekspansi PT Gunung garuda. Mari kita kawal Tim 11, Tokoh masyarakat, Tokoh Pemuda, Ulama dan BPD.

Ttd
Camat Cikarang Barat

Rahmat Atong

Nb : Mohon disebarkan undangan ini

Lihat pos aslinya

Ternyata Ayah Itu….?

Seorang Ayah

Seorang Ayah

Bicara soal perhatian, seorang ibu memang jauh lebih perhatian dibandingkan seorang ayah. Tetapi apakah kalian menyadari jika seorang ayah sebenarnya lebih memperhatikan kalian, hanya saja dia tak ingin di sebut seorang yang bawel. Merantau jauh di negeri seberang atau menjadi seorang istri yang ikut suaminya bertugas atau whatever bagi mereka yang jauh dari kedua orang tuanya terkadang merasa sangat rindu sekali dengan kehadiran seorang ibu. Lalu….apakah kalian juga rindu dengan kehadiran seorang ayah? Setelah mengorek-ngorek keterangan dari beberapa teman yang senasib di mess perusahaan, ternyata hampir semua dari mereka mengatakan “Ayah jarang sekali menelpon kami atau ayah tidak pernah peduli dengan keadaan kami di sini…!!!”. Astagfirullah…Apakah karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari atau sering bercerita dan lebih terbuka terhadapmu maka kamu merasa ayah tidak peduli. Akan tetapi tahukah kamu …bahwa ternyata karena Ayah-lah yang selalu mengingatkan ibu untuk segera menelponmu dan menanyakan tentang kabarmu diseberang sana.

Memang ayah jarang sekali bercerita atau meluangkan waktu untuk mendongengkan sebuah dongeng seorang putri untuk mengantar kita beranjak ke tempat tidur. Jarang sekali dia menunggu kita dengan sabar di samping ranjang empuk untuk bercerita dan membelai kita ketika hendak tidur. Tapi tahukah kamu jika dia akan mencium keningmu ketika kamu sudah terlelap atau membuka pintu kamarmu hanya untuk memastikan bahwa anaknya telah beristirahat dengan nyaman. Tahukah kamu, dia rela menjadi sebuah alas yang cukup empuk dan menjadi tempat duduk terbaik ketika ada parade ataupun pawai lewat di depan rumah dengan memangkumu di atas pundaknya. Dia tidak pernah bisa untuk berkata “Tidak…!” akan tetapi dia akan bilang “Tanya saja pada ibumu” untuk menunjukan bahwasanya dia tia tidak setuju dengan permintaanmu.

Teringat kembali saat masih anak-anak dulu, ketika pulang malam dari menonton sebuah hiburan rakyat yang waktu itu masih sangat jarang ada. Ayah selalu setia menggendongku meskipun dirinya sendiri saat itu merasakan kantuk yang teramat sangat, dan pegal yang berkepanjangan. Di satu sisi ia adalah pribadi yang tegar mengahadapi berbagai macam tantangan hidup, akan tetapi di sisi lain ia merupakan seorang yang lemah lembut melebihi kelembutan seorang ibu. Meskipun kini usiaku sudah hampir kepala 4 akan tetapi dia tetap saja menganggapku seorang jagoan kecilnya. Bahkan meskipun dirinya jarang sekali berbicara empat mata denganku, aku tahu ada kasih yang tulus dari dalam hatinya ketika menatapku melangkah menjauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama.

Begitulah ayah, dia tidak akan pernah meneteskan air mata meratapi kepergian anaknya jauh ke negeri seberang. Pantang bagi dirinya untuk menangis dan meneteskan air mata didepan anaknya, meski hatinya terasa terkoyak. Ayah akan lari menjauh dan tidak akan menatap anaknya berlama-lama  untuk memastikan bahwa anaknya tersebut akan kuat dan bisa bertahan meski jauh darinya.  Ayah akan menatap dirimu dari kejauhan hanya untuk memastikan bahwa kamu “BISA” melakukannya.

~RTM
09-12-2013
Dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi

Do’a Di Hari Lahirmu Bun…

Harapan itu masih terbuka bun....

Harapan itu masih terbuka bun….

