Belajar Ikhlas

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” gumam ku dalam hati saat mendengar kabar buruk di pagi itu. Entah musibah apalagi yang menimpa keluarga ku di tahun ini. Rasanya sudah bertubi-tubi musibah ini datang silih berganti menghampiri kami di tahun 2016 ini. Mulai dari harus merasakan 7 kali bolak-balik menginap di rumah sakit menemani istri, orang tua serta iu mertua ku. Masih belum selesai dengan itu saja, pagi itu musibah yang tak kalah besar nya kembali menimpa keluarga ku. Ya, mobil pick up yang biasa dipakai oleh abah untuk mengais rejeki setiap hari, hilang di curi orang. Bahkan tepat di saat si abah hendak melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid.

B 9630 FAC sebelum hilang

B 9630 FAC sebelum hilang šŸ˜„

Aku yang tinggal sekitar 500 meter dari rumah orang tua, sama sekali tak menduga musibah ini akan kembali menimpa kami. Bagaimana tidak, mobil tersebut bukan mobil penumpang ataupun mobil mewah. Mobil tersebut hanya mobil pick up keluaran tahun 2011 yang mungkin jika dijual secara resmi harganya tidak lebih dari 40 juta-an apalagi jika dijual secara tidak resmi. Bagaimana mungkin si pencuri akan tertarik dengan mobil seperti itu? Bahkan secara logika saja, mobil tersebut diparkir di rumah orang tua dengan garasi terbuka sudah lebih dari 10 tahun bersama dengan mobil jenis yang sama keluaran tahun 2005. Toh selama kurun waktu tersebut, semuanya aman saja tanpa ada kendala meski 5 tahun lalu pernah part distributor untuk businya ada yang mencuri .

Bukan masalah seberapa besar kerugian yang harus kami derita, akan tetapi jauh lebih berharga dari itu semua adalah kesehatan si abah yang lebih penting. Baru saja sebulan ini dirinya tidak mengeluh merasakan sakit yang di derita akibat pembengkakan jantung, aku takut penyakitnya akan kembali meyerang dirinya. Bukankah penyakit itu awalnya timbul dari pikiran? Semoga saja hal itu tidak terjadi, di saat kondisi yang seperti ini.

Jumā€™at pagi itu menjadi hari yang begitu sibuk untuk ku, mulai dari laporan ke pak RT hingga laporan ke kantor kepolisian. Ada satu hal yang cukup menarik ketika melapor kehilangan di kantor kepolisian saat itu. Biasanya jika kita kehilangan cukup melapor di sentra pelayanan kepolisian saja, kemudian si petugas langsung membuatkan surat kehilangan yang dimaksud. Lain halnya jika barang yang hilang adalah kendaraan bermotor, kita tetap mengadu ke sentra pelayan kepolisian kemudian kita akan langsung dipertemukan dengan petugas Reskrim (Reserse kriminal) hingga dilakukan olah TKP (Tempat kejadian perkara) kemudian dibuatkan BAP (Berita acara pemeriksaan) baru setelah itu dibuatkan surat keterangan kehilangan. Cukup menyita waktu, untuk menyelesaikan laporan kepolisian. Bahkan aku harus kembali izin untuk tidak masuk kerja demi membuat laporan kehilangan di kanator kepolisian. Sungguh satu lagi kerumitan biroksrasi di negeri tercinta ini, padahal semuanya tentu akan lebih mudah apabila semuanya sudah dalam satu kesatuan system.

Akhirnya selesai sudah proses pemeriksaan dan pelaporan kehilangan kendaraan di kantor polisi, sambil menunggu kabar baik dari mereka saja. Semoga saja musibah kali ini kembali membuka mata hati kami bahwasanya kami masih banyak kekhilafan dan masih belajar untuk ikhlas jika memang kendaraan tersebut benar-benar tidak kembali lagi.

Semoga saja…

~RTM
31-10-16

Iklan