Dimana Saya Saat Bekasi Di Hina…!!!

Miris benar melihat beberapa account di sosmed pada akhir-akhir ini. Beberapa orang saling hujat menghujat satu sama lain. Bahkan pada akhirnya ada yang harus berurusan dengan pihak berwenang akibat postingannya melecehkan bahkan menghina salah satu pihak. Kendati demikian, ada saja yang masih berani melakukan ujaran kebencian hingga saat ini meski sudah banyak yang ujung-ujungnya harus berakhir pada tanda tangan di materai Rp. 6000.

Belum selesai polemik dari efek pilkada di DKI Kemarin, kini malah merembet ke daerah penyangga tempat lahir saya yaitu Bekasi. Di hujat oleh kaum pendatang yang notabene menggantungkan hidupnya di tanah kelahiran saya.

Sebagai salah seorang yang tidak begitu aktif bersosialisasi di medsos, saya merasa sedikit terganggu dengan hal tersebut. Bagaimana tidak, meskipun saya pada awalnya tidak berpihak kepada salah satu kubu, toh ada beberapa hal yang seharusnya tidak usah di umbar di sosmed.

Sebagai salah satu putra Bekasi yang hampir separuh dari usia saya hidup di perantauan, terus terang saya merasa agak terganggu dengan postingan yang menghina tanah air tercinta saya Bekasi. Bagaimana tidak, daerah yang saya tinggalkan hampir 20 tahun ke belakang menjadi mendadak viral saat di hina dan di hujat oleh seorang pendatang. Astaghfirullah, meski saya masih bisa menahan diri untuk tidak ikut berkomentar, toh pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut menanggapi nya.

Adalah sangat tidak etis ketika seorang pendatang yang mengais rezeki di kota Bekasi ini menghina bahkan membuat pernyataan bahwa Bekasi tidak akan maju tanpa dirinya. Bekasi akan sepi, kontrakan akan kosong tanpa pendatang. Dan satu hal yang paling membuat jengkel adalah statement bahwa orang Bekasi tidak berpendidikan tinggi. Astaghfirullah…

Panas hati saya membaca beberapa postingan tersebut, meski saya sendiri tidak ikut langsung berkomentar. Saya merenung, apakah memang manusia Bekasi seperti itu…?

Saya rasa tidak….!!! Orang Bekasi banyak yang berpendidikan tinggi, bahkan banyak yang bergelar S3 yang merupakan gelar tertinggi dari pendidikan. Wilayah Bekasi adalah daerah penyangga ibukota yang sebelum ada kawasan industri pun sudah maju dan bahkan menjadi salah satu penyokong bahan bangunan seperti batu bata dan genteng untuk Jakarta. Orang Bekasi adalah orang-orang yang ramah dan mau menerima serta berbaur dengan mereka para pendatang tanpa mengenal suku, ras, bahasa dan agama yang menjadi tanda bahwa mereka lebih beradab dan bisa hidup berdampingan.

Tanpa kawasan industri pun, Bekasi akan tetap maju karena kami adalah salah satu penyangga ibukota. Bahkan kamipun sudah kenyang menghirup dan mandi dengan air dari limbah pabrik tempat para pendatang mengais rezeki untuk dibawa pulang kembali ke kampung halaman nya.

Sebagai orang Bekasi, kami tidak iri dengan para pendatang. Kami pun masih bisa bersaing dengan kalian berbekal skill dan pendidikan yang kami tempuh. Toh rezeki itu adalah urusan Allah SWT, jadi kami tidak akan pernah takut bersaing dengan kalian para pendatang. Meskipun saat kalian kembali dari kampung halaman, kalian membawa saudara-saudara kalian untuk mengadu nasib di Bekasi.

Kami tidak kesal, saat motor-motor kalian berplat daerah habis melahap aspal kami. Meskipun pajak kendaraan yang kalian bayarkan tidak sampai ke Bekasi, toh kami tetap menerima kalian berdampingan memacu kendaraan di jalanan. Coba kalian cek ke salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang mewajibkan kendaraan yang melintas di jalan raya nya harus menggunakan plat nomor daerah tersebut agar pajaknya bisa di nikmati bersama. Mungkin ini adalah ide bagus yang mesti diikuti oleh Pemerintah daerah Bekasi, agar APBD Bekasi bisa meningkat dan mereka bisa turut andil menjaga jalanan kota Bekasi.

Ah, mungkin itu hanyalah lamunan sesaat saya saja. Karena efek samping membaca postingan yang selalu menyudutkan kota tercinta saya saja.

Jadi untuk para pendatang, bersikaplah lebih bijak sedikit dan jangan mengganggu serta menyudutkan kami orang Bekasi. Sebagai orang Bekasi kami tentu akan melawan dan membuat perhitungan jika kalian telqh menghina tanah kelahiran kami.

Akhir kata, saya juga sebagai seorang pendatang yang pernah merasakan hidup di hampir sepertiga pulau di Indonesia. Marilah kita sedikit lebih dewasa dalam bersosial media, toh nyatanya masih lebih banyak sisi positif yang bisa dilakukan tanpa harus melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi orang lain.

