Uitemate (浮いて待て), Teknik Mengapung Dan Menunggu Yang Akan Menyelamatkan Nyawa Anda

Tenggelam (Ilustrasi)

Jujur, pada awalnya saya tidak tahu apa itu Uitemate (浮いて待て)? Meskipun saya tahu persis, kata ini berasal dari bahasa Jepang karena ada huruf hiragana dan kanji yang terbaca dengan jelas. Dan mungkin di negara tercinta Republik Indonesia sendiri masih belum begitu populer jika dibandingkan Life jacket, pelampung, sekoci kapal atau alat-alat keselamatan lain yang berhubungan dengan air. Akan tetapi, teknik uitemate ini akan sangat berguna sekali bagi kita yang sering bermain dengan air.

Coba lihat beberapa hari ke belakang musibah tenggelamnya kapal ferry di danau toba, kemudian menyusul tragedi kapal kandas di Selayar. Sudah berapa banyak nyawa yang tidak tertolong dari kejadian ini. Sebenarnya ini bukan alat yang disediakan oleh pihak lain untuk menolong apabila terjadi suatu kecelakaan yang melibatkan air. Alat ini sebetulnya ada di diri kita masing-masing. Ya, ini adalah sebuah teknik survival atau bertahan hidup di air dengan mengandalkan diri kita sendiri.

Tenang dan Santai

Sebenarnya bagi anda yang tidak bisa berenang, melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air yang dalam pasti akan selalui dihantui sebuah kekhawatiran atau rasa was-was. Hal ini tidak berlebihan, karena memang psikologis alamai manusia pasti akan menghindari hal-hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri. Jatuh ke dalam sungai atau laut tanpa memiliki kemampuan berenang akan menjadi sebuah mimpi yang sangat buruk. Banyak kasus orang yang harus kehilangan nyawa karena tenggelam akibat tidak mampu berenang atau kelelahan.

Tapi tahukah Anda, data korban tenggelam yang tewas atau hilang di jepang memiliki statistik yang agak aneh terkait usia korban. Menurut survei, sebanyak 803 orang tewas atau hilang tenggelam pada 2013. Lebih dari 47% berusia lebih dari 65 tahun, sementara sisanya kebanyakan berkisar antara usia lulus SMA hingga 65 tahun. Sedangkan anak-anak di bawah usia sekolah dasar hanya berjumlah 44 orang.

Profesor Hidetoshi Saito dari Universitas Teknologi Nagaoka meyakini rendahnya korban usia anak disebabkan karena banyak anak SD yang telah mengikuti pelatihan “Bertahan Hidup dengan cara Mengapung dan Menunggu” atau dalam bahasa Jepang “Uitemate”. Konsep Uitemate sangat sederhana namun efektif. Banyak korban tenggelam jatuh kedalam air ketika berpakaian lengkap, dan karenanya penting bagi kita untuk mengetahui cara agar tetap bisa mengambang dipermukaan dengan kondisi tersebut.

Uitemate (Versi English)

Konsep Uitemate sangat sederhana namun efektif. Banyak korban tenggelam jatuh kedalam air ketika berpakaian lengkap, dan karenanya penting bagi kita untuk mengetahui cara agar tetap bisa mengambang dipermukaan dengan kondisi tersebut.

Uitemate (Versi Indonesia)

Pada 2008, di Kobe lima orang tenggelam di sungai Toga ketika hujan badai, seorang anak SD dapat diselamatkan karena ia bertahan hidup dengan cara memeluk tas rangsel-nya. Para ahli mengatakan, seseorang dapat dengan mudah mengapung di permukaan air seperti layaknya Berang-berang, dengan hanya memegang sesuatu seperti botol plastik kosong.

Peristiwa menakjubkan lainnya terjadi saat Jepang dihantam Tsunami pada 11 Maret 2011, murid-murid SD di Prefektur Miyagi selamat dari tenggelam karena menggunakan teknik Uitemate. Saat gempa terjadi, mereka dievakuasi ke gedung olahraga, namun tak lama kemudian mereka terjebak air tsunami yang masuk kedalam gedung dan air makin lama makin meninggi.

Ketika bencana berlalu, para rewalan dibuat takjub saat masuk ke dalam gedung tersebut, tak ada satu pun murid yang tewas tenggelam. Seorang guru mengatakan mereka selamat karena menggunakan teknik Uitemate untuk mengapung. Kebetulan teknik ini telah dipelajari pada saat pelajaran renang. Teknik ini memang telah diajarkan di seluruh Sekolah Dasar di Jepang. Profesor Hidetoshi Saito adalah orang yang mencetuskan ide ini. Ia mendapatkan ilham ketika melihat daun yang mengapung di air.

Mengambang

Saat seseorang jatuh ke dalam air, reaksi spontan adalah berusaha untuk berenang walaupun ternyata ia tidak pandai berenang. Dengan spontan korban juga akan melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak minta tolong, tangan yang mengarah ke atas sebenarnya malah akan membuat korban menjadi semakin mudah tenggelam. Menurut Prof. Saito, tindakan ini salah. Yang harus dilakukan adalah berusaha agar tetap mengapung memakai teknik Uitemate dan tunggulah hingga bantuan datang.

Saat ini teknik Uitemate gencar dikampanyekan ke seluruh Dunia, terutama wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dalam satu setengah tahun, 40 instruktur telah dilatih dan 10.000 orang di Sri Lanka telah mendapatkan pelatihan Uitemate. Berikut Teknik Uitemate yang dapat kita praktikkan dikutip dari duniaberbicara.com :
Untuk belajar teknik ini, berikut tips-tips yang bisa untuk Anda lakukan.

Tenang dan santai, apabila Anda telah terjun ke dalam air, hal yang pertama perlu untuk dilakukan adalah bersikap tenang. Jangan panik, panik hanya akan membuat anda semakin tenggelam. Rentangkan tangan dan kaki, usahakan setenang mungkin untuk tidur terlentang di air sambil merentangkan tangan dan kaki. Kurangi gerakan-gerakan yang bisa membahayakan diri Anda.

