Menikmati Hari Terakhir Di Kantor

Ilustrasi

Ilustrasi

Hari ini, Jum’at 13 november 2015 adalah hari terakhir saya bekerja di kantor. Setelah hampir 5 tahun lebih  mengais rezeki di sana, kini saatnya saya harus mengucapkan kata selamat tinggal. Selama hampir 5 tahun saya merasakan hiruk pikuk dunia pertambangan di negeri tercinta. Keluar masuk pedalaman hutan Kalimantan, menyusuri jalan provinsi yang tak ada ujungnya dari Makasar hingga Malili di Sulawesi, melihat dan merasakan curamnya kelokan di tanah Sumatera, menikmati garis pantai yang tak ada habisnya dari Lombok sampai Sumbawa, hingga akhirnya saya harus kembali berbasah ria menikmati kemacetan di kota Jakarta.

Begitu banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan, dari indahnya persahabatan dan rasa persaudaraan sesama pekerja tambang hingga hidup bersama di dalam mess perusahaan bersama-sama. Semuanya bagaikan sebuah mimpi yang tak berujung. Hingga tiba saatnya, kini saya harus melepaskan zona nyaman yang sudah saya jalani hampir 5 tahun ke belakang.

Meski harus sedikit tarik ulur dengan atasan karena saya menolak untuk di mutasi kembali ke kota Samarinda, akhirnya saya memilih untuk mengundurkan diri saja dengan pertimbangan studi saya yang mengharuskan saya tetap tinggal di Jakarta. Gayung pun bersambut, selepas saya nyatakan mengundurkan diri ternyata seorang teman lama mengajak untuk bergabung diperusahaan tempat dia bekerja. Dan Alhamdulillah, setelah melewati proses interview yang cukup panjang, akhirnya saya lolos dan diterima bekerja di sana.

Saya pun merasa tak percaya, bagaimana bisa saya melepaskan zona nyaman ini untuk yang kedua kalinya. Bagaimana tidak, kedua perusahaan saya sebelumnya memiliki peraturan yang sangat longgar. Bahkan semuanya hampir di fasilitasi, mulai ruang kantor yang terletak di sudut bangunan hingga koneksi internet yang cukup lancar. Untuk urusan keluar kantor pun bisa dibilang cukup mudah, karena saya tak perlu meminta izin atasan untuk melakukannya. Cukup memberitahukan teman saja, dan urusan jadi lancar. Begitupun untuk pressure pekerjaan, rasanya hanya kadang-kadang saja dirasakan. Apalagi atasan selalu menekankan jika kami ini adalah orang yang berpengalaman dan tidak perlu di guide. Jadi yang penting pekerjaan selesai sesuai target dan tidak ada complaint dari customer itu sudah cukup membuktikan bahwa saya sudah bekerja dengan baik.

Hal-hal di atas bisa jadi tidak bisa saya dapatkan lagi di kantor baru lagi, karena situasinya sangat berbeda. Meski sebenarnya tipe pekerjaannya adalah sama, yang mengharuskan saya untuk bekerja di kantor dan di lapangan. Meskipun demikian, saya tetap bersemangat untuk melakoni pekerjaan baru di samping menyelesaikan tugas saya sebagai seorang mahasiswa.
Ya, semoga saja kali ini saya bisa survive dan fight dengan pekerjaan baru ini karena lokasinya cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Bissmillah…
~RTM
13-11-2015
Iklan

Melewati Sidang Proposal Tesis

Presentasi Proposal Tesis

Presentasi Proposal Tesis

Alhamdulillah, minggu 08 november 2015 saya telah rampung menyelesaikan sidang proposal tesis dikampus. Meski harus terseok-seok menghadapi cecaran pertanyaan dari dosen penguji, fase tersebut saya lalui dengan baik. Anehnya, untuk sidang kali ini saya tidak merasa gugup sama sekali. Tidak seperti presentasi atau sidang-sidang sebelumnya yang mengharuskan saya membawa handuk untuk menyeka keringat, padahal suhu didalam ruangan sidang sangat dingin bahkan cukup membuat penghuni didalamnya sedikit merasa terkena hypothermia.

