Dimana Saya Saat Bekasi Di Hina…!!!

Miris benar melihat beberapa account di sosmed pada akhir-akhir ini. Beberapa orang saling hujat menghujat satu sama lain. Bahkan pada akhirnya ada yang harus berurusan dengan pihak berwenang akibat postingannya melecehkan bahkan menghina salah satu pihak. Kendati demikian, ada saja yang masih berani melakukan ujaran kebencian hingga saat ini meski sudah banyak yang ujung-ujungnya harus berakhir pada tanda tangan di materai Rp. 6000.

Belum selesai polemik dari efek pilkada di DKI Kemarin, kini malah merembet ke daerah penyangga tempat lahir saya yaitu Bekasi. Di hujat oleh kaum pendatang yang notabene menggantungkan hidupnya di tanah kelahiran saya.

Sebagai salah seorang yang tidak begitu aktif bersosialisasi di medsos, saya merasa sedikit terganggu dengan hal tersebut. Bagaimana tidak, meskipun saya pada awalnya tidak berpihak kepada salah satu kubu, toh ada beberapa hal yang seharusnya tidak usah di umbar di sosmed.

Sebagai salah satu putra Bekasi yang hampir separuh dari usia saya hidup di perantauan, terus terang saya merasa agak terganggu dengan postingan yang menghina tanah air tercinta saya Bekasi. Bagaimana tidak, daerah yang saya tinggalkan hampir 20 tahun ke belakang menjadi mendadak viral saat di hina dan di hujat oleh seorang pendatang. Astaghfirullah, meski saya masih bisa menahan diri untuk tidak ikut berkomentar, toh pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut menanggapi nya.

Adalah sangat tidak etis ketika seorang pendatang yang mengais rezeki di kota Bekasi ini menghina bahkan membuat pernyataan bahwa Bekasi tidak akan maju tanpa dirinya. Bekasi akan sepi, kontrakan akan kosong tanpa pendatang. Dan satu hal yang paling membuat jengkel adalah statement bahwa orang Bekasi tidak berpendidikan tinggi. Astaghfirullah…

Panas hati saya membaca beberapa postingan tersebut, meski saya sendiri tidak ikut langsung berkomentar. Saya merenung, apakah memang manusia Bekasi seperti itu…?

Saya rasa tidak….!!! Orang Bekasi banyak yang berpendidikan tinggi, bahkan banyak yang bergelar S3 yang merupakan gelar tertinggi dari pendidikan. Wilayah Bekasi adalah daerah penyangga ibukota yang sebelum ada kawasan industri pun sudah maju dan bahkan menjadi salah satu penyokong bahan bangunan seperti batu bata dan genteng untuk Jakarta. Orang Bekasi adalah orang-orang yang ramah dan mau menerima serta berbaur dengan mereka para pendatang tanpa mengenal suku, ras, bahasa dan agama yang menjadi tanda bahwa mereka lebih beradab dan bisa hidup berdampingan.

Tanpa kawasan industri pun, Bekasi akan tetap maju karena kami adalah salah satu penyangga ibukota. Bahkan kamipun sudah kenyang menghirup dan mandi dengan air dari limbah pabrik tempat para pendatang mengais rezeki untuk dibawa pulang kembali ke kampung halaman nya.

Sebagai orang Bekasi, kami tidak iri dengan para pendatang. Kami pun masih bisa bersaing dengan kalian berbekal skill dan pendidikan yang kami tempuh. Toh rezeki itu adalah urusan Allah SWT, jadi kami tidak akan pernah takut bersaing dengan kalian para pendatang. Meskipun saat kalian kembali dari kampung halaman, kalian membawa saudara-saudara kalian untuk mengadu nasib di Bekasi.

Kami tidak kesal, saat motor-motor kalian berplat daerah habis melahap aspal kami. Meskipun pajak kendaraan yang kalian bayarkan tidak sampai ke Bekasi, toh kami tetap menerima kalian berdampingan memacu kendaraan di jalanan. Coba kalian cek ke salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang mewajibkan kendaraan yang melintas di jalan raya nya harus menggunakan plat nomor daerah tersebut agar pajaknya bisa di nikmati bersama. Mungkin ini adalah ide bagus yang mesti diikuti oleh Pemerintah daerah Bekasi, agar APBD Bekasi bisa meningkat dan mereka bisa turut andil menjaga jalanan kota Bekasi.

Ah, mungkin itu hanyalah lamunan sesaat saya saja. Karena efek samping membaca postingan yang selalu menyudutkan kota tercinta saya saja.

Jadi untuk para pendatang, bersikaplah lebih bijak sedikit dan jangan mengganggu serta menyudutkan kami orang Bekasi. Sebagai orang Bekasi kami tentu akan melawan dan membuat perhitungan jika kalian telqh menghina tanah kelahiran kami.

Akhir kata, saya juga sebagai seorang pendatang yang pernah merasakan hidup di hampir sepertiga pulau di Indonesia. Marilah kita sedikit lebih dewasa dalam bersosial media, toh nyatanya masih lebih banyak sisi positif yang bisa dilakukan tanpa harus melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi orang lain.

Untuk warga Bekasi, mohon tetap menjaga tali silaturahmi dengan para pendatang. Toh mereka juga adalah saudara kita juga. Mari kita buktikan bahwa kita orang Bekasi mampu bersaing dengan para pendatang dan bahkan lebih memiliki mental lebih baik dari mereka.

Untuk warga pendatang, bersikaplah lebih bijak saat hidup di rantau. Karena jika anda sopan, kami pun akan lebih menghormati anda.

Biarkan proses hukum tetap berjalan, jangan mudah terprovokasi dengan berbagai berita yang belum jelas kebenarannya.

 

~RTM ° 30-06-’17

Note : Penulis adalah mahasiswa magister teknik mesin universitas pancasila

 

 

Iklan