Aku Bukanlah Seorang Pendaki Gunung

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

Aku bukanlah seorang pendaki gunung…
Aku bukan seorang penjelajah rimba…
Aku juga bukan seorang petualang…
Apalagi seorang pecinta alam…

Aku hanyalah seorang penikmat alam…
Yang hanya ingin menikmati keindahannya…
Yang hanya ingin lebih mensyukuri nikmat Nya…
Untuk itulah kenapa aku mendaki….!!!

Aku betul-betul menyadari bahwasanya aku memang bukanlah seorang pendaki gunung. Setelah cukup seringnya aku mendaki gunung dalam satu dasawarsa terakhir ini, aku anggap sebagai media pembelajaran bagiku untuk lebih mengenal alam dan seisinya. Sebagai salah satu media yang pling tepat untuk belajar kehidupan atau aku lebih nyaman menyebutnya sebagai sekolah kehidupan. Belajar untuk lebih menghargai sesama makhluk hidup dan menghormati Tuhan adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga dan tak akan pernah habis direguk hikmahnya. Meski terkadang aku sendiri lupa bahwa dalam setiap kali pendakian, begitu banyak hikmah yang bisa aku ambil.

Aku sadar bahwa aku bukanlah seorang pecinta alam sejati. Setelah cukup seringnya aku menikmati keindahan dan keheningan rimba, aku masih takut untuk berkata “tidak” kepada mereka yang hingga saat ini masih saja membuang sampah dan mengotori lingkungan. Aku masih saja diam ketika limbah pabrik tetap dialirkan ke sungai-sungai ditepi rumah, meski air dan ikan disungai tersebut tercemar parah. Aku juga masih ragu bertindak ketika berbagai kezhaliman manusia merenggut hak-hak hewan dan tumbuhan dengan menggusur lahan produktif menjadi sebuah perumahan maupun pabrik.

Aku sepenuhnya sadar bahwa jika aku menjadi seorang pendaki gunung maka aku harus meninggalkan keluargaku. Tetapi memang inilah salah satu caraku untuk mendekatkan diri ku pada Yang Maha Kuasa. Tidak sehari dua hari aku pergi meninggalkan kalian untuk mendaki, bahkan mimpiku untuk menjejakan kaki di 7 puncak dunia bisa memakan waktu hingga 3 tahun tak bertemu dengan kalian. Aku takut jika menjadi pendaki gunung, kalian akan menjadi terlalu khawatir, meskipun aku telah menitipkan diriku, dirimu dan anak-anak kita pada Tuhan. Aku pun bertekad pada diri ini untuk kembali bersua dengan mu dan keluargaku. Aku takut dengan semua itu…

Tapi tahukah engkau istriku? Ketika aku sedang berada di puncak gunung, aku begitu merasa sangat dekat dengan Tuhan. Hidupku menjadi lebih bermakna karena perjalanan panjang yang melelahkan itu  memberikan sebuah pelajaran berharga tentang sebuah perjuangan. Tak lupa aku menyelipkan nama mu dan anak-anak kita ketika kepalaku sujud diantara bebatuan dan berdoa di tanah tinggi ini. Aku menitipkan pesan kepada Tuhan bahwa aku telah tiba dan tak perlu kalian khawatir tentang keadaanku. Jikalau nanti aku telah tiba kembali di titik awal pendakian, aku akan secepatnya menghubungi mu. Tak peduli selelah apa diriku. Yang aku inginkan saat itu hanyalah mendengar suara mu dan canda tawa anak-anak kita. Mendengar celotehan anak-anak kita, mendengar ceritamu merawat mereka selama kutinggalkan kemarin. Aku yakin rasa lelah ku pasti hilang tak berbekas karenanya.

Karena itu, aku bukanlah seorang pendaki gunung dan pecinta alam sejati….
Aku masih takut untuk berkata tidak kepada para perusah alam…!
Aku masih takut untuk meninggalkan kalian…!

Biarlah aku menjadi seperti sekarang ini. Tetap menjadi penikmat alam dan pengagum ciptaan Tuhan agar aku merasa lebih dekat dan bersahabat dengan-Nya…

Diolah dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi

~RTM
14-10-2014

Iklan

24 thoughts on “Aku Bukanlah Seorang Pendaki Gunung

  1. yang suka naik gunung aja nggak mau disebut pendaki gunung, apalagi yang nggak pernah 😀
    yang jelas ada pembelajaran dari setiap yg kita kerjakan.
    dan jangan terlalu lama, takutnya pas pulang-pulang, udah nggak dikenalin lagi sama anak 😀

    • Masih belajar mas dan, sepertinya aku masih belum selevel dengan mereka yang betul-betul totalitas menggiati alam. Semoga bisa terus belajar agar bisa menjadi pendaki gunung yang baik 🙂

  2. Saya jarang naik gunung, masih lebih sering masuk hutan. Karena hutan–alhamdulillah–masih ada selain di atas gunung, meski hutan dataran rendah memang mengalami potensi gangguan yang lebih besar daripada hutan pegunungan. 😦

    Kalau dipikir-pikir saya juga belum pantas disebut “pencinta alam”. Belum bisa berbuat banyak untuk mencegah kerusakan alam yang terjadi. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s