Buah Huni, Si Kecil Dengan Sejuta Manfaat

Buah huni

Buah huni

Barangkali, hanya sedikit orang saja yang mengetahui dan mengenal buah yang satu ini. Apalagi saat sekarang ini, pohonnya sudah sangat jarang ditemukan. Apalagi di daerah saya, yang sekarang sudah menjadi kota industri. Tinggi dari pohon ini bisa mencapai sekitar 15-30 m. Pohon huni ini dahulunya banyak tumbuh di daerah saya dan banyak tersebar di kawasan Asia Tenggara, Australia. Akan tetapi karena populasi penduduk yang semakin meningkat, akhirnya lama kelamaan tanaman ini mulai punah seperti sahabatnya yaitu pohon kecapi. Di dataran Jawa, tanaman ini bisa ditemukan di hutan-hutan dengan ketinggian maksimal 1.400 meter di atas permukaan air laut (dpl).

Buni atau Huni (Antidesma bunius (L.) Spreng.) adalah pohon penghasil buah yang dapat dimakan. Buah buni kecil-kecil berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai (ranti). Huni termasuk tumbuhan yang sudah jarang dijumpai di pekarangan. Buahnya dapat dimakan sebagai buah meja, dibuat selai, atau difermentasi menjadi minuman alkohol di Filipina dan Jawa. Nama-nama lainnya: Boni, huni (Sunda), wuni (Jawa), bignai (Filipina).

Pohon huni diduga berasal dari kaki pegunungan Himalaya di India, C dan Asia Tenggara (di luar kawasan Melayu), Filipina, dan timur Australia, Secara taksonomi termasuk bangsa Euphorbiales, suku Euphorbiaceae. Itu berarti buni masih sekerabat dengan tanaman hias Euphorbia milli. Sinonim: Antidesma andamanicum, Antidesma ciliatum, Antidesma collettii, Antidesma cordifolium, Antidesma crassifolium, Antidesma floribundum, Antidesma glabrum, Antidesma rumphii, Antidesma stilago, Antidesma sylvestrt Antidesma thoreiianum, Sapium crassifolium, dan Stilago bunius.

Batang huni mengandung alkaloid toksik. Daun mengandung terpenoid, tanin, glikosida, saponin, dan antrakuinon. Bagian korteks mengandung alkaloid, terpenoid, tanin, glikosida, dan saponin. Penelitian mengkaji asam organik yang terkandung pada kultivar buah matang buni yang terdapat pada hutan primer dipterocarp di Lembah Phupan, Sakon Nakhon, timur laut Thailand menunjukkan terdapat dua kelompok asam organik yaitu mayor dan minor. Kelompok mayor terdiri dari asamtartarat (7,97-12,16 mg/g bobot segar), asam askorbat (10,01-16,55 mg/g bobot segar), asam sitrat (4,44-11,73 mg/g bobot segar), dan asam benzoat (8,13-17,43 mg/g bobot segar). Sedangkan kelompok minor terdiri dari asam malat (3,05-4,52 mg/g bobot segar), asam laktat (1,12-4,09 mg/g bobot segar), asam oksalat (1,00— 1,45 mg/g bobot segar), dan asam asetat (0,19-0,69 mg/g bobot segar).

Ada beberapa kultivar yang tumbuh di tempat itu. Kultivar khumlhai memiliki asam askorbat tertinggi diikuti kultivar lompat, phuchong, sangkrow 2, dan maelookdog. Kultivar sangkrow 2 dan phuchong memiliki rasio asam tartarat dan malattertinggi. Kandungan total bagian padat terlarut (total soluble solid, TSS, %) tertinggi ada pada kultivar sangkrow 5 sedangkan total asam organik (total organlc acids, TOA) tertinggi terdapat pada kultivar phuchong. Rasio TSS:TOA tertinggi terdapat pada kultivar sangkrow 2. Kultivar sangkrow 2 dan 3 memiliki persentase jus tertinggi diikuti kultivar fapratan dan lompat.

Buah huni adalah tipe buah berdaging yang paling umum ditemui dan dagingnya banyak yang bisa dimakan. Buah tumbuhan huni merupakan tipe dasar, tetapi banyak buah populer lainnya yang merupakan tipe ini, seperti buah anggur, buah tering-terungan (terung, tomat, cabai), buah jambu-jambuan (jambu air, jambu biji), dan buah kakao.