Untuk warga Bekasi, mohon tetap menjaga tali silaturahmi dengan para pendatang. Toh mereka juga adalah saudara kita juga. Mari kita buktikan bahwa kita orang Bekasi mampu bersaing dengan para pendatang dan bahkan lebih memiliki mental lebih baik dari mereka.

Untuk warga pendatang, bersikaplah lebih bijak saat hidup di rantau. Karena jika anda sopan, kami pun akan lebih menghormati anda.

Biarkan proses hukum tetap berjalan, jangan mudah terprovokasi dengan berbagai berita yang belum jelas kebenarannya.

 

~RTM ° 30-06-’17

Note : Penulis adalah mahasiswa magister teknik mesin universitas pancasila

 

 

Jika 5 Generasi Kumpul Bersama

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Apa jadinya jika 5 generasi keluarga berkumpul dan bercengkrama bersama?

Awalnya memang agak sedikit sulit menyusun dan mempersatukan seluruh keluarga dari anak-anak pasangan dari Alm H. Caeng Bin Liin dan Almh Ibu Hj. Uti bin Minan. Tapi berbekal dengan tekad dan semangat ingin mempersatukan keluarga akhirnya meski harus menguras fisik dan pikiran, kami berhasil juga melakukannya. Ya, sebuah acara yang sangat berharga bagi saya khususnya yang merupakan generasi Ke-4 dari keluarga ini. Meski saat ini anak-anaknya hanya menyisakan 3 orang saja yang masih hidup dari 13 orang yang dilahirkan, hal ini malah menambah semangat bagi kami untuk semakin mempersatukan mereka. Saya tidak tahu pasti, nenek saya anak keberapa dari keluarga ini. Hanya saja, nenek saat ini adalah yang anak tertua yang masih hidup dan bisa bercerita kepada kami siapa sebenarnya kakek buyut kami tersebut.

Tantangan untuk membuat acara temu kangen ini begitu sangat berat. Bayangkan saja, untuk survey lokasi acara temu kangen ini saja, panitia membutuhkan 4 kali survey lokasi. Dari mulai D’ranch Bandung, Capolaga Subang, Penangkaran Rusa Cariu, Kebun Wisata Pasir Mukti Cileungsi, dan seluruh lokasi wisata di Babakan Madang sudah habis kami survey. Anehnya, lokasi yang kami jadikan untuk tempat berkumpul ini tak membutuhkan survey. Dasar…!!! Emang kalau sudah jodoh tidak akan kemana 😀

Lokasi tempat acara akhirnya dipilih Kebun Raya Cibodas, Cianjur. Selain aksesnya lebih mudah, kami memikirkan juga perjalanan dari tempat parkir ke lokasi. Mengingat sudah banyak anggota keluarga yang cukup berumur yang akan ikut acara ini. Begitupun acara yang akan kami gelar nanti. Selain berkumpul dan mendengarkan sedikit kisah tentang si kakek buyut, kami diwajibkan untuk saling mengenalkan diri dari keluarga mana berasal. Tentunya akan membutuhkan tempat yang sangat luas untuk mengumpulkan keluarga ini. Belum lagi untuk acara fun games, yang mengharuskan banyak pergerakan dari .

Semoga kebersamaan ini akan terus terjalin…

~RTM
29-01-2017

Reuni Keluarga Besar H. Ca’eng Bin Li’in

1000-images-about-clipart-family-on-pinterest-happy-family

Berkumpul bersama dengan keluarga besar tentu nya selalu dinanti-nantikan, apalagi ketika ada acara dan hajatan besar. Namun, untuk mengadakan reuni dari sebuah keluarga besar tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Belum lagi jika sudah banyak yang menikah dan memiliki keluarga masing-masing, rasanya akan semakin sulit untuk mengumpulkan seluruh keluarga dalam sebuah acara reunian keluarga. Ditambah lagi dengan domisili dari masing-masing keluarga dengan pekerjaan mereka yang mengharuskan berada diluar pulau, tentunya semakin menambah kerumitan tersendiri. Tetapi demi kebersamaan dan waktu yang berkualitas untuk bersama keluarga besar, mari kita rencanakan reuni keluarga dari sekarang!

Sebelum mengadakan sebuah acara reuni keluarga besar, buatlah rencana secara matang dan terperinci. Libatkan sebanyak mungkin anggota keluarga yang dapat membantu segala persiapan demi tercapainya kesuksesan  acara reunian keluarga ini. Pastikan jugaaAnda membuat daftar nama dari setiap anggota keluarga yang ingin diundang, agar tidak ada satu pun yang terlewatkan. Agar nantinya semua keluarga besar dapat berkumpul dan menikmati acara dengan sukacita. Nah kebetulan, dari keluarga besar saya mencapai 200 orang lebih. Maklum kata orang dulu “banyak anak banyak rejeki”.

