Selamat Hari Bumi

Makna dari hari bumi adalah mengingatkan bahwa begitu pentingnya merawat dan menjaga bumi kita agar tidak semakin rusak oleh ulah perbuatan manusia. Tidak hanya ikut untuk merayakan saja, tetapi sedikit berbuat untuk numi tercinta harus kita lakukan demi kelestarian hayati. Demi masa depan kita dan anak cucu kita kelak….!

Sekilas tentang Hari Bumi

Hari Bumi adalah hari pengamatan tentang Bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini, yaitu Bumi.

Hari Bumi diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator dari negara bagian Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Gagasan tentang peringatan Hari Bumi mulai disampaikan oleh Nelson sejak tahun 1969. Saat itu, ia memandang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.

Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu, jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak Bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970.

Momentum ini kemudian menjadi tonggak sejarah diperingatinya sebagai Hari Bumi yang pertama kali. Kini, Hari Bumi diperingati di lebih dari 175 negara dan dikoordinasi secara global oleh Jaringan Hari Bumi (Earth Day Networks).

Selamat Hari bumi 22 April 2015….

~RTM
22-04-2015

Iklan

Panjat Pinang Atau Panjat Pisang ?

Sejarah permainan Panjat pinang menurut wikipedia berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Para peserta yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa.

Panjat Pisang

Panjat Pisang

Prosesi panjat pinang ini juga memang cukup populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Ini dapat dimengerti dari kondisi geografis dikawasan itu yang beriklim sub-tropis, yang masih memungkinkan pinang atau kelapa tumbuh dan hidup. Perayaan ini tercatat pertama kali pada masa dinasti Ming. Lumrah disebut sebagai “qiang-gu”. Namun pada masa dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktekkan lagi di beberapa tempat di Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Panjat pinang masih dijadikan satu permainan tradisi di berbagai lokasi di Taiwan. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun bedanya tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi pohon pinang, namun telah berevolusi menjadi satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana.

Panjat pinang merupakan permainan beregu yang memerlukan kekompakan dari setiap peserta untuk dapat menggapai puncak dan memperoleh hadiah. Dalam regu tersebut biasanya ada pembagian tugas dari masing-masing peserta tergantung pada karakter peserta tersebut. Misalnya yang berbadaan besar akan berada paling bawah memanggul yang badannya lebih kecil dan seterusnya agar beban tidak terlalu berat. Hal ini dilakukan karena ketidakmungkinan jika pohon pinang tersebut dipanjat seorang diri, yang ada hanya akan terjatuh karena licinnya pelumas yang dioleskan. Kekompakan dan kerja sama dari regu ini yang menjadi modal utama keberhasilan menggapai puncaknya.

Tapi apa jadinya jika tradisi panjat pinang ini diubah menjadi panjat pisang ?

Ya, beberapa bulan kemarin kami coba melakukan hal tersebut di tanah kelahiran kami di Cikarang. Pohon pinang yang biasa digunakan untuk acara tersebut kami ganti dengan sebatang pohon pisang batu yang lumayan cukup tinggi mengingat peserta yang akan mengikuti perlombaan adalah anak-anak kecil yang berusia dibawah 12 tahun. Oli dan minyak pelumas yang biasa digunakan sebagai pelicin batang pun kami ganti dengan minyak kelapa dan margarine yang ternyata memberikan efek yang sama pada batang pohon pisang tersebut.

Persiapan

Persiapan

Belum lagi semprotan air yang dilakukan oleh panitia yang pastinya menambah kesulitan bagi para peserta. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus bersusah payah untuk sampai dipuncak untuk mendapatkan hadiah. Mereka bahu membahu dan terlihat sangat kompak bekerja sama untuk bisa sampai di atas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berulang kali anak-anak tersebut berusaha untuk sampai dipuncak, tetap saja mereka kembali runtuh kebawah akibat licinnya batang pisang yang telah diolesi margarine tersebut. Bukan hanya sekali, mungkin sudah puluhan kali mereka berusaha akan tetapi tetap saja masih belum berhasil untuk menggapai puncak. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa naik lebih tinggi seperti dengan membuat susunan manusia dan berdiri diatas pundak masing-masing peserta. Ada juga yang berusaha dengan cara pelan tapi pasti merangkul batang pisang tersebut dengan sekuat tenaga, kemudian peserta lainnya mendorong dari bawah sehingga lapisan mantega yang licin perlahan akan hilang. Begitulah, semangat para peserta yang dengan sekuat tenaga untuk bisa menggapai puncak.