Daun tanaman ini berbentuk tunggal seperti mangga, memiliki tangkai yang pendek, dan berbentuk seperti telur yang lonjong. Panjang daunnya antara 9-25 cm, bagian tepiannya agak bergelombang, dan ujungnya meruncing. Daun mudanya berwarna hijau muda dan ketika sudah tua berubah menjadi hijau tua. Tanaman ini berbunga dalam tandan, keluarnya dari ketiak atau pada bagian ujung percabangannya.

Buahnya berbentuk kecil, elips, dan berwarna hijau. Ketika sudah masak, warna buah akan berubah menjadi ungu kehitaman dengan rasa yang manis dan sedikit asam. Anda yang suka lalapan juga dapat mengonsumsi daunnya yang masih muda. Selain itu, daun tanaman Buni juga bisa digunakan untuk campuran jamu.

Sedangkan, buahnya yang masih muda dapat dibuat untuk rujak. Buah huni yang sudah matang bisa langsung dimakan atau dibuat selai.  Warna ungu kehitaman pada buah Buni yang sudah matang menunjukkan tingginya kadar antosianin dalam buah ini. Keberadaan senyawa aktif ini dinilai penting dalam tubuh, terutama untuk kesehatan pembuluh darah Anda, dimana antosianin bekerja dengan cara mengoksidasi kadar LDL (lemak jahat) dalam tubuh. Tentu saja, penyakit-penyakit seperti darah tinggi, aterosklerosis, dan resiko yang mengintai jantung Anda dapat diatasi dengan keberadaan senyawa ini dalam tubuh.

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Rujak huni from twiter @Putrapakidulan

Jadi, bagi anda yang menderita penyakit darah tinggi dapat mengonsumsi buah huni untuk mengatasinya. Caranya sangat sederhana yakni dengan menyiapkan buah Buni yang telah matang sekitar 20-30 buah. Kemudian, cuci bersih dan buanglah bagian bijinya. Lalu, makanlah daging buahnya. Lakukan hal tersebut sebanyak 2 sampai 3 kali dalam sehari. Setelah itu, minumlah air hangat untuk menetralisir rasa sepat yang dirasakan setelah mengonsumsi huni.

Sumber :
1. Sini

~RTM
26-12-2016

Air itu Milik Siapa ?

Ingat pas waktu ikutan Pendidikan Dasar di organisasi Perhimpunan Penjelah Hutan Dan Pendaki Gunung (KPA RANTING) dulu, ketika itu diberitahu bahwa manusia dapat bertahan tanpa makan dalam waktu lebih dari seminggu. Akan tetapi, manusia tidak akan dapat bertahan hidup tanpa air dalam waktu beberapa hari saja. Bisa dibayangkan, betapa bergunanya air untuk kehidupan kita. Alhasil, setelah mengikuti pendidikan saya jadi lebih menghargai fungsi air. Tentunya pada saat melakukan aktivitas mendaki gunung, saya jadi lebih berhati-hati dalam mengatur pemakaian air untuk minum karena pada beberapa gunung di Indonesia banyak yang tidak terdapat air pada jalur pendakian.

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar dan bagian dari hak asasi manusia dan merupakan salah satu komoditi yang sangat-sangat vital. Pengelolaan SDA yang terlalu bersandar pada nilai ekonomi air hanya merayakan kepentingan pemilik modal dan melalaikan fungsi sosial SDA. Negara wajib menjamin warganya untuk menikmati parameter tertinggi dalam pemenuhan hak-hak atas kesehatan secara fisik dan mental. Pengelolaan sumber daya air harus diutamakan untuk kemakmuran rakyat.

Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyebutkan, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal ini merupakan salah satu prinsip mendasar bagaimana seharusnya sumber daya dikelola. Karena itu pasal-pasal yang membuka peluang pengelolaan air oleh swasta bertentangan dengan UUD 1945.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat, selama ini perusahaan swasta telah melakukan pembelian atas tanah di mana di dalamnya terdapat mata air yang kemudian diperjualbelikan. Di sejumlah tempat kasat mata terlihat pengelolaan sumber daya air (SDA) diserahkan pada sistem ekonomi liberal yang memungkinkan privatisasi pengelolaan air. Direktur Program Prisma Resource Centre, Suhadi Suryadi menjelaskan, 32,2% penduduk Indonesia belum mempunyai akses air bersih. Umumnya mereka mendapat air dari sungai yang terpolusi, air tanah yang terkontaminasi, atau membeli dengan harga mahal dari pedagang air.