Dari sejak kecil dulu, saya selalu menunggu-nunggu momen kebersamaan pada acara kumpul keluarga karena bisa bermain dengan sepupu yang sebaya. Mulai dari bermain petak umpet di halaman rumah nenek, hingga menikmati segelas besar es orson secara bersama-sama. Pengalaman semacam inilah yang perlu dirasakan oleh anak. Rasanya akan sangat berbeda antara bermain bersama teman sekolah yang bisa ditemui hampir setiap hari dengan bermain bersama sepupu yang hanya dapat berjumpa setahun sekali atau bahkan 10 tahun sekali. Nah pada tanggal 27 januari 2017 besok, inshaallah semuanya akan berkenan untuk hadir dan bersama memeriahkan acara ini.

Ah rasanya, sudah tak sabar hari itu akan menjelang….

Macet Di Hari Anak Sholeh

“Macet…” Satu kata yang sederhana namun penuh makna.
Bujug dah, penuh makna ? Emang ntu macet berkesan banget buat lo Mat ?

Sumpah berkesan banget macet kali ini. Gimana kaga, semenjak ane hijrah dan ninggalin kantor lama di Pulo gadung belom pernah terjebak macet nyang lumayan parah. Paling banter juga 10 – 30 menit kejebak , setelah itu bisa keluar dan melenggang menuju kantor. Itu juga paling pas didepan pintu masuk menuju kawasan industry, maklum pintu menuju kawasan adalah tembok pembatas kawasan yang dijebol dan dijadiin akses warga sekitar biar lebih deket menuju kawasan.

Kaga napa-napa dah, ketimbang kudu muter nyari gerbang kawasan nyang lebih dari 15 menit. Ntu juga klo perempatannya belon di blokir ama si babeh polisi. Maklum biasanya di Cikarang, klo pas pagi-pagi jalannya dijadiin 1 arah doang. Padahal ntu jalan udah 2 lajur dan dipisah jadi total ada 4 lajur. Tetep aja macet nya naudzubillah. Kali ini juga kaga kalah seru, mungkin masih kalah seru ama macet pas mau liburan ke Pantai Pakis dulu. Tapi tetep aja, menarik buat di ceritain.

Pagi itu di hari jum’at (hari anak sholeh) nyang kudunya kaga boleh begawe capek-capek, eh akhirnya malah lebih capek karena nahan ambek kena macet. Gimana kaga, pas keluar pertigaan kali malang, jalan masih kosong melongpong. Meski motor tua, si Smash cukup mumpuni buat di geber ampe 90 km/jam. Baru aja beberapa ratus meter ngerasain umur 17an, eh di depan jembatan prisdo udah numpuk kendaraan. Ketimbang kudu parah-parahan macet, mendingan puter balik aja lewat jembatan penyebrangan kawasan. Alhasil, ane puter balik ke arah PT. Indofood di kampung Jarakosta. Belom nyampe ntu jalan, eh udah mulain ngerayap lagi.

Parahnya lagi 2 menit kemudian, kagak gerak sama sekali ! Bujug dah, kudu pegimane…?
Ah, kali aje cuman bentaran doang. Sabar, orang sabar mah pan*atnya lebar… :mrgreen:

Matiin Mesin Dan Menunggu

Matiin Mesin Dan Menunggu

Bukannya jalan lagi, eh malah makin parah macetnya. Dari pada ngebiarin mesin motor yang terus nyala, mending ambil inisiatif mati’in mesin dan nunjang motor. Aman deh, selain menghemat energi bisa juga ngurangin polusi kota kelahiran ane. Alhasil, beberapa orang ikutan mati’in mesin motornya. Lumayan khan, klo di itung ada berapa liter tuh bahan bakar yang bisa di irit. Kesel mah udah pasti, tapi apa mau di kata. Mending nikmatin dan syukurin aja, sambil nunggu bisa kembali jalan menuju kantor.

Jauh Ke Depan

Jauh Ke Depan

Udah lewat hampir setengah jam, masih belon juga ada perubahan berarti. Meskipun di kantor gak pake absen, tetep aja klo udah telat mah kaga enak sama nyang laen. Ane inisiatif nelpon ibu HRD, buat ngabarin klo kena macet parah. Alih-alih mau minta izin, eh ternyata dia juga belon nyampe kantor. Ane lupa, klo rumah si ibu di belakang rumah ane dan pasti lewat nya jalan nyang sama juga. Et dah, jadi makin ruwet aja nih persoalan. Tapi gak apa-apalah, nyang penting udah kasih laporan, biar telat beberapa jam juga nantinya gak jadi kesalahan  kita. Bagaimana pun juga komunikasi itu sangat penting, meski kondisinya pahit sekalipun.

Pelan-pelan motor kembali bergerak, mungkin di depan udah pada kosong. Ane nyalain motor dan nyari jalan tikus, dengan arepan bisa keluar dari macet. Alhamdulillah, ane masih inget kampung ini. Meski lama tinggal di Kalimantan, ane masih faham seluk beluknya jalanan di sini. Ane putusin ambil ke kiri pas di depan indofood, dengan arepan bisa nyebrang kali trus masuk kawasan. Agak lengang sih gang nya, mungkin sebagian orang dah pada pergi kerja atau mungkin belom bisa balik karena kejebak macet nyang katanya dari jam 4 shubuh, padahal ini udah ampir jam 10 siang. Secepat kilat ane bawa motor, biar cepet-cepet sampe penyebrangan getek. Eh pas nyampe pinggir penyebrangan, ntu getek udah di angkat di atas tanggul. Bujug dah, ini mungkin gara-garanya. Akibat gak bisa nyebrang perahu, semua orang pada lewat jalur biasa.