Santai

Pandangan menatap ke atas, untuk melancarkan sistem pernafasan Anda, hal yang dilakukan pada teknik satu ini adalah wajah dan pandangan mata menatap ke atas kemudian bernafas seperti biasa. Teknik jika memakai sepatu, biarkan sepatu Anda terpasang, berat sepatu tersebut akan bisa membantu mengapung. Botol kosong, jika ada botol kosong di dekat Anda gunakan botol kosong tersebut untuk didekap pada atas dada Anda, hal ini akan semakin membantu proses mengapung.

 

Sumber :
1. Sini
2. Sini

 

¬RTM
04 07 18

Iklan

Tips Memilih Jam Tangan Untuk Mendaki Gunung

Casio SGW-300HB-3AVCF

Jika sebelumnya saya sudah menulis tentang Tips cara packing tas carrier yang benar dan kemarin siang saya sudah coba mengulas tentang tips cara memilih sepatu gunung yang baik, Tips aman dan nyaman memakai sepatu PDL ketika berpetualang dialam bebas, kali ini kali ini akan saya coba untuk mengupas lagi tentang tips memilih jam tangan untuk kegiatan outdoor. Pada beberapa kasus tertentu, saya terbiasa menggunakanjam tangan ini karena alasan kenyamanan.

Sebuah kegiatan outdoor seperti halnya pendakian, merupakan sebuah kegiatan yang menantang dan membutuhkan skill survival di alam terbuka. Seiring dengan perkembangan zaman, para perempuan juga saat ini ikut meramaikan kegiatan pendakian. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk bisa survive di gunung. Salah satunya dengan mempersiapkan peralatan pendakian lengkap sesuai standar kemanan ketika hendak mendaki.

Casio SGW-300HB-3AVCF

Olahraga mendaki gunung saat ini telah menjadi hobi yang tergolong mahal apabila melihat dari gear, budget logistik kegiatan pendakian hingga transportasi ke daerah pendakian. Bagi para pendaki, tidak hanya peralatan yang diperhatikan namun juga style untuk mendaki dengan berbagai aksesoris peralatan outdoor. Salah satu aksesoris pendukung pendakian yaitu jam tangan. Jam tangan selain sebagai penunjuk waktu biasanya dilengkapi sensor penunjuk ketinggian. Mengenai ketahanan jam tangan outdoor tidak perlu di ragukan lagi. Saya sendiri saat ini menggunakan Casio SGW-300HB-3AVCF untuk menunjang aktivitas selama berkegiatan di alam terbuka.

Minimal jam tangan tersebut sudah water resist (tahan air) dan tahan terhadap suhu dingin di gunung. Berikut ini adalah tips membeli jam tangan untuk kegiatan pendakian :

A. Memilih jam berwarna gelap.
Biasanya para laki – laki lebih menyukai warna gelap karena terkesan gagah dan sesuai dengan warna pakaian apapun. Untuk itu pilihlah warna jam outdoor dengan warna gelap agar tidak hanya difungsikan sebagai salah satu aksesoris pendakian, namun juga bisa dipakai dalam kegiatan keseharian.

B. Pilih desain jam outdoor yang memiliki kemiripan dengan jam kegiatan indoor.
Kita semua pastinya anda sudah familiar dengan jam Digitec maupun G-Shock yang merupakan jam yang terkenal untuk segmen sport. Terdapat banyak tipe untuk jam outdoor di Digitec atau G-Shock. Pilihlah jam dengan tipe atau jenis khusus untuk kegiatan outdoor namun juga bisa digunakan untuk kegiatan indoor. Biasanya jam untuk kegiatan outdoor memiliki fitur stopwatch, water resist hingga LED light. Kamu juga bisa membeli jam tangan outdoor ke distro outdoor gear khusus kegiatan outdoor seperti Rei, Eiger, Consina dan outdoor gear lain. Di tempat tersebut sangat direkomendasikan karena mereka mengkhususkan pada pembuatan aksesoris kegiatan outdoor terutama kegiatan pendakian.

C. Pilihlah jam tangan yang asli.
Jam tangan yang asli biasanya mahal harganya. Namun ada baiknya kamu mencari tahu di pasar online juga banyak yang menjual jam tangan asli dengan harga terjangkau apabila mau membuka wawasan. Ingat semakin mahal harganya biasanya kualitas juga mengikuti. Jika masih ragu untuk belanja on line, silahkan datang ke gerai-gerai atau toko resmi yang di tunjuk.

D. Pilih jam dengan fitur sesuai kegiatanmu.
Fitur yang paling penting untuk para pendaki yaitu fitur LED light dan water resist. Fitur ini sangat penting bagi para pendaki. LED light sangat berfungsi ketika melakukan kegiatan pendakian pada malam hari. Sedangkan water resist sangat berfungsi apabila cuaca buruk.

E. Berat jam tangan.
Ada kata – kata yang sering diucapkan para pendaki yaitu semakin ringan sebuah outdoor gear maka semakin baik, hal ini juga berlaku pada gear jam tangan mountaineering. Bukan hanya ringan namun harus memiliki fungsi jam sebagaimana mestinya. Bobot yang ringan akan sangat berguna agar badan tidak cepat lelah. Dengan bobot yang ringan maka kita akan mudah berakselerasi dengan mudah tanpa meninggalkan fungsi jam sebagai pengingat waktu.

5. Waterproof.
Rata – rata jam tangan sekarang sudah dilengkapi dengan fungsi waterproof atau tahan terhadap air. Namun untuk kegiatan pendakian kita butuh fungsi waterproof yang lebih kuat dari biasanya. Tingkat kekuatan waterproof biasanya bisa dilihat dari notasi ___ m (meter) yang merujuk pada kedalaman air serta ___ATM (Atmosphere Pressure) yang berarti tingkat tekanan udara yang dapat diterima jam tersebut.