Apakah mungkin karena sudah berpengalaman dalam melakukan sidang ketika sidang sarjana dulu, atau mungkin karena persiapan saya dalam menghadapi sidang kali ini cukup baik sehingga tak sedikitpun ada rasa ragu ketika pemimpin sidang memanggil nama saya untuk melakukan presentasi penelitian. Padahal jika dilihat, para dosen penguji adalah mereka yang telah berpengalaman dan semuanya bergelar doktor. Awalnya sih sedikit ngeri jika melihat deretan nama dosen penguji, apalagi salah satunya adalah mantan dirjen perhubungan serta mantan menteri dikabinet presiden KH. Abdurahman Wahid. Bagaimanapun juga, mereka dulunya adalah mahasiswa juga seperti saya yang mungkin ketika beliau-beliau hendak menyelesaikan studinya tentu menghadapi rasa grogi seperti saya juga.

Alhasil meski nilai sidang proposal belum keluar hingga saat ini, saya bisa berbesar hati karena telah melewati satu tahap untuk menyelesaikan studi saya yang sudah kelewat 1 semester. Maklum, kondisi saat ini adalah sebagai pekerja hingga tidak begitu fokus untuk menyelesaikan penelitian. Apalagi beberapa bulan kebelakang sebagai seorang pekerja, saya harus melakukan tugas luar kota seperti ke Padang, Tanjung Tabalong, Surabaya dan kota lain dalam beberapa minggu. Sehingga jatah untuk bimbingan yang seharusnya saya lakukan mau tidak mau harus menunggu hingga saya menyelesaikan tugas kantor. Jadilah, masa studi harus ditambah lagi dan mau tidak mau biaya juga harus kembali dikeluarkan.

Melewati fase proposal tesis ini memang sedikit sulit, karena hampir 10 tahun lebih saya tidak bergelut dengan ilmu pengetahuna dan jurnal teknologi. Apalagi untuk penelitiannya diharuskan memakai jurnal-jurnal internasional yang dikeluarkan 5 tahun ke belakang. Meski bahasa Inggris saya “little-little I can”, kali ini akan saya paksakan sampai titik kemampuan saya. Beruntung, tema yang saya ambil yaitu “Rancang bangun mesin stirling tipe gamma sebagai tenaga penggerak kipas angin” belum ada yang meneliti, hingga ketika diajukan judul tersebut langsung di approve oleh si pembimbing. Sehingga melengganglah saya hingga akhirnya bisa melakukan sidang proposal pada awal november kemarin.

Semoga saja dengan diberinya kemudahan dalam mengambil judul tersebut, saya bisa cepat melakukan penelitian dan menyelesaikan studi ini yang sudah cukup banyak menyita waktu dan biaya. Semoga saja…

Bissmillah…

~RTM
12-11-2015

Dirgahayu Anakku Sayang

RE Dixiezetha Ayesha Ainur Rahmat

RE Dixiezetha Ayesha Ainur Rahmat

Nak, Izinkan hari ini ayah menulis suatu kisah tentang dirimu….

Berawal tentang kehadiranmu nak, kamu hadir tepat disaat kami berdua sedang mengharapkan kehadiran seorang teman bagi kakak mu Rinjani. Hati kami berdua senang luar biasa, dan tak henti-hentinya kami sujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan karunia-Nya. Kami berdua pun mempercayakan perkembanganmu pada seorang dokter di salah satu rumah sakit islam di Cikarang. Ya, dr. Yedi.,Sp.Og namanya. Awalnya kami ingin dokter wanita saja yang memantau perkembanganmu, akan tetapi karena saat itu dokter wanita di rumah sakit tersebut tidak ada, maka kami tak ada pilihan lain selain mempercayakan perkembangannmu kepadanya. Dokter nya sangat baik loh, bahkan tak segan-segan kami harus berlama-lama berkonsultasi dengannya selama beberapa menit meskipun diluar banyak orang antri untuk melakukan pemeriksaan rutin. Jujur, kami merasa puas dengan pelayanan dokter Yogi tersebut, apalagi beliau berasal dari Bandung yang notabene kota kedua setelah Bekasi yang menjadi kota tempat ayah bunda menimba ilmu dahulu.

