Jangan Pernah Mimpi Ke Pantai Tanjung Lesung

Tanjung Lesung Sunrise

Tanjung Lesung Sunrise

Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat beruntung, karena dianugerahi begitu banyak keindahan alam dengan pemandangan yang mempesona. Mulai dari hutannya yang begitu lebat, tanah pegunungan yang begitu hebat hingga hamparan pantainya yang begitu menggoda. Hampir di setiap daerah di Nusantara terdapat pantai indah baik yang sudah terkenal maupun yang belum banyak dikenal. Beberapa pantai yang pernah saya datangi hampir semuanya memiliki pemandangan yang begitu mempesona. Apalagi kawasan pantai dibagian selatan, semuanya memiliki pemandangan yang begitu menakjubkan seperti pantai Ujung genteng contohnya. Pasir putih dengan hamparan terumbu karang nya begitu menggoda untuk dinikmati.

Salah satu pantai indah dibagian selatan yang patut untuk dikunjungi adalah Pantai Tanjung Lesung di sebelah barat Pandeglang, tepatnya  di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Nama ‘Tanjung lesung’ menurut penuturan masyarakat setempat berasal dari penamaan lokasi pantainya yang berupa daratan menjorok ke laut mirip ujung lesung, yaitu alat tradisional yang digunakan sebagai penumbuk padi. Pantai ini luasnya sekitar 1.500 hektar dan resmi dibuka untuk umum sejak Januari 1998. Kini Pantai Tanjung Lesung dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Provinsi Banten.

Hamparan pasir pantainya yang landai mencapai hingga 15 kilometer, memberi cukup ruang kepada kita untuk melakukan berbagai kegiatan bersenang-senang. Mulai dari bermain pasir, berjemur, atau berolahraga. Selain kawasan pantainya yang masih sangat bersih dan alami, Pantai Tanjung Lesung juga menawarkan sebuah hamparan pasir putih bak permadani. Berjalan di atasnya ditemani semilir angin sepoi merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Ombaknya yang tidak terlalu besar memungkinkan kita untuk berenang, bermain jetski, snorkeling, naik perahu, ataupun memancing.

Transportasi

Untuk menuju lokasi pantai, kita akan melalui jalan provinsi yang cukup mulus serta mengikuti jaringan telekomunikasi yang menggunakan solar cell. Jarak antara Jakarta- Pantai Tanjung Lesung berjarak sekitar 160 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2,5-3 jam perjalanan dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Saya sendiri yang bertempat tinggal di Cikarang barat membutuhkan kurang lebih 5 jam untuk sampai di lokasi.

Untuk menuju lokasi Pantai Tanjung Lesung maka kita bisa mengambil rute jalan tol Jakarta-Merak. Berikutnya keluar melalui pintu Gerbang Tol Serang Timur. Setelah melewati Kota Serang, dilanjutkan perjalanan ke arah Kota Pandeglang dan Labuan hingga berakhir di Pantai Tanjung Lesung. Pilihan rute yang lain adalah setelah mengambil rute jalan tol Jakarta-Merak maka keluar melalui Gerbang Tol Cilegon. Lanjutkan perjalanan menyusuri pesisir Anyer-Carita hingga ke arah Labuan dan berakhir di Pantai Tanjung Lesung.

Kita juga dapat menggunakan kendaraan umum untuk menuju pantai Tanjung Lesung dengan bus ke arah Terminal Labuan. Berikutnya lanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju lokasi pantai Tanjung Lesung.

Akomodasi

Penginapan di pantai tanjung lesung memang sangat banyak, sehingga kita bisa dengan mudah memilih harga yang cocok dan sesuai dengan budget. Berwisata di tanjung lesung akan sayang jika hanya dihabiskan dalam satu hari saja. Untuk itu menginap di sekitar tanjung lesung adalah pilihannya. Bagi kita yang memiliki budget minim, tenang saja karena beberapa penginapan menawarkan harga yang cukup terjangkau meski fasilitasnya terbatas.

Teras Villa

Teras Villa

Berendam bareng

Berendam bareng

Dapur

Dapur

Gazebo

Gazebo

Beruntung untuk liburan kali ini saya sekeluarga di fasilitasi oleh perusahaan, sehingga bisa mendapatkan penginapan yang cukup bagus di villa kalica. 1 villa berisi 3 buah kamar tidur yang cukup luas, dengan teras dan dapur dibagian luar serta kolam renang keluarga yang cukup besar. Kamarnya cukup bersih dan terawat, dengan 2 kamar mandi dibagian dalam kamar dan 1 kamar mandi dibagian luar kamar.

Berakhir pekan bersama keluarga dengan bermalam  di pantai tanjung lesung akan menjadi sebuah liburan yang sangat mengesankan.

Keluarga kecilku

Keluarga kecilku

img_20160911_084538img_20160911_084407

Zetha saat beraksi

Zetha saat beraksi

~RTM
23 08 16

Menilik lokasi tragedi lumpur Lapindo

Baru saja 2 minggu yang lalu berangkat menuju kota Pasuruan, masa aku harus kembali lagi untuk melaksanakan tugas kantor di salah satu instansi milik pemerintah. Padahal, sumpah aku paling malas jika berhubungan dengan customer ber-plat merah. Maklum biasanya agak ribet soal administrasi dan masalah lainnya, belum lagi unit yang bakal aku inspeksi kali ini adalah unit hibah dari pemerintah Jepang bagi warga Pasuruan. Singkat kata, pemerintah Jepang memberikan hibah beberapa unit hydraulic excavator untuk dipakai di sungai Brantas, akan tetapi sebelum dipakai ternyata unit tersebut mengalami masalah sehingga terpaksa aku harus turun tangan melakukan inspeksi.

