Air itu Milik Siapa ?

Ingat pas waktu ikutan Pendidikan Dasar di organisasi Perhimpunan Penjelah Hutan Dan Pendaki Gunung (KPA RANTING) dulu, ketika itu diberitahu bahwa manusia dapat bertahan tanpa makan dalam waktu lebih dari seminggu. Akan tetapi, manusia tidak akan dapat bertahan hidup tanpa air dalam waktu beberapa hari saja. Bisa dibayangkan, betapa bergunanya air untuk kehidupan kita. Alhasil, setelah mengikuti pendidikan saya jadi lebih menghargai fungsi air. Tentunya pada saat melakukan aktivitas mendaki gunung, saya jadi lebih berhati-hati dalam mengatur pemakaian air untuk minum karena pada beberapa gunung di Indonesia banyak yang tidak terdapat air pada jalur pendakian.

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar dan bagian dari hak asasi manusia dan merupakan salah satu komoditi yang sangat-sangat vital. Pengelolaan SDA yang terlalu bersandar pada nilai ekonomi air hanya merayakan kepentingan pemilik modal dan melalaikan fungsi sosial SDA. Negara wajib menjamin warganya untuk menikmati parameter tertinggi dalam pemenuhan hak-hak atas kesehatan secara fisik dan mental. Pengelolaan sumber daya air harus diutamakan untuk kemakmuran rakyat.

Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyebutkan, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal ini merupakan salah satu prinsip mendasar bagaimana seharusnya sumber daya dikelola. Karena itu pasal-pasal yang membuka peluang pengelolaan air oleh swasta bertentangan dengan UUD 1945.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat, selama ini perusahaan swasta telah melakukan pembelian atas tanah di mana di dalamnya terdapat mata air yang kemudian diperjualbelikan. Di sejumlah tempat kasat mata terlihat pengelolaan sumber daya air (SDA) diserahkan pada sistem ekonomi liberal yang memungkinkan privatisasi pengelolaan air. Direktur Program Prisma Resource Centre, Suhadi Suryadi menjelaskan, 32,2% penduduk Indonesia belum mempunyai akses air bersih. Umumnya mereka mendapat air dari sungai yang terpolusi, air tanah yang terkontaminasi, atau membeli dengan harga mahal dari pedagang air.

Penswastaan air bersih ini terjadi berkat campur tangan dari Bank Dunia. Menurutnya, ketersediaan air secara murah dan gratis sangat tidak ekonomis dan tidak efisien. Karena itu masyarakat harus membayar atas air yang digunakan. Dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid VI yang sudah diliris, Kamis (5/11), pemerintah Joko Widodo akan memperketat aturan bisnis berbasis sumber daya air (SDA). Disusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengusahaan SDA dan RPP tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Semoga saja dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mencabut Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 2004 tentang SDA, menjadi dasar untuk mengakhiri liberalisasi pengelolaan air. UU SDA telah melanggar syarat konstitusionalitas. Mengisi kekosongan hukum sebagai dampak pembatalan UU SDA, diberlakukan kembali UU No.11/1974 tentang Pengairan.

Dan semoga saja, air akan tetap menjadi milik rakyat yang tidak boleh diperjualbelikan….

Sumber : 1. sini

 

~RTM
18 04 2016

Iklan

15 thoughts on “Air itu Milik Siapa ?

  1. Udah ndalamin sumur bor, airnya bening tp masih bau, dikeramik aja meninggalkan bekas, gimana mau dibuat minum. Akhirnya masang PAM, mesin airnya ga dipakai, eh jalur dalam rmhnya bocor jadilah 2 bulan pertama bayar PAMnya sangat mahal 😥 *setelah capek beli air mineral, hitungan ternyata sama aja, sama mahalnya, kok jadi curhat? 😦

  2. Jumlah totalnya hampir tetap namun siklusnya semakin ‘ruwet’, kelangkaan air semakin terasa ya Mas Rahmat.
    Belajar dari kesungguhan masyarakat Gunung Kidul daerah Karst memanen air, mengetuk setiap pihak lebih arif memanfaatkannya.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s