Gondrong itu aib…..???

Suasana malam yang begitu riuh itu tiba-tiba terasa sunyi dikarenakan kehadiran seseorang laki-laki muda berambut panjang dengan pakaian yang serba putih. Pandangan semua orang yang hadir saat itu  tertuju ke tempat di mana pemuda tersebut duduk di antara undangan para tamu kehormatan yang datang di bagian bangku VVIP. Dengan rasa penasaran dan keheranan, seorang ibu yang dari tadi memperhatikan orang tersebut memberanikan untuk bertanya kepada salah satu panitia yang lewat didepanku.

“Maaf dik…. Beneran yang akan ceramah dan memberi tausiah kita pada malam ini orang itu?”. Dengan rona wajah setengah percaya dan penuh kebingungan si ibu tersebut berusaha mencari-cari informasi tentang pemuda tersebut.

“Betul bu…. Ustadz itu yang akan mengisi tausiah kita di malam ini”.

“Apakah dia sering berdakwah…??? Terus apa dia sering memberikan dakwah dengan penampilan seperti itu…??? Semakin banyak saja pertanyaan yang dilontarkan sang ibu untuk meyakinkan dirinya akan sesosok manusia yang duduk di barisan depan bangku VVIP. Semakin terperangah si ibu itu ketika panitia tersebut membacakan riwayat hidup dan biodata laki-laki berambut panjang tersebut. Rona wajahnya yang penuh kebingungan kini berubah menjadi kemerahan karena merasa malu bahwasanya dia sudah sangat tergesa-gesa dalam menilai seseorang dari kulit luarnya

Apakah disadari atau tidak, kebanyakan dari kita kadang masih terperangkap oleh pola pikir yang berkembang di masyarakat umum, hanya dengan menilai penampilan fisik seseorang. Terkadang kita terjebak oleh opini masyarakat umum tentang penampilan seseorang hanya dinilai dari luarnya saja. Tak jarang ketika menilai seseorang kita tergesa-gesa mengukur hanya pada penampilan fisik, gelar atau jabatan semata, namun mengabaikan bagaimana pribadi di balik tampilan luarnya. Sehingga tak heran berkembang di masyarakat, orang-orang yang sibuk memperbaiki tampilan luar dan berbangga dengan wajah, pakaian, rumah, kendaraan atau jabatan yang disandang tetapi lalai untuk menata pribadinya. Masyaallah…!!

Ayah dan Nenek Terlihat Pasrah & Cuek Dengan Penampilanku

Ayah dan Nenek Terlihat Pasrah & Cuek Dengan Penampilanku

Atas jasa media salah satunya TV si rambut gondrong terkadang dijadikan sebagai sosok yang lebih sadis di mata masyarakat dan menciptakan suatu pencitraan yang buruk bagi ratusan bahkan jutaan masyarakat negeri tercinta ini. Astagfirullah….!!!

Padahal Allah SWT sendiri telah berfirman bahwa..”.Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu….”(QS. Al-Hujuraat:13)

Dengan berpedoman pada wahyu-Nya tersebut, seharusnya manusia bisa melihat dirinya sendiri dan orang lain secara kasat mata apakah telah mencapai derajat taqwa dan seberapa tinggi tingkat ketaqwaanya. Pernah suatu ketika di tahun 2001 ketika kebetulan penulis masih menjadi mahasiswa dan sedang melakukan jiarah kubur di salah satu makam di daerah Telaga Murni Cikarang barat, sekelompok ibu-ibu terlihat keheranan dan berdiri mematung melihatku duduk dengan membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an yang ku kirimkan untuk arwah para leluhurku. Serasa tersanjung juga ketika mereka mengatakan salut dan bangga terhadap diriku dan tidak sedikitpun berniat riya pada saat mereka mengatakan “Kok bisa yach…?”.

Ketika Menjadi Mahasiswa tahun 1998

Ketika Menjadi Mahasiswa tahun 1998


Alhamdulillah setelah kejadian tersebut orang tuaku mengerti setelah kuberikan penjelasan dan membiarkanku untung memanjangkan rambutku dan bahkan sampai saat inipun aku masih kerap melakukannya. “Gondrong yang penting shalat dan bisa ngaji mak, ntu nyang penting….” begitulah ucapku ketika menjelaskan kepada orang rumah ketika memanjangkan rambutku.