Meski agak sedikit malas, akhirnya aku terima tugas tersebut untuk kembali melakukan perbaikan dan inspeksi total sehingga unit tersebut bisa dipakai lagi. Dengan menggunakan moda transpotasi darat yaitu kereta api akhirnya ku putuskan berangkat di hari selasa pagi dari stasiun Gambir sehingga bisa tiba di Surabaya malam nanti dan bisa istirahat sejenak di Surabaya. Aku putuskan untuk tidak berangkat naik pesawat karena alasan phobia terbang ku yang sedang kambuh, jadi meski hanya 1 jam di udara pasti membuatku sedikit pusing dan berkeringat dingin lagi. Lagipula pemandangan sepanjang jalur kereta yang akan dilewati sangat indah sehingga sayang untuk dilewatkan.

Meski memakan waktu hampir 9 jam perjalanan darat, tidak membuatku risau karena ada beberapa hajatku yang belum kesampaian ketika tugas kedua kemarin yaitu: Masjid Akbar Surabaya dan Lumpur Sidoarjo. Rasanya penasaran betul ingin melihat bagaimana persisnya lokasi tragedi lumpur Lapindo tersebut yang hampir tiap pergi dan pulang selalu aku lewati. Siapa tahu kali ini aku akan lebih beruntung untuk singgah dan melihat luapan lumpur Lapindo yang sangat terkenal tersebut.

Lumpur Lapindo adalah suatu peristiwa bocornya pengeboran gas bumi yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, salah satu Kabupaten di Jawa Timur. Kebocoran pengeboran gas bumi tersebut dilakukan atas kelalaian PT. Lapindo Brantas. Dengan adanya kebocoran gas tersebut, maka mengakibatkan dampak bagi masyarakat terhadap kehidupan sosial ekonomi. Dampak lumpur Lapindo ini sangat dirasakan oleh masyarakat di 3 (tiga) Kecamatan yakni Kecamatan Porong, Kecamatan Jabon, dan Kecamatan Tanggulangin. Hal ini terbukti sebagian wilayah yang dekat dengan semburan lumpur Lapindo seperti: Rumah, pabrik, sawah, tempat ibadah, sekolah dan lainnya yang tergolong bagian dari kehidupan sosial ekonomi menjadi lautan lumpur Lapindo.

Monumen

Monumen

Banjir lumpur panas Sidoarjo, juga dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.. Sungguh tragis memang bila kita mengingat kejadian yang menimpa warga Sidoarjo yang terkena bencana Lumpur Lapindo pada tahun 2006 lalu. Ribuan hektar tanah dan bangunan terendam lumpur dan banyak warga yang telah menjadi korban atas bencana tersebut.

Pemandangan dari arah tanggul

Pemandangan dari arah tanggul

Gunung Penanggungan

Gunung Penanggungan

Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan. Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi.

Pusat semburan lumpur

Pusat semburan lumpur

Meski bukan sebuah pemandangan yang indah, namun kami datang untuk menjawab rasa penasaran tentang bagaimana bentuk luapan lumpur lapindo ini. Beruntung, karena kebetulan sedang melakukan tugas kerja di Pasuruan yang pasti jalannya melewati lokasi ini akhirnya kami sempatkan untuk melihat bagaimana dahsyatnya bencana lumpur lapindo. Dengan memarkir mobil 4WD disalah satu pom bensin yang sudah tidak beroperasi, akhirnya kami bertiga bergegas menyeberang jalan untuk kemudian naik ke atas sebuah tanggul yang cukup tinggi di sisi sebelahnya.

Lumpur yang mengeras

Lumpur yang mengeras

Salah satu plakat kekesalan warga

Salah satu plakat kekesalan warga

Perlahan tapi pasti tangga lusuh yang dibangun warga kami naiki, sehingga mulailah perlahan muncul didepan mata sebuah pemandangan yang cukup mengerikan. Entah apa yang ada dipikiranku saat pertama kali melihat hamparan tanah berwarna putih cerah didepan mata. Mataku hampir tak berkedip menyaksikan luasnya tanah lapang dengan kontur bergelombang dihadapan mata. Sesekali aku menyeka keringat yang membasahi keningku karena matahari bersinar cukup terik. Terkadang aku menutup hidung untuk menghalang bau menyengat yang timbul akibat muntahan lahar lumpur yang menyembur jauh di depan sana. Masyaallah, begitu hebatnya bencana lumpur ini sehingga tidak meninggalkan sisa pemukiman penduduk sedikitpun.

~RTM
27-08-2015

CATPER 5 : Indahnya Pemandangan Kabupaten Solok

Hampir 10 hari berada di kota Padang, selama itu pula saya hanya diajak berkeliling diseputaran kota tersebut. Maklum, pekerjaannya cukup besar sehingga tanggung jawabnya juga sedikit lumayan. Jika boleh saya infokan, nilai pekerjaan ini cukup fantastis jika customer membeli komponen yang baru dengan harga Rp. 7,5 M. Akan tetapi, karena perusahaan memberikan optional untuk memperbaiki saja, sehingga nilai pekerjaannya jauh dibawah harga tersebut. Wajar saja karena nilainya yang cukup besar, customer selalu mengejar-ngejar agar pekerjaan tersebut cepat selesai.

Sebenarnya untuk pekerjaan saya sendiri hanya dibagian awal dan akhir saja, akan tetapi karena delay material dari Samarinda mengharuskan saya menunggu tanpa ada kepastian kapan material tersebut datang. Selama tiga hari tanpa kabar, akhirnya tepat pada pagi tanggal 25 Februari 2015 saya mendapatkan kepastian bahwa material tersebut sedang dalam perjalanan menuju kota Padang dan saat ini masih berada di Kabupaten Sijunjung. Apa salahnya jika kami pick up sendiri, karena jika menunggu mungkin akan memakan waktu satu hari lagi. Dengan langkah cepat dan berdiskusi dengan atasan, akhirnya kami sepakat akan menjemput material tersebut di tengah jalan dengan alasan akan memangkas waktu.