Jauh Ke Depan

Jauh Ke Depan

~RTM
22-04-16

Budaya di Kantor Baru

Assalamualaikum wr.wb…
Apa kabar sahabat-sahabatku?
Semoga semuanya dalam lindungan Allah SWT dan tetap semangat beraktifitas di pagi ini.

Setelah hampir sebulan tak menulis di sini, akhirnya pagi ini saya coba lagi untuk menulis meski hanya sebatas menulis tentang pekerjaan yang baru saya lakoni ini. Bukannya tidak ingin menulis, akan tetapi kondisi pekerjaan yang tidak memungkinkan saya untuk aktif menulis setiap hari. Bagaimana tidak meski pekerjaan yang sekarang dekat dengan tempat tinggal, akan tetapi tetap saja saya harus bekerja jauh dari lokasi kantor. Alasannya karena lokasi project yang sedang berjalan ada di daerah Karawang dan Pulo Gadung, sehingga tetap saja mengharuskan saya untuk pulang larut malam.

Padahal kondisi kantor saat ini cukup kondusif. Koneksi internet yang full akses, serta jumlah karyawan yang hanya 9 orang saja membuat kondisi kantor seperti rumah sendiri. Apalagi rata-rata usia mereka seumuran dengan saya, sehingga semakin menambah semangat untuk bekerja. Belum lagi tradisi yang ada di kantor ini, membuat siapapun yang ikut bergabung di perusahaan ini pastinya akan berpikir beberapa kali untuk resign.

Ya, meski perusahaan ini hanya perusahaan keluarga dan jumlah total karyawannya hanya 60 orang termasuk di negeri Jepang sana, akan tetapi perusahaan ini adalah salah satu vendor perusahaan besar yaitu Yamaha Music dan Yamaha Motor. Alhasil, dengan karyawan yang sedikit kami harus mensupport semua pekerjaan Yamaha diseluruh dunia. Bisa dibayangkan, betapa sibuknya kami setiap harinya.

Meski demikian, perhatian sang pemilik perusahaan adalah kunci mengapa para karyawan betah untuk bekerja hingga pensiun di perusahaan ini. Bos, selalu menanyakan kabar kami setiap hari dan selalu minta maaf jika kami pulang larut malam ketika meeting pagi. Rutinitas tersebut yang menjadi alasan karena para pekerja selalu diperhatikan. Ya, kami bekerja untuk kami sendiri. Jika perusahaan sibuk dan kami lelah maka itu berbanding dengan penghasilan yang kami dapat setiap bulannya.

Sebagai karyawan baru, tentunya saya tidak mengharapkan mendapatkan sesuatu seperti karyawan lama. Tapi pemikiran saya ternyata salah, baru masuk beberapa hari saja saya dipanggil si bos untuk menghadap. Saya pikir itu hal yang wajar karena si bos ingin mengenal karyawan barunya, tetapi setelah selesai saya diberi amplop kecil dan 1 bungkus coklat kecil sebagai hadiah pertemanan katanya. Penasaran dengan isi amplopnya, setelah pulang kerja saya buka saja dengan disaksikan istri, anak dan orang tua saya. Dan ternyata, isinya adalah uang sebesar 10.000 Yen. Alhamdulillah rejeki anak soleh 😀 . Maklum tabungan sudah menipis setelah membangun rumah.

10.000 Yen

10.000 Yen

10.000 Yen

10.000 Yen

Itu terjadi ketika saya baru bekerja 2 hari dan selanjutnya ketika saya sudah bekerja selama hampir 2 minggu, ternyata ada kejutan dari si bos untuk saya. Ya, tiba-tiba saja ada uang masuk ke rekening saya sebanyak 2 juta rupiah. Setelah saya cek email, ternyata spesial bonus dari si bos lagi. Wow, royal betul perusahaan ini apalagi saya juga belum memberikan kontribusi apa-apa perusahaan. Setelah saya telusuri ternyata, hal ini adalah budaya mereka untuk hasil kerja keras saya karena pulang malam setiap harinya. Dan ini ternyata berlaku untuk semua karyawan loh. Semuanya mendapat jatah yang sama dari si bos, sungguh sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya.

Begitulah pengalaman saya bekerja di tempat yang baru ini, semoga saya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan dan saya bisa mengemban amanah untuk bekerja sebaik mungkin. Dan tetap, saya masih menunggu kejutan-kejutan yang lainnya…. :mrgreen:

~RTM
29-12-2015

Menikmati Hari Terakhir Di Kantor

Ilustrasi

Ilustrasi

Hari ini, Jum’at 13 november 2015 adalah hari terakhir saya bekerja di kantor. Setelah hampir 5 tahun lebih  mengais rezeki di sana, kini saatnya saya harus mengucapkan kata selamat tinggal. Selama hampir 5 tahun saya merasakan hiruk pikuk dunia pertambangan di negeri tercinta. Keluar masuk pedalaman hutan Kalimantan, menyusuri jalan provinsi yang tak ada ujungnya dari Makasar hingga Malili di Sulawesi, melihat dan merasakan curamnya kelokan di tanah Sumatera, menikmati garis pantai yang tak ada habisnya dari Lombok sampai Sumbawa, hingga akhirnya saya harus kembali berbasah ria menikmati kemacetan di kota Jakarta.

