Tamparan Si Abah Di Pagi Buta

Seorang lelaki setengah baya nampak sibuk memilah-milah limbah kertas putih dan karton yang tertumpuk di depan halaman rumahnya, raut wajahnya menyiratkan kebahagian yang teramat sangat. Bola matanya yang sayu nampak berkaca-kaca, sekali-sekali ia menatap jauh ke dalam lorong rumahnya yang kosong sambil sedikit tersenyum memandang ke arah photo wisuda anak pertamanya.

Tangannya yang kekar, meski kulitnya menandakan dirinya sudah tidak muda lagi nampak sigap memisahkan kertas yang masih terpakai dan kertas yang sudah tidak terpakai. Jari-jemarinya dengan lincah menari di setiap lembaran kertas putih untuk dipisahkan dan diolah kembali untuk kemudian di jual.

Sebut saja namanya abah, lelaki yang dilahirkan hampir 50 tahun yang lalu dari keluarga sangat sederhana di sebuah kampung di pinggiran ibukota kecamatan. Terlahir dari 10 bersaudara di lingkungan miskin membuatnya harus rela membanting tulang untuk membantu orang tuanya yang hanya sebagai petani garapan.

Sejak kecil memang dirinya terbiasa bergelut dengan segala kekurangan. Awal hidupnya dimulai ketika pertengahan tahun 60an, ketika umur 6 tahunan dirinya harus rela menjadi penggembala sapi milik seorang juragan di kampung sebelah. Ketika anak-anak seusianya bersekolah, dirinya harus rela menahan terik panas matahari untuk menggembalakan beberapa ekor sapi dan kambing. Jangankan untuk bermimpi menjadi pegawai tinggi, bisa hidup dan makan ala kadarnya saja sudah bersyukur pikirnya.

“Anak-anak jaman sekarang sudah sangat enak, makan tinggal minta orang tua. Jaman abah dulu, untuk makan nasi putih saja harus rela menunggu sampai lebih dari sebulan”.  Dengan nada lembut dirinya memulai pembicaraan.

Berarti dulu makannya pakai apa bah…?” tanyaku penasaran.
“Ya pakai nasi lah, cuma dicampur sama jagung. Makanya dinamain nasi jagung…”

Nasi jagung adalah nasi yang terdiri dari nasi putih yang dicampur dengan biji jagung yang telah dimasak bersama dengan nasi tersebut. Nasi jagung sama dengan nasi putih biasa dimakan dengan lauk-pauk lainnya. Nasi jagung ini sengaja di buat untuk makanan mereka karena harga beras yang sangat mahal sehingga mereka mencampurnya dengan jagung sebagai tambahan nasi dan memberi nutrisi berupa karbohidrat yang tak jauh berbeda dengan nasi. Sehingga efek yang timbul adalah rasa kenyang yang bertahan cukup lama.

“Coba kamu lihat, anak-anak sekarang..! Sudah jam setengah delapan pagi saja masih tidur, gimana gak kehabisan rejeki…?”

Mendadak muka ini sedikit memerah dan merasa malu dengan perkataannya. Memang semenjak ayam mulai berkokok sebelum adzan shubuh tadi dirinya sudah mulai terbangun, dan mulai merapikan pekerjaan yang sempat ditinggalkannya kemarin sore. Sebuah rutinitas yang terkadang membuat tubuh renta nya meminta untuk sejenak beristirahat. Sedikit pun tidak ada rasa bosan atau malu dengan aktivitas yang dilakukannya yang mungkin bagi sebagian orang pekerjaan ini adalah salah satu pekerjaan yang akan dihindari.

Bagi dirinya hidup ini adalah sebuah anugerah. Dan anugerah terindah dan terbesar adalah ketika dirinya dikaruniai  anak yang saleh dan berbakti. Anak, buah hati yang tumbuh di dekat jiwa. Menemani gersangnya hati serta membangkitkan gairah hidupnya. Anaknya menjadi penyejuk saat dirinya diterpa oleh panasnya hidup. Anaknya menjadi penyegar pikiran yang kalut. Kehadirannya memberikan sejuta makna tentang hidup yang singkat ini. Berbekal mimpi dan tekad yang kuat karena tidak ingin anak-anaknya hidup seperti dirinya dahulu, maka diapun berjuang dengan segenap tenaga untuk keluar dari kubangan kemiskinan.

Meski hanya memperoleh beberapa ribu dalam sehari, dia tidak pernah mengeluh. Bahkan dia selalu bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan beri kepadanya di hari ini. Dengan uang tersebut, beliau menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai perguruan tinggi. Mimpinya hanya ingin anaknya kelak tidak merasakan kesulitan seperti yang beliau alami semasa hidupnya. Mimpinya memberikan kekuatan penuh untuk terus dan terus berusaha dengan sekuat tenaga agar bisa menyekolahkan anaknya hingga setinggi-tingginya.

Semoga apa yang beliau impikan bisa terwujud dan terima kasih telah memberikan satu tamparan dipagi buta, sehingga aku sadar bahwa aku tak lebih dari seorang pemalas.

~RTM
05-05-1999

Iklan

16 thoughts on “Tamparan Si Abah Di Pagi Buta

  1. nah ini…duluu…waktu kecil udah dibiasain sama abahku buat bangun subuh trus sholat. Alhamdulillah, skrg anakku juga kuajari hal yg sama.. semuanya memang sangat bermanfaat 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s