Salah satu keindahan perjalanan menuju Solok

Salah satu keindahan perjalanan menuju Solok Source

Mulailah pagi itu kami bersiap-siap, di kantor perwakilan padang. Dengan menggunakan kendaraan double cabin akhirnya kami melakukan perjanjian akan menjemput material tersebut di kabupaten Solok yang berjarak beberapa jam dari kota Padang. Perjalanan dari kantor terasa tanpa hambatan sama sekali, akan tetapi ketika melewati tempat bernama Indarung setelah PT Semen Padang terasa sekali perubahannya. Jalannya semakin menanjak terjal, bahkan melebihi tanjakan di alas roban, nagrek dan tanjakan emen. Masyaallah, jalannya menanjak dan berbelok tajam tepat berbentuk setengah anak panah. Bisa dibayangkan jika akan melewatinya, kendaraan harus mengambil sisi bagian luar dari jalan disebelahnya. Alhasil, jika truk yang lewat maka akan terjadi antrian yang cukup panjang hingga beberapa ratus meter.

Setelah beberapa lama menanjak, ternyata saya temukan satu lokasi yang menarik untuk dikunjungi yaitu taman hutan raya Bung Hatta. Taman hutan raya ini berada pada ketinggian 400-1.300 mdpl (meter di atas permukaan laut). Taman Hutan Raya Bung Hatta memiliki beragam jenis tanaman, seperti Raflesia Gaduansi, Balangphora sp, Amorphopalus (bunga bangkai), anggrek alam dan binatang yang dilindungi, seperti siamang, kambing hutan, tapir, beruang, harimau Sumatra, burung kuau, dan lainnya. Sayang karena waktu itu kami harus mengejar waktu jadi kami hanya singgah sebentar dan tidak masuk ke dalam taman tersebut.

Bung Hatta

Bung Hatta Source

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali, menuju kabupaten Solok. Perjalanan kami masih ditemani oleh rimbunnya hutan dan udara yang sejuk serta kabut tebal disisi gunung. Entah berapa lama kami berjalan, ternyata cacing didalam perut sudah mulai bernyanyi dan minta diberi makan. Maklum pagi tadi hanya sarapan nasi goreng sedikit, jadi tangki ini rasanya sudah kosong karena jalan yang menanjak ini. Karena tak ada warung tegal disepanjang perjalanan, akhirnya kami putuskan untuk mampir dan membeli buah-buahan yang ada disepanjang jalan menuju solok dengan harapan bisa mengganjal perut yang sudah mulai kosong ini.

Lokasi istirahat

Lokasi istirahat

Si Atoy (bukan nama sebenarnya) mekanik sekaligus sang supir  dengan sigap langsung menepikan kendaraan disisi jalan. Ternyata dia juga sudah lapar sekaligus mengantuk. Maklum suasana sejuk dan perjalanan yang jauh sungguh menguras tenaga. Buah markisa menjadi sasaran kami yang pertama kali dihajar, selanjutnya pisang dan beberapa potong dodol yang dibungkus dengan daun jagung. Nah yang bikin saya keheranan adalah dodol tersebut. Ternyata dodol nya adalah dodol buatan “Cililin Bandung…” Aih serasa di lembur…

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Tanpa terasa sudah dua keranjang buah markisa dan 1 sisir pisang yang saya tidak tahu namanya pisang apa, tetapi rasanya sangat manis telah habis kami santap berempat. Selanjutnya adalah buah yang dari tadi membuat saya penasaran, yang sepertinya segar. Saya pun baru pertama kali bertemu dengan buah ini. Warnanya begitu cerah menggoda dan kelihatannya berasa seperti tomat. Langsung saja saya ambil sebuah dan saya gigit, dan ternyata rasa buahnya malah seperti buah kecapi. Rasanya kecut-kecut segar. Saya lihat isi dalamnya, dan ternyata mirip seperti buah terong. Jangan-jangan ini yang namanya buah terong belanda. Karena cukup masam, akhirnya saya hanya habiskan sebagian saja dan sisanya saya buang.

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Pemandangan dari warung oleh-oleh

Lokasi istirahat

Lokasi istirahat

Entah buah apa ini ?

Entah buah apa ini ?

Tak lama berselang, akhirnya kami sampai juga di kabupaten Solok yang memakan waktu 2 jam naik kendaraan dari Padang. Apa yang dibayangkan oleh kami berempat semenjak perjalanan dari kios buah tadi ? Tepat, warung nasi…!!! Maklum sudah lewat tengah hari, sehingga perut ini mulai keroncongan karena buah pengganjal yang tadi sudah diserap menjadi energi. Ya, pas diperempatan jalan dekat sebuah SPBU kami menemukan sebuah warung makan yang cukup nyaman dengan view bukit yang menghijau. Karena tidak ada menu yang lain selain masakan padang, selera makan kami sedikit turun. Maklum seminggu kebelakang baik pagi, siang, dan malam kami disuguhkan masakan santan ini, sehingga agak sedikit bosan dengan menu yang ini-ini saja. Meskipun selera makan kami sedikit turun, tetap saja nasi nya harus nambah.

Begitulah, selepas makan kami telpon sang supir penghantar barang dan ternyata jaraknya sudah dekat dengan tempat kami makan. Akhirnya kami janji bertemu di satu titik untuk bertemu dan mengambil barang tersebut. Selang beberapa lama, truk tersebut sampai dan kami langsung mengambil barang yang kami butuhkan dan segera kembali ke padang untuk menyelesaikan pekerjaan.

~RTM
25-02-2015

CATPER 4 : Kota Tua Padang

Melanjutkan tulisan saya berjalan kaki di kota padang yang luar biasa indahnya dengan landscape pantai dan bukit serta penataan tata letak bangunan yang tertata apik disepanjang pantai, saya lanjutkan berjalan menyusuri siang hari yang terik tersebut dengan harapan bisa lebih banyak mendapatkan tempat menarik di kota ini.

