Api Unggun Ternyata Dapat Memperkuat Ikatan Sosial

Api Unggun - Koleksi Pribadi

Api Unggun – Koleksi Pribadi

“Bagi banyak orang sekarang cahaya buatan telah mengubah waktu yang seharusnya menjadi waktu berkumpul dengan orang-orang menjadi waktu yang benar-benar produktif karena masih digunakan untuk bekerja,” kata Wiessner. Penelitian yang dilakukan dikalangan masyarakat di pedalaman Kalahari menunjukan duduk berkumpul di sekitar api unggun pada malam hari mampu memunculkan perbincangan, penuturan cerita dan keterikatan sosial yang jarang terjadi di siang hari. Ketua penelitian ini, Dr Polly Wiessner, profesor Antropologi dari Universitas Utah menganalisa 174 rekaman percakapan yang didokumentasikan baik pada siang hari dan di malam hari dikalangan warga pedalaman, dan juga 68 bahan tulisan yang diterjemahkan.

“Saya menemukan ternyata ada perbedaan yang sangat mencolok antara percakapan di siang hari dan percakapan di sekitar api unggun di malam hari,” kata Wiessner mengenai hasil risetnya yang diterbitkan pekan ini di Jurnal Proceedings dari Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan.

Api unggun merupakan salah satu bentuk kegiatan dialam terbuka khususnya pada malam hari. Api unggun sebagai kegiatan dialam terbuka dapat mengembangkan aspek-aspek kejiwaan pada para penggiat alam, sehingga tepat kiranya jika dikatakan bahwa api unggun merupakan suatu alat pendidikan. Selain untuk menghangatkan tubuh ketika dingin menerpa, api unggun juga mempunyai fungsi untuk menjaga diri kita dari binatang buas, isyarat keadaan bahaya, atau sebagai perapian untuk memasak makanan.

Sebagai salah seorang yang senang menggeluti kegiatan alam terbuka, tentunya momen membuat api unggun adalah salah satu kegiatan yang sangat saya nanti-nantikan. Puncak kebahagiaan bagi seorang pendaki adalah tawa hangat sepanjang perjalanan atau kala berdiam di api unggun bersama teman mendaki dibalik tenda saat mengusir dingin di waktu malam hari.

Suasana Yang Selalu Di Tunggu

Suasana Yang Selalu Di Tunggu

Api unggun adalah jiwa dari tim itu sendiri. Saat baru saja merasakan lelah setelah seharian mendaki, berkumpul bersama di api unggun adalah tujuan utama para pendaki. Tawa-tawa ceria yang muncul saat api unggun mendekap hangatnya, dikelilingi suara-suara alam yang mengawang. Kesunyian membuat manusia mengakrabi dirinya sendiri dan mulai mengenal organ-organ tubuh dan sistem kebutuhannya. Hal ini membawa manusia lebih peduli pada penderitaan orang menjadikan kita lebih sabar dan bersikap tegar.

Api unggun tampaknya berdampak pada evolusi kognisi manusia; kisah yang disampaikan di sekitar api unggun disampaikan dengan bahasa yang lebih indah, bahkan mungkin dapat meningkatkan kemampuan linguistik dan imajinasi yang mendengarnya, ketika berada di kegelapan malam yang dihiasi api unggun ada banyak rangsangan yang bisa dilepaskan dan imajinasi bisa tercipta. Nah jika kita ingin mendapat sebuah tulisan yang bagus, mungkin ada benarnya juga kita mengonsep sebuah tulisan didepan api unggun ditengah malam.

Semoga saja…
Sumber : Disini

~RTM
29-10-2014

Iklan

Menaklukan Gunung ?

Mampukan Kita Menaklukkan Gunung?