Begitu banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan, dari indahnya persahabatan dan rasa persaudaraan sesama pekerja tambang hingga hidup bersama di dalam mess perusahaan bersama-sama. Semuanya bagaikan sebuah mimpi yang tak berujung. Hingga tiba saatnya, kini saya harus melepaskan zona nyaman yang sudah saya jalani hampir 5 tahun ke belakang.

Meski harus sedikit tarik ulur dengan atasan karena saya menolak untuk di mutasi kembali ke kota Samarinda, akhirnya saya memilih untuk mengundurkan diri saja dengan pertimbangan studi saya yang mengharuskan saya tetap tinggal di Jakarta. Gayung pun bersambut, selepas saya nyatakan mengundurkan diri ternyata seorang teman lama mengajak untuk bergabung diperusahaan tempat dia bekerja. Dan Alhamdulillah, setelah melewati proses interview yang cukup panjang, akhirnya saya lolos dan diterima bekerja di sana.

Saya pun merasa tak percaya, bagaimana bisa saya melepaskan zona nyaman ini untuk yang kedua kalinya. Bagaimana tidak, kedua perusahaan saya sebelumnya memiliki peraturan yang sangat longgar. Bahkan semuanya hampir di fasilitasi, mulai ruang kantor yang terletak di sudut bangunan hingga koneksi internet yang cukup lancar. Untuk urusan keluar kantor pun bisa dibilang cukup mudah, karena saya tak perlu meminta izin atasan untuk melakukannya. Cukup memberitahukan teman saja, dan urusan jadi lancar. Begitupun untuk pressure pekerjaan, rasanya hanya kadang-kadang saja dirasakan. Apalagi atasan selalu menekankan jika kami ini adalah orang yang berpengalaman dan tidak perlu di guide. Jadi yang penting pekerjaan selesai sesuai target dan tidak ada complaint dari customer itu sudah cukup membuktikan bahwa saya sudah bekerja dengan baik.

Hal-hal di atas bisa jadi tidak bisa saya dapatkan lagi di kantor baru lagi, karena situasinya sangat berbeda. Meski sebenarnya tipe pekerjaannya adalah sama, yang mengharuskan saya untuk bekerja di kantor dan di lapangan. Meskipun demikian, saya tetap bersemangat untuk melakoni pekerjaan baru di samping menyelesaikan tugas saya sebagai seorang mahasiswa.
Ya, semoga saja kali ini saya bisa survive dan fight dengan pekerjaan baru ini karena lokasinya cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Bissmillah…
~RTM
13-11-2015

Baju Pangsi Betawi

Rasanya kembali ke tahun 1800an saat pertama kali keluar memakai pakaian pangsi ini. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya memakai baju pangsi. Dulu ketika baru umur 15 tahun saat belajar ilmu beladiri pencak silat, setiap hendak latihan saya pasti mengenakan baju pangsi ini. Mungkin sudah lebih dari 20 tahun saya tidak menggunakannya, jadi wajar saja agak canggung saat mengenakannya kembali. Sebenarnya baju pangsi ini cocok sekali untuk digunakan sehari-hari, hanya saja karena harga nya cukup menguras kantong maka baju ini jarang digunakan sehari-hari. Alhasil baju adat ini hanya digunakan disaat-saat tertentu seperti acara 17 agustusan kemarin.

Bersama KPA RANTING

Bersama KPA RANTING

Sebenarnya masih banyak pakaian adat di Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan nilai pengetahuan yang penting. Salah satu dari banyak pakaian adat di Indonesia yang memiliki makna sejarah, representasi sebuah komunitas pada zamannya dan kemajuan sebuah peradaban adalah pakaian adat Betawi. Betawi adalah suku yang berada di DKI Jakarta dan sekitarnya di daerah provinsi Jawa Barat dan Banten. Karena kebetulan saya lahir di Bekasi, tak ada salahnya kali ini saya akan mencoba menggunakan baju jawara hasil hunting di toko online kemarin 😀

Mengawal Sepeda Hias

Mengawal Sepeda Hias

Keberadaan masyarakat Betawi Bekasi merupakan proses panjang dari pembauran masyarakat di Bekasi sehingga lahir kebudayaan Betawi Bekasi. Bekasi adalah kota industri, dimana banyak saudagar-saudagar dari luar seperti Arab, Portugis, Cina, Arab yang berdagang di Jakarta. Masyarakat luar Jakarta juga banyak yang berdagang di Jakarta seperti Bali, Madura, Jawa, Sunda. Keberadaan mereka yang secara langsung bersentuhan menciptakan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Betawi. Salah satu kebudayaan Betawi itu adalah mengenai pakaian adat Betawi. Eits jangan salah, untuk bahasa Betawi Bekasi juga ternyata berbeda dengan bahasa Betawi Jakarta seperti yang pernah saya bahas ditulisan saya yang terdahulu.