Pada desember lalu ketika penulis sudah berkeluarga dan menjadi seorang ayah serta menjadi karyawan di perusahaan asing dengan penampilan seperti tahun 2001 dahulu, kembali terjadi pengalaman unik ketika terpaksa mengimami beberapa orang tua. Ranbut gondrong serta gelang kaki yang masih menempel di kaki sepertinya tak menghalangi diri ini untuk lebih dekat kepada-Nya.

Ketika Menjadi Mahasiswa tahun 2000

Ketika Menjadi Mahasiswa tahun 2000


Dan Alhamdulillah, dilingkungan tersebut penulis ternyata jauh dari imej yang menyebabkan perasaan seram itu hadir menyelimuti pikiran bapak-bapak yang saya imami.
Main Shop Satui Edit
Bahkan kini yang ada hanya rasa haru membuncah setiap melihat teman-teman sepekerjaan yang berambut gondrong ketika melakukan berbagai aktivitas ibadah.
Menjalani Aktivitas Sebagai Welding Inspector

Menjalani Aktivitas Sebagai Welding Inspector

Ya Allah, ampunilah mereka karena pernah terbersit sebentuk rasa akan penampilan luar hamba-hambaMu yang lain. Padahal bisa jadi mereka sangat mulia di hadapan Engkau. Berkali-kali istighfar menggema di hati kami dan terucap di lisan seiring dengan penjelasan sang ustadz gondrong yang saat itu sedang membahas tentang orang-orang yang bersegera pada ampunan Allah. Subhanallah, gondrong itu bukanlah sebuah aib…!!!

Alhamdulillah dapat istri yang mengerti

Alhamdulillah dapat istri yang mengerti

(Penulis adalah seorang pekerja tambang perusahaan asing yang kini sedang menyapkan diri untuk melanjutkan pasca sarjana teknik mesin).
Tanah Bumbu, May 31, 2013

Iklan

Dalam kesendirianku

Ya Tuhan….

Ketika malam ini aku terbangun dari tidur lelapku,
Ketika semua mata terlelap dalam mimpi,
Ketika seluruh isi bumi hening tak bersuara,
Ku basuh kembali wajah ini meski rasa kantuk yang mendera….

Ya Tuhan….

Ketika anak & istriku terlelap tidur di balik selimut hangat,
Ketika semua angan dan harapan hilang seiring penatnya isi kepala,
Ketika semua khayal semakin hilang oleh asa yang kunjung datang,
Kemana lagi aku harus meminta….?

Ya Tuhan….

Untuk ke sekian kalinya aku terbangun di malam ini,
Di kala rasa gundah yang semakin memuncak,
Ku langkahkan kaki meski rasa malas selalu ada,
Aku datang sebagai seorang hamba yang penuh nista….

Ya Tuhan….

Hanya kepada MU hamba meminta,
Hanya kepada MU hamba memohon,
Hanya kepada MU jualah hamba bersandar,
Karena sebaik-baiknya pemberian hanya pemberian MU….

Berikan hamba kepastian,
Jangan biarkan hamba seperti ini,
Aku mohon……………!!!

Bekasi, 27 Apr ’10 jam 04.00 bbwi
(Copy Paste dari blog lama)

Warisan sang maestro…….

Mengapa ketika syair itu dinyanyikan selalu saja tubuh ini merinding dan rasa nasionalisku terhadap negeri tercinta ini semakin bertambah besar? Hanya sebuah rangkaian kata yang cukup membuat bulu kuduk ku merinding dan jiwaku menggigil hebat, di saat tembang ini di nyanyikan. Sebuah lagui yang selalu ku nyanyikan ketika menjelajahi lebatnya rimba dan menjejakan kaki di setiap gunung yang ku daki. Sungguh sebuah karya sang Maestro yang lahir di Jombang, Jawa Timur pada 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono.

Berkibarlah bendera negeriku..........!!!
Berkibarlah bendera negeriku……….!!!

Ya… Soedjarwoto atau kita mengenalnya dengan nama “Gombloh” dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos. Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.

Sang Maestro

Sang Maestro


Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan. Musisi sederhana nan idealis ini menghembuskan nafas terakhirnya di Surabaya pada 9 Januari 1988 di usia yang masih terbilang muda, 40 tahun. Penyakit paru-paru yang memang telah lama menggerogoti tubuh kurus Gombloh akibat kebiasaannya merokok dan begadang, pada akhirnya merenggut jiwa sang seniman kreatif itu.

