Menaklukan Gunung ?

Mampukan Kita Menaklukkan Gunung?

Salak Mount, Jan 1st ,2010

Ilustrasi

Sebuah pertanyaan dan pernyataan yang sering kita dengar atau baca baik di koran, majalah maupun televisi. Entahlah akhir-akhir ini saya merasa sangat tidak nyaman dengan kata “menaklukan” tersebut. Menurut definisi yang saya dapatkan, bahwa kata takluk bermakna menundukan atau mengalahkan. Sedangkan jika kita telah menyelesaikan sebuah pendakian gunung, apa yang sudah kita taklukan? Apakah kita menganggap gunung itu sebuah musuh yang mesti kita taklukan? Padahal gunung adalah ciptaan Tuhan yang begitu indah yang mestinya kita lestarikan.

Sudah sangat banyak bukti nyata bahwa kita tidak akan pernah bisa menaklukkan gunung khususnya dan alam pada umumnya. Ketika badai di gunung datang menghantam, apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada, selain berdoa, berlindung, atau menunda rencana pendakian. Ketika gas beracun datang menyerang, apa yang bisa kita lakukan? Kita mungkin pernah mendengar pendaki meninggal karena menghirup gas beracun yang pernah terjadi di Gunung Ciremay, Gunung Papandayan maupun korban Gunung Semeru seperti tokoh terkenal Soe Hok Gie, salah seorang pioner pecinta alam yang meninggal akibat menghirup gas beracun di puncak Mahameru 3676 mdpl. Belum lagi kejadian baru-baru ini di Himalaya, yang merenggut lebih dari 30 orang nyawa pendaki.

Masihkah kita pantas untuk menulis dan berkata bahwa kita telah mampu menaklukan gunung?

Sesungguhnya saat kita telah berhasil mencapai puncak – puncak gunung yang tinggi, kita tidak sedang menaklukkan gunung karena memang kita tidak akan pernah sanggup menaklukkannya. Saat kita mendaki gunung kita hanyalah seperti semut – semut kecil yang sedang melewati jalan – jalan kecil yang terdapat di badan – badan gunung. Saat kita telah berhasil menjejakan kaki di titik tertinggi di bumi, kita sejatinya telah menaklukan diri kita sendiri. Kita telah berhasil menaklukan keegoisan diri kita, bersama-sama dengan tim berhasil menggapai puncak.

Menggapai Puncak

Menggapai Puncak

Ketika kita merasa bahwa kita lah yang paling kuat, paling hebat dan paling tahu seluk beluk gunung yang akan didaki, maka disaat itulah seharusnya kita secepatnya melakukan introspeksi diri. Ketika kita merasa bangga menggendong tas Carrier 75 liter di depan terminal, saat itulah perasaan sombong tersebut harus dihilangkan dan ditekan.  Bukankah kita sudah diingatkan oleh Al qur’an :

“Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, dalam keadaan kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az-Zumar: 72)

Begitu pun dalam hadis Muslim:

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Secepat mungkin kita harus hilangkan segera rasa – rasa itu. Hilangkan dalam setiap langkah kaki, dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap kedipan mata, sesering mungkin, dibawah hijaunya hutan, dibawah gerimis yang membasahi perjalanan, dibawah hamparan awan yang setia menaungi, dibawah teriknya mentari yang menyengat kulit, diatas pasir yang tak henti berbisik, diatas tanah basah yang begitu harum.

Kegiatan mendaki gunung akan banyak mengajarkan banyak hal tentang sikap, ego, kebersamaan, kelemahan kita, semangat, keyakinan dan banyak hal lainnya. Jika kita memahami maknanya lebih jauh lagi bahwa kesukaan dan ketagihan kita untuk mendaki gunung sebenarnya karena ada semacam kedekatan dan keterikatan antara manusia dengan Sang Pencipta melalui media yang bernama alam. Disaat ada kawan pendaki yang sedang mengalami kesulitan dibelakang kita, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu tetap melanjutkan pendakian atau menolong teman kita tersebut? Seperti yang pernah saya alami ketika mendaki Puncak Gunung Lawu 3265 mdp di tahun 1999 silam.

Sematang apapun persiapan fisik yang kita lakukan dan pemahaman kita tentang teknik dan seluk beluk gunung, tetap Tuhan lah yang akan menentukan segalanya. Ada sekian pendaki hebat diluar sana yang akhirnya kembali pada Sang Pencipta saat mendaki gunung. Artinya jika sesuatu memang sudah ditakdirkan terjadi pada diri kita pada saat mendaki gunung, maka jangan biarkan sesuatu itu terjadi saat kita berada dalam perasaan paling hebat, paling kuat dan paling tahu dalam berbagai hal tentang mendaki gunung. Ada baiknya kita merenungi ayat al qur’an surat Shaad ayat 18 berikut ini :

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi” (QS. Shaad : 18)

Jadi, sejatinya hanya Dia-lah yang mampu menaklukan gunung-gunung, bukan kita seorang hamba lemah yang selalu bersikap sombong serta angkuh dan merasa hebat. Astagfirullah….

Mari kita reneungkan bersama…!

~RTM
23-10-2014

Iklan

28 thoughts on “Menaklukan Gunung ?

  1. Sematang apapun persiapan fisik yang kita lakukan dan pemahaman kita tentang teknik dan seluk beluk gunung, tetap Tuhan lah yang akan menentukan segalanya. —> maka doalah yg harus diucapkan

  2. Kirain cuma aku yang dari dulu mikir, kenapa sih harus kata istilah “menaklukan”..memangnya gunung itu musuh ya.. Sama perasaanku kayak dulu waktu masih single suka ditanya kapan nyusul nikah, emangnya ada perlombaan siapa yg duluan nikah gitu..?
    #terheran-heran#

  3. Senang banget baca tulisan ini, karena tidak sedikit juga pendaki gunung yang jauh dari agama. Menurut saya pribadi, mereka (orang Islam) yang menghormati alam tapi jarang sholat termasuk orang yang sombong. Toh, alam yang mereka hormati saja bertasbih kepada Allah, kenapa justru mereka sendiri tidak, hehe.. 😀

    Orang yang suka buang sampah di gunung juga termasuk orang sombong karena tidak peduli lingkungan. Kalau kata dosen, mereka sebenarnya lebih pantas disebut “penikmat alam” (cuma bisa nikmati doang) bukan “pencinta alam” (yang otomatis menjaga alam).. 😀

  4. Ping-balik: Seni Packing Tas Carrier Yang Benar | rindutanahbasah

  5. wahh lama nggak blogwalking.. masuk blog Bang Rahmat dibanjiri dengan Gunung Gunung dan Gunung.. keren Bang.

    Ingin rasanya bisa naik gunung, tapi apa daya detak jantung ini gk akan pernah kuat untuk samapi pada puncak keindahan gunung…

    • Sepertinya sibuk dengan aktivitas kantor sampai gak sempat mampir di pondok tetangga nih 😀

      Yuk, kalau ada waktu senggang kita bercengkrama dengan gunung. Mungkin sekedar bermalam di kaki gunung, akan sedikit menambah keimanan kita. Apalagi saya yang bobotnya udah naik 10 kg, mungkin akan bersusah payah untuk sampai di puncak…

  6. Ping-balik: Api Unggun Ternyata Dapat Memperkuat Ikatan Sosial | rindutanahbasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s