Ingin mempunyai anak Hafidz Qur’an

Menempuh perjalanan panjang selama hampir kurang lebih 2 jam menuju kota Bogor adalah sesuatu hal yang menjemukan. Bagaimana tidak, menyusuri jalanan kota ini di waktu libur adalah sebuah tantangan tersendiri. Kota dengan julukan ‘Kota seribu angkot’ selalu menyuguhkan pemandangan yang bikin mengelus dada. Ya, ‘Macet’ setiap kali ke sana pasti disuguhkan oleh pemandangan macet yang membuat stress. Meski setiap hari saat berangkat kerja selalu disuguhkan dengan pemandangan macet, tetap saja macet di Bogor semakin menambah panjang masalah yang harus di selesaikan oleh negeri tercinta ini.

Apapun alasannya, tetap minggu ini harus ke sana. Bukan untuk melepaskan lelah dan bersantai untuk berwisata, akan tetapi melakukan tes ujian saringan masuk buat anak tercinta di PP Hamalatul Qur’an Falakiyah Kota Bogor. Entahlah, pergaulan anak muda jaman sekarang semakin membuat miris para orang tua. Ah apapun itu alasannya, untuk kondisi saat ini pondok pesantren adalah satu-satunya jalan yang menurut kami yang terbaik untuk pendidikan si kakak nantinya.

Kami sebagai orang tua yang tidak banyak waktu di rumah,dan merasa ilmu agama kami masih sedikit, ingin memondokkan anak selepas SD. Ibunya yang notabene pernah berkarir di dunia pendidikan sebagai guru, sudah tidak percaya dengan pendidikan umum. Meskipun tidak semua sekolah umum yang agak cuek dalam mendidik tentang ahlak, tetapi alangkah bijaknya pondok pesantren adalah langkah tepat buat anak kami yang sudah mulai beranjak dewasa. Anak-anak sudah mulai remaja, dengan usia 12 tahun yang akan sangat riskan terhadap lingkungan, dan teman-temannya. Akhirnya, kami bicara pada anak kami, jika nanti lulus SD, dia akan kami pondokkan. Beruntung dia menurut meski ketika awalnya sangat berat dan ragu-ragu. Tapi dengan diberi sedikit pemahaman, dia akhirnya siap dan mau untuk di pondok. Tujuannya agar kelak dia bisa jadi anak yang sholehah, hafidz quran dan membawa keluarganya selamat dunia akhirat.

Akhirnya waktu tes ujian saringan masuk SMP tahfidz Qur’an pun di mulai. Beruntung, karena salah satu panitia adalah sepupu saya yang masih nyantri di pondok tersebut dan sekarang masih di bangku kelas XI. Dari dirinya lah kami tertarik untuk memasukan anak di pondok ini. Meski sebelumnya adik bungsu saya juga pernah mondok di sini, akan tetapi adik saya hanya sampai tamat SMP saja dengan hasil akhir hafalan sebanyak 8 juzz. Subhanallah, sepupuku yang hanya beda 1 tahun dari adik bungsu ku ini sudah hafidz 30 juzz. Mudah-mudahan, si kakak nanti bisa menyusul kakak sepupunya dan bisa hafidz qur’an juga.

Melepaskan anak untuk menimba ilmu ke pondok seperti mengantar ke pemakaman. Kita harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Selepas Bapak Ibu dari sini, mungkin akan banyak santri yang bisa langsung beradaptasi. Santri baru akan menemukan dunia yang baru, teman baru, serta suasana baru. Justru mereka akan terasa lebih nyaman karena banyak teman yang senasib dan sepenanggungan, jauh dari keluarga. Tapi sebaliknya dengan Bapak Ibu, akan merasa sangat kehilangan. Maka, saya pesan, ikhlaskan anak Bapak Ibu kami ajar disini, kami juga mendoakan supaya calon santri dan santriwati betah di pondok.

Mempunyai seorang anak hafidz Qur’an adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai besarnya sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selain bisa membanggakan kedua orangtua, seorang anak hafidz Qur’an kelak diakhirat akan mendapat syafaat bagi keluarga.

Semoga saja ada hasil yang membahagiakan di awal bulan mei ini untuk kelulusan tes masuk si kakak…

 

~RTM
30 04 18