Penswastaan air bersih ini terjadi berkat campur tangan dari Bank Dunia. Menurutnya, ketersediaan air secara murah dan gratis sangat tidak ekonomis dan tidak efisien. Karena itu masyarakat harus membayar atas air yang digunakan. Dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid VI yang sudah diliris, Kamis (5/11), pemerintah Joko Widodo akan memperketat aturan bisnis berbasis sumber daya air (SDA). Disusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengusahaan SDA dan RPP tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Semoga saja dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mencabut Undang-Undang (UU) No.7 Tahun 2004 tentang SDA, menjadi dasar untuk mengakhiri liberalisasi pengelolaan air. UU SDA telah melanggar syarat konstitusionalitas. Mengisi kekosongan hukum sebagai dampak pembatalan UU SDA, diberlakukan kembali UU No.11/1974 tentang Pengairan.

Dan semoga saja, air akan tetap menjadi milik rakyat yang tidak boleh diperjualbelikan….

Sumber : 1. sini

 

~RTM
18 04 2016

Mereduksi Kantong Plastik Sejak Dini

Sore sehabis pulang kerja, seperti biasa kami sempatkan diri untuk mampir sejenak di salah satu minimart di depan rumah untuk membeli keperluan bulanan. Beberapa keperluan bulanan seperti keperluan dapur telah bunda masukan ke dalam keranjang belanja. Tinggal mencari makanan kecil dan minuman ringan untuk keperluan semingu seperti susu untuk si kecil dan susu untuk bunda yang sedang hamil. Dengan bergerak cepat kami menyambar kedua benda tersebut, sehingga waktu kami tidak terbuang karena belum sempat melakukan shalat maghrib.

Setelah semuanya lengkap langsung bunda menuju meja kasir untuk menghitung belanjaan kami. Suasana sore itu agak padat, mungkin karena tanggal 25 dimana hampir seluruh karyawan pada hari tersebut mendapat pembayaran gaji sehingga mereka pun sama-sama membeli kebutuhan bulanan pada saat bersamaan. Satu persatu barang belanjaanku di hitung dengan teliti.

Kami Anti Kresek...

Kami Anti Kresek… Sumber


“Gak usah pake kantong mbak…!” Pinta bunda sembari tersenyum..
“Loh, tapi ini kan banyak belanjaannya bu?” Tanyanya keheranan..
“Gak apa-apa, saya pake tas ini aja…” Jawab bunda sambil melihat reaksi mereka yang di samping dan belakangku.
“Baik bu…” Meski merasa sedikit heran dengan sikap bunda

Aneh memang, beberapa orang terlihat heran dengan sikap kami. Entah apa yang ada di benak mereka melihat tingkah kami yang menolak menggunakan kantong plastik. Mungkin saja mereka berfikir, bahwa kami bertiga terlalu mengada-ngada dan sok menjadi pahlawan lingkungan. Tapi memang kebiasaan mereduksi kantong plastik sudah kami lakukan sejak tahun 2007 yang lalu, sejak umur si cantik Rinjani belum genap 1 tahun. Kebiasaan tersebut kami tularkan juga untuk si kecil, dimana setiap kali dia berbelanja kami usahakan untuk tidak membawa pulang kantong plastik atau meminta kantong plastik jika memang tidak terlalu dibutuhkan.

Bukan apa-apa jika sehari saja si kecil berbelanja 3 kali, berarti sehari ada 3 buah kantong plastik yang akan menjadi tumpukan sampah di depan rumah. Itu belum ditambah dengan si bunda dan saya, berarti jika rata-rata kami berbelanja 3 kali maka total setiap harinya kami menambah 9 buah kantong plastik yang akan menjadi tumpukan sampah. Itu baru dari keluarga kami, belum lagi dari keluarga-keluarga lain. Bisa saja dalam sehari mungkin dari 1 RT dilingkungan kami akan menghasilkan 1 truk kantong plastik yang terbuang percuma. Meski saat ini kantong plastik yang ada ramah lingkungan, akan tetapi tetap saja jika kantong plastik tersebut sudah tertumpah sesuatu seperti air atau robek, kantong plastik tersebut tidak akan bisa terpakai lagi.

Barangkali hal tersebutlah yang menjadi pemikiran kami untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik dan menggantinya dengan tas daypack sehingga apabila tas tersebut kotor maka kami akan langsung mencucinya bukan membuangnya seperti kantong plastik.