Selepas mengambil foto, saya lanjutkan mengambil ke arah kiri dari jembatan dan menemukan beberapa bangunan cukup tua jejak peninggalan Belanda.  Kota yang dibangun oleh Belanda ini masih dapat dilihat sampai sekarang. Kantor Gubernur Belanda berada berseberangan dari gedung DJB, persis di samping jembatan Siti Nurbaya. Kini beralih fungsi jadi Kantor Inspektorat Wilayah Sumbar yang terkesan menutupi kesan aslinya. Di sekitar tepian Batang Arau berjejer gedung milik perdagangan Belanda.

The Javasche Bank

The Javasche Bank Source

Yang menonjol yakni Nederlandche Handel-Maatschappij (NHM), perusahaan perdagangan Belanda yang menggantikan fungsi VOC. Saat ini, gedung NHM difungsikan sebagai gudang milik swasta. Gedung yang berada di jajaran NHM ini merupakan perkantor perusahaan dagang Belanda: Steffan, Guntzel, Veth, Tels & Co, Hautten, Geowehry Jacobson van Den Berg, Tels & Co.

Klenteng See Hin Kiong

Klenteng See Hin Kiong Source

Bangunan Tua

Bangunan Tua Source

Masih penasaran dengan bangunan tua disekitar area tersebut, saya lanjutkan berjalan ke arah kiri dan menemukan komplek perkampungan China dan beberapa bangunan klenteng. Kelenteng See Hin Kiong merupakan salah satu bangunan yang mencolok saat melintasi Kampung China. Warna merah dan kuning memadati oranamen-ornamen yang dibalut aura naga. Bangunan tua tempat beribadat tiga agama ini (Budha, Kong Hu Chu, Tao) dibangun sekitar 1861. Kelenteng yang awalnya bernama Kelenteng Kwan Im Tem dibangun kembali pada 1905 oleh Kapten Lie Goan Hoat. Gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter September 2009 merusak bangunan ini. Kini, Kelenteng See Hin Kiong difungsikan sebagai museum. Sedangkan kelenteng dengan corak serupa dibangun sekitar 100 meter dari bangunan lama.

Sumber :
1. Sini
2. Sini

~RTM
22-02-2015

CATPER 3 : Pantai Padang Dan Jembatan Siti Nurbaya

Satu hal yang menjadi kebiasaan saya yang mungkin tidak bisa hilang ketika menjejakan kaki pertama kali di tanah yang belum pernah saya kunjungi adalah dengan cara berjalan kaki. Bukan, bukannya saya tak ingin memakai moda transportasi yang banyak dan lebih praktis tapi saya lebih memilih berjalan kaki untuk mengetahui sejauh mana saya bisa menemukan beberapa spot menarik di kota tersebut. Hal ini saya lakukan pertama kali dulu di tahun 1998, ketika hendak kuliah di Bandung. Saya berjalan kaki dari terminal Leuwi Panjang hingga terminal Kebon Kalapa. Kemudian dari jalan Taman Sari hingga jalan Riau lalu tembus ke jalan Aceh hingga Kiara Condong.

Begitu pula dulu ketika saya menginjakan kaki untuk pertama kalinya di kota Sengatta Kutai Timur, saya rela berjalan kaki dari Teluk Lingga hingga Sengatta Lama. Nah yang bikin saya tertawa adalah ternyata kota tersebut hanya sebatas sengatta lama saja, kemudian jalannya berputar dan kembali ke jalan Diponegoro terus ke simpang Bontang. Lumayan lah, jadi saya bisa tahu jalan alternatif dan beberapa tempat bagus di kota ini. Demikian halnya dengan beberapa kota lain seperti Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Makassar, Soroako, Mataram, Satui, Tabalong, Melak, hingga kota Cikarang sendiri.

Kota Padang memang adalah kota pertama kali saya jejakan kaki di tanah Sumatera mendapat perlakuan yang sama dengan kota-kota lainnya. Ya, saya harus mengenal kota ini lebih dekat lagi dan saya ingin menyusuri lorong-lorong kota ini untuk mencari tempat-tempat istimewa di kota ini. Beruntung, hingga akhir pekan ternyata material yang kami tunggu belum juga datang dari Samarinda sehingga sabtu-minggu besok akan libur. Jadi saya susun sebuah rencana untuk pergi di pagi hari dengan spot pertama adalah Pantai padang yang terletak tepat didepan hotel saya menginap. Berbekal sarapan pagi, 2 botol air mineral, serta sandal jepit biru saya niatkan untuk menyusuri kota Padang dengan cara berjalan kaki.

Padang Sunset

Tepat jam 07:00 saya keluar dari lobby hotel dan dengan tatapan serta langkah yang mantap saya niatan untuk ke lokasi pertama yaitu Pantai Padang. Rutenya lumayan jauh dari hotel, mungkin sekitar beberapa ratus meter saja. Tetapi yang namanya di kota, tetap saja jalan kaki segitu kerasa juga capeknya. Apalagi pagi ini cuacanya lumayan cukup panas, jadi butir-butir keringat mulai keluar dari tubuh saya. Untuk sampai ke lokasi, ternyata harus melewati beberapa persimpangan. Nah yang jadi masalah, ternyata kota Padang memiliki ratusan persimpangan yang semuanya mirip satu sama lain. Bahkan lebih parah dari kota Bandung, alhasil saya harus tersasar beberapa kali di persimpangan Pasar Raya. Berbekal ilmu survival dan naluri yang saya dapatkan ketika menjadi seorang pendaki gunung dulu, akhirnya saya bisa keluar dari labirin simpang 5 pasar raya dengan memakan waktu sekitar 30 menit. Masih ada beberapa persimpangan lagi yang mesti saya lewati untuk sampai di tempat tujuan.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya saya tiba di Pantai Padang. Pantainya cukup baik, dengan beberapa buah pemecah ombak terbuat dari batu yang tertata dengan rapih. Sayang, tempat pertama kali yang datangi cukup tinggi sehingga sulit untuk turun dan menikmati ombaknya. Tempatnya cukup ramai, apalagi banyak berjejer kios-kios makanan yang menyediakan es kelapa hijau dan ikan bakar. Lokasinya yang tepat berada di dekat kota menjadikan pantai ini sebagai salah satu tujuan utama untuk melepas penat.

