Panjat Pinang Atau Panjat Pisang ?

Sejarah permainan Panjat pinang menurut wikipedia berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Para peserta yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa.

Panjat Pisang

Panjat Pisang

Prosesi panjat pinang ini juga memang cukup populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Ini dapat dimengerti dari kondisi geografis dikawasan itu yang beriklim sub-tropis, yang masih memungkinkan pinang atau kelapa tumbuh dan hidup. Perayaan ini tercatat pertama kali pada masa dinasti Ming. Lumrah disebut sebagai “qiang-gu”. Namun pada masa dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktekkan lagi di beberapa tempat di Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Panjat pinang masih dijadikan satu permainan tradisi di berbagai lokasi di Taiwan. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun bedanya tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi pohon pinang, namun telah berevolusi menjadi satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana.

Panjat pinang merupakan permainan beregu yang memerlukan kekompakan dari setiap peserta untuk dapat menggapai puncak dan memperoleh hadiah. Dalam regu tersebut biasanya ada pembagian tugas dari masing-masing peserta tergantung pada karakter peserta tersebut. Misalnya yang berbadaan besar akan berada paling bawah memanggul yang badannya lebih kecil dan seterusnya agar beban tidak terlalu berat. Hal ini dilakukan karena ketidakmungkinan jika pohon pinang tersebut dipanjat seorang diri, yang ada hanya akan terjatuh karena licinnya pelumas yang dioleskan. Kekompakan dan kerja sama dari regu ini yang menjadi modal utama keberhasilan menggapai puncaknya.

Tapi apa jadinya jika tradisi panjat pinang ini diubah menjadi panjat pisang ?

Ya, beberapa bulan kemarin kami coba melakukan hal tersebut di tanah kelahiran kami di Cikarang. Pohon pinang yang biasa digunakan untuk acara tersebut kami ganti dengan sebatang pohon pisang batu yang lumayan cukup tinggi mengingat peserta yang akan mengikuti perlombaan adalah anak-anak kecil yang berusia dibawah 12 tahun. Oli dan minyak pelumas yang biasa digunakan sebagai pelicin batang pun kami ganti dengan minyak kelapa dan margarine yang ternyata memberikan efek yang sama pada batang pohon pisang tersebut.

Persiapan

Persiapan

Belum lagi semprotan air yang dilakukan oleh panitia yang pastinya menambah kesulitan bagi para peserta. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus bersusah payah untuk sampai dipuncak untuk mendapatkan hadiah. Mereka bahu membahu dan terlihat sangat kompak bekerja sama untuk bisa sampai di atas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berulang kali anak-anak tersebut berusaha untuk sampai dipuncak, tetap saja mereka kembali runtuh kebawah akibat licinnya batang pisang yang telah diolesi margarine tersebut. Bukan hanya sekali, mungkin sudah puluhan kali mereka berusaha akan tetapi tetap saja masih belum berhasil untuk menggapai puncak. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa naik lebih tinggi seperti dengan membuat susunan manusia dan berdiri diatas pundak masing-masing peserta. Ada juga yang berusaha dengan cara pelan tapi pasti merangkul batang pisang tersebut dengan sekuat tenaga, kemudian peserta lainnya mendorong dari bawah sehingga lapisan mantega yang licin perlahan akan hilang. Begitulah, semangat para peserta yang dengan sekuat tenaga untuk bisa menggapai puncak.

Antri menanti hadiah

Antri menanti hadiah

Dari cara bermain yang seperti itu tentunya mengandung sebuah nilai pembelajaran yang dapat kita ambil. Untuk mencapai sebuah keberhasilan hidup tentunya melewati berbagai macam rintangan dan halangan yang kadang membuat kita terjatuh. Kejatuhan tersebut tentunya akan sangat menyakitkan jika dirasakan seorang diri. Namun, jika dalam menjalani kehidupan untuk menggapai kesuksesan dilakukan bersama-sama saling bahu membahu maka ketika salah satu terjatuh akan banyak tangan yang siap membantunya kembali bangkit dan ikut berjuang kembali.

Panitia pun letih

Panitia pun letih

Selain itu, sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan mungkin mampu hidup sendiri. Sekecil apapun pasti memerlukan bantuan orang lain. Dari hal ini maka sebagai manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa sudah sepatutnya kita untuk hidup rukun berdampingan satu sama lain agar kehidupan menjadi kondusif, aman dan tenteram sehingga akan mudah menggapai kesejahteraan bersama. Jadi, mengenai panjat pinang apakah pantas terus dilestarikan atau tidak itu tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Jika mengungkit sejarahnya tentu ini merupakan pelecehan yang dilestarikan, namun jika dipandang dari filosofisnya tentunya tradisi panjat pinang tetap memiliki makna yang bagus yang bukan sekedar meramaikan semarak kemerdekaan atau acara tertentu seperti lebaran dan hajatan saja.

Semoga saja…

Sumber :
1. Sini
2. Sini

~RTM
14-04-2015

Iklan

20 thoughts on “Panjat Pinang Atau Panjat Pisang ?

  1. Kreatif bang.. gak ada pinang pisang pun jadi..
    kalau dilihat dari filosofinya memang ini seharusnya dijaga karena nilai-nilai gotong royongnya itu. daripada main game di ipad kan hanya mencetak manusia-manusia individualis.

      • Iya bang kalau di Pancasila itu gotong royong adalah metode untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kenapa masih belum tercapai? karena gotong royong sudah gak pernah diterapkan. contohnya pemimpin-pemimpin kita masih saling intik mengintrik (tikung-menikung) kira-kira begitu kata kuliah singkat di kampus saya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s