Merah Putih di Puncak Everest

Merah Putih di Puncak Everest

Syair lagu “Merah Putih” itulah yang semenjak dahulu selalu membuatku merinding dan membangkitkan jiwa nasionalisku kepada negara Indonesia. Dan ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk negeri tercinta ini, meskipun hanya sebatas menjadi warga negara yang baik untuk saat ini. Tak mengapa hanya itu saja yang bisa kulakukan untuk saat ini, entah nanti akan seperti apa? Yang pasti, sampai saat ini aku masih sangat marah jika negeri yang ku cintai ini di kotori oleh beberapa ulah para oknum dan pejabat yang melakukan korupsi serta kelakuan beberapa orang yang menjual negeri ini ke bangsa asing. Semoga saja negeri ini ke depannya akan di pimpin oleh pemimpin yang di cintai rakyatnya dan pemimpin yang mencintai negeri ini.

Bangga aku pada dwi warnamu….!!! Bangga aku pada kegagahanmu…!!!

Berikut adalah lyric lagu “Merah Putih – Ciptaan Gombloh”

Berkibarlah bendera negeriku
Berkibarlah engkau didadaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Semangatmu yang panas membara

Daku ingin jiwa raga ini
Selaraskan keanggunan
Daku ingin jemariku ini
Menuliskan kharismamu

Berkibarlah bendera negeriku
Berkibar di luas nuansaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Ramah tamah budi bahasamu

Daku ingin kepal tangan ini
Menunaikan kewajiban
Putra bangsa yang mengemban cita
Hidup dalam kesatuan

Reff :
Berkibarlah selalu bendera negeriku
Menghias langit biru oh Indonesiaku
Tunjukkan dirimu kepada dunia
Dan torehkan warnamu di dalam dada

Silahkan dengarkan lagunya disini..!!!   Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/05/tim-issemu-kibarkan-merah-putih-di-puncak-everesthttp://id.wikipedia.org/wiki/Gombloh

Ketika kami terpaksa harus meracunimu anakku….!!!

Seorang gadis kecil duduk termenung di atas teras rumah berwarna hijau yang nampak usang di makan usia, tangannya yang lucu memegang sebuah alat dan jarinya dengan cekatan memainkan tombol PSP hadiah pemberian dari ayahnya karena hasil mendapatkan nilai yang cukup fantastis di tahun ini. Terkadang matanya yang polos terlihat begitu sibuk memandang lalu lalang kendaraan yang lewat di depan rumah tersebut. Rambutnya yang sedikit agak kecoklatan menyibakan raut wajah manis ketika di hempas angin di siang itu. Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, entah apa yang saat itu sedang dinantikannya? Tak pernah ia bercerita apa yang telah terjadi selama ini, hanya saja hari itu dia terlihat begitu senang dan bahagia sekali.

Senyum indahmu

Senyum indahmu

Ayah pulang…..!!! Ayah pulang…..!!! Suara itu menyambutku di depan teras rumah, ku dengar kata itu diucapkannya berulang-ulang. Ada perasaan bangga dalam hatiku ternyata anakku selalu menantikan kepulangannku mencari rejeki di tanah seberang. Akan tetapi perasaan sedih selalu mengusikku setiap kali harus pulang mengambil jatah cutiku selama 2 minggu ke depan. Bagaimana tidak…? Waktu dua minggu terasa begitu cepat. Belum saja kami puas melepas rasa rindu yang mmendera waktu untuk bekerja dan setumpuk pekerjaan memaksaku kembali dan menanti selama 10 minggu ke depan untuk bertemu dengannya. Rutinitas 3 bulanan yang sungguh-sungguh menyiksa kami bertiga.

Belum Genap 1 Tahun Usiamu

Belum Genap 1 Tahun Usiamu

Sungguh terlalu besar pengorbanan gadis kecil ini, dari semenjak dirinya dilahirkan dan sampai saat inipun masih saja dia harus rela kehilangan perlindungan dan dekapan hangat seorang ayah untuk beberapa minggu. Ketika lahirpun aku merasa malu karena tidak mendampingi disaat penting, untuk mendengar tangisannya pertama kali. Ya itu memang salahku, ketika itu baru saja 2 hari aku bekerja di perusahaan asing dan tidak mungkin dalam waktu yang masih baru tersebut aku meminta izin untuk pulang dan memang saat itu juga tak ada tanda-tanda serta kabar dari bundamu yang memberitahukan bahwa dirimu telah lahir. Hanya saja, ada perasaan yang tidak menentu di saat dirimu dilahirkan ke dunia ini. Rasa tidak percaya bahwa aku telah menjadi seorang ayah, dan rasa bahagia karena dirimu lahir ke dunia ini dengan selamat.