Pemecah Ombak

Pemecah Ombak

Menariknya lagi, pemandangan yang indah ini saya dapatkan secara gratis. Ya, tanpa tiket masuk dan kita bisa langsung menikmatai hamparan laut yang terbentang luas. Ombak disini cukup lumayan besar, sehingga agak berbahaya jika berenang. Ada tanda peringatan yang cukup besar disekitar lokasi tersebut, agar para pengunjung berhati-hati.

Papan Peringatan Berenang

Papan Peringatan Berenang

Puas menikmati pemandangan laut, kemudian saya lanjutkan berjalan lagi ke arah selatan dan tak lama berjalan saya menemukan gedung budaya Sumatera Barat. Sayang saya tak sempat masuk kedalamnya karena masih tutup dan suasananya masih sepi. Saya lanjutkan berjalan kaki dan menemukan sebuah persimpangan yang cukup membingungkan. Beruntung saya melihat papan petunjuk yang agak tertutup daun yang cukup lebat. Wow, Jembatan Siti Nurbaya ternyata tepat di depan jalan yang akan saya lalui. Lumayan lah pikir saya, dengan sekali jalan ada beberapa tempat menarik di kota Padang ini bisa saya kunjungi.

Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya

Saya agak mempercepat langkah kaki agar segera bisa sampai di jembatan yang sangat terkenal itu. Kurang lebih 15 menit, akhirnya saya sampai di Jembatan Siti Nurbaya. Pemerintah membangun jembatan ini untuk menghubungkan Gunung Padang dan kota Padang. Tepat dibawah jembatan ini banyak perahu yang bersandar. Ternyata waktu yang paling cocok untuk mengunjungi lokasi wisata ini adalah pada waktu menjelang matahari terbenam, karena kita dapat menyaksikan keindahan pemandangan matahari terbenam dari jembatan tersebut.

 Bersambung

~RTM 22-02-2015

CATPER 2 : Kota Padang Di Pagi Hari

Selepas memanjakan mata dengan pemandangan ratusan modifikasi ekstrem angkot di kota Padang, akhirnya saya diajak berkeliling sejenak ditengah kota. Ada beberapa spot menarik yang biasa digunakana muda-mudi menghabiskan waktu. Karena waktu sudah larut malam, saya kurang memperhatikan ditempat mana saja saya diajak untuk berkeliling saat itu. Biasalah, masih jet lag dan efek UAS yang bikin saya sempoyongan mengatur ritme nafas kali ini. Saya juga berfikir pasti nanti bakal ada jeda libur di sabtu-minggu, sehingga saya bisa keliling padang secara bebas. Akhirnya kami langsung menuju Hotel R*cky yang berada di dekat area pasar raya Padang.

Sunrise 1

Sunrise 1

Tanpa menunggu lama, akhirnya kami dapatkan kunci kamar di hotel tersebut. Kali ini saya mendapatkan kamar nomor 705 yang berada di lantai 7, udah kebayang khan harus naik lagi ? Mana bawaannya banyak dan badan baterrainya udah hampir setengah, ditambah mesti naik lagi ke lantai atas. Dengan setengah sempoyongan saya paksakan untuk naik lift dan menuju kamar tersebut. Tapi betapa terkejutnya saya saat pintu kamar mulai terbuka, kebetulan waktu itu kerai jendela nya belum di tutup sehingga pemandangan jelas kota Padang dari atas hotel ditengah malam membuat rasa letih ini seolah hilang. Subhanallah, cantik sekali kotanya. Semakin membuat saya penasaran bagaimana kondisi nanti disaat siang. Sayang, pemandangan cantik ini ternoda oleh bau yang kurang sedap mirip ketika saya tinggal lama di Kalimantan. Ya, bau tak sedap tersebut berasal dari karet mentah yang saya tak tahu dari mana asalnya. Setelah puas melihat pemandangan kota ini Padang ditengah malam, saya langsung istirahat karena hari sudah terlalu larut.

Karena sangat letih sekali akhirnya saya langsung tertidur pulas malam itu. Suara orang mengaji akhirnya mengusik telinga saya di pagi itu. Saya lihat jam di handphone ternyata baru jam 04.00 pagi, tetapi dibawah kamar saya terdengar banyak sekali orang beraktivitas. Masih bisa shalat tahajud nih, langsung saya sempatkan mengambil air wudhu untuk sejenak melupakan urusan dunia , menghadap Allah sebagai zat terbaik untuk mengadu dipagi ini. Pagi yang indah diawali dengan kebaikan, semoga siangnya akan mendapat keberkahan. Amien… Tak lama berselang, adzan shubuh pun menyambut dipagi nan indah tersebut.

Spot Terbaik Dari Dinggir Jendela

Spot Terbaik Dari Dinggir Jendela

Rasa penasaran selepas bangun tidur tadi membuat saya membuka jendela dan mencoba melihat apa yang terjadi diluar sana. Kembali bau tak sedap langsung menyambar hidung saya dipagi itu, padahal jika tidak ada bau tersebut akan lebih bagus lagi. Ternyata dibawah hotel tempat saya menginap adalah tempat para petani menjual hasil kebunnya seperti buah pisang dan lain-lain. Wah, mirip banget dengan suasana kota Bandung. Udaranya yang sejuk, suara orang mengaji di surau dan aktivitas orang berjualan tersebut mirip ketika saya dulu kost di jalan dedes dekat kantor muhammadiyah kota Bandung.