Centeng Panggung

Centeng Panggung

Pakaian adat Betawi banyak dipengaruhi oleh berbagai negara lain. Hal itu dikarenakan Betawi adalah pencampuran budaya dari berbagai negara. Ada beberapa macam pakaian Betawi yang ada saat ini diantaranya adalah pakaian adat Betawi sehari-hari untuk laki laki adalah baju Koko atau disebut Sadariah. Baju Koko Betawi berwarna polos, memakai celana batik berwarna putih atau hitam, memakai selendang yang dipakai dipundak dan peci hitam sebagai identitas Kebetawian. Pakaian adat untuk perempuan yang dipakai sehari-hari yaitu baju kurung berlengan pendek, kain sarung batik, kerudung.

Selain itu, ada juga pakaian adat untuk pengantin laki-laki masyarakat Betawi yang dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, Melayu dan Cina yaitu Dandanan care haji. Pakaian ini adalah jubah dan tutup kepala dan diadaptasi dari pakaian haji. Jubah terbuat dari bahan beludru sedangkan tutup kepala terbuat dari sorban yang disebut juga alpie. Untuk pakaian pengatin perempuan di Betawi disebut rias besar dandanan care none pengantin cine. Pakaian ini juga sedikitnya mirip dengan pakaian pengantin perempuan di Cina. Pakaian pengantin yang dipakai oleh kalangan bangsawan di Cina.

Bahan pakaian pengantin perempuan rias besar dandanan care none pengantin cine adalah baju yang dikenakan blus, bawahannya adalah rok berwarna gelap. Pelengkap pakaian ini adalah bagian kepala dirias dengan tambahan kembang goyang dengan motif hong dengan sanggul palsu dan cadar sebagai penutup setengah wajah. Selain itu perhiasan juga menjadi asesoris pakaian pengantin perempuan seperti manik-manik dan gelang.

Ayo lestarikan budaya BEKASI… !!!

Sumber : Disini

~RTM
01-09-2015

Setan Kopi Luwak Gegerkan Warga Bekasi

Setan Kopi Luwak

Setan Kopi Luwak Sumber

Beberapa hari belakangan ini masyarakat Bekasi digegerkan dengan fenomena bau kopi. Menurut pengakuan sejumlah warga Bekasi, dibeberapa kelurahan, bau kopi tersebut datang setiap tengah malam di dua hari belakangan ini. Boleh percaya boleh tidak, boleh disebut mengada-ada atau tidak, isu soal aroma kopi misterius di Bekasi ini ramai di media sosial dan di forum internet. Aroma kopi ini baru tercium beberapa pekan ini. Warga di kecamatan Tambun dan Cikarang yang sudah mencium aroma kopi ini. Biasanya aroma kopi ini muncul sejak pukul 22.00 WIB hingga dini hari.

Pastinya, isu ini sudah berkembang di masyarakat. Bumbu-bumbu cerita juga muncul. Maklum saja, isu muncul dan tak pernah ada penjelasan, akhirnya jadi gosip dan cerita-cerita liar. Akhirnya sampailah ke isu setan kopi. Soal aroma kopi di tengah malam ini juga ramai dibincangkan di radio komunitas dan HT warga Bekasi saat malam. Seperti dituturkan Iwan, petugas Pokdar Kamtibmas di Tambun setiap malam di HT pembahasan setan kopi selalu saja ada. Entah dari mana dan siapa yang mengaitkan aroma kopi dengan setan. Astagfirullah….

Sebenarnya semenjak pulang dari Balikpapan seminggu kemarin, dan melakukan ritual begadang bersama komunitas pecinta alam RANTING saya pun mencium aroma yang sangat menyengat dari kopi luwak. Tanpa pikir panjang saya dan kawan-kawan tidak pernah menggubris aroma kopi luwak ini. Maklum saya sudah terbiasa dengan bau harum makanan karena letak kampung saya dekat dengan beberapa lokasi pabrik makanan. Apalagi dulu ketika bekerja di kawasan MM2100 Cibitung, aroma makanan selalu tercium ketika jam-jam tertentu. Tentu semua itu tak ada hubungannya dengan keberadaan mahluk halus atau apalah yang sekarang sedang terjadi dibeberapa tempat di Bekasi.

Geli juga melihat beberapa tulisan dan komentar para netizen yang selalu mengaitkan hal-hal ini dengan mahluk halus. Padahal jika mereka sedikit mau berusaha untuk datang ke kawasan industri, tentunya aroma kopi, aroma biscuit, aroma mie dan permen pasti akan mereka temukan dengan mudah. Dibeberapa kawasan seperti MM2100 ada beberapa perusahaan makanan, di kawasan industri Jababeka ada perusahaan pembuat ekstrak makanan dan jamu, di kawasan EJIP dan Delta Silicon ada perusahaan makanan dan obat yang bisa saja mengeluarkan limbah yang mencemari udara dengan aroma kopi ketika mereka sedang beroperasi.