Salak Mount, Jan 1st ,2010

Ilustrasi

Sebuah pertanyaan dan pernyataan yang sering kita dengar atau baca baik di koran, majalah maupun televisi. Entahlah akhir-akhir ini saya merasa sangat tidak nyaman dengan kata “menaklukan” tersebut. Menurut definisi yang saya dapatkan, bahwa kata takluk bermakna menundukan atau mengalahkan. Sedangkan jika kita telah menyelesaikan sebuah pendakian gunung, apa yang sudah kita taklukan? Apakah kita menganggap gunung itu sebuah musuh yang mesti kita taklukan? Padahal gunung adalah ciptaan Tuhan yang begitu indah yang mestinya kita lestarikan.

Sudah sangat banyak bukti nyata bahwa kita tidak akan pernah bisa menaklukkan gunung khususnya dan alam pada umumnya. Ketika badai di gunung datang menghantam, apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada, selain berdoa, berlindung, atau menunda rencana pendakian. Ketika gas beracun datang menyerang, apa yang bisa kita lakukan? Kita mungkin pernah mendengar pendaki meninggal karena menghirup gas beracun yang pernah terjadi di Gunung Ciremay, Gunung Papandayan maupun korban Gunung Semeru seperti tokoh terkenal Soe Hok Gie, salah seorang pioner pecinta alam yang meninggal akibat menghirup gas beracun di puncak Mahameru 3676 mdpl. Belum lagi kejadian baru-baru ini di Himalaya, yang merenggut lebih dari 30 orang nyawa pendaki.

Masihkah kita pantas untuk menulis dan berkata bahwa kita telah mampu menaklukan gunung?

Sesungguhnya saat kita telah berhasil mencapai puncak – puncak gunung yang tinggi, kita tidak sedang menaklukkan gunung karena memang kita tidak akan pernah sanggup menaklukkannya. Saat kita mendaki gunung kita hanyalah seperti semut – semut kecil yang sedang melewati jalan – jalan kecil yang terdapat di badan – badan gunung. Saat kita telah berhasil menjejakan kaki di titik tertinggi di bumi, kita sejatinya telah menaklukan diri kita sendiri. Kita telah berhasil menaklukan keegoisan diri kita, bersama-sama dengan tim berhasil menggapai puncak.

Menggapai Puncak

Menggapai Puncak

Ketika kita merasa bahwa kita lah yang paling kuat, paling hebat dan paling tahu seluk beluk gunung yang akan didaki, maka disaat itulah seharusnya kita secepatnya melakukan introspeksi diri. Ketika kita merasa bangga menggendong tas Carrier 75 liter di depan terminal, saat itulah perasaan sombong tersebut harus dihilangkan dan ditekan.  Bukankah kita sudah diingatkan oleh Al qur’an :

“Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, dalam keadaan kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az-Zumar: 72)

Begitu pun dalam hadis Muslim:

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Secepat mungkin kita harus hilangkan segera rasa – rasa itu. Hilangkan dalam setiap langkah kaki, dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap kedipan mata, sesering mungkin, dibawah hijaunya hutan, dibawah gerimis yang membasahi perjalanan, dibawah hamparan awan yang setia menaungi, dibawah teriknya mentari yang menyengat kulit, diatas pasir yang tak henti berbisik, diatas tanah basah yang begitu harum.

Kegiatan mendaki gunung akan banyak mengajarkan banyak hal tentang sikap, ego, kebersamaan, kelemahan kita, semangat, keyakinan dan banyak hal lainnya. Jika kita memahami maknanya lebih jauh lagi bahwa kesukaan dan ketagihan kita untuk mendaki gunung sebenarnya karena ada semacam kedekatan dan keterikatan antara manusia dengan Sang Pencipta melalui media yang bernama alam. Disaat ada kawan pendaki yang sedang mengalami kesulitan dibelakang kita, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu tetap melanjutkan pendakian atau menolong teman kita tersebut? Seperti yang pernah saya alami ketika mendaki Puncak Gunung Lawu 3265 mdp di tahun 1999 silam.

