Ketika Pasangan Hidup Seorang Pendaki Gunung

Mount Salak Jan 2010

Membaca tulisan salah satu sahabat blogger bikin saya senyum-senyum dan ketawa kecil. Bagaimana tidak, tulisannya benar-benar menggambarkan dan mirip sekali dengan kisah hidup saya. Dulu sebelum akhirnya seorang pendaki gunung wanita berhasil singgah dan melanjutkan petualangan hidup bersama saya hingga kini menginjak usia pernikahan yang ke 12 tahun. Hingga petualangan mendaki gunung bukan lagi menjadi penghalang ketika Tuhan telah mempersatukan nya dalam jalinan pernikahan. Dan keinginan untuk melakukan pendakian bersama di alam terbuka membuat kami berdua terpaksa menularkan dan meracuni kecintaan kami terhadap alam dan gunung kepada anak-anak kami.

Memiliki pasangan seorang pendaki gunung akan memberikan Anda hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Mereka yang belajar di alam akan menyadari bahwa jadi manusia berguna itu lebih penting daripada menumpuk harta bagi diri sendiri. Karena pada akhirnya, Anda cuma punya integritas yang bisa dibawa sampai mati. Hidup itu tidak hanya diisi oleh lahir besar kemudian mati, tapi hidup itu adalah proses pembelajaran untuk menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Seorang pendaki gunung termasuk orang yang berani menetapkan target dan mematuhinya. Mereka sudah sangat akrab dengan kebiasaan yang satu ini. Mereka terbiasa menetapkan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap pendakian meskipun banyak kendala yang akan dihadapinya. Sebelum memulai, sebuah pendakian, dirinya  akan memperhitungkan waktu dan tenaga yang dimiliki kemudian menyesuaikannya dengan rute yang akan dihadapinya. Dia bisa dengan sangat tepat menetapkan target sesuai sumber daya yangdimilikinya. Kemampuan ini akan sangat berguna jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kamu tidak perlu khawatir nak, jika memiliki seorang suami dalam hidup kalau dengan pendaki gunung.

Semoga saja…

~RTM
31 01 18