Buah Huni, Si Kecil Dengan Sejuta Manfaat

Buah huni

Buah huni

Barangkali, hanya sedikit orang saja yang mengetahui dan mengenal buah yang satu ini. Apalagi saat sekarang ini, pohonnya sudah sangat jarang ditemukan. Apalagi di daerah saya, yang sekarang sudah menjadi kota industri. Tinggi dari pohon ini bisa mencapai sekitar 15-30 m. Pohon huni ini dahulunya banyak tumbuh di daerah saya dan banyak tersebar di kawasan Asia Tenggara, Australia. Akan tetapi karena populasi penduduk yang semakin meningkat, akhirnya lama kelamaan tanaman ini mulai punah seperti sahabatnya yaitu pohon kecapi. Di dataran Jawa, tanaman ini bisa ditemukan di hutan-hutan dengan ketinggian maksimal 1.400 meter di atas permukaan air laut (dpl).

Buni atau Huni (Antidesma bunius (L.) Spreng.) adalah pohon penghasil buah yang dapat dimakan. Buah buni kecil-kecil berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai (ranti). Huni termasuk tumbuhan yang sudah jarang dijumpai di pekarangan. Buahnya dapat dimakan sebagai buah meja, dibuat selai, atau difermentasi menjadi minuman alkohol di Filipina dan Jawa. Nama-nama lainnya: Boni, huni (Sunda), wuni (Jawa), bignai (Filipina).

Pohon huni diduga berasal dari kaki pegunungan Himalaya di India, C dan Asia Tenggara (di luar kawasan Melayu), Filipina, dan timur Australia, Secara taksonomi termasuk bangsa Euphorbiales, suku Euphorbiaceae. Itu berarti buni masih sekerabat dengan tanaman hias Euphorbia milli. Sinonim: Antidesma andamanicum, Antidesma ciliatum, Antidesma collettii, Antidesma cordifolium, Antidesma crassifolium, Antidesma floribundum, Antidesma glabrum, Antidesma rumphii, Antidesma stilago, Antidesma sylvestrt Antidesma thoreiianum, Sapium crassifolium, dan Stilago bunius.

Batang huni mengandung alkaloid toksik. Daun mengandung terpenoid, tanin, glikosida, saponin, dan antrakuinon. Bagian korteks mengandung alkaloid, terpenoid, tanin, glikosida, dan saponin. Penelitian mengkaji asam organik yang terkandung pada kultivar buah matang buni yang terdapat pada hutan primer dipterocarp di Lembah Phupan, Sakon Nakhon, timur laut Thailand menunjukkan terdapat dua kelompok asam organik yaitu mayor dan minor. Kelompok mayor terdiri dari asamtartarat (7,97-12,16 mg/g bobot segar), asam askorbat (10,01-16,55 mg/g bobot segar), asam sitrat (4,44-11,73 mg/g bobot segar), dan asam benzoat (8,13-17,43 mg/g bobot segar). Sedangkan kelompok minor terdiri dari asam malat (3,05-4,52 mg/g bobot segar), asam laktat (1,12-4,09 mg/g bobot segar), asam oksalat (1,00— 1,45 mg/g bobot segar), dan asam asetat (0,19-0,69 mg/g bobot segar).

Ada beberapa kultivar yang tumbuh di tempat itu. Kultivar khumlhai memiliki asam askorbat tertinggi diikuti kultivar lompat, phuchong, sangkrow 2, dan maelookdog. Kultivar sangkrow 2 dan phuchong memiliki rasio asam tartarat dan malattertinggi. Kandungan total bagian padat terlarut (total soluble solid, TSS, %) tertinggi ada pada kultivar sangkrow 5 sedangkan total asam organik (total organlc acids, TOA) tertinggi terdapat pada kultivar phuchong. Rasio TSS:TOA tertinggi terdapat pada kultivar sangkrow 2. Kultivar sangkrow 2 dan 3 memiliki persentase jus tertinggi diikuti kultivar fapratan dan lompat.

Buah huni adalah tipe buah berdaging yang paling umum ditemui dan dagingnya banyak yang bisa dimakan. Buah tumbuhan huni merupakan tipe dasar, tetapi banyak buah populer lainnya yang merupakan tipe ini, seperti buah anggur, buah tering-terungan (terung, tomat, cabai), buah jambu-jambuan (jambu air, jambu biji), dan buah kakao.

Daun tanaman ini berbentuk tunggal seperti mangga, memiliki tangkai yang pendek, dan berbentuk seperti telur yang lonjong. Panjang daunnya antara 9-25 cm, bagian tepiannya agak bergelombang, dan ujungnya meruncing. Daun mudanya berwarna hijau muda dan ketika sudah tua berubah menjadi hijau tua. Tanaman ini berbunga dalam tandan, keluarnya dari ketiak atau pada bagian ujung percabangannya.

Buahnya berbentuk kecil, elips, dan berwarna hijau. Ketika sudah masak, warna buah akan berubah menjadi ungu kehitaman dengan rasa yang manis dan sedikit asam. Anda yang suka lalapan juga dapat mengonsumsi daunnya yang masih muda. Selain itu, daun tanaman Buni juga bisa digunakan untuk campuran jamu.

Sedangkan, buahnya yang masih muda dapat dibuat untuk rujak. Buah huni yang sudah matang bisa langsung dimakan atau dibuat selai.  Warna ungu kehitaman pada buah Buni yang sudah matang menunjukkan tingginya kadar antosianin dalam buah ini. Keberadaan senyawa aktif ini dinilai penting dalam tubuh, terutama untuk kesehatan pembuluh darah Anda, dimana antosianin bekerja dengan cara mengoksidasi kadar LDL (lemak jahat) dalam tubuh. Tentu saja, penyakit-penyakit seperti darah tinggi, aterosklerosis, dan resiko yang mengintai jantung Anda dapat diatasi dengan keberadaan senyawa ini dalam tubuh.

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Jadi, bagi anda yang menderita penyakit darah tinggi dapat mengonsumsi buah huni untuk mengatasinya. Caranya sangat sederhana yakni dengan menyiapkan buah Buni yang telah matang sekitar 20-30 buah. Kemudian, cuci bersih dan buanglah bagian bijinya. Lalu, makanlah daging buahnya. Lakukan hal tersebut sebanyak 2 sampai 3 kali dalam sehari. Setelah itu, minumlah air hangat untuk menetralisir rasa sepat yang dirasakan setelah mengonsumsi huni.

Sumber :
1. Sini

~RTM
26-12-2016

Iklan

8 thoughts on “Buah Huni, Si Kecil Dengan Sejuta Manfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s