Menuju Kampung Baduy

Menuju Kampung Baduy

Kini dirimu telah menjelma menjadi seorang gadis kecil yang cantik dan meskipun terkadang kamu terlihat begitu manja di sisi bundamu, tapi aku tahu bahwa dirimu adalah seorang anak yang kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupan kecilmu. Tanpa bimbingan penuh dariku kamu telah berhasil mengendarai sepedamu sendiri. Tanpa bantuanku kamu berhasil menyelesaikan semua permainan yang sangat sulit yang ada di laptop bunda. Tanpa ku ajari berhitung kamu berhasil mendapat nilai matematika 100 untuk ulangan harian padahal ketika aku seusiamu aku merasa begitu sulit belajar matematika. Kau membuatku bangga dengan berdiri di atas penggung untuk mendapatkan piala atas prestasimu, dan aku bangga ketika namaku juga ternyata di sebut di belakang namamu meskipun itu adalah hasil kerja keras dirimu dan bundamu.

Hari ini telah kuputuskan, akan ku bayar semua pengorbananmu selama ini. Akan ku ikuti kata hatiku untuk berada di dekatmu, melihatmu tumbuh besar dan mengantarmu kemanapun kamu mau. Hari ini kuputuskan untuk meninggalkan kemewahan fasilitas yang dimiliki karyawan pertambangan hanya untuk menemanimu menyelesaikan permainan dan menemani tidurmu. Akan kutemani dirimu untuk tidur di dalam tenda dome yang selalu kita bertiga lakukan ketika aku masih di rumah sana, dan memandang serta kita menghangatkan diri di depan tenda sambil menyalakan api unggun. Ya…. mendirikan tenda di alam terbuka seperti kita dahulu melakukannya di dekat Tebing Klapa Nunggal atau di kaki Gunung Sanggabuana atau sekedar mencoba menjadi orang pedalaman seperti yang kita bertiga lakukan dahulu ketika ke Kampung Baduy di saat dirimu berulang tahhun yang ke-4. Atau mandi di laut seperti yang kita lakukan di pantai Samudera baru dan Ujung genteng ketika itu.

Tebing Klapa Nunggal, Cileungsi

Tebing Klapa Nunggal, Cileungsi

Kampung Baduy, Banten

Kampung Baduy, Banten

Ujung Genteng, Sukabumi

Ujung Genteng, Sukabumi

Bersama Riyani Jangkaru

Bersama Riyani Jangkaru

Dirimu pun tak pernah sedikitpun mengeluh ketika kami berdua meracunimu untuk terpaksa menyukai hobby kami berdua menggiati olahraga alam terbuka. Meski kami merasa sangat bersalah karena anak seusiamu seharusnya tetap nyaman bermain bersama teman-teman kecilnya bukan malah bermain dengan bahaya seperti yang kamu lakukan saat ini. Ya itulah dirimu seorang gadis perkasa yang rela harus menempuh ribuan kilometer dan lebatnya belantara kalimantan hanya untuk bertemu denganku dan sekedar tahu di mana ayahmu bekerja.

Di Gate KPC Coal Mine Project Sengatta Kal-Tim

Di Gate KPC Coal Mine Project Sengatta Kal-Tim

Aku yakin kamu pasti menantikan saat itu akan tiba, saat dimana ayahmu sudah tidak akan kembali ke Kalimantan hanya untuk mencari segenggam rejeki. Semoga saja, waktu dua bulan ini akan cepat berlalu dan aku bisa kembali bersamamu gadis kecilku…

Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

May 28, 2013

Untukmu Bunda…

Bun,
Ketika harapan itu terbuka
Ketika harapan itu sudah di depan mata
Kau tersenyum berlinang air mata

Bun,
Kini harapan itu sirna
Di hempas badai tanpa sisa
Kau pun tersenyum bahagia

Bun,
Aku tak tahu harus bicara apa
Kau sedikitpun tak kecewa
Meski itu harapan hampa

Bun,
Maafkan aku yang tak bisa
Penuhi sejuta asa
Untukmu dan anak kita

Bun,
Aku tak bisa berkata
Tak kuasa aku bicara
Tuk berikan sedikit asa

Maafkan aku,
Yang tak bisa kau andalkan….!

Harapan itu masih terbuka bun....

Harapan itu masih terbuka bun….


