Ketika Saya Dipaksa Harus Melangkah

Time To Move

Time To Move source

“Ketika kita dituntut sebuah keputusan antara harus tetap diam atau melangkah, maka saya akan memilih untuk melangkah terus meski yang harus saya hadapi adalah jalan yang terjal…”

Sebuah kalimat yang cukup membuat saya sedikit tersenyum, ketika menuliskannya di salah satu sosmed, saya hanya bisa tersenyum membayangkan apakah ini sebuah pembenaran diri atau sebuah kemunduran diri bagi saya pribadi. Jujur saja, ada beberapa kejadian selama hidup ini yang membuat saya harus membuat beberapa keputusan sulit. Bagi sebagian orang, mungkin harus membutuhkan waktu berhari-hari bahkan mungkin hingga berbulan-bulan untuk mengambil keputusan sulit tersebut. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak yang pastinya akan membuat keputusan itu jadi bertambah sulit.

Sebuah kata yang cukup sederhana keluar dari bibir si bunda ketika saya menanyakan tentang masalah yang sedang saya hadapi saat ini. Apakah saya harus tetap bertahan dengan kondisi yang sudah terbilang aman dan nyaman untuk kami bertiga atau saya harus kembali meninggalkan zona nyaman saya di kantor ? Dengan kondisi ekonomi seperti ini, kiranya posisi kami akan cukup aman untuk sedikit menabung pendidikan rinjani dan adiknya kelak, serta menabung untuk menyicil rumah idaman yang sudah lama kami impikan. oleh karena itulah, keluar dari zona nyaman merupakan salah satu seni menjalani hidup yang harus kita pelajari dan kuasai serta kita siasati.

Bergelut dengan aktivitas yang stuck dan konstan membuat hidup saya seperti terhenti. Belum lagi saat ini sudah mulai dikejar-kejar deadline untuk segera menyusun proposal tesis yang hingga saat ini baru beberapa bait saja saya kerjakan. Ditambah dengan rencana pembuatan rumah idaman serta persiapan kelahiran adiknya Rinjani, yang membuat pikiran saya tidak bisa fokus kepada salah satunya. Saya harus melepaskan dan meninggalkan salah satunya sehingga bisa membuat saya kembali fokus pada keluarga terlebih dahulu.

Meninggalkan zona aman, berarti saya harus kembali bergelut dengan segala ketidakpastian hidup. Tapi saya punya prinsip “bahwa zona aman adalah musuh terbesar saya, yang membuat saya tidak bisa berkembang dan takut akan persaingan diluar sana”. Saya harus bisa keluar dari zona ini secepatnya, karena jika tidak maka akan timbul berbagai macam persepsi negatif akan rasa khawatir dan cemas saya. Memang rasa was-was serta khawatir akan selalu hadir menemani saya dalam mengambil sebuah keputusan ini. Sudah sifat alami manusia yang takut dan was-was akan suasana asing dan baru. Tapi saya akan terus dan terus berusaha untuk bisa survive dari keadaan ini.

Tetapi saya masih punya “Tuhan” yang masih membimbing saya dalam mengambil keputusan ini. Sehingga saya bisa kembali menata pikiran saya jauh ke depan untuk menjamin bahwa anak cucu saya kelak tidak hidup seperti saya saat ini. Sehingga pada akhirnya nanti saya hanya bisa berserah diri kepada Allah bahwa keputusan yang akan saya ambil ini adalah sebuah keputusan yang terbaik bagi mereka semua.

~RTM
17-09-2014
21:15

Iklan

26 thoughts on “Ketika Saya Dipaksa Harus Melangkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s