Bicara tentang ngidam, sepertinya dirimu tidak terlalu berlebihan. Tidak seperti hamil kakak mu dahulu. Ayah harus rela bolak balik menutup pintu dapur untuk menghalau bau tak sedap dari nenek mu ketika menanak nasi. Begitupun dalam keseharian mu, bunda masih bisa beraktivitas seperti biasa untuk mengajar. Padahal ketika hamil kakak mu, bunda tidak pernah beranjak dari tempat tidur selama beberapa bulan karena bau tak sedap dan mual yang tak berkesudahan.

Dirimu Saat Usia 13 Minggu

Dirimu Saat Usia 13 Minggu

Tepat usia kandunganmu 13 minggu kami melakukan USG untuk melihat bagaimana perkembanganmu dan mencegah sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi. Di fhoto tersebut kamu nampak sehat, hanya saja kami belum bisa mengetahui jenis kelaminmu. Tak apalah fikir kami, melihatmu sehat dan normal saja sudah membuat hati kami bertiga cukup senang. Kamu tahu tidak, saat itu kakak mu berdo’a supaya dirimu adalah perempuan sama seperti dirinya agar kelak dirinya ada teman untuk main masak-masakan. Ah, ada-ada saja kakak mu ini…

Sedikit yang membuat kami agak khawatir adalah ketika seorang bidan memeriksakan detak jantungmu. Butuh sekitar 1 bulan lebih untuk mengetahui detak jantungmu. Kami tidak mengerti mengapa ketika diperiksa, detak jantungmu tidak terdengar. Apakah ada sesuatu ketika itu atau kamu memang sengaja menyembunyikan jantungmu sehingga kami harus bersusah payah untuk mencarinya. Alhamdulillah, karena merasa penasaran kami pun melakukan USG yang kedua untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja. Dan ternyata memang keadaanmu baik-baik saja. Amien ya Rabb…

Dan jika berbicara tentang kelahiranmu, setelah bunda harus menahan sakit sejak pukul 23.00 malam maka dengan tergesa-gesa ayah menelpon abah untuk mengantarmu ke rumah sakit pada jam jam 03.00 pagi. Dan ternyata, setelah sampai dirumah sakit baru bukaan 3. Masih butuh beberapa saat lagi untuk menanti kelahiranmu. Bisa kamu bayangkan, betapa sakitnya bunda yang harus menahan sakit sejak jam 11 malam kemarin. Dan sumpah, ayah tak bisa tidur mendampingi bunda yang terbaring lemah menahan sakit di ruang ICU. Baru setelah jam 06.00 pagi, bidan Eka dan bidan Yuyun membawa bunda ke kamar bersalin hingga menunggu kehadiran dokter. Tak terhitung berapa kali kami beristighfar memuji kehadirat Allah SWT untuk proses persalinanmu. Dan tepat jam 09.00 lewat, air ketuban dalam kandungan bunda pecah yang mengakibatkan seiisi ruangan terkena. Apakah sudah selesai, ternyata belum sayang… Bunda harus menahan sakit selama 2,5 jam lagi baru setelah itu dirimu lahir ke dunia.

Dirimu lahir pada hari rabu 11 November 2014 tepat pada jam 11.30 dengan kulit putih mulus dan mata sipit mirip seperti bunda mu. Hanya saja raut wajahmu bulat seperti wajah bibi mu yang kini sedang bersekolah disalah satu pesantren tahfidz di Bogor. Dirimu lahir dengan berat 3,4 Kg dan panjang 49 cm dan terlihat begitu sehat. Tak lupa ayah lantuntan adzan dan iqamah di kedua telingamu setelah kamu seleasai dimandikan.

Tak perlu banyak perdebatan ketika kami sepakat memberikanmu nama “RE. Dixizetha Ayesha Ainur Rahmat” yang berarti Bunga mawar yang cantik dan kuat serta tetap bersinar seperti bunda Aisah istri Rasul. Ya, semuanya karena pemberian nama kakak mu dahulu ayah dan bunda telah berjuang habis-habisan untuk tetap menamakannya RE. Rinjani Permata Hati Rahmat yang terus di Complaint oleh eyang kangkung dan kakek nenekmu.