Bekasi, July 05, 2010
your’s little adorer

Rahmat

Wisata Budaya Baduy

Kampung Baduy

Kampung Baduy

Baduy atau orang kanekes, satu kata yang tampaknya tidak begitu asing di telinga kita dan pasti membawa kita membayangkan sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh prinsipnya untuk tetap hidup dalam kesederhanaan. Sekelompok masyarakat yang masih menolak untuk mengadaptasi serbuan teknologi dan tetap memegang tradisi untuk tidak terpengaruh dengan dunia luar.
Rumah Panggung

Rumah Panggung

Masyarakat baduy

Masyarakat baduy

Masyarakat yang sampai saat ini masih tetap mengandalkan berjalan kaki untuk bepergian dan menolak menggunakan alat transportasi modern. Dan tentunya banyak lagi ciri khas dari sekelompok masyarakat di sebelah barat pulau jawa ini berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya.
Warga yang akan melakukan aktivitas ekonomi

Warga yang akan melakukan aktivitas ekonomi


Padi Pocongan

Padi Pocongan


Ada sedikit kekhawatiran di hati ini, ketika seorang teman mengajak kami untuk mengisi liburan kali ini untuk melakukan perjalanan budaya ke baduy. Maklum saja, kali ini adalah moment yang lain dari biasanya karena kami biasanya melakukan liburan dengan melakukan pendakian ke gunung-gunung di seputaran pulau jawa. Apalagi kali ini anakku akan genap berusia 4 tahun, akankah kali ini aku merayakan ulang tahun ke 4 nya di Baduy? Sudah terbayang suasana sepi dan tanpa lampu akan menemani kami sepanjang liburan ini. Dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan istri tercinta, akhirnya kami putuskan untuk merayakan ulang tahun ke 4 “RE Rinjani Permata Hati Rahmat” di Baduy. Semoga saja perjalanan kami kali ini memberikan kesan yang begitu mendalam bagi si kecil. Dan semoga saja kelak jika dia dewasa akan terbiasa hidup bersahaja seperti masyarakat suku baduy yang akan kami datangi.
Lumbung Padi

Lumbung Padi


Belum saja bus kami berangkat menuju Kanekes, ada info yang sedikit mengecewakanku dari seorang. Informasi yang mengatakan bahwa kali ini kita tidak bisa masuk ke Baduy dalam, karena saat ini mereka sedang melaksanakan puasa tahunan. Sasada adalah hari besar bagi suku baduy. Jangankan kami yang nota bene orang luar, anak dan cucu mereka yang sudah tinggal di baduy luar pun tidak bisa masuk ke dalam Baduy dalam jika puasa ini sedang berlangsung dan harus rela menunggu selama lebih dari satu bulan untuk masuk menemui kerabatnya setelah upacara ini selesai. Baduy terbagi 2 yaitu baduy luar dan baduy dalam. Dan kehidupan merekapun sangat berbeda satu sama lainnya. Ini terlihat dari tata cara mereka berpakaian, baduy dalam menggunakan pakaian yang serba putih sedangkan baduy dalam menggunakan pakaian yang serba hitam. Baduy dalam masih berpegang pada aturan yang sangat ketat, seperti tidak memakai peralatan modern bahkan rokokpun mereka tidak menghisapnya serta untuk mandipun mereka tidak memakai sabun ataupun pasta gigi. Berbeda dengan baduy luar yang agak sedikit longgar dalam kehidupannya sehari-hari.
Jembatan Bambu

Jembatan Bambu


Tapi semangat untuk berangkat sangat menggebu-gebu tak peduli apakah tidak bisa ke baduy dalam atau tidak, yang pasti kali ini akan ku tinggalkan jejak kaki ku dan merayakan ulang tahun anakku di tanah baduy. Satu momen yang mungkin akan di ingat sepanjang hidupnya bisa menjalani hidup bersama masyrakat baduy selama beberapa hari. Hidup bersahaja tanpa bantuan teknologi selama beberapa hari, dan mengobati pengaruh buruk dari ketergantungan terhadap teknologi yang selama ini benar-benar menyiksaku. Membuang jauh segala macam hiruk pikuk gemerlap dunia kota dan mencoba hidup dengan keterbatasan dan kesahajaan masyarakat desa.

