Pantai Samudera Baru

Bagi anda yang sedang mencari alternatif tempat wisata laut, dekat dan terjangkau, kini anda tidak perlu jauh-jauh untuk mencarinya. Sekarang di Desa Sungaibuntu, kecamatan Pedes kabupaten Karawang terdapat sebuah tempat wisata laut yang tidak kalah indahnya dengan wisata laut di daerah lain. Kabupaten Karawang memiliki banyak aset wisata pantai, salah satunya adalah Pantai Samudera Baru yang merupakan wisata andalan Kabupaten Karawang setelah Tanjung Pakis. Ya, nama tempat wisata tersebut adalah Pantai Samudera Baru. Pantainya relatif sepi tapi cukup bersih dan tidak banyak sampah. Meskipun di muara airnya agak kecoklatan namun semakin ke tengah airnya makin biru. Pasir pantainya bersih dan banyak kerang-kerang yang berbentuk unik yang terbawa ombak. Eits, jangan coba-coba untuk membandingkan dengan Pantai Ujung Genteng yang airnya sangat bening dan sudah terkelola dengan baik. Menyusuri tepian pantai sembari mengumpulkan kerang dan kepiting kecil akan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Pantai Samudera Baru memang belum terpoles dengan baik, pengunjung biasanya hanya datang saat liburan sekolah atau hari raya.

Pantai Samudera Baru berada di wilayah utara Karawang, tepatnya di Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes. Jaraknya, hanya sekitar 40 kilometer dari kota Karawang. Memiliki pemandangan alam yang cukup eksotis dan layak untuk dijadikan tempat wisata unggulan. Di area pantai juga, terdapat warung-warung yang menjual hidangan laut yang menggugah selera. Jadi, ketika kita lelah dan lapar setelah bermain air, bisa langsung menikmati santapan laut yang di jual di warung-warung tersebut. Harganya pun cukup kompetitif dan tidak menguras kantong. Ketika liburan lebaran idul fitri 1436 H kemarin, 1 porsi ikan kakap bakar hanya dihargai Rp. 140.000. Sedangkan ikan etong bakar dihargai Rp.70.000/ekor nya.

Akses menuju pantai tersebut, tidaklah sulit. Anda cukup melewati jalur utama Rengasdengklok – Pedes, anda akan sampai ke tempat wisata. Dari arah pasar Rengas dengklok, tinggal lurus saja menuju ke arah Pedes. Hati-hati jangan sampai anda belok ke kanan, karena jika anda mengambil arah kanan maka akan ke arah Pantai Tanjung pakis dan Candi Jiwa. Tersedia angkutan umum dari Rengasdengklok sampai ke Pasar Sungai Buntu. Meskipun angkutan umum menuju lokasi sangat minim, akan tetapi sarana jalan sudah cukup bagus hingga ke lokasi. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, alangkah lebih baiknya jika kita membawa kendaraan sendiri.

Pantai Samudera Baru

Pantai Samudera Baru

Namun pantai ini menyimpan potensi besar jika benar-benar dikelola dengan serius. Wisata yang satu ini dapat menjadi alternatif tujuan liburan bagi warga  disekitar  Karawang, Cikampek, Cikarang, Bekasi, karena tidak perlu terlalu jauh jika ingin berlibur menikmati suasana pantai. Jarak yang dekat membuat biaya yang dikeluarkan pun tidak terlalu besar sehingga masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawahpun bisa menikmatinya keindahannya.

Saat libur lebaran seperti sekarang, pantai ini banyak dikunjungi wisatawan mungkin karena lokasinya yang cukup dekat dan tempat rekreasi lainnya sedang penuh. Menurut pengelola pantai wisata Samudera Baru, jumlah pengunjung saat libur lebaran membludak hingga mencapai puluhan ribu, bahkan banyak pengunjung yang tidak sampai dan beralih ke tempat wisata lain karena macet. “Ada juga beberapa pengunjung yang terpaksa balik arah, atau sengaja mengalihkan tujuan karena tidak ingin menghabiskan waktu ditengah kemacetan jalan menuju lokasi. Dengan harga tiket masuk Rp. 7.000/orang dewasa dan Rp. 5.000/orang anak kecil serta biaya parkir Rp. 20.000/motor sudah termasuk tiket masuk, kiranya tempat ini menjadi salah satu opsi untuk melewatkan libur lebaran tahun ini.

Berbasah Ria

Berbasah Ria

Sebenarnya ini kali ke empat saya dan keluarga berlibur ke lokasi ini. Selain jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, biaya yang murah satu lagi yang membuat saya senang berlibur ke sini adalah ikan bakar nya. Karena selain ikannya masih segar, ketika hendak pulang kita bisa mampir sejenak di pelelangan ikan untuk membeli ikan langsung dari nelayan. Jadi kita bisa membawa oleh-oleh ikan laut yang masih segar dengan harga yang cukup murah.