Sunrise 2

Sunrise 2

Sinar surya perlahan mulai menampakan sinarnya di ufuk timur. Nampak jelas terlihat guratan sinar jingga nya mulai menembus awan putih di atas bukit sana. Kali ini saya tak perlu mendaki gunung untuk mendapatkan sunrise, karena saya bisa mendapatkannya disini. Tak perlu membawa peralatan banyak untuk mendaki gunung, tak perlu fisik yang prima dan persiapan yang matang untuk menikmati indahnya mentari pagi. Cukup dengan bangun sedikit lebih awal, membuka jendela kamar dan saya bisa menikmati indahnya mentari pagi yang terbit dari balik bukit. Hehehe…. lengkap lah sudah, tidur dikasur empuk sambil menikmati secangkir kopi panas dan menikmati nikmat karunia-Nya.

Padang Di Pagi Hari

Padang Di Pagi Hari

Eits… tunggu dulu, semuanya belum berakhir dipagi itu. Selepas shalat dhuha dan berniat turun ke bawah untuk sarapan dan menunggu jemputan ke tempat bekerja, kembali saya disuguhkan pemandangan eksotis dari depan lift. Ya, pemandangan laut biru yang menghampar luas dapat terlihat jelas dari depan pintu kamar dan dari sebelah lift tersebut. Subhanallah, ternyata kota Padang sangat lengkap. Dikelilingi oleh bukit yang berjejer indah dan hamparan laut lepas…

~RTM
16-02-2015

CATPER 1 : Angkot Padang Bikin Takjub

Sesuai dengan janji dan tekad saya di postingan sebelumnya, bahwa saya akan mencoba untuk menulis kembali minimal 1 tulisan 1 minggu. Gak perlu target mesti setiap hari 1 tulisan, meskipun terkadang pengen rasanya bisa menulis 1 hari 1 halaman. Tapi mau dikata apa, kesibukan ini betul-betul menyita habis waktu saya. Baiklah, saya akan coba menulis catatan perjalanan melakukan perjalanan dinas ke kota Padang kemarin.

Jika sebagian orang akan terpukau dengan indahnya pesona alam di tanah Sumatera, lain halnya dengan saya. Maklum, ini adalah kali pertama saya menjejakan kaki di bumi Sumatera setelah sekian lama hanya bisa berharap dapat bertugas ke sini. Tepat tanggal 15 Februari 2015 yang lalu, dengan bantuan penerbangan QG 973 Jakarta – Padang akhirnya saya bisa menjejakan kaki di kota Padang. Yups, meski harus menahan rasa gugup ketika harus kembali melakukan penerbangan di sela beberapa musibah kecelakaan pesawat dan pengalaman pahit saya ketika terbang. Mana cuaca sedang tidak bersahabat lagi, sudah terbayang pasti perjalanan ini akan memakan waktu yang lama, karena phobia terhadap CAT (clear air turbulence) tetap saja menghantui pikiranku. Bissmillah, semoga perjalanannya dimudahkan do’aku dalam hati.

Alhamdulillah, ternyata ketakutanku tidak menjadi kenyataan karena begitu lepas landas cuacanya cukup bersahabat dan hampir tidak terjadi guncangan yang berarti. Beruntung saya naik pesawat sore, sehingga saya bisa melihat pemandangan kota Padang dari atas diwaktu malam. Meski tidak sempat mendapatkan gambarnya, saya sungguh takjub dengan pemandangan tersebut. Selang beberapa saat, akhirnya pesawat saya mendarat mulus di Bandara internasional Minangkabau dan saya langsung dijemput untuk langsung menginap di hotel karena besok pagi sudah harus masuk tambang untuk bekerja.

Ternyata perjalanan dari bandara ke hotel tempat saya menginap cukup jauh, sehingga perut yang dari siang tadi belum diisi kini mulai menagih janji. Akhirnya kami mampir sejenak di salah satu tempat makan yang cukup ramai di tengah kota dekat dengan salah satu mall dan memesan makan malam. Selang beberapa saat, saya dikejutkan oleh suara raungan dari knalpot mobil dan suara bass yang di stel full. “Wah mobil sport nih pikir saya”, maklum hari itu adalah hari minggu dan mungkin banyak para remaja yang ingin keluar untuk sekedar nongkrong di mall. Akan tetapi betapa terkejutnya saya ketika yang lewat tersebut hanya mobil Suzuki Carry 1.5 yang ayah saya miliki dirumah. Yang lebih mengagetkan lagi ternyata yang lewat tadi hanyalah sebuah angkot…?!

Angkot Padang

Angkot Padang Source

Bujug dah…mobil angkotnya saja suaranya dan modifikasi soundnya kaya gitu, gimana mobil pribadinya ?
Belum lagi cutting sticker dan mobil ceper yang membuat mobil angkot tersebut mirip mobil-mobil yang ikut dalam NASCAR. Tak henti-hentinya saya takjub dengan pemandangan tersebut. Belum hilang rasa kagum saya, sebuah angkot Toyota kijang kembali lewat dengan suara yang lebih gahar. Para sopir angkot rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk memodifikasi angkot-angkotnya agar terlihat lebih keren dan menarik. Bodi dan kaca angkot penuh dengan stiker bahkan hingga pelek rodanya.

Ceper abis

Ceper abis

Edan… tingkat modifikasi angkot di Padang cenderung ekstrim untuk ukuran sebuah angkot… ?!

Menurut seorang teman yang asli sana, orang Padang itu “pamiliah” (pemilih) angkot. Kalau Angkotnya jelek (biasa aja tidak dimodifikasi) dan gak ada musik, gak ada penumpang yang mau naik. Jenis angkutan umum darat yang paling laris di Kota Padang adalah angkot. Uniknya modifikasi angkot di Kota Padang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penumpang dan wisatawan.

Angkot Ceper

Angkot Ceper Source

Terbayang, suasana saat naik angkot pun akan seperti berada di dalam diskotik dengan hingar bingar alunan musik yang membahana yang mungkin dapat didengar dari jarak 50 m dari luar angkot. Di dalam angkot pun ada hiasan lampu warna warni yang berkedip-kedip dan memusingkan mata jika belum terbiasa. Alunan musik yang diputar bermacam-macam, ada musik rock, hiphop, dangdut, pop, hingga lagu minang.