Jangan Pakai Kantong Plastik

Jangan Pakai Kantong Plastik Sumber


Meski hanya untuk keluarga kecil kami saja kebiasaan ini kami lakukan, semoga hal ini akan menjadi pembelajaran bagi si kecil agar bisa menularkan kebiasaan ini untuk keluarganya kelak. Semoga saja apa yang kami lakukan, akan memberikan sedikit kontribusi untuk sedikit mengurangi beban bumi yang sudah tua ini. Semoga saja…

~RTM
29-03-2014

Ubi Bene, Ibi Patria

Diam-diam ketika sedang sendiri di dalam kamar dalam menantikan cuti project yang ku nanti selama 3 bulan ke belakang untuk pulang kampung, aku menangis. Betapa aku sangat merindukan kampung halamanku. Kurasakan keindahan kampung halaman justru karena hidup bersama mereka yang sederhana, yang miskin yang bersyukur, yang menderita tanpa mengeluh, yang gagal tapi tetap optimis dan pantang menyerah, yang cerdas tapi tidak sombong dan dengan mereka yang suka berbagi karena rasa kemanusiaan, yang selalu ingin melihat kebahagiaan orang lain. Dengan mereka yang pandai mensyukuri nikmat Allah tinggal di negeri yang “Indonesia” ini…

“Ubi Bene, Ibi patria”… Kiranya pepatah dalam bahasa latin tersebut sangat sesuai dengan kondisi dari hampir kebanyakan orang. Pepatah latin yang dalam bahasa indonesia berarti ” Di mana seseorang merasa betah, di sana tanah airnya”, akan sangat terasa jika seseorang hidup diperantauan atau jauh dari keluarganya.

Ada beragam alasan bagi sebagian orang merantau ataupun tinggal berlama-lama jauh dari kampung halaman tercinta. Ada yang langsung betah untuk tinggal, akan tetapi pastinya akan lebih banyak orang yang merasa tidak kerasan. Sebagai keturunan tulen dari orang Betawi (Betah tinggal dalam wilayah), kiranya fenomena merantau ini sangat awam dilakukan oleh keluargaku. Malah bisa dikatakan menentang arus. Kegiatan merantau yang telah aku lakukan, mungkin lebih dari separuh usiaku kini. Berdasarkan hal tersebut, kiranya pengalaman ini akan sangat berguna bagi teman-teman yang berencana untuk melakukan perubahan nasib dengan cara merantau.

Perantau

Perantau

Secara garis besar ada beberapa alasan mengapa orang memutuskan tinggal diluar kampung halamannya, seperti :

  1. Alasan ekonomi : Karena kurang atau tidak adanya kesempatan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di kampung halaman.
  2. Alasan keluarga : Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang menikah dengan warga luar daerah atau ketika anak menginginkan orang tuanya untuk ikut tinggal dekat dengannya.
  3. Alasan pendidikan : Jika di daerahnya tidak memiliki tempat untuk memiliki pendidikan yang layak maka seseorang itu akan merantau demi cita-citanya.
  4. Alasan Konflik : Mereka biasanya mencari kehidupan yang lebih nyaman tanpa konflik.
  5. Alasan Bencana : Bagaimana bisa hidup nyaman jika tempat yang didiaminya selama ini rawan akan bencana, oleh karena itu bisanya mereka merantau.
  6. Alasan Kekuasaan : Menjadi pemimpin adalah pilihan seseorang. Mungkin pepatah “Jika ingin menjadi seorang jagoan, jadilah di kampung orang” ada benarnya juga. Karena kebanyakan para pemimpin sekarang banyak di impor dari warga tetangga sebelah.

Merantau memang sebuah pilihan hidup. Sedangkan alasan merantau adalah prinsip hidup pribadi masing-masing. Masih banyak alasan mengapa mereka merantau selain yang ku sebutkan diatas.

Dari pengalaman pribadiku, mereka yang betah tinggal berlama-lama di kampung orang (atau memang sengaja dibetah-betahkan 😀 ) di luar kampung halaman kebanyakan adalah tergolong perantau dengan alasan-alasan tersebut diatas. Faktor usia dan latar belakang keluarga juga sangat berpengaruh. Mereka yang dari usia muda terbiasa tinggal jauh dari orang tua entah sekolah keluar kota dengan tinggal di asrama akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru (contoh seperti penulis). Semakin muda seseorang akan semakin mudah untuk beradaptasi, demikian juga sebaliknya, semakin tua usia seseorang maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk beradaptasi.