Pada umumnya, tingkat ketahanan jam tangan didalam air biasanya adalah 30 m, atau 3 ATM water resistant. Meskipun ada fungsi water resistant, jam tangan ini hanya tahan terhadap air ketika mencuci tangan saja. Apabila direndam, maka jam tangan ini akan rusak. Para penyelam biasanya meggunakan spesifikasi jam dengan level notasi 20 ATM atau 200 meter lebih. Level notasi 20 ATM merupakan level untuk berenang di air dangkal. Pada level perenang yang lebih dalam membutuhkan level notasi 30 – 50 ATM. Level notasi untuk mendaki gunung cukup 10 ATM saja.

6. Fungsi utama jam.
Spesifikasi jam yang digunakan untuk mendaki minimal harus memiliki fungsi barometer (pengukur tekanan udara), altimeter (pengukur ketinggian), dan kompas. Selain itu ada juga yang menambahkan thermometer (pengukur suhu), accelerometer (pengukur kecepatan dan getaran), alarm, heart rate monitor, hingga perhitungan kalori yang keluar dari tubuh.

Semakin banyak fungsinya maka semakin menarik jam tersebut. Namun, apalah arti fungsi yang banyak namun tidak mampu mengoprasikannya. Maka, kita harus tau bagaimana cara mengoprasikan fungsi – fungsi jam tersebut dengan mempelajarinya. Dari berbagai fungsi tersebut, fungsi GPS bisa jadi merupakan fungsi yang sangat dibutuhkan selain fungsi jam sebagai penunjuk waktu. Melalui fungsi GPS ini kita dapat mengecek rute pendakian serta menghubungkan rute peta pendakian yang terekam di jam ke dalam PC. Selain itu ada juga jam tangan yang memiliki tambahan fungsi tracking kondisi fisik seperti kalori dan heart rate monitor.

7. Display jam tangan.
Display jam tangan terbagi menjadi dua yaitu analog dan digital. Jam yang digunakan untuk mendaki pada umumnya menggunakan display jam tangan digital dimana jam digital memiliki kelebihan mampu menampilkan jenis – jenis fungsi seperti altimeter hingga kompas.

8. Bahan tali jam.
Ada dua jenis tali jam tangan yang ringan dan tahan yaitu karet silikon dan nilon. Tali silikon tahan terhadap air, tali jenis ini sangat cepat menguapkan air yang ada diantara tangan dan jam yang anda kenakan. Sedangkan tali nilon mudah membuat ruam pada kulit dan agak lama kering.

 

Sumber : Sini

~RTM
21 05 18

Ingin mempunyai anak Hafidz Qur’an

Menempuh perjalanan panjang selama hampir kurang lebih 2 jam menuju kota Bogor adalah sesuatu hal yang menjemukan. Bagaimana tidak, menyusuri jalanan kota ini di waktu libur adalah sebuah tantangan tersendiri. Kota dengan julukan ‘Kota seribu angkot’ selalu menyuguhkan pemandangan yang bikin mengelus dada. Ya, ‘Macet’ setiap kali ke sana pasti disuguhkan oleh pemandangan macet yang membuat stress. Meski setiap hari saat berangkat kerja selalu disuguhkan dengan pemandangan macet, tetap saja macet di Bogor semakin menambah panjang masalah yang harus di selesaikan oleh negeri tercinta ini.

Apapun alasannya, tetap minggu ini harus ke sana. Bukan untuk melepaskan lelah dan bersantai untuk berwisata, akan tetapi melakukan tes ujian saringan masuk buat anak tercinta di PP Hamalatul Qur’an Falakiyah Kota Bogor. Entahlah, pergaulan anak muda jaman sekarang semakin membuat miris para orang tua. Ah apapun itu alasannya, untuk kondisi saat ini pondok pesantren adalah satu-satunya jalan yang menurut kami yang terbaik untuk pendidikan si kakak nantinya.

Kami sebagai orang tua yang tidak banyak waktu di rumah,dan merasa ilmu agama kami masih sedikit, ingin memondokkan anak selepas SD. Ibunya yang notabene pernah berkarir di dunia pendidikan sebagai guru, sudah tidak percaya dengan pendidikan umum. Meskipun tidak semua sekolah umum yang agak cuek dalam mendidik tentang ahlak, tetapi alangkah bijaknya pondok pesantren adalah langkah tepat buat anak kami yang sudah mulai beranjak dewasa. Anak-anak sudah mulai remaja, dengan usia 12 tahun yang akan sangat riskan terhadap lingkungan, dan teman-temannya. Akhirnya, kami bicara pada anak kami, jika nanti lulus SD, dia akan kami pondokkan. Beruntung dia menurut meski ketika awalnya sangat berat dan ragu-ragu. Tapi dengan diberi sedikit pemahaman, dia akhirnya siap dan mau untuk di pondok. Tujuannya agar kelak dia bisa jadi anak yang sholehah, hafidz quran dan membawa keluarganya selamat dunia akhirat.

Akhirnya waktu tes ujian saringan masuk SMP tahfidz Qur’an pun di mulai. Beruntung, karena salah satu panitia adalah sepupu saya yang masih nyantri di pondok tersebut dan sekarang masih di bangku kelas XI. Dari dirinya lah kami tertarik untuk memasukan anak di pondok ini. Meski sebelumnya adik bungsu saya juga pernah mondok di sini, akan tetapi adik saya hanya sampai tamat SMP saja dengan hasil akhir hafalan sebanyak 8 juzz. Subhanallah, sepupuku yang hanya beda 1 tahun dari adik bungsu ku ini sudah hafidz 30 juzz. Mudah-mudahan, si kakak nanti bisa menyusul kakak sepupunya dan bisa hafidz qur’an juga.

Melepaskan anak untuk menimba ilmu ke pondok seperti mengantar ke pemakaman. Kita harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Selepas Bapak Ibu dari sini, mungkin akan banyak santri yang bisa langsung beradaptasi. Santri baru akan menemukan dunia yang baru, teman baru, serta suasana baru. Justru mereka akan terasa lebih nyaman karena banyak teman yang senasib dan sepenanggungan, jauh dari keluarga. Tapi sebaliknya dengan Bapak Ibu, akan merasa sangat kehilangan. Maka, saya pesan, ikhlaskan anak Bapak Ibu kami ajar disini, kami juga mendoakan supaya calon santri dan santriwati betah di pondok.