Sematang apapun persiapan fisik yang kita lakukan dan pemahaman kita tentang teknik dan seluk beluk gunung, tetap Tuhan lah yang akan menentukan segalanya. Ada sekian pendaki hebat diluar sana yang akhirnya kembali pada Sang Pencipta saat mendaki gunung. Artinya jika sesuatu memang sudah ditakdirkan terjadi pada diri kita pada saat mendaki gunung, maka jangan biarkan sesuatu itu terjadi saat kita berada dalam perasaan paling hebat, paling kuat dan paling tahu dalam berbagai hal tentang mendaki gunung. Ada baiknya kita merenungi ayat al qur’an surat Shaad ayat 18 berikut ini :

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi” (QS. Shaad : 18)

Jadi, sejatinya hanya Dia-lah yang mampu menaklukan gunung-gunung, bukan kita seorang hamba lemah yang selalu bersikap sombong serta angkuh dan merasa hebat. Astagfirullah….

Mari kita reneungkan bersama…!

~RTM
23-10-2014

Jika Keluarga ku Pecinta Alam

Kamu tahu sayang… ?

Jika kamu bertanya kepada ku tentang sebuah tempat tujuan liburan kita diakhir tahun ini, mungkin aku akan meminta Rinjani, bukan Bali atau Bandung yang lebih romantis. Aku lebih memilih tenda dengan kapasitas empat orang jika dibandingkan kamar hotel berbintang yang megah. Setelah menikmati puncak dimana Dewi Anjani bersemayam, kita bersama akan turun dan melepaskan penat di danau Segara Anak lalu melanjutkan perjalanan kita ke hulu sungai Koko Puteq, Goa Susu, Goa Manik, Goa Paying, Tiga Gili, Pantai Kuta, Pantai Sengiggi dan desa adat di Lombok. Jika memungkinkan, aku akan mengajakmu dan 2 anak kita melihat garis pantai pulau Sumbawa yang begitu membuatku begitu terpesona dengan desiran ombaknya dan juga Gunung Tambora yang berdiri kokoh seakan menantang untuk di sambangi.

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani

Jika kamu bertanya mengapa aku lebih memilih gunung dibanding tempat romantis lainnya, maka aku katakan bahwa aku sudah terlanjur cinta dengan indahnya alam pegunungan negeri ini. Entahlah, aku merasa benar-benar menjadi seorang manusia sejati ketika menjejakan kaki di pos pendakian. Tidak sampai puncak pun tidak menjadi masalah, karena mendaki dan berpetualang bersama kalian lebih kuinginkan di banding menegakkan merah putih di semua titik tertinggi negeri ini.

Kamu tahu tentang Gunung Semeru sayang ? Gunung tertinggi di pulau Jawa. Jika kamu belum pernah ke sana, kamu harus pergi ke sana. Nanti di bulan juni yang cerah, padang Oro-oro Ombo akan menyapamu di balik tanjakan cinta, dengan hamparan lavender ungu yang begitu menggoda mata indahmu. Aku akan merasa sangat bahagia melihatmu dan anak-anak kita berlari kecil ditengah padang savana sambil berputar. Aku merasa merdeka tidur di rerumputan sambil menggigit bunga rumput diujung bibir. Sesekali aku akan mengajak kalian menatap indahnya mentari tenggelam di ufuk barat hingga menjelang malam.

Ketika malam telah tiba, kita akan duduk bersama di depan tenda dengan beralaskan matras hangat dan hangatnya api unggun serta beratapkan taburan bintang tanpa sekat. Aku yakin, kamu akan membuatkan secangkir kopi panas dan jahe panas untuk kami. Kita akan membicarakan masa depan anak-anak kita. Anak-anak kita nantinya harus dibesarkan oleh alam, bukan dibesarkan oleh kota besar. Anak laki-laki kita harus bisa memanjat pohon, terbiasa berjalan kaki, bermain di sawah dan membawa perlengkapannya sendiri. Anak perempuan kita juga harus pandai berenang, sehingga kelak bisa mengarungi lautan luas ini.