Dalam hal latar belakang keluarga, mereka yang telah terbiasa hidup di tanah air dengan dikelilingi keluarga besar dan berpatisipasi dalam even-even keluarga adalah mereka yang merasa paling homesick dengan kampung halaman. Perasaan homesick bukanlah sebuah perkara ringan, dalam kasus ekstrim bahkan ada yang berujung pada perceraian. Si pria merantau ke seberang untuk mencari sebuah kehidupan yang lebih baik, setelah lumayan settle dan merasa mantap dengan karirnya dia memutuskan untuk menikah dan memboyong istrinya untuk datang menetap.

Sebuah makalah yang ditulis oleh Chris Thurber dan juga Edward Walton dalam jurnal American Academy of Pediatrics menuturkan bahwa rindu kampung halaman (homesickness) didefinisikan sebagai penderitaan atau kesengsaraan dan penurunan fungsional yang disebabkan oleh pemisahan dirinya dengan rumah atau objek-objek tertentu.”Homesick adalah suatu emosi spontan yang bisa dirasakan dampaknya oleh orang dewasa dan anak-anak, sehingga dibutuhkan periode waktu tertentu agar bisa beradaptasi dengan lingkungan baru,” ungkap Thurber. Sumber di sini.

Pada awalnya sang istri merasa senang sekali, membayangkan betapa enaknya tinggal di luar. Namun setelah beberapa bulan menetap, dia ribut minta pulang kampung. Makanan dan cuaca kurang cocok, kesepian, pekerjaan sulit didapat karena kualifikasi pendidikan, sementara suami menolak karena dengan standar gaji di kampung halaman dia merasa sulit memberi kehidupan layak untuk keluarga.

Cerita seperti ini sudah sering ku dengar berulang kali, sebenarnya sumber dari segala ketidak betahan bukanlah hanya tempat tujuan merantau saja. Hampir setiap kali keluhan yang ku dengar adalah karena mereka membanding-bandingkan kampung halaman dengan tempat tinggal barunya. Bila pulang kampung merupakan pilihan yang bisa diterima semua pihak tentu tidak ada masalah. Akan tetapi masalah akan timbul jika salah satunya tidak ada yang mau mengalah. Bisa runyam urusan jika memang kejadiannya seperti itu.

Terkadang perasaan homesick atau rindu kampung halaman memang bukanlah perkara yang mudah, tapi dengan mensiasatinya kita mungkin akan sedikit mengurangi beban tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi perasaan rindu kampung halaman adalah sebagai berikut :

  1. Aktif berkumpul atau nongkrong dengan teman senasib, seperti yang biasa aku lakukan dulu ketika masih menjadi mahasiswa di Bandung dengan berkumpul bersama di KAPEMASI (Keluarga Pelajar Mahasiswa Bekasi).
  2. Aktif melakukan kegiatan outdoor baik itu dengan kegiatan mendaki misalnya atau hanya berjalan-jalan  sejenak ke tempat kost kawan-kawan. Selain bisa membunuh waktu, lumayan khan dapat makan gratisan pula 😀
  3. Berkenalan dengan teman baru, dengan cara ini minimal anda akan sedikit melupakan kerinduan denga keluarga di rumah. Teman akan bisa jadi tempat curhat yang dapat menjadi salah satu obat kerinduan yang sempurna
  4. Jalin komunikasi dengan keluarga seperti dengan menelpon, akan tetapi komunikasi yang terlalu instensif dan sering juga terkadang akan memberikan efek yang tidak begitu baik.
  5. Warnet, Game Center, Perpustakaan, Tempat karaoke mungkin akan sedikit membantu ketika homesick asalkan tidak melampaui batas.
  6. Berdo’a dan beribadah, mungkin hal ini adalah puncak dari semuanya. Berdo’alah kepada Tuhan agar anda tetap sehat dan keluarga yg ditinggalkan pun demikian, serta tugas anda cepat selesai sehingga anda bisa kembali kerumah anda kembali.

Jika anda merasakan homesick upayakan untuk melaukan hal-hal di atas untuk mengurangi kejenuhan. Biasanya kejenuhan tersebut tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat Anda akan memperoleh hal-hal menarik lainnya dan akan terbiasa yang akan menjadikan betah untuk tinggal di tempat tersebut.

Memang tempat tinggal baru tentunya akan sangat jauh berbeda dengan tempat dimana kita dilahirkan, tetapi dengan mensiasatinya kita akan mampu bertahan dari segala penyakit kerinduan pada keluarga yang ditinggalkan. Semoga saja…

Diolah dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi.

