Apakah Anak-ku harus rangking 1?

"Happy every day"

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita…

Lihat pos aslinya 1.300 kata lagi

Iklan

Proses Persalinan Bunda

Menjalani proses persalinan walaupun dalam waktu yang relatif singkat akan menjadi pengalaman yang tidak mungkin terlupakan, mendebarkan sekaligus membahagiakan karena inilah proses untuk kehadiran sang buah hati. Seorang calon ayah atau ibu amat was-was menunggu kelahiran bayinya. Pada saat-saat seperti itu mereka berdoa sebagaimana Nabi Zakaria :

“Tuhanku, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sungguh Engkau Maha Mendengar permohonan” (QS Ali Imran 38)

Begitupula dengan saya, yang menunggu proses kelahiran sang buah hati tercinta. Meski ini bukanlah anak yang pertama, saya tetap merasa was-was. Khawatir dengan kondisi si bunda yang kembali harus berjuang melawan rasa sakit yang teramat sangat dan khawatir dengan si dede apakah dia lahir dengan kondisi yang sempurna atau tidak. Semuanya bercampur menjadi satu perasaan yang sangat sulit saya ungkapkan.

Memang, pada saat kelahiran si kaka (Rinjani), saya tidak bisa hadir menemani si bunda berjuang. Bahkan untuk sekedar mengumandangkan adzan pun harus diwakili oleh ayah mertua saya karena harus bertugas diluar kota. Untuk itulah saya bertekad untuk membalas kesalahan yang telah saya pada saat kelahiran si kaka, dengan menemani si bunda berjuang di kamar persalinan.

Detik-detik menjadi suami siaga pun sebenarnya sudah saya lakukan semenjak usia kandungan menginjak usia 9 bulan. Meskipun belum sepenuhnya saya lakukan, akan tetapi saya tetap berusaha melayani si bunda dan mencoba meringankan bebannya. Saya juga tidak ingin kecolongan lagi, seperti kelahiran yang pertama dahulu. Saya ingin dipersalinan yang kedua ini, saya berada di sisi si bunda menemaninya dalam berjuang.

Semenjak maghrib di hari selasa 04 november 2014, si bunda merasakan kesakitan disekeliling pinggangnya bahkan rasa panas di sekeliling pinggang nya membuat kami bertiga tidak bisa tidur karena menemani si bunda. Beruntung pada malam itu, teman-teman dari kelompok pecinta alam Ranting termasuk adik iparku yang juga anggotanya menemani sehingga saya tidak merasa takut. Karena tidak tahan dengan sakit tersebut dan merasa khawatir dengan kondisi fisik si bunda, akhirnya tepat jam 03.00 pagi saya dan adik ipar mencoba memanggil bidan yang biasa memeriksa si bunda dengan harapan dia bisa melihat kondisi istri saya. Tetapi, apa mau dikata si bidan tidak mau memeriksa dan hanya menyarankan kami untuk langsung ke rumah sakit saja. Astaga…. jam segini harus ke rumah sakit ??? Kesal juga sebenarnya, tapi apa daya daripada si bunda terus menerus kesakitan akhirnya saya coba telpon orang tua untuk meminjam mobil dan membawa si bunda ke rumah sakit.

Bersyukur, orang tua saya bisa dihubungi dan datang tepat waktu sehingga kami bisa membawa si bunda kerumah sakit secepatnya. Karena jarak rumah sakit yang tidak begitu jauh dari rumah, kami pun sampai dirumah sakit dalam waktu 15 menit. Si bunda langsung masuk UGD dan di cek langsung oleh dokter jaga dan bidan yang bertugas. Alhasil, ternyata sudah pembukaan 4 dan masih lama hingga proses persalinan si dede. Sambil mengurus administrasi rumah sakit, dan menunggu pembukaan selanjutnya kami hanya terus berdo’a semoga proses persalinan ini berjalan lancar sehingga mereka berdua selamat tanpa kurang suatu apapun.

Ternyata proses pembukaan 4 ke pembukaan selanjutnya sangat lama, sehingga rasa mulas dan sakit tidak tertahankan dirasakan oleh si bunda. Saya hanya bisa membisikan kata istighfar dan sabar kepada nya. Meski terkadang si bunda mengeluarkan kata yang tidak biasanya, saya hanya menganggapnya angin lalu. Mungkin hal tersebut adalah efek dari rasa sakit yang timbul akibat proses persalinan ini. Bidan memberitahu bahwa dokter yang biasa menangani si bunda akan datang nanti jam 09.00 siang. Astaga, berarti si bunda harus menahan sakit dari jam 04.00 hingga jam 09.00 nanti ? Dan dijeda waktu tersebut dirinya hanya menunggu menahan sakit yang teramat sangat.

Berselang hampir 3 jam ternyata sudah pembukaan ke 7 sedangkan waktu menunjukan jam 09.30, sedangkan si dokter belum juga datang untuk melakukan penanganan. Masyaallah, saya kembali terus istighfar dalam hati semoga semua ini cepat berlalu. Saya malah tidak ingat sama sekali apa yang terjadi setelah itu, karena saya fokus terhadap kondisi bunda yang sudah letih. Setiap kali kontraksi dari si dede, kembali saya harus mengusap pinggang beliau dan membisikan kata sabar dan teruslah beristigfhar.

Alhamdulillah tepat jam 10.30 si dokter yang biasa menangani sudah datang, dan memberikan perintah ke bidan untuk memberikan cairan infus kepada bunda. Saya tidak tahu persis, obat apa yang dimasukan ke cairan infus tersebut sehingga kontraksi yang terjadi semakin cepat dan semakin sering. Detik-detik kelahiran sudah semakin mendekat, saya berganti posisi ke sebelah kanan dengan harapan saya bisa melihat saat-saat si dede lahir sehingga saya tidak kecolongan lagi seperti saat kaka nya lahir dahulu.

Tepat jam 11.15 siang, air ketuban pun pecah dan menyebarkan aroma yang cukup aneh dihidung siapapun yang berada di ruang persalinan tersebut. Saya berfikir, saat nya kelahiran anak kedua saya sudah dekat sambil berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar. Dan saat tiba waktunya si dede lahir, terurailah senyum tawa, menyaksikan sang bayi yang lucu, yang baru lahir dan ibu bayi yang selamat. Tak lupa diucapkan “alhamdulillah” sebagai rasa syukur ke hadirat Allah dan saya kumandangkan adzan serta iqamah ditelinganya.

RE Ayesha Dixiezeta Ainur Rahmat

RE Ayesha Dixiezeta Ainur Rahmat

Begitulah sepenggal cerita saya menemenai proses persalinan anak ke dua saya yang berjenis kelamin perempuan yang lahir pada tanggal 05 november 2014 jam 11.30 dengan bobot waktu lahir 3.4 kg dan panjang 49 cm. Kami berdua sepakat memberi nama RE. Ayesha Dixiezeta Ainur Rahmat sebagai namanya. Semoga kelak dirinya akan kuat dan secantik bunga mawar dan seperti Aisah istri Rasul yang akan menjadi penerang dan pemberi kebaikan pada bangsa dan agama. Semoga saja…

~RTM
05-11-2014