Lombok ….Pesonamu begitu menawanku

“Seperti biasa ya pak, jemput setelah shalat isya saja..!” Ucapku ketika mengakhiri pembicaraan telpon dengan Pak Salim seorang yang begitu setia mengantarku ketika menjalani tugas kantor. Memang tugasnya sebagai seorang driver perusahaan untuk selalu siap kapan dan kemanapun karyawan akan bertugas. Ya…perjalanan kali ini adalah perjalan tugasku untuk yang kesekian kalinya dan tak terhitung sudah berapa kali jalan poros provinsi antara Kutai Timur – Balikpapan sudah ku lewati. Terbayang masih 8 jam lagi untuk sampai di Bandar udara internasional Sepinggan Balikpapan, jika kami berangkat setelah isya kemungkinan besar akan sampai di bandara pada shubuh nanti. Perjalanan darat Sengatta – Balikpapan sangat melelahkan, bukan hanya dari jaraknya yang begitu jauh tetapi jalan yang penuh lubang bahkan rusak yang setiap kali mengancam pemakai jalan. Bagaimana tidak setiap hari puluhan bahkan mungkin ribuan truk-truk besar pengangkut spare part alat berat melewati jalan ini, karena perusahaan tambang batu bara terbesar di dunia KPC berada di Sengatta Kutai Timur.

Sesaat setelah mendarat

Sesaat setelah mendarat


Ternyata perjalanan kali ini aku harus mampir dulu di Juanda Surabaya,
Untung saja pesawat kali ini berangkat pagi-pagi sekali, dengan harapan aku bisa istirahat lebih lama di kota Mataram. Kota yang begitu mempesona dengan suasana mirip seperti Bandung, kota yang telah menempaku menjadi seorang seperti sekarang ini. Dingin dan pemandangan menakjubkan dari hamparan sawah menghijau dan pesona gunung rinjani yang angkuh menjulang dengan ketinggian 3.726 Mdpl yang pasti menghipnotis setiap orang yang melihatnya. Termasuk aku yang terobsesi dengan memberi nama anak perempuanku sesuai nama gunung ini. Konyol memang, ya tapi itulah kenyataannya sampai saat ini aku masih belum kesampaian untuk menikmati pesona danau segara anak dan mencumbui tanah basah serta berlari di sabana gunung tersebut. Terbayang berlari di ketinggian dengan udara tipis, dan nafas yang tersengal menikmati hamparan sabana dan suara beberapa ekor monyet di sekitarku. Ah… Insyaallah suatu saat nanti, aku akan kembali untukmu dan mencumbui hutanmu. Dengan cuaca yang cukup cerah bisa kulihat pesona keindahan pulau lombok dengan hamparan sawah sepanjang perjalanan menuju kota Mataram.
Lombok Tengah

Lombok Tengah


Sisi lain Bandara baru

Sisi lain Bandara baru


Menginap di Hotel Lombok Raya yang berada di jalan Panca Usaha, memungkinkan aku untuk kembali memburu beberapa souvenir sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lombok Timur untuk melanjutkan menyebrang kapal Ferry menuju Sumbawa Barat. Malam yang menyenangkan dengan hotel yang sangat baik dengan fasilitas kamar yang agak mirip dengan rumah petak serta harga yang cukup murah untuk kondisi hotel yang terbilang mewah ini. Akses ke tempat belanja pun tidak terlalu jauh, hanya dengan berjalan kaki kita bisa memilih souvenir dengan harga yang cukup murah di sekitar hotel tersebut. Aneh, baru perjalanan pergi sudah membeli souvenir apalagi nanti ketika pulang dan menginap di sini lagi. Tapi dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan daerahku sepertinya hal ini wajar saja, karena masih ada sedikit uang perjalanan dinas dari perusahaan yang masih bisa ku pakai.
Pesona Rinjani

Gunung Rinjani


Pesona Rinjani

Gunung Rinjani


Menatap pesonanya dari jalan poros menuju Kota Mataram….
Pesona Rinjani

Gunung Rinjani


Pesona Rinjani

Gunung Rinjani


Pagi jam 06:00 Wita, akhirnya aku berangkat untuk melanjutkan perjalan kembali menuju Lombok Timur kemudian menyebrang Ferry ke Tano Sumbawa Barat dikarenakan speed boat milik Newmont dalam kondisi perbaikan. Meski agak kecewa karena perjalanan yang semestinya hanya 2 jam jadi 5 jam, akhirnya dengan berbesar hati aku putuskan untuk menyebrang naik ferry daripada harus kembali menginap di Lombok dan menambah lama waktu untuk menyelesaikan tugas kantor.
Menuju Maluk

Menuju Maluk


Tak sia-sia, ternyata perjalanan 1 jam dengan kapal ferry begitu menyenangkan, dengan suguhan pesona pantai yang indah begitu menggodaku. Subhanallah, pulau yang sangat indah serta lengkap mula dari hamparan sawah, gunung dan kini lautnya. Tak terasa sampai juga kaki ini di tanah sumbawa barat, dan masih menyisakan 3 jam menuju Hotel Yoyo.
Nelayan dengan ikan pari

Nelayan dengan ikan pari


Pemandangan dari Ferry

Pemandangan dari Ferry


Di hotel inilah kembali aku akan menginap, untuk menyelesaikan tugas kantor di Site Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara. Semoga saja hotelnya bagus dan pemandangannya tidak kalah berbeda dengan suasana mataram, karena yang ku tahu di Kota kecil bernama Maluk ini masih banyak terlihat kuda yang di lepas oleh pemiliknya untuk mencari makan.