~RTM
21-07-2015

Buka Bersama KPA – RANTING

Sekian lama tidak mendaki gunung bersama, kegiatan organisasi pun masih hidup segan mati tak mau membuat tali silaturahmi kami hampir saja meredup. Beruntung, ditengah suasana tidak menyenangkan ini muncul sebuah ide brilian dari teman untuk mengadakan acara buka bersama teman-teman pendaki gunung KPA – RANTING. Mau tidak mau, semua undangan harus di reschedule dengan harapan saya bisa ikut bergabung di acara tersebut. Maklum schedule bulan ini agak sibuk, baru pulang dari Banjarmasin langsung ke Surabaya lanjut ke Marunda untuk project tambang Nikel Sorowako Sulawesi Selatan. Begitulah keadaanya, sudah seperti as roda yang berputar tanpa kenal lelah.

Ya buka puasa bersama para Pendaki RANTING, sebuah acara yang cukup menarik dan bisa menjalin kembali tali silaturahmi yang sudah hampir meredup ini. Jika di cermati tenyata tradisi ini juga memiliki manfaat bukan hanya bagi peserta buka puasa bersama namun juga bermanfaat bagi orang lain. Adanya ajang kumpul-kumpul ini mestinya dimanfaatkan pula untuk membuka jalan dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dengan kegiatan ibadah secara kolektif, seperti mengumpulkan zakat dan menyalurkannya ke wadah yang membutuhkan misalnya. Dengan demikian, kegiatan ini sangatlah bermanfaat dan diharapkan untuk bisa terus eksis. Alangkah lebih baiknya apabila buka puasa bersama di bulan suci Ramadhan ini juga ditingkatkan kwalitasnya dan bisa dinikmati jamaah dalam skala yang lebih luas.

Buka Bareng RANTING

Buka Bareng RANTING

Buka puasa bersama bukan sekedar temu kangen dan bersorak sorai bersama kolega sesama pendaki dan pecinta alam saja, namun lihatlah ini sebagai momen untuk menyambung tali silaturahmi yang telah lama terputus dari kawan lama atau saudara jauh misalnya. Adapun perkara menjalin silaturahmi ini sangat penting bagi umat muslim, seperti berikut ini:

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab :

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih)

Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)

Alhamdulillah meski total sekitar 60 orang yang masih tercatat sebagai anggota tetap RANTING, hanya setengahnya saja yang bisa hadir memenuhi undangan acara buka puasa bersama ini. Sebagai salah seorang pendiri dari organisasi ini sebetulnya saya agak sedikit kecewa dengan rasa kepedulian kawan-kawan terhadap kelangsungan organisasi ini. Tetapi disatu sisi, saya juga memaklumi kesibukan kawan-kawan yang saat ini mungkin sudah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing.

Jadi marilah kita perbaiki pandangan kita mengenai acara buka puasa bersama yaitu dengan niat ikhlas untuk ibadah dan tetap menjalin tali silaturahmi.

Ibu Negara Sudah bawa Momongan

Ibu Negara Sudah bawa Momongan

Hangat & Akrab

Hangat & Akrab

Tetap Ceria Meski Perut Lapar :D

Tetap Ceria Meski Perut Lapar 😀

Menunggu Beduk Maghrib

Menunggu Beduk Maghrib

Buka Bareng

Buka Bareng

Buka Bareng

Buka Bareng

Hangat & Akrab

Hangat & Akrab

Source : Lazada

 

~RTM
11 Juli 2015

Dirgahayu KPA – RANTING ke 16

KPA RANTING

KPA RANTING

Jika kamu rindu tentang satu tempat dimana kebersamaan dan arti kehangatan sebuah persahabatan berada, tempat itu adalah gunung. Jika kamu bertanya dimana tempat keheningan dan kedamaian berada, tempat itu adalah gunung. Jika kamu bermimpi dimana tempat kami berjuang dan merasakan hasil dari sebuah pendidikan alam, tempat itu adalah gunung. Ya, gunung adalah tempat dimana kebersamaan, kehangatan, keheningan dan kedamaian berada.

Kegiatan mendaki gunung menjadi satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia dan tanpa sebuah tujuan yang jelas. Tatapan mereka sinis dan tak jarang pula disertai dengan cibiran serta cemoohan sadis. Mereka pun sering berkata merendahkan, saat melihat sekolompok orang dengan tas ransel sarat beban, topi rimba, baju lapangan kusam, sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur serta celana lapangan lusuh. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan sebuah kekaguman dan penghormatan pada mereka.

Ketika mereka mencibir, mencemooh dan merendahkan kalian yang tetap konsisten untuk mendaki gunung, sebenarnya mereka tidak mengerti atau bahkan belum mengerti apa yang kalian rasakan. Karena perasaan tersebut hanyalah bisa dirasakan oleh orang-orang yang pernah mendaki gunung.

Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama tentang alam semesta, yaitu cinta.

 

 

Dirgahayu RANTING ke 16
Perhimpunan Penjelajah Hutan dan Pendaki Gunung (KPA – RANTING)
Gunung Gede, 02 Juni 1999