Mempunyai seorang anak hafidz Qur’an adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai besarnya sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selain bisa membanggakan kedua orangtua, seorang anak hafidz Qur’an kelak diakhirat akan mendapat syafaat bagi keluarga.

Semoga saja ada hasil yang membahagiakan di awal bulan mei ini untuk kelulusan tes masuk si kakak…

 

~RTM
30 04 18

 

Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari 2018

HPSN 21 Feb 2018

Ada yang momen besar yang terlewat di penghujung bulan februari ini. Entah itu tertutup berita mengenai penganiayaan ulama orang gila, kepulangan HRS, penyelundupan sabu seberat 2 ton atau karena isu PKI yang semakin memanas. Ah sudahlah, karena sama sekali gak doyan dengan namanaya politik praktis, lebih baik membahas isu tentang lingkungan hidup.

Kemarin, tepatnya tanggal 21 Februari 2018 kita memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Kenapa setiap tanggal 21 Februari selalu diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional?

Hari Peduli Sampah Nasional dipicu oleh tragedi longsornya sampah di TPU Leuwigajah pada tanggal 21 Februari 2005 yang membuat banyak korban jiwa, pengelolaan sampah yang buruk menjadi salah satu penyebab permasalahan sampah.

21 Februari 2005 pada dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor dan mengubur 143 orang tewas seketika. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat juga tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai 30 meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan seluas 8,4 hektare. Bencana alam berupa longsoran sampah TPA dengan kemiringan tebing 15-45 derajat serta diapit Gunung Pasir Panji dan Gunung Kunci itu merupakan rekor tertinggi di Indonesia dan rekor kedua terbesar di dunia.

Rekor pertama adalah longsoran sampah di TPA Payatas, Quezon City, Filipina. Longsoran sampah yang terjadi pada 10 Juli 2000 sekitar pukul 05.00 waktu setempat itu menewaskan lebih dari 200 orang. Angka itu belum termasuk ratusan orang lainnya yang hilang dalam bencana tersebut. Urutan ketiga ditempati Yunani. Longsoran sampah di TPA dengan sistem landfi ll (menghamparkan sampah di atas lahan terbuka) di Ano Liossia, sekitar 10 kilometer sebelah utara Athena itu menelan korban puluhan orang pada Maret 2003.

Tiga tragedi mengenaskan itu memiliki kesamaan. Ketiga TPA itu berada di perbukitan dengan topografi berlereng, menggunakan sistem landfi ll, dan terjadi pada waktu hujan di musim penghujan. Waspadalah Karena itu bagi Anda yang berada di kawasan dengan kondisi topografi berlereng tersebut berhati-hatilah dan waspadalah saat musim penghujan sekarang ini. Bukan apa-apa, hujan memacu terjadinya longsoran sampah yang menggunung. Hujan yang terus-menerus membuat gas metan (CH4) yang tertimbun sampah terdesak. Gas ini akan berusaha keluar dari air hujan yang mengguyur tadi.

Ketika hujan mengguyur tumpukan sampah, gas metan akan keluar naik, sesuai dengan hukum alam karena memiliki berat jenis yang lebih ringan daripada air. Jika gas metan sudah mencapai 12 persen terhadap total udara, terjadilah ledakan. Metan adalah gas alam tanpa warna, berbau, dan mudah terbakar. Gas berbahaya ini dihasilkan dari penguraian sampah organik seperti dedaunan atau sisa makanan yang menumpuk di tempat pembuangan sampah.

Biang penguraian itu adalah bakteri pembusuk dan terjadi di tempat yang nihil oksigennya (anaerob). Survei yang dilakukan sebelum terjadi longsor oleh pakar lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Ir Enri Damanhuri menunjukkan, konsentrasi gas metan di TPA Leuwigajah sangat kritis yaitu mencapai 10 hingga 12 persen. Bayangkan, gas metan dapat menimbulkan ledakan jika memiliki konsentrasi 12 persen. Inilah mengapa sebelum tumpukan sampah itu longsor, terjadi ledakan yang sangat keras.

Senada dengah hal itu, pakar persampahan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ir Firman L Syahwan MSi mengatakan, ledakan itu terjadi karena gas metan yang dihasilkan sampah bereaksi dengan udara. Tumpukan berton-ton sampah itu tidak memiliki saluran ventilasi. Ia terjebak dan volumenya terus meningkat seiring dengan bertambahnya sampah. Ketika timbunan gas dalam volume besar ini bersentuhan dengan udara, terjadilah pijar api yang disertai ledakan. “Gas metan yang terisolasi itu meledak karena lubang ventilasi tidak berfungsi,” kata Firman.

Gas metan memang punya sifat mudah terbakar, bahkan meledak seperti bom jika terkena oksigen dalam rasio kecil yakni 14 bagian oksigen berbanding satu bagian metan. Tak mengherankan, di tempat pembuangan sampah kerap terjadi kebakaran yang tak jelas asalusulnya. Kejadian ini pernah terjadi di TPA Suwung Denpasar, Bali dan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Tetapi di luar nilai itu (kurang atau lebih dari 12 persen), gas metan tidak akan meledak, paling hanya terbakar. Oleh karena itu, salah satu solusi agar tidak terjadi ledakan adalah dengan membakar tumpukan sampah.

Pada teknologi pengolahan sampah modern di beberapa negara maju, gas metan itu disedot keluar lewat ventilasi sehingga meminimkan risiko kebakaran. Selain itu, gas metan hasil pengolahan sampah ini juga digunakan sebagai sumber energi (biogas), termasuk menghasilkan listrik. Unik Longsoran sampah di TPA Leuwigajah itu termasuk unik. Sampah itu melorot satu blok ke bawah, mengupas beberapa dinding bukit. Akibatnya, rumpun- rumpun bambu yang akarnya tidak terlalu dalam itu bergeser ke bawah sejauh dari 500 meter dari tempat asalnya. Rumpun bambu itu masih tetap hidup walau sudah tergeser ratusan meter dari tempat asalnya. Bukan sekali ini TPA Leuwigajah longsor. Menurut catatan yang dihimpun Itoc Tochija dan Budiman dalam bukunya Tragedi Leuwigajah (2005), sebelumnya Leuwigajah telah mengalami dua kali longsor.