Minal milad Ayesha…
Semoga saja kamu akan menjadi wanita cantik dan shalehah seperti Aisah….

~RTM
06-11-2015

Pengetahuan Dasar SURVIVAL

Fhoto : Keylah

Fhoto : Kayleah

Sebagai seorang penggiat olahraga Alam Terbuka (KAT) yang merupakan salah satu dari sekian banyak olahraga yang cukup memacu adrenalin dan berbahaya tentunya harus selalu dibekali dengan kemampuan tentang dasar bertahan hidup dialam bebas. Meskipun pada prinsipnya olahraga ini memiliki resiko yang cukup tinggi, akan tetapi risiko tersebut dapat sedikit kita kurangi jika dibekali dengan ilmu yang cukup. Ingat, antara bahaya dan risiko adalah dua hal yang berbeda. Jangan disamakan antara keduanya, karena risiko adalah sesuatu yang timbul apabila kondisi bahaya tidak dihilangkan. Jadi, marilah kita belajar untuk mendaki gunung secara aman…!

Baiklah, mari kita mulai berbicara tentang bagaimana caranya agar kita mampu untuk bertahan hidup dialam bebas. Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu.  Dengan demikian kelangsungan hidup seseorang itu sangat tergantung pada kemampuan dirinya sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Survival secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan hidup dalam keadaan kritis/marjinal. Kemampuan mempertahankan diri tergantung pada sikap mental, emosional, pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan orang yang sedang berusaha untuk mempertahankan hidupnya dari keadaan yang sangat kritis atau orang yang sedang melaksanakan survival disebut Survivor.

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain :

  1. Keadaan alam (cuaca dan medan)
  2. Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
  3. Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)

Survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. Kuncinya adalah menggunakan otak untuk melakukan improvisasi. Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit, hanya sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.

Dalam keadaan survival, yang diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan dari tubuh bukan mutlak mengerti secara fisik akan tetapi memahami semua reaksi atau dampak yang terjadi akibat dari pengaruh lingkungan. Menggunakan pengetahuan dalam usaha untuk mengatur diri saat dalam keadaan darurat adalah kunci dari survival. Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru maka tidak hanya badan yang terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup.

Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival. Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa untuk menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir yaitu mampu bertahan hidup dan mencari pertolongan.

Ada beberapa bahaya yang harus diperhatikan ketika kita hendak berpetualang dialam bebas, namun secara umum bahaya melakukan kegiatan di alam bebas dapat dibedakan menjadi :

  1. Bahaya yang berasal dari dalam diri kita sendiri (Subjective Danger).
    Subjective Danger dapat terjadi karena persiapan kita yang terkadang asal-asalan, ketelodoran, pengetahuan yang minimal dan lain sebagainya. Berdasarkan fakta itulah, kita bisa memprediksi dan mengantisipasi dengan melalui persiapan perjalanan yang lebih baik (manajamen ekspidisi).
  2. Bahaya yang berasal dari luar/lingkungan (Objective Danger).
    Objective Danger lebih banyak terjadi karena faktor alam yang kita hadapi semisal cuaca, binatang buas dan sebagainya.

Beberapa kondisi yang harus dihadapi dan disiasati oleh seorang survivor dalam keadaan antara lain :

  1. Phisikologis : panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, bosan dll.
  2. Fisiologis : sakit, lapar, haus, luka dll.
  3. Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin dll.

Sedangkan beberapa faktor yang menyebabkan seorang gagal dalam bersurvival dialam bebas antara lain adalah :

  1. Rasa kesunyian.
  2. Rasa putus asa atau perasaan sudah tidak ada harapan lagi.
  3. Rasa jemu terhadap lingkungan/situasi.
  4. Kebutuhan jasmani seperti rasa lapar, haus dll yang dapat menipu diri sendiri sehingga mental menjadi lemah.

Sedangkan berdasarkan medan yang harus dihadapi oleh seorang survival dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu :

  1. Survival di hutan (jungle survival).
  2. Survival di laut (sea survival).
  3. Survival di padang pasir (desert survival).
  4. Survival di kutub (artic/antartic survival).
  5. Survival di perkotaan (urban survival).
  6. Survival di bahaya nuklir (nuclear survival).

