Selamat Hari Bumi 2016

Hari Bumi 2016

Hari Bumi 2016

Makna dari hari bumi adalah mengingatkan bahwa begitu pentingnya merawat dan menjaga bumi kita agar tidak semakin rusak oleh ulah perbuatan manusia. Tidak hanya ikut untuk merayakan saja, tetapi sedikit berbuat untuk bumi tercinta harus kita lakukan demi kelestarian hayati. Demi masa depan kita dan anak cucu kita kelak….!Bagi yang belum mengerti hari bumi, silahkan di klik link tersebut !

Sok udah paling bener aja melakukan itu semua, padahal masih sering loh saya melakukan pelanggaran yang berdampak pada lingkungan. Contoh kecilnya saja, ketika istirahat malam. Apa susahnya untuk mematikan lampu kamar ? Susahnya bukan main, apalagi si kecil tentunya tidak akan betah gelap-gelapan di dalam kamar. Kalau saya sendiri sebenernya lebih nyaman tidur dengan lampu tidak menyala, karena terasa lebih bisa beristirahat. Bayangkan, dengan menyalakan lampu kamar, berapa energi yang harus terbuang percuma dari jam 5 sore hingga jam 6 pagi ?

Belum lagi pemakaian air tanah. Kalau sudah waktunya mandi, si kakak menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi. Padahal kalau di hitung, mandi aslinya paling hanya beberapa gayung saja :mrgreen . Beruntung saat ini sedang musim penghujan, hingga halaman luas di sebelah rumah malah jadi tempat resapan air. Tidak banyak sih, dalamnya hanya sekitar 30 cm saja kalau pas sedang hujan deras.

Kita sebagai makhluk yang hidup di bumi seharusnya sadar akan lingkungan di sekitar kita. Karena saat ini semakin banyak tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merusak dan memperlakukan bumi semena-mena, karena kedepannya bumi yang kita tinggali juga akan menjadi tempat bagi anak cucu kita kelak. Ayo mulai hari ini kita jaga bumi dan lingkungan di sekitar kita ! Lakukanlah hal-hal positif untuk lingkungan yang kita tinggali, kalau bukan kita siapa lagi ?

Semoga dengan peringatan hari bumi di tahun ini, menjadi momentum bagi kami para penggiat alam untuk semakin gigih mengecam para perusak bumi.
Semoga saja…

~RTM
22 04 16

Air itu Milik Siapa ?

Ingat pas waktu ikutan Pendidikan Dasar di organisasi Perhimpunan Penjelah Hutan Dan Pendaki Gunung (KPA RANTING) dulu, ketika itu diberitahu bahwa manusia dapat bertahan tanpa makan dalam waktu lebih dari seminggu. Akan tetapi, manusia tidak akan dapat bertahan hidup tanpa air dalam waktu beberapa hari saja. Bisa dibayangkan, betapa bergunanya air untuk kehidupan kita. Alhasil, setelah mengikuti pendidikan saya jadi lebih menghargai fungsi air. Tentunya pada saat melakukan aktivitas mendaki gunung, saya jadi lebih berhati-hati dalam mengatur pemakaian air untuk minum karena pada beberapa gunung di Indonesia banyak yang tidak terdapat air pada jalur pendakian.

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar dan bagian dari hak asasi manusia dan merupakan salah satu komoditi yang sangat-sangat vital. Pengelolaan SDA yang terlalu bersandar pada nilai ekonomi air hanya merayakan kepentingan pemilik modal dan melalaikan fungsi sosial SDA. Negara wajib menjamin warganya untuk menikmati parameter tertinggi dalam pemenuhan hak-hak atas kesehatan secara fisik dan mental. Pengelolaan sumber daya air harus diutamakan untuk kemakmuran rakyat.

Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyebutkan, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal ini merupakan salah satu prinsip mendasar bagaimana seharusnya sumber daya dikelola. Karena itu pasal-pasal yang membuka peluang pengelolaan air oleh swasta bertentangan dengan UUD 1945.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat, selama ini perusahaan swasta telah melakukan pembelian atas tanah di mana di dalamnya terdapat mata air yang kemudian diperjualbelikan. Di sejumlah tempat kasat mata terlihat pengelolaan sumber daya air (SDA) diserahkan pada sistem ekonomi liberal yang memungkinkan privatisasi pengelolaan air. Direktur Program Prisma Resource Centre, Suhadi Suryadi menjelaskan, 32,2% penduduk Indonesia belum mempunyai akses air bersih. Umumnya mereka mendapat air dari sungai yang terpolusi, air tanah yang terkontaminasi, atau membeli dengan harga mahal dari pedagang air.

Penswastaan air bersih ini terjadi berkat campur tangan dari Bank Dunia. Menurutnya, ketersediaan air secara murah dan gratis sangat tidak ekonomis dan tidak efisien. Karena itu masyarakat harus membayar atas air yang digunakan. Dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid VI yang sudah diliris, Kamis (5/11), pemerintah Joko Widodo akan memperketat aturan bisnis berbasis sumber daya air (SDA). Disusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengusahaan SDA dan RPP tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Semoga saja dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mencabut Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 2004 tentang SDA, menjadi dasar untuk mengakhiri liberalisasi pengelolaan air. UU SDA telah melanggar syarat konstitusionalitas. Mengisi kekosongan hukum sebagai dampak pembatalan UU SDA, diberlakukan kembali UU No.11/1974 tentang Pengairan.

Dan semoga saja, air akan tetap menjadi milik rakyat yang tidak boleh diperjualbelikan….

Sumber : 1. sini

 

~RTM
18 04 2016