Antri menanti hadiah

Antri menanti hadiah

Dari cara bermain yang seperti itu tentunya mengandung sebuah nilai pembelajaran yang dapat kita ambil. Untuk mencapai sebuah keberhasilan hidup tentunya melewati berbagai macam rintangan dan halangan yang kadang membuat kita terjatuh. Kejatuhan tersebut tentunya akan sangat menyakitkan jika dirasakan seorang diri. Namun, jika dalam menjalani kehidupan untuk menggapai kesuksesan dilakukan bersama-sama saling bahu membahu maka ketika salah satu terjatuh akan banyak tangan yang siap membantunya kembali bangkit dan ikut berjuang kembali.

Panitia pun letih

Panitia pun letih

Selain itu, sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan mungkin mampu hidup sendiri. Sekecil apapun pasti memerlukan bantuan orang lain. Dari hal ini maka sebagai manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa sudah sepatutnya kita untuk hidup rukun berdampingan satu sama lain agar kehidupan menjadi kondusif, aman dan tenteram sehingga akan mudah menggapai kesejahteraan bersama. Jadi, mengenai panjat pinang apakah pantas terus dilestarikan atau tidak itu tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Jika mengungkit sejarahnya tentu ini merupakan pelecehan yang dilestarikan, namun jika dipandang dari filosofisnya tentunya tradisi panjat pinang tetap memiliki makna yang bagus yang bukan sekedar meramaikan semarak kemerdekaan atau acara tertentu seperti lebaran dan hajatan saja.

Semoga saja…

Sumber :
1. Sini
2. Sini

~RTM
14-04-2015

CATPER 5 : Indahnya Pemandangan Kabupaten Solok

Hampir 10 hari berada di kota Padang, selama itu pula saya hanya diajak berkeliling diseputaran kota tersebut. Maklum, pekerjaannya cukup besar sehingga tanggung jawabnya juga sedikit lumayan. Jika boleh saya infokan, nilai pekerjaan ini cukup fantastis jika customer membeli komponen yang baru dengan harga Rp. 7,5 M. Akan tetapi, karena perusahaan memberikan optional untuk memperbaiki saja, sehingga nilai pekerjaannya jauh dibawah harga tersebut. Wajar saja karena nilainya yang cukup besar, customer selalu mengejar-ngejar agar pekerjaan tersebut cepat selesai.

Sebenarnya untuk pekerjaan saya sendiri hanya dibagian awal dan akhir saja, akan tetapi karena delay material dari Samarinda mengharuskan saya menunggu tanpa ada kepastian kapan material tersebut datang. Selama tiga hari tanpa kabar, akhirnya tepat pada pagi tanggal 25 Februari 2015 saya mendapatkan kepastian bahwa material tersebut sedang dalam perjalanan menuju kota Padang dan saat ini masih berada di Kabupaten Sijunjung. Apa salahnya jika kami pick up sendiri, karena jika menunggu mungkin akan memakan waktu satu hari lagi. Dengan langkah cepat dan berdiskusi dengan atasan, akhirnya kami sepakat akan menjemput material tersebut di tengah jalan dengan alasan akan memangkas waktu.

Salah satu keindahan perjalanan menuju Solok

Salah satu keindahan perjalanan menuju Solok Source

Mulailah pagi itu kami bersiap-siap, di kantor perwakilan padang. Dengan menggunakan kendaraan double cabin akhirnya kami melakukan perjanjian akan menjemput material tersebut di kabupaten Solok yang berjarak beberapa jam dari kota Padang. Perjalanan dari kantor terasa tanpa hambatan sama sekali, akan tetapi ketika melewati tempat bernama Indarung setelah PT Semen Padang terasa sekali perubahannya. Jalannya semakin menanjak terjal, bahkan melebihi tanjakan di alas roban, nagrek dan tanjakan emen. Masyaallah, jalannya menanjak dan berbelok tajam tepat berbentuk setengah anak panah. Bisa dibayangkan jika akan melewatinya, kendaraan harus mengambil sisi bagian luar dari jalan disebelahnya. Alhasil, jika truk yang lewat maka akan terjadi antrian yang cukup panjang hingga beberapa ratus meter.