~RTM
26-02-2014

Sampahmu Bukan Untukku…!!!

Tumpukan sampah :'(

Tumpukan sampah 😥

Kesal juga ngelihat pemandangan seperti ini, apalagi pemandangannya masih berada di dekat tempat tinggalku saat ini. Serasa pedih melihatnya, apalagi semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran bahkan mereka sengaja membawa sampah dari sebuah perusahaan untuk di sortir dan jika tidak terpakai akan dibuang begitu saja seperti pemandangan ini.

Penduduk Di Bantaran Kali

Rumah Penduduk Di Bantaran Kali

Bukannya sok menjadi pahlawan lingkungan akan tetapi semata-mata untuk warisan anak cucu kita nanti. Bagaimana generasi kita nantinya akan cerdas jika air yang menjadi sumber kehidupan sudah terkontaminasi oleh racun. Haruskah secara frontal menyadarkan mereka sehingga para penduduk di sekitar bantaran kali tidak melakukan aksi sperti ini.

Tumpukan Sampah tak Terpakai

Tumpukan Sampah tak Terpakai

Sampah Yang Mungkin Diizinkan :D

Sampah Yang Mungkin Diizinkan 😀

Sungguh menyedihkan… 😥

Jika kami menuntut untuk bisa bertahan dari gaji yang kami dapatkan sebulan….!!!

Kami tidak menuntut sesuatu yang bukan menjadi hak kami
Kami tidak meminta sesuatu yang tidak mungkin di penuhi
Kami tidak memaksa semua yang kami minta di turuti
Kami hanya ingin kalian mendengar keluh kesah kami….!!!

Kami sudah berikan apa yang kami bisa
kami sudah lakukan apa yang menjadi kewajiban
Kami sudah jalankan apa yang kalian inginkan
Kami hanya ingin kalian mendengar keluh kesah kami….!!!

Kami hanya menuntut apa yang menjadi hak kami
Kami hanya meminta sesuatu yang harus kalian penuhi
Kami hanya memaksa atas apa yang harus kalian turuti
Kami hanya ingin kalian mendengar keluh kesah kami….!!!

Apakah itu semua berlebihan…?
Jika kami menuntut untuk bisa bertahan dari gaji yang kami dapatkan sebulan….!!!

Kami hanya ingin kalian mendengar keluh kesah kami sebagai kaum pekerja….!!!!

Lost Treasure In Cibarusah Bekasi

Selepas memanjakan mata dan mencuci paru-paru diseputaran area curug cipamingkis jonggol, ada sebuah pemandangan menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kali ini bukan pemandangan alam yang menarik mataku untuk mendekat, akan tetapi 2 unit mobil pengangkut batu yang membuatku tertegun dan berdecak kagum. Mobil truck berwarna hijau dan abu-abu yang terparkir hanya beberapa meter di depanku ini memang lain dari biasanya. Kendaraan tanpa logo yang mungkin keluaran ketika perang dunia ke dua ini begitu mempesona karena bentuknya yang masih terlihat orisinil dan masih sangat terawat dengan baik.

Si Hijau Nan Anggun

Si Hijau Nan Anggun


Si Abu-Abu Nan Elok

Si Abu-Abu Nan Elok


Sebagai seorang lulusan teknik mesin tentu saja segala sesuatu yang berhubungan dengan kendaraan sangat aku sukai, apalagi pekerjaanku sebagai teknisi alat berat membuatku semakin mencintai segala sesuatu yang berhubungan kendaraan. Untung saja saatnya tepat ketika aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat ini karena selain sungai dengan bebatuan yang tersusun dengan indah, sang pemilik mobilpun datang untuk mengganti beberapa bagian kendaraan yang rusak. Akhirnya dengan berbekal bahasa sunda karena cukup lama tinggal di bandung, aku putuskan untuk menanyakan segala sesuatu tentang mobil ini untuk meredakan rasa penasaranku terhadapnya.
Sang Pemilik

Sang Pemilik


Mobil yang menurut pemiliknya mungkin umurnya 3 kali lipat dari dia, masih menggunakan beberapa suku cadang yang masih asli. Anehnya lagi truck berkapasitas besar dengan empat roda ini menggunakan tenaga bensin sehingga bisa dikatakan sekelas mobil pick up padahal dari bannya saja dapat terlihat bahwa truck ini sekelas mobil truck dengan kapasitas lebih dari 3000 cc. Cukup membuat buatku salut terhadap para pemilik mobil ini, karena mereka merawatnya dengan sangat baik. Untuk dump body (Bak) nya masih menggunakan manual, hal ini bisa terlihat dari pipa baja panjang dari depan ke belakang bagian bak tersebut.
Si Cantik Tak mau Ketinggalan Narsis :D