Ya Allah…
Aku bersyukur
Atas karunia terindah kehadiranmu didunia

Ya Allah…
Jika engkau mengizinkan
Panjangkanlah usianya dan berkahilah sepanjang usia hidupnya

Ya Allah…
Jika engkau mengizinkan
Anugerahkanlah dirinya menjadi ibunda dari anak-anak kami yang shaleh dan shalehah

Ya Allah…
Jika engkau mengizinkan
Anugerahkanlah dirinya menjadi pendampingku didunia dan akhirat

 

~RTM
09-09-2014

 

Tolak Ekspansi Pabrik Gunung Garuda

Sepertinya ada beberapa hal yang sedikit mengusik isi kepalaku diakhir bulan agustus ini. Mulai dari proposal tesis yang sudah hampir dead line, IPK yang tidak ada kenaikan berarti, urusan pembuatan rumah kecil untuk keluargaku, proses persiapan lahiran adiknya Rinjani hingga proses penolakan warga desa akan ekspansi perluasan pabrik peleburan baja dikampungku. Masalah terakhir inilah yang sedikit banyak mengusik pikiranku, karena sepertinya sudah terbayang dampak yang akan terjadi pada lingkungan apabila perusahaan tersebut tetap dibiarkan melakukan perluasan pabrik dilingkungan perumahan.

Tolak Ekspansi Gunung Garuda

Tolak Ekspansi Gunung Garuda

Bukan hanya sekali dua kali warga desa melakukan ekpresi penolakan, akan tetapi pihak perusahaan tetap tidak bergeming. Puncak kekesalan warga kampungku pun akhirnya terjadi pada tanggal 01 september 2014 yang lalu. Sebanyak kurang lebih 5.000 orang menggeruduk kantor kabupaten Bekasi, menuntut campur tangan pemerintahan kabupaten menangani hal tersebut. Yang lebih aneh, sepertinya media tak ada yang mengekspos kejadian ini. Hanya beberpa media yang menurunkan aksi massa warga menolak peleburan pabrik baja Gunung Garuda ini, itupun bukan menjadi head line di medianya.

Aksi Massa menolak Gunung Garuda

Aksi Massa menolak Gunung Garuda

Apakah media sudah bersikap tidak netral menghadapi masalah ini ?

Padahal isu perusakan lingkungan adalah hal yang sangat kompleks dan akan berakibat rusaknya habitat serta ekosistem dilingkungan tersebut. Dampaknya akan berakibat kepada anak cucu kita di masa yang akan datang. Pencemaran udara oleh aktivitas produksi peleburan baja yang sangat signifikan serta  pembuangan limbah scrap besi. Belum lagi penutupan daerah resapan air di Rawa Palangan dapat mengakibatkan timbulnya banjir, yang tentunya akan berakibat pada tertutupnya jalan raya oleh air seperti yang sudah terjadi belakangan ini.

Aksi Warga Telaga Murni menolak Gunung Garuda

Aksi Warga Telaga Murni menolak Gunung Garuda

Anak-anak pun Ikut Aksi

Anak-anak pun Ikut Aksi

Salah Satu Spanduk Aksi Penolakan Gunung Garuda

Salah Satu Spanduk Aksi Penolakan Gunung Garuda

Semoga saja perjuangan kawan-kawan Karang Taruna melawan ekspansi Gunung garuda akan membuahkan hasil, sehingga meskipun aku tinggal dan menetap di Kalimantan Timur tidak khawatir akan rusaknya ekosistem di tanah kelahiran ku.

Ayo Dukung dan Tolak Ekspansi PT Gunung Garuda Sekarang Juga…!!!

 

~RTM Sengatta, Kutai Timur 09-09-2014

Tamparan Si Abah Di Pagi Buta

Seorang lelaki setengah baya nampak sibuk memilah-milah limbah kertas putih dan karton yang tertumpuk di depan halaman rumahnya, raut wajahnya menyiratkan kebahagian yang teramat sangat. Bola matanya yang sayu nampak berkaca-kaca, sekali-sekali ia menatap jauh ke dalam lorong rumahnya yang kosong sambil sedikit tersenyum memandang ke arah photo wisuda anak pertamanya.

Tangannya yang kekar, meski kulitnya menandakan dirinya sudah tidak muda lagi nampak sigap memisahkan kertas yang masih terpakai dan kertas yang sudah tidak terpakai. Jari-jemarinya dengan lincah menari di setiap lembaran kertas putih untuk dipisahkan dan diolah kembali untuk kemudian di jual.