Longsor pertama terjadi pada tahun 1990. Ketika itu tidak menelan korban jiwa dan harta benda karena longsorannya berskala kecil. Maklum, saat itu volume sampahnya juga relatif masih sangat rendah. Longsor kedua terjadi tahun 1994. Lonsoran sampah itu juga tidak merenggut jiwa manusia tetapi menimbun tujuh rumah penduduk. Namun entah mengapa walaupun telah diingatkan dengan dua peristiwa tersebut, masyarakat masih juga alpa.

Padahal setahun sebelum peristiwa tragis itu, sejumlah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Dinas Lingkungan Hidup telah mengingatkan mengenai kondisi TPA Leuwigajah yang perlu segera ditangani. Ketika itu, umur TPA tersebut memang masih sekitar lima tahun lagi, namun perlu dibenahi dan ditata.

Peringatan itu seolah angin lalu. Para warga malah terus membangun rumah-rumah merangsek mendekati lokasi TPA. Jarak antara permukiman penduduk yang baru dan lokalisasi TPA itu kian mendekat. Ketika sampah tersebut semakin menggunung, longsorannya pun mengubur rumah-rumah beserta para penghuninya yang lalai itu. Mengenaskan memang, TPA Leuwigajah yang pertama kali dipakai pada 13 Januari 1987 itu malah membuyarkan harapan banyak orang.

Marilah kita mulai aksi kecil yang bisa dilakukan mulai dari diri sendiri seperti kurangi menghasilkan sampah dengan menggunakan tumbler atau tempat makan dari rumah, menggunakan totebag sebagai penganti kantong kresek, mengambil makanan yang cukup & dihabiskan untuk mengurangi sampah, kurangi tisu, memisahkan sampah dari rumah dan lain-lain itu adalah aksi kecil dan nyata yang bisa kita lakukan dari diri sendiri mulai saat ini untuk bumi yang bersih.

Sumber

~RTM
22 02 18

Ketika Pasangan Hidup Seorang Pendaki Gunung

Mount Salak Jan 2010

Membaca tulisan salah satu sahabat blogger bikin saya senyum-senyum dan ketawa kecil. Bagaimana tidak, tulisannya benar-benar menggambarkan dan mirip sekali dengan kisah hidup saya. Dulu sebelum akhirnya seorang pendaki gunung wanita berhasil singgah dan melanjutkan petualangan hidup bersama saya hingga kini menginjak usia pernikahan yang ke 12 tahun. Hingga petualangan mendaki gunung bukan lagi menjadi penghalang ketika Tuhan telah mempersatukan nya dalam jalinan pernikahan. Dan keinginan untuk melakukan pendakian bersama di alam terbuka membuat kami berdua terpaksa menularkan dan meracuni kecintaan kami terhadap alam dan gunung kepada anak-anak kami.

Memiliki pasangan seorang pendaki gunung akan memberikan Anda hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Mereka yang belajar di alam akan menyadari bahwa jadi manusia berguna itu lebih penting daripada menumpuk harta bagi diri sendiri. Karena pada akhirnya, Anda cuma punya integritas yang bisa dibawa sampai mati. Hidup itu tidak hanya diisi oleh lahir besar kemudian mati, tapi hidup itu adalah proses pembelajaran untuk menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Seorang pendaki gunung termasuk orang yang berani menetapkan target dan mematuhinya. Mereka sudah sangat akrab dengan kebiasaan yang satu ini. Mereka terbiasa menetapkan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap pendakian meskipun banyak kendala yang akan dihadapinya. Sebelum memulai, sebuah pendakian, dirinya  akan memperhitungkan waktu dan tenaga yang dimiliki kemudian menyesuaikannya dengan rute yang akan dihadapinya. Dia bisa dengan sangat tepat menetapkan target sesuai sumber daya yangdimilikinya. Kemampuan ini akan sangat berguna jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kamu tidak perlu khawatir nak, jika memiliki seorang suami dalam hidup kalau dengan pendaki gunung.

Semoga saja…

~RTM
31 01 18

Sejuta Kenangan Tentang Sangatta – Kutai Timur

Gate PT Kaltim Prima Coal

Ada kalanya membuka lembaran kenangan masa lalu membuat kita merasa bahagia dan muda kembali. Begitu juga dengan saya, hampir seharian membuka foto kenangan lama saat masih bekerja di salah satu sole agen alat berat di kalimantan timur. Kenangan manis yang masih tersimpan rapih di folder komputer menjadi salah satu bukti bahwa menjadi seorang perantau sangat menyenangkan, meski di satu sisi terkadang rindu akan kampung halaman mengusik di kepala. Atau hanya karena efek telah minum air sungai Mahakam, yang membuat saya rindu dengan kota Sangatta. Ah, itu hanya mitos saja…

Bagi saya pribadi yang sejak masih sekolah senang dengan tempat baru dan budaya baru, tentunya hal ini adalah kesempatan emas yang tidak akan saya sia-siakan. Pikiran saya akan memiliki banyak teman baru dan budaya baru di tempat yang baru pula. Meski ada sedikit kekhawatiran tentang kondisi keamanan di wilayah ini akibat konflik SARA yang pecah beberapa tahun silam, hal ini tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap berangkat dan mencoba mencicipi sedikit rejeki dari dunia pertambangan.

Kondisi geografis kota Sangatta yang jauh dari Balikpapan, yang merupakan kota kedua terbesar di provinsi Kalimantan Timur dengan jarak sekitar 295,6 km yang bisa ditempuh melalui jalan darat sekitar 7 jam. Meski ada juga jalur udara yang bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat kecil Air fast selama 45 menit, tetapi pesawat tersebut disediakan khusus untuk para karyawan PT. Kaltim Prima Coal (KPC) yang akan melakukan perjalan dinas. Karena saya hanya bekerja di salah satu sub kontraktor perusahaan tersebut, jalan darat adalah satu-satunya pilihan untuk bisa sampai di kota Sangatta.