Rinjani Terlelap Di Tenda

Rinjani Terlelap Di Tenda

Jika pagi telah tiba selepas shalat shubuh nanti, biarkanlah mereka melihat indahnya mentari pagi di Ranu kumbolo. Biarkan mereka merasakan dinginnya air dari danau tersebut yang akan membuat mereka menjadi lebih kuat menghadapi terpaan badai dalam hidup.Percayalah, alam akan membentuk mereka semua menjadi pribadi yang mandiri dan berjiwa besar. Saat mereka bisa berbuat baik pada kucing yang terluka, maka mereka akan dengan sangat mudah mencintai sesama. Saat mereka berjalan dikeheningan malam tanpa rasa takut, berani menyapa kuda, bahkan menungganginya maka mereka juga tak akan pernah takut untuk terjatuh. Saat mereka tanpa ragu untuk melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan kita, mereka tidak akan pernah merasa dimanjakan. Saat mereka tanpa malu menyapa orang-orang sekitar yang baru dikenalnya, mereka adalah orang-orang yang sosial.

Kebersamaan

Kebersamaan

Saat mereka berdua menunjukan kehebatannya dalam bekerja sama memenangkan sebuah permainan, maka kita berdua tahu bahwa mereka kelak akan menjadi orang yang hebat. Kamu tau kenapa sayang…? Ketika Allah berfirman menjadikan manusia di muka bumi sebagai khalifah, sebuah amanah yang bahkan semesta ini pun tak sanggup memikulnya. Maka biarkan anak-anak kita menjalankan amanah itu. Begitu pula dengan kita.

Sayangku,

Kesederhanaan ini telah menjadi bagian dari hidupku. Bahkan meski aku lahir dan dibesarkan di kota besar, aku akan tetap mencintai pedesaan. Kamu tahu kenapa? Karena kesederhanaan itulah yang banyak mengajarkanku pada banyak hal. Dan hal itulah yang kusukai darimu wahai istriku. Kamu yang tetap sederhana, meskipun kamu mungkin orang yang bisa segalanya. Kesederhaan itu juga yang membuatku ingin cepat pulang setalah menyelesaikan sebuah pendakian. Kesederhanaan itu pula lah yang akan tetap membuatku berada di sampingmu, bahkan di masa-masa terpurukmu sekalipun.

Semoga saja…

~RTM
17-10-2014

Aku Bukanlah Seorang Pendaki Gunung

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

Aku bukanlah seorang pendaki gunung…
Aku bukan seorang penjelajah rimba…
Aku juga bukan seorang petualang…
Apalagi seorang pecinta alam…

Aku hanyalah seorang penikmat alam…
Yang hanya ingin menikmati keindahannya…
Yang hanya ingin lebih mensyukuri nikmat Nya…
Untuk itulah kenapa aku mendaki….!!!

Aku betul-betul menyadari bahwasanya aku memang bukanlah seorang pendaki gunung. Setelah cukup seringnya aku mendaki gunung dalam satu dasawarsa terakhir ini, aku anggap sebagai media pembelajaran bagiku untuk lebih mengenal alam dan seisinya. Sebagai salah satu media yang pling tepat untuk belajar kehidupan atau aku lebih nyaman menyebutnya sebagai sekolah kehidupan. Belajar untuk lebih menghargai sesama makhluk hidup dan menghormati Tuhan adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga dan tak akan pernah habis direguk hikmahnya. Meski terkadang aku sendiri lupa bahwa dalam setiap kali pendakian, begitu banyak hikmah yang bisa aku ambil.

Aku sadar bahwa aku bukanlah seorang pecinta alam sejati. Setelah cukup seringnya aku menikmati keindahan dan keheningan rimba, aku masih takut untuk berkata “tidak” kepada mereka yang hingga saat ini masih saja membuang sampah dan mengotori lingkungan. Aku masih saja diam ketika limbah pabrik tetap dialirkan ke sungai-sungai ditepi rumah, meski air dan ikan disungai tersebut tercemar parah. Aku juga masih ragu bertindak ketika berbagai kezhaliman manusia merenggut hak-hak hewan dan tumbuhan dengan menggusur lahan produktif menjadi sebuah perumahan maupun pabrik.