Hotelnya cukup baik dengan pemandangan bibir pantai dan pasir putih, tetapi sangat di sayangkan tidak ada warung maupun toko di dekat sini. Toko terdekat berjarak 30 menit berjalan kaki, karena tidak ada angkutan sama sekali melewati daerah tersebut. Sangat di sayangkan, pesona pantai dengan pasir putih dan ombak yang cukup besar untuk kegiatan surfing masih belum tersentuh campur tangan pemerintah daerah. Coba sedikti saja di perbaiki, kemungkinan besar pantai ini akan ramai dikunjungi wisatawan. Seminggu di Sekongkang membuatku berpikir mungkin satu saat aku akan kembali ke sini dan menikmati desiran angin dan gulungan ombak pantai sekongkang dan pantai maluk. Semoga saja kelak aku kembali, karena kini aku harus kembali ke kalimantan timur untuk menunggu tugas kantor yang lainnya.

Sedikit oleh-oleh dari perjalanan Sengatta – Sumbawa…

Pantai depan Hotel

Pantai depan Hotel


Menikmati pasir putih

Menikmati pasir putih


Kuda Sumbawa

Kuda Sumbawa


Kuda Sumbawa

Kuda Sumbawa

Perjalanan 25 jam membelah belantara Kalimantan 2

Well…satu persatu hamparan pegunungan meratus memikat hatiku, bukan hanya putihnya yang menyilaukan dari pegunungan kapur itu yang membuatku tertegun akan tetapi lukisan sang maha kuasa yang tak mampu akalku menjangkaunya. Subhannallah…begitu agung ciptaan-Mu Ya Rabb, kami jelas bukan apa-apa bagimu, tetapi alangkah sombongnya kita sebagai manusia yang tak berdaya ini. Suguhan jalan aspal yang mulus membelah beberapa bukit, terkadang jalan tersebut di himpit tebing tinggi menjulang. Tetapi tetap saja yang namanya kalimantan, selalu saja ada jalan berlubang. Padahal bumi yang kaya akan batu bara dan bijih besi ini ku pikir cukup untuk melakukan pembangunan jalan sebagai penunjang pembangunan dan pemerataan ekonomi. Kemana uang pajak yang selama ini cukup besar itu menguap ? Ah…terlalu jauh aku berpikir, mungkin suatu saat nanti ada hidayah kepada para pemegang kekuasaan untuk lebih peduli terhadap bangsa ini.

Pajak...?

Pajak…?

Hanya bisa mengucap Subhannallah..

Hanya bisa mengucap Subhanballah..

Hanya bisa mengucap Subhanballah..

Hanya bisa mengucap Subhannallah..

Sungguh pemandangan menakjubkan dan salah satu trip yang paling berkesan selama bekerja dan hidup menjadi orang kalimantan. Siapa yang tidak akan berdecak kagum dengan pemandangan seperti ini, dan semoga saja mereka akan tetap lestari sampai anak cucu kita nanti. Dan semoga saja perusahaan pertambangan tidak akan sampai hati untuk menambang di daerah ini serta pejabat pemerintah tidak lagi memberikan izin pertambangan kepada perusahaan. Sudah cukup sudah tanah kalimantan di rusak oleh pertambangan batu bara dan jangan lagi pertambangan bijih besi serta pabrik semen semakin merusak tanah yang indah ini.

Hanya bisa mengucap Subhannallah..

Hanya bisa mengucap Subhanballah..

Hanya bisa mengucap Subhannallah..

Hanya bisa mengucap Subhanballah..

Semoga saja tulisan ini bermanfaat serta menjadi guratan catatan perjalanan kecil dari sepenggal kisah hidupku hidup di tanah kalimantan dan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Semoga saja…..