Bisa kalian bayangkan, selama 7 jam lebih saya harus menahan pegal serta panas (maaf) di  bokong saya untuk bisa sampai di kota ini. Jangan bayangkan hal-hal enak selama dalam perjalanan menuju kota ini, bisa sampai tepat waktu saja sudah beruntung. Belum lagi kondisi jalanan provinsi yang rusak dan kecil, membuat perjalanan akan terasa semakin berat.

Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan oleh pemandangan hutan yang cukup memanjakan mata. Meski hanya bagian depannya saja yang masih utuh dan tidak terjamah oleh aktivitas tambang, hal tersebut tidak menghilangkan rasa kagum saya akan tanah kalimantan yang ramah. Hutan bukit Soeharto yang membentang sepanjang kurang lebih 30 km menuju Samarinda semakin menambah rasa penasaran saya akan rimbunnya hutan kalimantan yang sudah semakin menipis ini. Belum lagi Taman Nasional Kutai yang membentang dari kota Samarinda hingga Bontang dan bahkan melewati Sangatta. Meskipun hanya tinggal separuhnya saja hutan yang masih tersisa, sisanya sudah menjadi lahan guna pakai bagi beberapa perusahaan pertambangan.

Perjalanan akan semakin terasa berat setelah kita melewati kota Samarinda, karena kondisi jalan yang sudah mulai menyempit. Hati-hati jika kita sudah sampai di kecamatan Marang Kayu kabupaten Kutai Kertanegara, tepatnya di Km 32 jalan poros Bontang – Samarinda ada sebuah tanjakan yang cukup terjal bernama tanjakan menangis. Pada tahun 2010an, kondisi tanjakan ini cukup membuat menangis para sopir truck. Meski tanjakan yang sudah mulus dengan grade ketinggian yang sangat jauh berkurang, hingga kendaraan bisa dengan mudah melewati tanjakan dan kondisi rawan kecelakaan karena tingginya tanjakan, sama sekali tidak terlihat lagi.

Melewati kecamatan Teluk Pandan, kita akan disuguhi hamparan perkebunan karet di kiri dan kanan jalan. Seperti biasa perkampungan penduduk masih menemani perjalanan kita menuju kota Sangatta, meskipun terkadang harus melewati jalan berkilo-kilo meter jauhnya baru kita temui perkampungan penduduk. Jalan sempit berbatu semakin menghambat perjalanan menuju Sengatta. Belum lagi konvoi Truck Low boy dan Long Bed yang berjalan pelan, di jamin semakin menambah anas hati dan pant*t karena terlalu lama duduk di jok mobil.

Hampir satu setengah jam kita akan disuguhi jalan sempit bergelombang, setelah itu kita akan disuguhi jalan aspal sedikit mulus sepanjang beberapa kilometer yang menandakan kita telah sampai di kota Sangatta. Kota ini akan di tandai dengan patung burung enggang yang menjadi icon kota Sangatta.

Tidak beberapa lama, kemudian akan kita jumpai jembatan pinang yang kokoh melintasi sungai sangatta. Jangan coba berani-berani di sungai ini, karena ratusan ekor buaya akan siap bermain dengan anda. Apabila ingin test nyali, silahkan saja. Barulah, simpang empat Bontang yang ditandai dengan patung singa. Jika kita akan menuju Sangatta lama maka kita harus ambil arah ke kanan, tetapi jika ingin ke Sangatta baru dan tambang KPC kita harus mengambil arah ke kiri.

Dan akhirnya, Selamat datang di kota Sangatta…!!!
Saya akan bahas lain waktu untuk lebih dalam mengenai kota Sangatta ini.

 

~RTM
28 11 17

Hadapi Masalah Dengan Sabar Seperti Segelas Air

Ilustrasi

Sepanjang hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik dari hidup ini kita selalu dihujani dengan isu-isu dan permasalahan. Terkadang hidup kita dapat dipengaruhi oleh lebih dari satu dimensi dalam kehidupan kita. Sebagai satu contoh nyata bagi kita, saat ini mungkin menghadapi hambatan keuangan dan ketidakharmonisan dalam pernikahan. Keduanya terjadi pada waktu yang bersamaan. Ketika banyak permasalahan hidup turun ke kita pada saat yang bersamaan, pada saat itulah hal tersebut benar-benar terasa berat bagi kita. Kadang-kadang kita bisa terdorong ke titik putus asa yang ekstrim dan sebagian dari kita yang imannya sedikit kurang bahkan bisa berpikir untuk bunuh diri.

Sebisa mungkin kita ingin mengejar aktifitas-aktifitas yang akan memicu timbulnya perasaan perasaan menyenangkan, sebetulnya hal tersebut akan terlihat pada sebagian dari kita, bahwa permasalahan-permasalahan yang kita hadapi jauh lebih besar daripada kesenangan-kesenangan dalam kehidupan kita. Permasalahan-permasalahan ini mengambil bentuk yang berbeda bagi setiap orang.

  • Untuk sebagian dari kita, permasalahannya keuangan.
  • Untuk yang lainnya, permasalahannya kehilangan seseorang yang dicintai.
  • Untuk sebagian lainnya permasalahannya masa lalu yang datang kembali.
  • Untuk sebagian, permasalahannya ketidakharmonisan dalam pernikahan.
  • Untuk sebagian lagi, permasalahannya ketidakmampuan untuk memiliki anak.
  • Bagi saya, kesulitan tersebut adalah lulus S2 😀

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,! kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya, lanjut Covey. Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Penelitian modern juga telah membuktikan bahwa orang-orang yang lebih religius lebih cenderung terlindung dari permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi dalam hidup dan dengan demikian lebih kecil kemungkinannya untuk terdorong ke situasi ekstrim yang membuat mereka kehilangan kendali diri yang mengakibatkan bunuh diri.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Nasional Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat terlarang (CASA) di Universitas Columbia. Ditemukan bahwa orang dewasa yang tidak pernah menghadiri pelayanan-pelayanan keagamaan delapan kali lebih besar kemungkinannya untuk menggunakan ganja dibandingkan mereka yang menghadiri acara keagamaan setiap minggu. (Ref:casacolumbia.org, 2001).

