Cara Nyaman dan Aman Menggunakan Sepatu PDL

Alhamdulillah, meski dengan kesibukan yang cukup menyita waktu hingga blog ini nyaris tak terurus dan tulisan yang ada hanya sekedar repost dari beberapa tulisan kawan-kawan. Siang ini akhirnya saya kembali dari pengembaraan yang cukup panjang :D.

Baiklah, kali ini saya akan coba membahas apa itu Sepatu PDL yang biasa digunakan oleh teman-teman ketika hendak mendaki gunung. Sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) adalah sepatu Tentara Nasional Indonesia standar asli PT. Pindad yang digunakan pada saat latihan luar. Ada juga sepatu tracking,  Sepatu ini kuat dan aman untuk digunakan dalam medan apa saja, dimana sepatu tersebut sejenis dengan sepatu boots. Karakteristik sepatu ini memiliki tinggi kurang lebih setinggi 8 cm dan tinggi alas sepatu PDL mencapai 4 cm yang terbuat dari bahan karet yang kuat, membuat Alas sepatu ini tahan air dan tidak menyebabkan air masuk ke dalam sepatu.

Tingkat keamanan menggunakan sepatu ini sangat tinggi, maka dari itu kebanyakan masyarakat umum pun ada yang mengenakannya untuk kegiatan luar seperti mendaki gunung dan kegiatan lainya. Namun dalam kehandalannya tetap terdapat masalah kenyamanan dalam mengenakan sepatu PDL ini hal tersebut di Karenakan bahan yang digunakan cukup keras, tebal dan berat dalam pembuatan sepatu PDL sehingga membuat kaki mudah lecet.

Namun Jangan khawatir akan masalah kenyamanan tersebut, karena dengan mengikuti tips-tips cara nyaman dan aman menggunakan sepatu PDL berikut ini pengguna sepatu PDL standar TNI akan terhindar dari kaki lecet dan terlindung dengan aman dengan cara antara lain :

  1. Apabila anda memiliki ukuran kaki 42 maka dianjurkan untuk memilih sepatu PDL yang berukuran 43, karena kaki anda masih memakai kaos kaki.
  2. Siapkan dan gunakan kaos kaki yang panjang dan tebal dimana panjang kaos kaki tersebut harus melebihi tinggi dari sepatu. Apabila kaos kaki tersebut kurang tebal, anda dapat memakai kaos kaki double agar mengurangi gesekan dengan kulit sepatu.
  3. Karena sepatu ini terbuat dari bahan yang keras, anda juga dapat membuat sepatu ini menjadi lunak dengan cara merendamnya di air atau merebus dalam air panas kurang lebih selama 10 menit. Setelah itu diangin-anginkan dan jangan dijemur di bawah sinar matahari, karena akan membuat sepatu menjadi kering dan tidak terlalu kaku lagi.
  4. Setelah sepatu kering, semir sepatu agar permukaan sepatu menjadi halus dan lemas. Semakin sering di semir, maka semakin cepat sepatu tersebut menjadi ringan dan tidak kaku lagi.
  5. Pastikan dalam memakai sepatu ini tidak ada rongga kaki bergerak, apabila ada rongga dalam sepatu kemungkinan besar akan menyebabkan gesekan yang akan membuat kaki anda lecet.
  6. Setelah anda memakai sepatu PDL untuk kegiatan luar, maka segera di bersihkan, karena kotoran yang menempel pada sepatu akan membuat sepatu menjadi kaku kembali.

Jadi, tidak usah berpikir dua kali untuk memakai sepatu PDL TNI yang memiliki bahan yang keras. Karena tips diatas telah memberikan pengetahuan untuk kita bagaimana cara memakai sepatu PDL tersebut dengan aman dan nyaman.

Semoga bermanfaat..

Sumber: Sini

~RTM
29-01-2016

Iklan

Buah Huni, Si Kecil Dengan Sejuta Manfaat

Buah huni

Buah huni

Barangkali, hanya sedikit orang saja yang mengetahui dan mengenal buah yang satu ini. Apalagi saat sekarang ini, pohonnya sudah sangat jarang ditemukan. Apalagi di daerah saya, yang sekarang sudah menjadi kota industri. Tinggi dari pohon ini bisa mencapai sekitar 15-30 m. Pohon huni ini dahulunya banyak tumbuh di daerah saya dan banyak tersebar di kawasan Asia Tenggara, Australia. Akan tetapi karena populasi penduduk yang semakin meningkat, akhirnya lama kelamaan tanaman ini mulai punah seperti sahabatnya yaitu pohon kecapi. Di dataran Jawa, tanaman ini bisa ditemukan di hutan-hutan dengan ketinggian maksimal 1.400 meter di atas permukaan air laut (dpl).

Buni atau Huni (Antidesma bunius (L.) Spreng.) adalah pohon penghasil buah yang dapat dimakan. Buah buni kecil-kecil berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai (ranti). Huni termasuk tumbuhan yang sudah jarang dijumpai di pekarangan. Buahnya dapat dimakan sebagai buah meja, dibuat selai, atau difermentasi menjadi minuman alkohol di Filipina dan Jawa. Nama-nama lainnya: Boni, huni (Sunda), wuni (Jawa), bignai (Filipina).