Perjalanan 25 Jam membelah belantara Kalimantan 1

Perjalanan hampir 25 jam membelah belantara Kalimantan ini benar-benar menyiksa tubuhku. Bukan hanya jalan yang penuh lubang yang terkadang sangat mengganggu akan tetapi suasana hutan yang terkesan begitu menyeramkan, mungkin karena luasnya pulau ini sehingga manusia terkadang enggan untuk membangun rumah di sepanjang jalan yang ku lalui. Lucu memang kedengarannya alasan ku kali ini melakukan perjalanan dinas menggunakan kendaraan darat, bukan karena rasa penasaran ingin melihat seindah apa pemandangan alam yang akan ku lalui. Akan tetapi karena rasa takut yang begitu dahsyat untuk melakukan perjalanan naik pesawat udara pada saat itu. Ya, bayangkan saja perjalanan sebelumnya dari Pulau Sumbawa ke Balikpapan yang seharusnya hanya beberapa jam saja terasa begitu lama dikarenakan cuaca buruk. Badan pesawat yang tiba-tiba turun beberapa ratus meter tanpa pemberitahuan dari crew membuat kami semua panik. Beruntung saja kami tidak mengalami Engine pesawat yang mati mendadak seperti yang dialami temanku yang sama-sama akan ke Balikpapan. Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk lewat jalan darat kali ini.

Tepat jam 19:00 WITA setelah pamitan dengan teman sepekerjaan di Kalimantan Timur tepatnya Sengatta Kabupaten Kutai Timur, kendaraan yang akan membawaku menempati tugas baruku di Satui kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan datang menjemput. Dengan persiapan seadanya karena semua barangku sudah kukirimkan ke Bekasi lewat pesawat, akhirnya kami berangkat dengan harapan shubuh nanti tidak mengantri di penyeberangan Ferry.

Perjalanan yang panjang ini memang bukan baru sekali ini saja aku lakukan, akan tetapi terbayang 25 jam lebih aku harus duduk di kursi kendaraan yang akan membawaku ke tempat baru. Ah…mungkin saja ketika siang nanti bisa aku bisa menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan gumam ku menyemangati asa yang serasa meredup karena membayangkan betapa letihnya perjalananku kali ini.

Tepat jam 05:30 WITA akhirnya kami sampai di penyebrangan ferry Kariangau Balikpapan, dan dengan sigap pak sopir langsung memesan tiket dan alhasil, kami berada di barisan depan parkiran di ferry tersebut untuk menyeberang. Selepas mengisi perut yang sudah mulai meminta untuk di isi, aku putuskan untuk shalat shubuh di ferry. Well, pengalaman kedua shalat di atas kapal ferry karena sebelumnya juga aku pernah mengalaminya ketika melakukan perjalanan dari Mataram ke Tano Sumbawa Barat. Suasana yang hening seakan lebih mendekatkanku kepada Nya, karunia Mu Ya Allah terima kasih atas apa yang engkau telah berikan selama ini. Perjalanan 1 jam terasa begitu cepat, kami pun tiba di Kabupaten Penajam Pasir Utara masih di Provinsi Kalimantan Timur.

Setelah 9 tahun, akhirnya...

Setelah 9 tahun, akhirnya…

Tidak ada yang isimewa melewati kota ini, tetapi selepas kota ini ternyata kejutan yang cukup manis untukku dari Mu Ya Allah. Ya, selepas aku mengeluh “I’ts hard to be an Indonesian people”….karena kami harus mengantri BBM di Kabupaten Paser dalam waktu yang cukup lama, padahal banyak perusahaan besar seperti Total dan Chevron serta Pertamina beroperasi di sekitar area tersebut. Kenapa tiba-tiba saja ingatanku menyeruak mengingat seorang teman satu kost di Bandung dahulu yang hampir 9 tahun tak bertemu, bukan hanya sebagai teman akan tetapi lebih dari saudara aku menganggapnya karena lebih dari 5 tahun kami bersama.

Setelah buka memory telpon akhirnya ku temukan juga dan langsung ku telepon. Terkejut memang ketika telpon dari ku di angkat olehnya, dan ajaibnya ternyata tempat kerjanya hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari tempatku mengantri BBM. Piuhh….akhirnya setelah hampir 2 tahun di kalimantan akhirnya ku temukan kembali saudaraku yang lama menghilang ini. Terima kasih ya rabb……

Karena perjalanan masih menyisakan lebih dari 8 jam lagi untuk menuju Kabupaten Tanah Bumbu akhirnya kami putuskan untuk kembali berangkat. Dari sinilah kami disuguhi pemandangan luar biasa dan menakjubkan di sepanjang perjalanan menuju tempat kerja baru.

Jalan Rusak dekat Perbatasan  Kaltim

Jalan Rusak dekat Perbatasan Kaltim

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus

Jalan Mulus Kalsel

Jalan Mulus Kalsel