Menurut tindakan yang dilakukan ketika kita melakukan survival, kegiatan survival dapat dibedakan menjadi :

  1. Survival menetap (static survival).
    Dimana survivor dalam tindakan survival menetap pada suatu tempat dan menunggu bantuan dari pihak lain. Apabila anda melakukan tindakan survival statis usahakan menetap pada daerah yang aman, dan memiliki sumber makanan serta air yang cukup, seperti sungai, mata air, gua.Buatlah tanda-tanda kehidupan untuk  memudahkan team evakuasi. Keuntungan dalam melakukan tindakan ini survivor dapat menghemat energy , sedangkan kerugiannya survivor terlalu pasif dengan hanya menunggu team evakuasi, kadang kondisi mental dan fisik pun semakin melemah apa lagi tanpa pengetahuan yang memadai justru akan berakibat fatal.
  2. Survival bergerak (dynamic survival).
    Dalam tindakan ini sang survivor berpindah-pindah lokasi dalam melakukan survival. Keuntunganya adalah lebih cepat keluar dari kondisi survival, kerugianya survivor tanpa pengetahuan dan penguasaan medan yang memadai justru hanya akan membuang-buang energy dengan sia-sia.

Bersambung…
Diolah dari berbagai sumber

 

~RTM
03-11-2015

Ternyata Dunia Ini Sempit

Dunia atau dalam hal ini planet bumi memiliki luas seluruhnya 510.072.000 km². Luas daratan 148.940.000 km² (29,2 %), sedangkan luas perairan  yaitu 361.132.000 km²  (70,8 %). Menurut wikipedia, massa bumi adalah sekitar 5,98×1024 kg. Komposisi Bumi sebagian besarnya terdiri dari besi (32,1%), Oksigen (30,1%), Silikon (15,1%), magnesium (13,9%), belerang (2,9%), nikel (1,8%), kalsium (1,5%), dan aluminium (1,4%); sisanya terdiri dari unsur-unsur lainnya (1,2%). Akibat segregasi massa, bagian inti Bumi diyakini mengandung besi (88,8%), dan sejumlah kecil nikel (5,8%), belerang (4,5%), dan kurang dari 1% unsur-unsur lainnya.

Bisa dibayangkan dengan luas permukaan yang begitu besar, maka kemungkinan besar jika kita tidak akan saling mengenal satu sama lain adalah sebuah hal yang cukup masuk akal. Akan tetapi apa jadinya jika orang yang baru kita kenal tersebut adalah temannya dari teman kita sendiri. Situasi di mana saya terkadang tidak mengerti kenapa si ini kenal si itu, terus si itu kenal si anu. Eh si anu juga ternyata temannya si ini. Ya ilah, ternyata dunia ini sempit amat ya? Semuanya bisa sama-sama saling kenal kaya gini.

Ya begitulah kejadian seperti ini sering sekali dialami oleh kita yang makin hari bikin dunia makin berasa beneran selebar daun kelor. Terus mengapa kejadiannya bisa seperti ini? Apanya yang salah?

  • Apakah kita yang tidak berkembang – mainnya cuma sama yang itu-itu aja? atau
  • Apakah kita malah kelewat gaul dan terlalu populer hingga semua orang kenal kita? Atau
  • Eranya media sosial, sehingga tidak heran jika mutual friends seseorang jadi makin banyak? Atau
  • Atau sesuatu yang lain?

Semuanya bisa saja terjadi, bisa jadi…

Setelah berkenalan dan berbincang-bincang beberapa saat, terkadang kita menemukan bahwa kita dengan orang yang baru kita kenal tersebut ternyata sama-sama mengenal seorang teman yang sama. Selanjutnya kita biasanya mengatakan, “…memang dunia ini kecil.” Pengalaman ini membawa kita kepada apa yang disebut sebagai fenomena dunia kecil (small world phenomenon).