Sound systemnya

Sound system Source

Sound systemnya

Sound system Source

Entah benar atau tidak, angkot-angkot di Padang merupakan sebuah seni yaitu seni dekorasi dan seni marketing. Maka tak ada salahnya jika nanti berkunjung ke kota Padang, naik angkot merupakan list yang tak boleh terlewatkan.

~RTM
15-02-2015

Kereta Api Argo Bromo Anggrek

Akhirnya… setelah lama bergelut dengan pekerjaan dari kantor dan kampus, saya baru bisa kembali berkunjung di blog yang sudah hampir berdebu ini. Kangen juga rasanya, lama tidak menyapa kawan-kawan di WP meski kadang masih bisa bersilaturahmi lewat salah satu group di WA.

Baiklah kawan-kawan untuk mempersingkat waktu, saya akan coba menulis sedikit tentang perjalanan tugas saya di kota Surabaya. Yups… kota pahlawan, kota kenangan. Kota terbesar kedua di negeri tercinta Republik Indonesia.

Perjalanan tugas kali ini bukan seperti perjalanan tugas saya sebelum-sebelumnya. Karena biasanya saya selalu bepergian dengan menggunakan jasa pesawat terbang. Bahkan boleh dibilang dulu ketika masih bertugas di Kalimantan, naik pesawat terbang sudah seperti naik angkot. Hehehe… bukannya sombong, tapi memang begitu keadaannya karena kondisi jalan darat yang memang rusak parah. Mulai dari pesawat kelas ekonomi hingga pesawat kelas lumayan. Padahal waktu masih sekolah dulu, boro-boro punya pikiran bisa naik pesawat karena maklum lahir dari keluarga pas-pasan eh malah sekarang naik pesawat udah kaya naik angkot. Hari ini di Jakarta, nanti siang di Balikpapan eh sore nya sudah sampai Makasar atau Mataram. Kebayang kan bokong saya udah hampir rata ? :mrgreen:

Kali ini saya akan coba naik angkutan umum Kereta Api. Yups… kereta api, angkutan massal yang mungkin terkesan jauh dari manusiawi. Jaman masih berambut gondrong dulu, jika kiriman telat terpaksa saya pulang dari Bandung naik moda transportasi yang satu ini. Dengan harga tiket yang Rp.1.500 saya bisa sampai di kota Purwakarta. Dilanjut dengan mengeluarkan Rp.700 dengan gagah saya bisa sampai di kampung halaman di Cikarang. Jangan pikirkan kenyamanan yang didapatkan, sudah bisa duduk saja alhamdulillah. Belum lagi kalau ketemu sama rombongan pedagang kambing dan tukang sayur mayur. Bisa kebayang khan, udah rambut gondrong, muka kucel, bau pesing kambing + bau jengkol atau petai yang nempel di baju. Nasib…nasib….

Itu dulu, ketika tahun 1998 an. Sekarang moda transportasi darat ini sudah jauh dari kesan kumuh. Ketika terakhir kali saya naik kereta ekonomi jurusan Jakarta Kota – Purwakarta pada tahun 2013 ini karena mengikuti permintaan si kaka Rinjani, ruangannya sudah sangat nyaman sekali. Ber-AC dan tempat duduk sudah di pas, sehingga tidak boleh ada yang berdiri. Pedagang asongan serta pengamen pun sudah jauh berkurang dan perjalanan 2 jam tersebut berlalu tanpa terasa berat.

Argo Bromo Anggrek

Argo Bromo Anggrek source

Saya diberi pilihan untuk naik pesawat kelas ekonomi atau kereta kelas eksekutif ? Nah berhubung kali ini tugas saya ke Surabaya membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia, rasanya kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Sekali-kali, saya juga ingin merasakan nikmatnya naik kereta kelas eksekutif yang jarang sekali saya dapatkan. Akhirnya, saya mantapkan pilihan untuk naik naik kereta api eksekutif argo bromo anggrek pagi. Tidak apa-apalah meski harus 9 jam duduk di bangku kereta api, rasanya bangku kelas eksekutif ini akan terasa nyaman sekali.

Cabin Eksekutif Argo Bromo Anggrek

Cabin Eksekutif Argo Bromo Anggrek source

Kereta api Argo Bromo Anggrek adalah kereta api kelas eksekutif argo tertinggi yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesiadi Pulau Jawa dengan jurusan Stasiun Gambir (GMR) dari dan ke Surabaya Pasar Turi (SBI). Kereta api ini berangkat 4 kali dlam sehari (2 Surabaya,2 Jakarta). Untuk dari Jakarta sendiri KA 2 (Anggrek Pagi GMR-SBI) dan KA 4 (malam) untuk yang berangkat dari surabaya KA 1 (pagi) dan KA 3 (malam).

Selama perjalanan sejauh 725 km tersebut, kereta api ini menyuguhkan pemandangan eksotis jalur KA pantura. Jalur yang masih dalam proses double track. Kereta ini menghabiskan waktu sekitar 9  jam kalau pas dan tidak tertahan sinyal. Kadang kalau tertahan sinyal bisa telat 15 menit (pantauan mudik hari raya 1434 H/2013). Akan tetapi sial nya ketika saya berangkat, bertepatan dengan kunjungan bapak wakil presiden ke Malang. Alhasil, telatnya hingga 4 jam.

Tiket Argo Bromo Anggrek Malam

Tiket Argo Bromo Anggrek Malam

Kereta ini berhenti di stasiun Semarang Tawang (SMT), Pekalongan (PKL), Cirebon (CN), Jatinegara (JNG) dan tujuan terakhir Gambir (GMR) untuk KA 1,sementara KA 2 sama hanya saja tidak berhenti di stasiun Jatinegara alias langsung gambir.