Aku sepenuhnya sadar bahwa jika aku menjadi seorang pendaki gunung maka aku harus meninggalkan keluargaku. Tetapi memang inilah salah satu caraku untuk mendekatkan diri ku pada Yang Maha Kuasa. Tidak sehari dua hari aku pergi meninggalkan kalian untuk mendaki, bahkan mimpiku untuk menjejakan kaki di 7 puncak dunia bisa memakan waktu hingga 3 tahun tak bertemu dengan kalian. Aku takut jika menjadi pendaki gunung, kalian akan menjadi terlalu khawatir, meskipun aku telah menitipkan diriku, dirimu dan anak-anak kita pada Tuhan. Aku pun bertekad pada diri ini untuk kembali bersua dengan mu dan keluargaku. Aku takut dengan semua itu…

Tapi tahukah engkau istriku? Ketika aku sedang berada di puncak gunung, aku begitu merasa sangat dekat dengan Tuhan. Hidupku menjadi lebih bermakna karena perjalanan panjang yang melelahkan itu  memberikan sebuah pelajaran berharga tentang sebuah perjuangan. Tak lupa aku menyelipkan nama mu dan anak-anak kita ketika kepalaku sujud diantara bebatuan dan berdoa di tanah tinggi ini. Aku menitipkan pesan kepada Tuhan bahwa aku telah tiba dan tak perlu kalian khawatir tentang keadaanku. Jikalau nanti aku telah tiba kembali di titik awal pendakian, aku akan secepatnya menghubungi mu. Tak peduli selelah apa diriku. Yang aku inginkan saat itu hanyalah mendengar suara mu dan canda tawa anak-anak kita. Mendengar celotehan anak-anak kita, mendengar ceritamu merawat mereka selama kutinggalkan kemarin. Aku yakin rasa lelah ku pasti hilang tak berbekas karenanya.

Karena itu, aku bukanlah seorang pendaki gunung dan pecinta alam sejati….
Aku masih takut untuk berkata tidak kepada para perusah alam…!
Aku masih takut untuk meninggalkan kalian…!

Biarlah aku menjadi seperti sekarang ini. Tetap menjadi penikmat alam dan pengagum ciptaan Tuhan agar aku merasa lebih dekat dan bersahabat dengan-Nya…

Diolah dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi

~RTM
14-10-2014

Belajar Bersyukur Dari Orang Yang Cacat

 

Apa yang anda pikirkan ketika pertama kali melihat gambar di atas ?
Seorang cacat yang sedang menyesali hidupnya dan diam menekur diri.

Barangkali sebagian besar dari kita menganggap mereka kurang beruntung dari hidup kita. Akan tetapi pernahkah kalian berpikir bahwa mereka ternyata jauh-jauh lebih beruntung dari kita. Mengapa saya bisa berpendapat demikian ? Mereka mempunyai sesuatu yang lebih di antara kita, sesuatu yang luar biasa itu adalah kesabaran dan keiklasan bersyukur dan menjalani hidup seperti layaknya manusia normal , meskipun mereka cacat. Ketika berpikir mengenai orang cacat, biasanya yang terlintas dalam pikiran kita adalah mereka akan meminta belas kasihan dari kita. Jika kita yang normal bisa beribadah dengan kesehatan kita, maka orang yang cacat bisa beribadah dengan kesabaran sebagai bentuk bukti cinta mereka terhadap Tuhan.

Tidak ada satupun yang cacat di mata Tuhan, sesungguhnya kecacatan fisik yang terjadi kepada para saudara-saudara kita ini, adalah sebuah bentuk bukti tanda-tanda kekuasaan dan kemahabesaran Tuhan. Bahwa setiap kromosom dalam sel genetika yang bersatu, dalam pembuahan “bibit” manusia dalam rahim itu tidak bisa di prediksi oleh manusia. Tak ada manusia yang bisa mengubah kecacatan meskipun itu dalam kandungan sekalipun.