Masyaallah, bukan tidak percaya tentang keberadaan hal gaib dan mahluk halus. Akan tetapi hanya sekedar mengingatkan bahwa alasan realistis tentang keberadaan aroma kopi luwak di kampung saya adalah mungkin karena proses produksi dari pemrosesan makanan beberapa perusahaan makanan di kawasan industri di Bekasi.

……. والله أعلمُ بالـصـواب

~RTM
05-06-2015

Panjat Pinang Atau Panjat Pisang ?

Sejarah permainan Panjat pinang menurut wikipedia berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Para peserta yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa.

Panjat Pisang

Panjat Pisang

Prosesi panjat pinang ini juga memang cukup populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Ini dapat dimengerti dari kondisi geografis dikawasan itu yang beriklim sub-tropis, yang masih memungkinkan pinang atau kelapa tumbuh dan hidup. Perayaan ini tercatat pertama kali pada masa dinasti Ming. Lumrah disebut sebagai “qiang-gu”. Namun pada masa dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktekkan lagi di beberapa tempat di Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Panjat pinang masih dijadikan satu permainan tradisi di berbagai lokasi di Taiwan. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun bedanya tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi pohon pinang, namun telah berevolusi menjadi satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana.

Panjat pinang merupakan permainan beregu yang memerlukan kekompakan dari setiap peserta untuk dapat menggapai puncak dan memperoleh hadiah. Dalam regu tersebut biasanya ada pembagian tugas dari masing-masing peserta tergantung pada karakter peserta tersebut. Misalnya yang berbadaan besar akan berada paling bawah memanggul yang badannya lebih kecil dan seterusnya agar beban tidak terlalu berat. Hal ini dilakukan karena ketidakmungkinan jika pohon pinang tersebut dipanjat seorang diri, yang ada hanya akan terjatuh karena licinnya pelumas yang dioleskan. Kekompakan dan kerja sama dari regu ini yang menjadi modal utama keberhasilan menggapai puncaknya.

Tapi apa jadinya jika tradisi panjat pinang ini diubah menjadi panjat pisang ?

Ya, beberapa bulan kemarin kami coba melakukan hal tersebut di tanah kelahiran kami di Cikarang. Pohon pinang yang biasa digunakan untuk acara tersebut kami ganti dengan sebatang pohon pisang batu yang lumayan cukup tinggi mengingat peserta yang akan mengikuti perlombaan adalah anak-anak kecil yang berusia dibawah 12 tahun. Oli dan minyak pelumas yang biasa digunakan sebagai pelicin batang pun kami ganti dengan minyak kelapa dan margarine yang ternyata memberikan efek yang sama pada batang pohon pisang tersebut.

Persiapan

Persiapan

Belum lagi semprotan air yang dilakukan oleh panitia yang pastinya menambah kesulitan bagi para peserta. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus bersusah payah untuk sampai dipuncak untuk mendapatkan hadiah. Mereka bahu membahu dan terlihat sangat kompak bekerja sama untuk bisa sampai di atas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berulang kali anak-anak tersebut berusaha untuk sampai dipuncak, tetap saja mereka kembali runtuh kebawah akibat licinnya batang pisang yang telah diolesi margarine tersebut. Bukan hanya sekali, mungkin sudah puluhan kali mereka berusaha akan tetapi tetap saja masih belum berhasil untuk menggapai puncak. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa naik lebih tinggi seperti dengan membuat susunan manusia dan berdiri diatas pundak masing-masing peserta. Ada juga yang berusaha dengan cara pelan tapi pasti merangkul batang pisang tersebut dengan sekuat tenaga, kemudian peserta lainnya mendorong dari bawah sehingga lapisan mantega yang licin perlahan akan hilang. Begitulah, semangat para peserta yang dengan sekuat tenaga untuk bisa menggapai puncak.

Antri menanti hadiah

Antri menanti hadiah

Dari cara bermain yang seperti itu tentunya mengandung sebuah nilai pembelajaran yang dapat kita ambil. Untuk mencapai sebuah keberhasilan hidup tentunya melewati berbagai macam rintangan dan halangan yang kadang membuat kita terjatuh. Kejatuhan tersebut tentunya akan sangat menyakitkan jika dirasakan seorang diri. Namun, jika dalam menjalani kehidupan untuk menggapai kesuksesan dilakukan bersama-sama saling bahu membahu maka ketika salah satu terjatuh akan banyak tangan yang siap membantunya kembali bangkit dan ikut berjuang kembali.

Panitia pun letih

Panitia pun letih

Selain itu, sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan mungkin mampu hidup sendiri. Sekecil apapun pasti memerlukan bantuan orang lain. Dari hal ini maka sebagai manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa sudah sepatutnya kita untuk hidup rukun berdampingan satu sama lain agar kehidupan menjadi kondusif, aman dan tenteram sehingga akan mudah menggapai kesejahteraan bersama. Jadi, mengenai panjat pinang apakah pantas terus dilestarikan atau tidak itu tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Jika mengungkit sejarahnya tentu ini merupakan pelecehan yang dilestarikan, namun jika dipandang dari filosofisnya tentunya tradisi panjat pinang tetap memiliki makna yang bagus yang bukan sekedar meramaikan semarak kemerdekaan atau acara tertentu seperti lebaran dan hajatan saja.