Setelah beberapa lama menanjak, ternyata saya temukan satu lokasi yang menarik untuk dikunjungi yaitu taman hutan raya Bung Hatta. Taman hutan raya ini berada pada ketinggian 400-1.300 mdpl (meter di atas permukaan laut). Taman Hutan Raya Bung Hatta memiliki beragam jenis tanaman, seperti Raflesia Gaduansi, Balangphora sp, Amorphopalus (bunga bangkai), anggrek alam dan binatang yang dilindungi, seperti siamang, kambing hutan, tapir, beruang, harimau Sumatra, burung kuau, dan lainnya. Sayang karena waktu itu kami harus mengejar waktu jadi kami hanya singgah sebentar dan tidak masuk ke dalam taman tersebut.

Bung Hatta

Bung Hatta Source

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali, menuju kabupaten Solok. Perjalanan kami masih ditemani oleh rimbunnya hutan dan udara yang sejuk serta kabut tebal disisi gunung. Entah berapa lama kami berjalan, ternyata cacing didalam perut sudah mulai bernyanyi dan minta diberi makan. Maklum pagi tadi hanya sarapan nasi goreng sedikit, jadi tangki ini rasanya sudah kosong karena jalan yang menanjak ini. Karena tak ada warung tegal disepanjang perjalanan, akhirnya kami putuskan untuk mampir dan membeli buah-buahan yang ada disepanjang jalan menuju solok dengan harapan bisa mengganjal perut yang sudah mulai kosong ini.

Lokasi istirahat

Lokasi istirahat

Si Atoy (bukan nama sebenarnya) mekanik sekaligus sang supir  dengan sigap langsung menepikan kendaraan disisi jalan. Ternyata dia juga sudah lapar sekaligus mengantuk. Maklum suasana sejuk dan perjalanan yang jauh sungguh menguras tenaga. Buah markisa menjadi sasaran kami yang pertama kali dihajar, selanjutnya pisang dan beberapa potong dodol yang dibungkus dengan daun jagung. Nah yang bikin saya keheranan adalah dodol tersebut. Ternyata dodol nya adalah dodol buatan “Cililin Bandung…” Aih serasa di lembur…

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Tanpa terasa sudah dua keranjang buah markisa dan 1 sisir pisang yang saya tidak tahu namanya pisang apa, tetapi rasanya sangat manis telah habis kami santap berempat. Selanjutnya adalah buah yang dari tadi membuat saya penasaran, yang sepertinya segar. Saya pun baru pertama kali bertemu dengan buah ini. Warnanya begitu cerah menggoda dan kelihatannya berasa seperti tomat. Langsung saja saya ambil sebuah dan saya gigit, dan ternyata rasa buahnya malah seperti buah kecapi. Rasanya kecut-kecut segar. Saya lihat isi dalamnya, dan ternyata mirip seperti buah terong. Jangan-jangan ini yang namanya buah terong belanda. Karena cukup masam, akhirnya saya hanya habiskan sebagian saja dan sisanya saya buang.

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Lokasi istirahat

Lokasi istirahat

Entah buah apa ini ?

Entah buah apa ini ?

Tak lama berselang, akhirnya kami sampai juga di kabupaten Solok yang memakan waktu 2 jam naik kendaraan dari Padang. Apa yang dibayangkan oleh kami berempat semenjak perjalanan dari kios buah tadi ? Tepat, warung nasi…!!! Maklum sudah lewat tengah hari, sehingga perut ini mulai keroncongan karena buah pengganjal yang tadi sudah diserap menjadi energi. Ya, pas diperempatan jalan dekat sebuah SPBU kami menemukan sebuah warung makan yang cukup nyaman dengan view bukit yang menghijau. Karena tidak ada menu yang lain selain masakan padang, selera makan kami sedikit turun. Maklum seminggu kebelakang baik pagi, siang, dan malam kami disuguhkan masakan santan ini, sehingga agak sedikit bosan dengan menu yang ini-ini saja. Meskipun selera makan kami sedikit turun, tetap saja nasi nya harus nambah.

Begitulah, selepas makan kami telpon sang supir penghantar barang dan ternyata jaraknya sudah dekat dengan tempat kami makan. Akhirnya kami janji bertemu di satu titik untuk bertemu dan mengambil barang tersebut. Selang beberapa lama, truk tersebut sampai dan kami langsung mengambil barang yang kami butuhkan dan segera kembali ke padang untuk menyelesaikan pekerjaan.

~RTM
25-02-2015