Tapi jauh sebelum era social media seperti facebook, Linkedin, twitter dan semuanya bisa seperti sekarang ini, ternyata ada sebuah teori yang menjelaskan tentang fenomena ini. Teori itu bernama Six Degrees of Separation. Menurut wikipedia juga teori Six Degrees of Separation adalah sebuah teori yang mengatakan bahwa setiap manusia di bumi memiliki hubungan dengan manusia lainnya, yang hanya terpisah sejauh 6 orang. Dengan kata lain, dua orang yang tidak saling kenal di dunia ini dapat dihubungkan satu sama lain melalui (rata-rata) 6 pihak.

Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Frigyes Karinthy, cerpenis tahun 1929 dalam cerpennya yang berjudul Chains (dalam kumpulan cerpen Everything is Different). Semenjak teori tersebut dicetuskan, banyak dari orang-orang yang penasaran dan ingin membuktikan teori tersebut. Salah satu orang yang melakukannya adalah Stanley Milgram, seorang pakar psikologi sosial Amerika yang bereksperimen lewat sebuah penelitian berjudul Small World Problem pada tahun 1967 di Universitas Harvard.

Milgram membuat penelitian dengan mengirimkan paket kepada 160 orang yang tinggal di Omaha, Nebraska dimana pada paket tersebut tertulis nama seorang pialang saham yang tinggal di Boston. Orang yang menerima paket diminta mencantumkan namanya, kemudian mengirimkan paket tersebut kepada kenalannya yang dianggap mengenal/lebih dekat dengan si pialang saham/penerima. Intinya nggak langsung dikirim ke alamat si penerima, kecuali bener-bener kenal banget. Milgram kemudian mencatat jumlah perpindahan paket, dan menemukan bahwa dari seluruh paket yang sampai ke tujuan, rata-rata hanya dibutuhkan enam kali pengiriman atau 5 orang yang jadi penghubung. Dari sinilah Milgram berkesimpulan bahwa semua orang di dunia hanya terpisah sejauh enam tingkat (six degrees of separation).

Kemudian pada tahun 2001, Duncan Watts, seorang profesor di Columbia University, mengulangi percobaan Milgram di Internet. Dia menggunakan surat elektronik dengan 48.000 pengirim dan 19 target. Ditemukan bahwa jumlah rata-rata adalah perantara sekitar enam. Hasil yang lebih baru 6,6 derajat rata-rata diperoleh oleh para peneliti Microsoft baru-baru ini setelah memeriksa 30 miliar pesan elektronik. Six Degrees of Separation populer setelah jadi judul film karya John Guare tahun 1993.

Bahkan seorang aktor bernama Kevin Bacon juga pernah membuktikan teori “Six Degrees of Separation”. Bacon mengklaim bahwa ia pernah bekerja dengan semua orang Hollywood di sepanjang karirnya. Melalui klaim inilah muncul sebuah permainan trivia yang bernama “Six Degrees Of Kevin Bacon” atau “The Kevin Bacon Game”, yang muncul pada tahun 2007

Nah fenomena “six degrees of separation” juga saya alami beberapa kali, seperti kejadian ketika saya di lokasi Tambang Melak Kutai Barat Kalimantan Timur dan terakhir adalah kejadian di gedung CIMB Lippo Cikarang. Anehnya kejadian yang terakhir ini adalah kejadian yang cukup unik. Bagaimana tidak, ketika melakukan wawancara kerja sang user bertanya tentang asal kampus S1 saya. Dengan jawaban yang cukup singkat saya jawab : “UNPAS”. Dan ternyata, beliau pernah mempunyai beberapa kawan-kawan dari kampus saya. Disebutkanlah beberapa orang, Si A tapi beliau tidak tahu angkatan berapa hanya saja seusia saya. Tidak lama saya sebutkan bama panjangnya, dan ternyata beliau mengiyakan. Saya sebut lagi satu persatu Si B dan Si C. Ternyata betul juga, astaga semuanya bukan hanya kawan satu angkatan saya akan tetapi mereka adalah kawan-kawan saya satu kost selama menimba ilmu di Mesin Unpas.

Hahaha, “Ternyata dunia ini sempit ya….!!! “

Sumber :
1. Sini
2. Sini

3. Sini

~RTM
02-11-2015