Pohon huni diduga berasal dari kaki pegunungan Himalaya di India, C dan Asia Tenggara (di luar kawasan Melayu), Filipina, dan timur Australia, Secara taksonomi termasuk bangsa Euphorbiales, suku Euphorbiaceae. Itu berarti buni masih sekerabat dengan tanaman hias Euphorbia milli. Sinonim: Antidesma andamanicum, Antidesma ciliatum, Antidesma collettii, Antidesma cordifolium, Antidesma crassifolium, Antidesma floribundum, Antidesma glabrum, Antidesma rumphii, Antidesma stilago, Antidesma sylvestrt Antidesma thoreiianum, Sapium crassifolium, dan Stilago bunius.

Batang huni mengandung alkaloid toksik. Daun mengandung terpenoid, tanin, glikosida, saponin, dan antrakuinon. Bagian korteks mengandung alkaloid, terpenoid, tanin, glikosida, dan saponin. Penelitian mengkaji asam organik yang terkandung pada kultivar buah matang buni yang terdapat pada hutan primer dipterocarp di Lembah Phupan, Sakon Nakhon, timur laut Thailand menunjukkan terdapat dua kelompok asam organik yaitu mayor dan minor. Kelompok mayor terdiri dari asamtartarat (7,97-12,16 mg/g bobot segar), asam askorbat (10,01-16,55 mg/g bobot segar), asam sitrat (4,44-11,73 mg/g bobot segar), dan asam benzoat (8,13-17,43 mg/g bobot segar). Sedangkan kelompok minor terdiri dari asam malat (3,05-4,52 mg/g bobot segar), asam laktat (1,12-4,09 mg/g bobot segar), asam oksalat (1,00— 1,45 mg/g bobot segar), dan asam asetat (0,19-0,69 mg/g bobot segar).

Ada beberapa kultivar yang tumbuh di tempat itu. Kultivar khumlhai memiliki asam askorbat tertinggi diikuti kultivar lompat, phuchong, sangkrow 2, dan maelookdog. Kultivar sangkrow 2 dan phuchong memiliki rasio asam tartarat dan malattertinggi. Kandungan total bagian padat terlarut (total soluble solid, TSS, %) tertinggi ada pada kultivar sangkrow 5 sedangkan total asam organik (total organlc acids, TOA) tertinggi terdapat pada kultivar phuchong. Rasio TSS:TOA tertinggi terdapat pada kultivar sangkrow 2. Kultivar sangkrow 2 dan 3 memiliki persentase jus tertinggi diikuti kultivar fapratan dan lompat.

Buah huni adalah tipe buah berdaging yang paling umum ditemui dan dagingnya banyak yang bisa dimakan. Buah tumbuhan huni merupakan tipe dasar, tetapi banyak buah populer lainnya yang merupakan tipe ini, seperti buah anggur, buah tering-terungan (terung, tomat, cabai), buah jambu-jambuan (jambu air, jambu biji), dan buah kakao.

Daun tanaman ini berbentuk tunggal seperti mangga, memiliki tangkai yang pendek, dan berbentuk seperti telur yang lonjong. Panjang daunnya antara 9-25 cm, bagian tepiannya agak bergelombang, dan ujungnya meruncing. Daun mudanya berwarna hijau muda dan ketika sudah tua berubah menjadi hijau tua. Tanaman ini berbunga dalam tandan, keluarnya dari ketiak atau pada bagian ujung percabangannya.

Buahnya berbentuk kecil, elips, dan berwarna hijau. Ketika sudah masak, warna buah akan berubah menjadi ungu kehitaman dengan rasa yang manis dan sedikit asam. Anda yang suka lalapan juga dapat mengonsumsi daunnya yang masih muda. Selain itu, daun tanaman Buni juga bisa digunakan untuk campuran jamu.

Sedangkan, buahnya yang masih muda dapat dibuat untuk rujak. Buah huni yang sudah matang bisa langsung dimakan atau dibuat selai.  Warna ungu kehitaman pada buah Buni yang sudah matang menunjukkan tingginya kadar antosianin dalam buah ini. Keberadaan senyawa aktif ini dinilai penting dalam tubuh, terutama untuk kesehatan pembuluh darah Anda, dimana antosianin bekerja dengan cara mengoksidasi kadar LDL (lemak jahat) dalam tubuh. Tentu saja, penyakit-penyakit seperti darah tinggi, aterosklerosis, dan resiko yang mengintai jantung Anda dapat diatasi dengan keberadaan senyawa ini dalam tubuh.

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Jadi, bagi anda yang menderita penyakit darah tinggi dapat mengonsumsi buah huni untuk mengatasinya. Caranya sangat sederhana yakni dengan menyiapkan buah Buni yang telah matang sekitar 20-30 buah. Kemudian, cuci bersih dan buanglah bagian bijinya. Lalu, makanlah daging buahnya. Lakukan hal tersebut sebanyak 2 sampai 3 kali dalam sehari. Setelah itu, minumlah air hangat untuk menetralisir rasa sepat yang dirasakan setelah mengonsumsi huni.

Sumber :
1. Sini

~RTM
26-12-2016