Semoga saja…

Sumber :
1. Sini
2. Sini

~RTM
14-04-2015

Bersih Kampung Bersama KPA RANTING Jilid 1

Ini dia, salah satu terobosan kreatif dilakukan oleh para penggiat olahraga alam terbuka KPA RANTING Cikarang Barat. Meski bisa dibilang kehidupan organisasinya saat ini hidup segan mati tak mau, tetapi ada sekelompok kecil anggota yang tetap eksis menjalankan roda organisasi tersebut. Di awali kegiatan nongkrong bareng sehabis menunaikan kerja selama 1 hari penuh di Saung RANTING, akhirnya tercetuslah sebuah ide gila dari kawan-kawan yaitu dengan menggelar acara “Bersih-bersih kampung halaman”.

Banner Bersih Kampung

Banner Bersih Kampung

Sebenarnya dalam hati ane sendiri menolak ide gila kawan-kawan ini. Bagaimana tidak, kampung halaman ane di Telaga Murni luasnya dari ujung Cikarang Barat sampai ujung Cibitung. Nah lo, gimana ditempat sekarang ane tinggal ini katanya luasnya lebih gede dari kampung halaman ane. Mulai dari pinggir kali Cikarang dekat terminal Cikarang, kemudian nyambung hingga kali CBL (Cikarang Bekasi Laut). Mana 75% lahannya udah jadi tempat tinggal lagi. Makin krodit aja nich, bisa-bisa kita keurugan sampah pikir ane. Tapi meski kurang setuju, untuk kali ini ane tetap diam dan gak mau menurunkan semangat mereka. Yang pasti apapun itu, kalau untuk kebaikan mah insha Allah ane akan dukung hingga titik darah penghabisan.

Ya… meski keinginan untuk tetap menggapai puncak-puncak tertinggi di bumi nusantara ini masih tetap menggebu-gebu, akan tetapi jika melihat kondisi cuaca yang begitu tidak bersahabat belakang ini rasanya tidak mungkin untuk melakukan pendakian. Mengingat beberapa bulan terakhir banyak sahabat kita dari kelompok pecinta alam lain yang hilang dan tersesat ketika mendaki, atau bahkan ada yang sampai meninggal semakin memantapkan hati ini untuk tidak akan melakukan pendakian hingga cuaca benar-benar bersahabat. Bukannya ciut nyali, akan tetapi alam bukan untuk ditaklukan akan tetapi untuk disiasati. Jadi tetap “SAFETY FIRST…!!!” dalam sebuah pendakian.

Ketimbang nongkrong gak karuan, lebih baik kami melakukan hal kecil bagi nusantara, terutama untuk kampung halaman dan lingkungan tempat tinggal. Meski sedikit perbuatan, hal tersebut akan jauh lebih baik dari pada diam menekur diri. Mengingat musim penghujan di Cikarang sudah semakin intens dan entah kapan akan berhentinya, tak ada salahnya kali ini kami lakukan sebuah langkah kecil untuk membersihkan sampah dan kotoran yang menjadi penghambat jalannya air di selokan.

Para Pelaku Utama

Para Pelaku Utama

Istirahat

Istirahat

Mulai Beraksi Lagi

Mulai Beraksi Lagi

Sampah memang menjadi momok menakutkan, karena dengan menumpuknya sampah akan banyak bahaya yang ditimbulkan olehnya. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut: Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal darisampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga menyebar(misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.

Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalamkonsentrasi tinggi dapat meledak. Dampak terhadap keadaan social dan ekonomi -Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana. Memberikan dampak negatif terhadap kenyamanan tempat tinggal. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat.

Terkadang manusia tidak menyadari bahwa membuang sampah apakah membuang sampah tidak pada tempat yang telah disediakan akan mengakibatkan dampak yang cukup signifikan. Oleh karena hal itulah, maka sampah harus di buang pada tempatnya. Karena itu merupakan jalan yang terbaik untuk kehidupan manusia.

Tumpukan Sampah

Tumpukan Sampah 😥

Dengan berbekal peralatan tempur yang seadanya, kami berangkat untuk membersihkan satu titik didepan kampung tercinta yang kami kira cukup parah kondisinya. Selain itu, pada tempat tersebut ada sebuah persimpangan saluran air yang cukup besar. Jika kondisi hujan cukup deras, potensi banjir pada lokasi tersebut sering kali terjadi. Untuk itulah kami fokuskan pada lokasi tersebut, baru kemudian selanjutnya akan kami lanjutkan menuju saluran air dan jalanan hingga ke ujung kampung.

Setelah

Setelah

Sesudah Bekam

Sesudah Bekam

Akhirnya Makan :mrgreen:

Akhirnya Makan :mrgreen:

Bersambung…

~RTM
11-12-2014