Sebut saja namanya abah, lelaki yang dilahirkan hampir 50 tahun yang lalu dari keluarga sangat sederhana di sebuah kampung di pinggiran ibukota kecamatan. Terlahir dari 10 bersaudara di lingkungan miskin membuatnya harus rela membanting tulang untuk membantu orang tuanya yang hanya sebagai petani garapan.

Sejak kecil memang dirinya terbiasa bergelut dengan segala kekurangan. Awal hidupnya dimulai ketika pertengahan tahun 60an, ketika umur 6 tahunan dirinya harus rela menjadi penggembala sapi milik seorang juragan di kampung sebelah. Ketika anak-anak seusianya bersekolah, dirinya harus rela menahan terik panas matahari untuk menggembalakan beberapa ekor sapi dan kambing. Jangankan untuk bermimpi menjadi pegawai tinggi, bisa hidup dan makan ala kadarnya saja sudah bersyukur pikirnya.

“Anak-anak jaman sekarang sudah sangat enak, makan tinggal minta orang tua. Jaman abah dulu, untuk makan nasi putih saja harus rela menunggu sampai lebih dari sebulan”.  Dengan nada lembut dirinya memulai pembicaraan.

Berarti dulu makannya pakai apa bah…?” tanyaku penasaran.
“Ya pakai nasi lah, cuma dicampur sama jagung. Makanya dinamain nasi jagung…”

Nasi jagung adalah nasi yang terdiri dari nasi putih yang dicampur dengan biji jagung yang telah dimasak bersama dengan nasi tersebut. Nasi jagung sama dengan nasi putih biasa dimakan dengan lauk-pauk lainnya. Nasi jagung ini sengaja di buat untuk makanan mereka karena harga beras yang sangat mahal sehingga mereka mencampurnya dengan jagung sebagai tambahan nasi dan memberi nutrisi berupa karbohidrat yang tak jauh berbeda dengan nasi. Sehingga efek yang timbul adalah rasa kenyang yang bertahan cukup lama.

“Coba kamu lihat, anak-anak sekarang..! Sudah jam setengah delapan pagi saja masih tidur, gimana gak kehabisan rejeki…?”

Mendadak muka ini sedikit memerah dan merasa malu dengan perkataannya. Memang semenjak ayam mulai berkokok sebelum adzan shubuh tadi dirinya sudah mulai terbangun, dan mulai merapikan pekerjaan yang sempat ditinggalkannya kemarin sore. Sebuah rutinitas yang terkadang membuat tubuh renta nya meminta untuk sejenak beristirahat. Sedikit pun tidak ada rasa bosan atau malu dengan aktivitas yang dilakukannya yang mungkin bagi sebagian orang pekerjaan ini adalah salah satu pekerjaan yang akan dihindari.

Bagi dirinya hidup ini adalah sebuah anugerah. Dan anugerah terindah dan terbesar adalah ketika dirinya dikaruniai  anak yang saleh dan berbakti. Anak, buah hati yang tumbuh di dekat jiwa. Menemani gersangnya hati serta membangkitkan gairah hidupnya. Anaknya menjadi penyejuk saat dirinya diterpa oleh panasnya hidup. Anaknya menjadi penyegar pikiran yang kalut. Kehadirannya memberikan sejuta makna tentang hidup yang singkat ini. Berbekal mimpi dan tekad yang kuat karena tidak ingin anak-anaknya hidup seperti dirinya dahulu, maka diapun berjuang dengan segenap tenaga untuk keluar dari kubangan kemiskinan.

Meski hanya memperoleh beberapa ribu dalam sehari, dia tidak pernah mengeluh. Bahkan dia selalu bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan beri kepadanya di hari ini. Dengan uang tersebut, beliau menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai perguruan tinggi. Mimpinya hanya ingin anaknya kelak tidak merasakan kesulitan seperti yang beliau alami semasa hidupnya. Mimpinya memberikan kekuatan penuh untuk terus dan terus berusaha dengan sekuat tenaga agar bisa menyekolahkan anaknya hingga setinggi-tingginya.

Semoga apa yang beliau impikan bisa terwujud dan terima kasih telah memberikan satu tamparan dipagi buta, sehingga aku sadar bahwa aku tak lebih dari seorang pemalas.

~RTM
05-05-1999