Hal ini menunjukan bahwa, agama memegang peranan penting bagi individu dalam menyelesaikan masalahnya.

Saya ingin mengajak Anda agar kita tidak sepanjang hari terus merasa merana dan memikirkan kesulitan yang sedang kita tanggung. Cobalah meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat merasa lebih segar, kuat, dan mampu membawanya lagi. Misalnya sebelum tidur tinggalkan dulu beban itu. Apa pun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi, untuk dipikirkan juga jalan keluarnya.

Saya yakin setiap orang punya masalah hidup masing-masing. Jangan kira orang sukses dan kaya tidak punya masalah. Ya, mereka punya! Anda saja yang tidak tahu urusan pribadi mereka. Masalah kita sendiri, bagi kita begitu berat, rumit dan memusingkan, seakan tidak ada jalan keluar. Namun jika Anda mencoba melihat orang lain lain yang lebih berat masalah hidupnya, Anda akan merasa beruntung ternyata hidup Anda tidak seberat yang Anda kira selama ini. Semoga analogi segelas air ini bisa mencerahkan pusingnya pikiran Anda dalam menghadapi masalah hidup.

Mari hadapi masalah seperti segelas air…!!!

 

Sumber :
1. Sini
2. Sini

~RTM
27 10 17

Menikmati Kesendirian Sebagai Pribadi Introvert

Ilustrasi

Ada beberapa orang di luar sana yang selalu dianggap aneh oleh sebagian orang, sikapnya sangat sulit dibaca, dimengerti, dan susah ditebak, sehingga sering membuat orang lain tidak nyaman. Mereka itu adalah orang-orang introvert. Sementara ekstrovert di luar sana nampaknya begitu nyaman dengan sekelompok orang, merencanakan akan pergi kemana pada akhir minggu. Orang introvert mungkin hanya duduk di pinggiran suatu tempat sendirian, menghirup minuman sesekali menghisap rokoknya sambil bermain dengan pikirannya sendiri. Mencari sebuah kebenaran jalan kehidupan, atau dengan senyum sopan di wajahnya dan mengamati orang berlalu-lalang.

Saya pribadi adalah seorang yang introvert dan selalu merasa ingin sendiri serta benar-benar menikmati kesendirian. Untuk itulah saya lebih banyak senang untuk mendaki gunung dan berlama-lama di hutan hanya untuk menikmati desahan angin yang menggesek dahan pinus dan suara serangga kecil yang mengalun merdu dibalik semak belukar. Bukan pergi ke pantai untuk melihat keramaian dan berlari di pinggiran ombak. Saat itulah saya menggunakan waktu untuk merenung dan memikirkan sesuatu secara dalam. Baik itu persoalan pribadi, keluarga maupun pekerjaan. Biasanya setelah proses perenungan tersebut, akan ada sebuah jalan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Menurut pandangan sebagian orang, seorang introvert mungkin akan dikatakan sombong, pemalu bahkan sering dikatakan tidaIntrovertk mau bergaul. Oleh karena itu, sebagian orang introvert kadang menjadi korban dari opini publik yang mengatakan demikian. Padahal sebenarnya orang introvert memang butuh waktu sendiri lebih banyak untuk mengumpulkan energi ketimbang mereka yang ekstrovert. Sehingga wajar jika orang-orang introvert tidak lebih sering berkumpul dengan kawan, energi mereka justru tersedot oleh keramaian.

Saya tidak menyukai keramaian mall dan bahkan kepala sedikit pusing dengan hiruk pikuk orang didalam nya. Saya menyukai rimbunnya vegetasi dan aroma tanah ketimbang parfum wangi. Saya lebih menyenangi dinginnya ketinggian dibandingkan dengan dinginnya AC central. Bahkan saya merasa dalam kondisi prima meski nafas tersengal menapaki ribuan anak tangga ketika mendaki dibandingkan dengan menaiki tangga escalator.

Menurut Susan Cain, penulis buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking, stigma dan perlakuan tak adil pada pribadi-pribadi introvert sudah berlangsung sejak abad ke-19 dan makin parah di awal abad ke-20. Bahkan menimpa hampir separuh manusia di muka bumi yang pada dasarnya adalah introvert.

“Setiap kali Anda mencoba hidup sebagai seseorang yang sejatinya bukan Anda, separuh jiwa Anda menghilang seiring waktu. Anda tidak akan ingat lagi cara menghabiskan waktu seperti biasanya,” tulis Cain.

 

Sumber : sini

~ RTM
26 09 17

Ajaklah Ke Hutan, Agar Tahu Sifat Asli Sahabatmu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bagi orang kebanyakan, hutan belantara diyakini sebagai tempat yang angker dan sangat menyeramkan. Hanya ada sekumpulan pepohonan yang sangat rimbun dan saking rimbunnya, sinar matahari sekalipun tidak dapat menembusnya. Belum lagi berbagai macam hewan liar yang tentunya semakin menambah keangkeran dari hutan tersebut. Tempat berkumpulnya satwa liar dan rapatnya vegetasi pepohonan menjadi salah satu alasan tidak banyak orang yang berani mengunjunginya apalagi hendak berlama-lama berada dikawasan tersebut. Akan tetapi bagi para petualang, hutan justru menjadi sebuah tempat bermain yang sangat menyenangkan dan mengasyikan. Asal, tentu saja kita harus pandai-pandai menjaga sikap dan bersahabat dengannya.

Tentunya akan lebih aman dan mengasyikan jika kita memiliki pengetahuan yang cukup bercengkrama dengan alam. Pastinya semua hal tersebut akan lebih aman dilakukan. Terlebih jika hutan belantara yang akan kita kunjungi tersebut sudah masuk dalam kawasan taman nasional yang sudah tentu satwa dan tumbuhannya dilindungi oleh pemerintah. Aktivitas seperti perambahan hutan untuk perkebunan, menebang pohon, mencari kayu bakar, atau memburu satwa liar di dalam hutan sudah pasti dilarang. Artinya hanya orang-orang tertentu yang mempunyai izin dari pihak taman nasional yang boleh memasuki kawasan tersebut. Tentunya dengan konsekuensi yang keras dari pengelola apabila pengunjung tersebut melanggarnya.