Si Cantik Tak mau Ketinggalan Narsis 😀


Narsis Dulu :D

Narsis Dulu 😀


Narsis Dulu :D

Narsis Dulu 😀


Semoga saja kendaraan ini akan tetap terawat seperti tahun-tahun sebelumya, sehingga anak cucu kita dapat menikmati salah satu ciptaan manusia yang sampai saat ini masih bertahan.

Kemana Hilangnya Nasionalismemu….?

Mereka Yang Lebih Cinta Indonesia

Mereka Yang Lebih Cinta Indonesia


Mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia raya dikumandangkan selepas shift malam ketika upacara rutin para pegawai pemerintahan di sebuah alun-alun kota membawaku sejenak kembali berada di waktu tahun 1998. Entah menjadi tahun terbaik atau terkelam dalam catatan sejarah bangsa ini, yang pasti ketika itu di setiap sudut dikota tempatku tinggal tertulis dengan jelas kata “Milik Pribumi” dan “Pendukung Perubahan”. Tahun dimana aku harus sedikit menyingkir ke sebuah kota di Ciamis Jawa Barat, sehingga tidak disebut sebagai salah seorang provokator karena dianggap terlalu vokal untuk seorang remaja yang baru berusia belasan tahun. Tahun dimana setiap orang menaruh rasa curiga satu sama lainnya, dan tahun dimana nyawa seorang dianggap tidak berharga sama sekali.

Dulu ketika lagu ini dinyanyikan, selalu saja ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan. Sebuah perasaan bangga yang teramat sangat dengan kebesaran bangsa ini. Dulu ketika semua mata tertuju ke sebuah gedung di bilangan Jakarta Barat dan merupakan sebuah magnet yang sanggup menarik puluhan ribu atau mungkin jutaan mahasiswa meruntuhkan status quo, ketika lagu tersebut dikumandangkan seakan bergetar rasanya bumi dan gedung sekitar. Tertunduk, tetapi bukan menyerah…!!! Tertunduk karena untaian syairnya yang membuat jiwa-jiwa seorang anak bangsa bergelora untuk kembali menjadi seorang revolusioner. Bersama menghembuskan angin perubahan untuk sebuah negara Indonesia yang lebih baik lagi, lebih baik dari era Soekarno maupun era Soeharto.

Akan tetapi setelah lepas dari 15 tahun peristiwa tersebut telah terjadi jangankan untuk bergerak ke arah yang lebih baik, bangsa ini masih saja disibukan oleh tetek bengek persoalan yang seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari oleh para penyelenggara pemerintahan dan mereka yang berkuasa di negeri ini. Korupsi seolah menjadi budaya para penguasa, yang banyak merugikan uang negara dalam jumlah cukup besar. Sialnya lagi, mereka yang melakukan korupsi adalah mereka yang dulu aktif menggembor-gemborkan anti korupsi dengan iklan layanan masyarakat di televisi. Apakah negeri ini telah tertipu? Tertipu oleh anak bangsanya sendiri yang dengan tanpa rasa belas kasih, menghisap ibu pertiwi yang sedang sakit ini.
Sumber daya alam yang melimpah ruah seakan tidak ada gunanya, karena telah dikuasai oleh pihak asing. Apakah bangsa ini tidak sanggup untuk mengolah sendiri sumber daya alamnya? Bukan tidak sanggup, akan tetapi tidak adanya rasa simpati dan empati terhadap bangsa ini sehingga para pembuat kebijakan selalu saja mengatas namakan bangsa jika ingin membuat sebuah kebijakan meskipun kita tanpa pernah tahu apa yang mereka buat dan negosiasikan sehingga efeknya baru terasa setelah puluhan tahun berjalan. Menasionalisasi perusahaan asing sepertinya tinggal mimpi saja, apakah ini adalah sebuah pertanda bahwa bangsa ini sedang berjalan menuju kehancuran?

Merah Putih Hanya Sebuah Simbol...?

Merah Putih Hanya Sebuah Simbol…?