Gambar tersebut saya adalah gambar seorang pendaki gunung berkursi roda dengan nama Bob Coomber. Bob Coomber mengidap penyakit diabetes saat berusia awal 20-an. Bob berjuang dengan penyakit dan komplikasinya yang dideritanya. Beliau menjadi cacat setelah perjuangan panjang dengan diabetes yang menyebabkan osteoporosis parah dan tidak dapat diubah. Setelah beberapa kaki, pergelangan kaki dan lutut patah tulangakhirnya beliau mengambil nasihat dokter dan mulai hidup di kursi roda.

Kursi roda bisa membatasi, tetapi untuk dia kursi itu hanya sebuah tantangan lain. Karena sudah menjadi pendaki gunung sepanjang hidupnya, dia segera mulai bereksperimen dengan melakukan olahraga outdor. Beberapa kursi rodanya kemudian rusak dan menjadi sebuah topik dari koran dan televisi lokal, yang  menunjukkan bahwa pria di kursi roda yang tidak akan percaya pada keterbatasan. Pada 24 Agustus 2007 Bob menjadi orang pertama di kursi roda yang mendaki untuk 3 puncak tertinggi di California, White Mountain (14.246 Ft). Bob juga yang pertama di kursi roda mendaki ke dua puncak favorit lokal, Gunung Diablo dan North Peak, serta Mission Peak di Fremont.

Ketika Melewati Satu Tanjakan

Ketika Melewati Satu Tanjakan

Bob Coomber

Bob Coomber

Begitupula pengalaman berbicara dengan pedagang asongan cacat yang saya temui ketika rehat disela interview di Jababeka Cikarang. Meski fisiknya kekurangan, beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun. Bermodalkan 1 gerobak usang yang dibelinya melalui hasil menabung, dirinya berkeliling menjajakan barang dagangannya disepanjang jalan kawasan.

Si Abang Pedagang Minuman

Si Abang Pedagang Minuman

Baru beberapa bulan ini dirinya memilih untuk menetap disalah satu persimpangan karena alasan udara panas yang sudah tidak lagi bersahabat. “Tak ada yang tak bisa dilakukan jika kita mau…!” katanya. Jadi tak usah malu, berusaha untuk terus bersyukur dengan segala kondisi yang ada menjadikan saya lebih bisa menghargai hidup ini.

Gerobak Minuman Miliknya

Gerobak Minuman Miliknya

Seperti postingan saya sebelumnya tentang pelajaran hidup diatas bus patas 122 Senen – Cikarang dan berhenti mengeluh, seharusnya kita malu menyaksikan mereka yang masih bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Mulailah untuk mengambil waktu bersyukur setiap hari. Bersyukurlah atas semua yang telah Tuhan berkan padamu seperti : pekerjaanmu, kesehatanmu, keluargamu atau apapun yang dapat kamu syukuri. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah bahwa hidup ini akan menjadi lebih mudah dan keberuntungan senantiasa akan selalu bersama kita, karena kita dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Jadi jika semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini, maka semakin banyak hal yang akan bisa kita miliki untuk disyukuri. Berarti semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang di alami, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk dikeluhkan. Jangan mengeluh bila menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, tetapi lakukanlah hal berikut ini ; Tutuplah mata mu, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut , lalu buka mata mu, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti kamu akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.

 

Sumber :
1. Sini 
2. Sini

~RTM
08-10-2014

 

Sate Kikil Cikarang

Sate adalah salah satu makanan yang banyak disukai oleh masyarakat. Makanan ini paling pas disantap saat cuaca yang dingin dengan ditambah sop. Biasanya dinikmati dengan sepiring nasi dan lauk pauk lainnya. Sate juga ternyata banyak variannya. Salah satunya adalah sate kikil. Rasanya yang khas dan lezat hingga membuat ketagihan banyak orang.