Tetapi bagi seorang pendaki gunung, hutan belantara dijadikan seperti tempat bermain yang mengasyikkan. Dibandingkan dengan nongkrong di mal atau café, di pinggir jalan, restoran, atau taman kota, kami akan lebih memilih untuk nongkrong di dalam hutan. Mendirikan tenda, melewati dinginnya malam dan bercengkrama bersama teman-teman sambil ditemani kopi panas. Gurauan khas sesama pendaki gunung diiringi celotehan dan saling mengejek siapa diantar kami yang bisa sampai dipuncak lebih dulu serta siapa yang jalannya bagaikan putri raja. Serta Menghirup udara pagi yang jauh dari hiruk pikuk kemacetan ibukota. Hingga (maaf) kentut pun harus berbagi, itulah salah satu keakraban yang menandakan bahwa kami adalah sahabat sejati. Duh sedapnya!

Selain menjadi tempat nongkrong yang asyik, bagi sebagian pendaki gunung hutan belantara adalah tempat untuk bertukar pikiran, ide, curhat, bahkan bisa untuk mencari sahabat.

Lho kok bisa? Bisa saja…

Petualangan menembus belantara hutan di gunung maupun dimana saja selama beberapa hari dapat menunjukkan karakter asli teman seperjalanan. Apakah teman seperjalananmu itu termasuk orang yang care, egois, humble, friendly, humoris, pemarah, sok tahu, tak peduli, dan acuh bisa diketahui lewat keseharian mereka selama perjalanan membelah hutan belantara. Sifat asli mereka yang selama ini ditutup-tutupi akan muncul tanpa tersadari. Itulah naluri alamiah manusia ketika berada di alam.

“Saya sudah pernah menjelajahi sepertiga keindahan alam Nusantara. Namun yang paling mengesankan adalah saat di tengah hutan belantara. Saya begitu jatuh cinta dengan hutan, gunung, matahari di puncak, dan tentu para sahabat yang saya temukan di dalamnya.”

Bagi para petualang, tidak ada salahnya mencari sahabat di dalam hutan belantara. Selain bisa bertemu sahabat sejati dan penghuni asli habitat hutan, kita bisa bertemu dengan kawan sesama pendaki gunung lainnya. Berkenalan dan bersilaturahmi dengan mereka. Siapa tahu di lain kesempatan bisa menjadi teman seperjalanan kita dan mereka rela memberikan sedikit tempat yang hangat bagi kita.

 

Sumber : Pengalaman pribadi, di sini

~RTM
04 08 17

Keutamaan Menyambung Silaturahmi

Kumpul Keluarga

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim)

Setiap manusia  pastinya mendambakan diberikan rizki yang lapang, umur yang panjang, serta dapat mengisi umurnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Namun, tidak semua manusia dimudahkan dan diberikan semua oleh Allah ta’ala untuk mendapatkannya.

Padahal ada satu amalan mulia, yang sangat dianjurkan oleh Allah dan rasul-Nya untuk dilakukan, dan inshaAllah begitu mudah untuk dikerjakan. Amalan mulia tersebut adalah menyambung tali silaturrahmi. Dengan menyambung tali silaturahmi, seseorang akan mendapatkan beberapa hal yang telah disebutkan di atas, ditambah beberapa keutamaan lain.

Ibnu Manzhur rahimahullah menjelaskan bahwa silah yang berarti menyambung adalah lawan kata dari hujron yang berarti meninggalkan atau memutuskan. (Lisanul ‘Arob 11/726)

Sehingga silaturrahmi dapat diartikan dengan: “Sebuah ungkapan yang menggambarkan tentang perbuatan baik, kasih sayang dan kelembutan yang ditujukan kepada keluarga yang senasab (satu keturunan) dan karib kerabat, serta perhatian terhadap kondisi mereka, sekalipun mereka berada di tempat yang jauh dan berbuat tidak baik kepada kita. (Lisanul ‘Arob 11/728)

Dari definisi ini dapat kita ketahui bahwa tidak perbuatan baik yang ditujukan kepada semua orang seperti tetangga, teman dan sahabat bisa disebut silaturrahmi. Seseorang dikatakan menyambung tali silaturrahmi, apabila dia mengalamatkan perbuatan baiknya itu kepada keluarga senasab atau karib kerabatnya, tidak lebih dari itu.

Berikut ini beberapa gambaran singkat dari menyambung tali silaturrahmi:

Mengunjungi rumah saudara atau karib kerabat, Mengucapkan salam dan berjabat tangan ketika bertemu dengan mereka, Bertanya tentang keadaan mereka sekeluarga, Memberikan hadiah kepada mereka, Bersedekah kepada mereka yang fakir, Bersikap lemah-lembut dengan mereka yang berkecukupan, Menghargai dan menghormati orang yang lebih dewasa, Menyayangi mereka yang lebih muda, Menghubungi mereka via surat pos, sms atau telefon/handphone, Menjamu mereka dengan baik ketika mereka bertamu, Ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan, Menghibur mereka tatkala mereka dirudung kesedihan, Mendoakan mereka dengan kebaikan, Antusias untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan mereka, Membesuk orang yang sakit dari mereka, Mendatangi undangan mereka, Tetap menyambung silaturrahmi orang yang berusaha memutuskannya.

Dan yang paling utama dan terpenting dari itu semua adalah, hendaklah kita bersemangat dan antusias untuk mengajak mereka kembali kepada jalan agama, menasihati mereka, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari berbuat kemungkaran. Dan jangan lupa pula, doakanlah semoga mereka senantiasa mendapatkan hidayah taufiq dari Allah subahahu wa ta’ala.

Jadi, maukah diberikan rizki yang lapang, umur yang panjang, serta dapat mengisi umurnya dengan hal-hal yang bermanfaat ? Perbanyaklah silaturahmi…

Sumber : Sini

 

~ RTM – 25 07 17