Terasa sekali kepentingan asing dalam kenaikan harga BBM kali ini adalah untuk menjalankan skenario Memorandum Of Economic and Financial Policies dengan IMF tahun 2000 yang lalu. Juga untuk memenuhi persyaratan untuk pemberian utang dari bank dunia seperti yang tercantum dalam Country Assistance Strategy pada tahun 2001. Semuanya itu dilakukan untuk kepentingan liberalisasi bisnis asing. Hal tersebut ditegaskan oleh Purnomo Yusgiantoro Menteri ESDM kala itu, “Liberalisasi sektor hilir migas akan membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas. Namun, liberalisasi ini akan berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena subsidi, pemain asing akan enggan masuk”. (Kompas, 14 Mei 2003).

Sebuah kondisi yang sangat di sayangkan, karena sepertinya kita tidak ingin negeri ini terus terjebak oleh keadaan yang tidak mengenakan ini. Seharusnya negara dan penguasa berkewajiba memelihara kepentingan rakyat dan menjamin kehidupan rakyat. Kekayaan umum seperti migas akan tetap menjadi milik umum. Negara mengelolanya mewakili rakyat dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk kesejahteraan mereka. Tetapi inilah bangsaku, sebuah bangsa yang besar dengan jutaan keragaman sehingga terus terlena dan terus tertidur dalam buaian beberapa elit politik…

Warisan sang maestro…….

Mengapa ketika syair itu dinyanyikan selalu saja tubuh ini merinding dan rasa nasionalisku terhadap negeri tercinta ini semakin bertambah besar? Hanya sebuah rangkaian kata yang cukup membuat bulu kuduk ku merinding dan jiwaku menggigil hebat, di saat tembang ini di nyanyikan. Sebuah lagui yang selalu ku nyanyikan ketika menjelajahi lebatnya rimba dan menjejakan kaki di setiap gunung yang ku daki. Sungguh sebuah karya sang Maestro yang lahir di Jombang, Jawa Timur pada 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono.

Berkibarlah bendera negeriku..........!!!
Berkibarlah bendera negeriku……….!!!

Ya… Soedjarwoto atau kita mengenalnya dengan nama “Gombloh” dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos. Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.

Sang Maestro

Sang Maestro


Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan. Musisi sederhana nan idealis ini menghembuskan nafas terakhirnya di Surabaya pada 9 Januari 1988 di usia yang masih terbilang muda, 40 tahun. Penyakit paru-paru yang memang telah lama menggerogoti tubuh kurus Gombloh akibat kebiasaannya merokok dan begadang, pada akhirnya merenggut jiwa sang seniman kreatif itu.

Merah Putih di Puncak Everest

Merah Putih di Puncak Everest

Syair lagu “Merah Putih” itulah yang semenjak dahulu selalu membuatku merinding dan membangkitkan jiwa nasionalisku kepada negara Indonesia. Dan ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk negeri tercinta ini, meskipun hanya sebatas menjadi warga negara yang baik untuk saat ini. Tak mengapa hanya itu saja yang bisa kulakukan untuk saat ini, entah nanti akan seperti apa? Yang pasti, sampai saat ini aku masih sangat marah jika negeri yang ku cintai ini di kotori oleh beberapa ulah para oknum dan pejabat yang melakukan korupsi serta kelakuan beberapa orang yang menjual negeri ini ke bangsa asing. Semoga saja negeri ini ke depannya akan di pimpin oleh pemimpin yang di cintai rakyatnya dan pemimpin yang mencintai negeri ini.

Bangga aku pada dwi warnamu….!!! Bangga aku pada kegagahanmu…!!!

Berikut adalah lyric lagu “Merah Putih – Ciptaan Gombloh”

Berkibarlah bendera negeriku
Berkibarlah engkau didadaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Semangatmu yang panas membara

Daku ingin jiwa raga ini
Selaraskan keanggunan
Daku ingin jemariku ini
Menuliskan kharismamu

Berkibarlah bendera negeriku
Berkibar di luas nuansaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Ramah tamah budi bahasamu

Daku ingin kepal tangan ini
Menunaikan kewajiban
Putra bangsa yang mengemban cita
Hidup dalam kesatuan

Reff :
Berkibarlah selalu bendera negeriku
Menghias langit biru oh Indonesiaku
Tunjukkan dirimu kepada dunia
Dan torehkan warnamu di dalam dada

Silahkan dengarkan lagunya disini..!!!   Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/05/tim-issemu-kibarkan-merah-putih-di-puncak-everesthttp://id.wikipedia.org/wiki/Gombloh