Berhubung siang ini ane ngejalanin puasa (insha allah), nah nggak ada salahnya khan ane akan coba kenalin salah satu makanan favorit ane nyang bikin kangen sama tanah kelahiran. Yups, makanan favorit kebanyakan orang Betawi Cikarang biasanya sih gak jauh-jauh amat dari jengkol, petai, sayur asem, gabus kering ama sayur gabus pucung. Kalau sate kikil? Pernahkah mencicipi sate kikil khas cikarang?

Sate Kikil adalah makanan berbentuk sate dari bagian kulit binatang yang direbus dalam waktu yang lama sehingga menjadi berbentuk seperti gel, yang dinamai kikil. Sate ini biasanya dikonsumsi dengan kuah kacang, bacem, atau bumbu kuning, tergantung variasi resep di tiap daerah.

Warung sate yang satu ini memang terlihat biasa saja dan tidak beda jauh dengan warung-warung makanan kaki lima pada biasa nya. Hanya sebuah gerobak biru berukuran sedang dengan panggangan yang berada persis di bahu jalan dan dengan bangku-bangku yang berwarna merah serta biru yang berada di atas teras sebuah show room bekas honda yang sudah tak beroperasi.

Sate Khas Cikarang Yos Sudarso

Sate Khas Cikarang Yos Sudarso sumber

Seingat ane warung makan ini sudah beroperasi sejak tahun 200an dan sudah banyak pelanggan nya dari berbagai kalangan, dari anak kecil sampai yang dewasa karena rasa yang tidak pernah berubah dan sejak lama di lestarikan dan dipatenkan dengan sate khas cikarang yang terkenal dari tahun 1954 dan keturunan langsung Engkong Aman yang sudah tak diragukan lagi keaslian dan ke-khasan nya. Makanan sate kikil mengalami kejayaannya di cikarang sekitar tahun 1960an dengan pedagang muda (engkong aman) yang gagah memikul pikulan yang besar dan muatan yang banyak. Engkong muda dengan inovasi dan cita rasa yang tinggi pada masa itu, meracik berbagai macam resep dan bumbu rempah hingga tersaji rasa bumbu sate kikil khas cikarang yang sekarang bisa dinikmati dan dirasakan.

Sate Khas Cikarang

Sate Khas Cikarang sumber

Sekarang dengan generasi yang ke dua, Bang Abrag yang tetap melestarikan cita rasa sate kikil  khas cikarang dengan terus mempertahankan keasliannya dan tetap memegang teguh rahasia dan warisan yang akan di sajikan untuk para pecita rasa khas cikarang. Abrag sate kikil yang berlokasi di jalan Yos Sudarso depan pasar lama Cikarang Bekasi adalah generasi ke 2 yang tetap mempertahankan keaslian dan warisan dari engkong.

Bagi kalian yang belum pernah mencicipi dan merasakan ke khasan cita rasa sate kikil cikarang ini, alangkah baik nya jika anda mencicipinya segera. Jika kalian datang dari arah jakarta dan akan menuju karawang anda bisa berhenti di daerah cikarang utara persis nya di pasar lama cikarang jalan Yos sudarso Cikarang dan bagi anda yang berada di daerah karawang anda bisa memutarkan kendaraan anda persis di pertigaan terminal Cikarang ke arah pasar lama cikarang jalan Yos sudarso.

Sate Khas Cikarang RE Martadinata

Sate Khas Cikarang RE Martadinata

Akan tetapi jika anda tidak menemukannya, jangan khawatir karena hingga saat ini sate kikil khas cikarang sudah berjamuran seperti yang terletak di depan jalan RE Martadinata depan RS Bakti Husada Cikarang. Jadi sebelum pertigaan terminal cikarang, anda bisa menemukan salah satu warung sate lainnya. Nah tak ada salahnya khan mencoba, salah satu makanan khas cikarang ini.

Sate Kikil Cikarang

Sate Kikil Cikarang

~RTM
02-10-2014