Untuk cerita di Surabaya nya nanti, akan saya lanjutkan dilain waktu saja karena mungkin tulisan ini sudah terlalu panjang. Buat kawan-kawan yang ingin melakukan perjalanan ke Surabaya, tidak ada salahnya anda harus mencoba moda trnasportasi ini. Selain pelayanannya yang sangat lumayan kita juga tidak usah khawatir karena tidak membawa makanan dan minuman, karena ternyata didalam kereta ini pun disediakan aneka makanan dan minuman ringan.

~RTM
02-12-2014

Rute Nekat Menuju Pantai Tanjung Pakis Karawang

Pintu Masuk Kawasan

Pintu Masuk Kawasan

Sumber gambar : Klik
Sebenarnya perjalanan ini telah lama saya lakukan, tetapi entah mengapa setelah melihat daftar tulisan-tulisan sebelumnya tidak ada satupun yang membahas tentang tempat ini. Mungkin sudah menjadi kebiasaan yang selalu telat untuk memutuskan apakah akan menuliskannya di sini atau tidak, atau mungkin karena rentetan tugas kampus yang seolah sangat menyita waktu saya belakangan ini sehingga hampir lebih satu bulan blog ini tidak terurus.

Jika bukan karena bro proleevo mungkin satu lagi titik perjalanan ini akan sedikit redup di ingatan. Begitulah memang jika menjadi warga biasa yang harus membagi waktunya dengan pekerjaan, pendidikan dan keluarga. Sehingga target bisa menulis minimal 10 buah tulisan dalam sebulan tidak pernah bisa terealisasi.:D

Kembali ke tujuan semula, kali ini saya akan berbagi lagi satu buah spot menarik yang sangat-sangat sayang untuk dilewatkan terutama bagi anda yang berdomisili di seputaran Jakarta, Bekasi, Karawang, Bogor dan Purwakarta. Kawasan wisata keluarga Pantai Tanjung Pakis Karawang. Kawasan wisata yang terletak di Desa Pakisjaya Kecamatan Kecamatan Pakisjaya, kurang lebih sekitar 60 – 70 kilometer dari pusat kota Karawang.

Survey Lokasi :D

Survey Lokasi 😀

Kawasan wisata yang mulai ramai di awal 90an ini sudah sangat terkenal oleh para penduduk yang berdomisili di seputaran area bekasi dan karawang. Meskipun sangat sederhana dan terkadang airnya sangat keruh, tempat wisata ini adalah sebuah alternatif liburan yang cukup murah. Sehingga ketika musim liburan tiba seperti lebaran maupun liburan sekolah, kawasan ini selalu ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Alhasil saya pernah terjebak macet selama hampir 5 jam untuk sampai dikawasan ini.

Ada beberapa alternatif untuk mencapai lokasi ini, pertama melalui Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, atau anda bisa melalui pintu masuk Tol Karawang Barat.
Jika anda menginkan waktu tempuh yang singkat dan jalur yang menantang, pilihlah alternatif melalui Bekasi, tetapi jika ingin lebih lama namun bisa pergi ke objek wisata lain seperti Rumah Laksmana Maeda, Candi Batujaya atau mau mengenang Chairil Anwar di Tugu Perjuangan Karawang-Bekasi.

Dari Kabupaten Bekasi anda bisa melalui rute menuju Masjid At-taqwa pondok pesantren KH.Noer Alie pahlawan nasional asli Bekasi. Dari sana anda lurus saja melalui Babelan. Rute disana cukup ekstrim dan gersang. Jalannya cukup seru untuk dilalui dengan kendaraan off road, maklum rute ini sering digunakan oleh truck pengangkut minyak mentah milik PT Pertamina. Setelah melewati hamparan sawah, dan pipa penyalur minyak bumi, anda akan menemukan sebuah kapal terdampar dari sebuah jembatan, lokasi ini disebut dengan Kali Cibe’el (CBL = Cikarang Bekasi Laut). Kembali berjalan beberapa kilometer, baru anda akan memasuki perbatasan Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Karawang yang dibelah oleh sungai besar, kawasan ini disebut Muara Gembong.

Sedangkan apabila anda dari Cibitung atau Cikarang, anda bisa melalui jalan Fatahilah – RE Martadinata – KI Hajar Dewantara – Sukatani – Garon. Atau biasanya dari arah cibitung setelah melewati terminal cikarang anda akan melewati SGC (Sentra Grosir Cikarang) kemudian mengambil arah ke Kampung Pilar (sebeleh kiri) dengan menyebrangi rel kereta api untuk menuju ke Sukatani.

Untuk saat ini kondisi jalan di Muara Gembong sudah cukup rapih dengan coran beton yang cukup kuat. Pembangunan jalan ini dimulai kurang lebih sekitar tahun 2008 dimulai dari arah Sukatani – Garon – Muara Gembong.

Eretan

Eretan

 

Jembatan Baru

Jembatan Baru

Dimulai dari daerah garon, Anda akan banyak menemukan tulisan “Sewa Eretan” di sepanjang jalan. Eretan menjadi satu-satunya alat transportasi penghubung antara Kabupaten Karawang dan kabupaten Bekasi yang dibelah oleh Sungai Muara Gembong atau Sungai Citarum. Eretan adalah perahu yang terbuat dari susuanan kayu, dan ditarik menggunakan tali seling, hampir mirip dengan Getek, namun eretan lebih kokoh. Meski agak sedikit ngeri untuk menyeberang, akan tetapi eretan cukup aman untuk di naiki. Sekedar tips keselamatan : “Ada baiknya jika naik eretan, anda harus turun dari kendaraan sehingga apabila terjadi sesuatu akan lebih mudah dan leluasa untuk menolongnya”.

Jika anda beruntung, anda akan menemukan Biawak dengan ukuran yang cukup besar lalu lalang di pinggir jalan, atau hanya sekedar untuk menyebrang menuju rawa-rawa di sepanjang jalan.

Biaya untuk menyebrang dengan eretan bervariasi mulai Rp.10.000 untuk motor, dan Rp.30.000 – Rp.50.000 untuk mobil, tergantung jenis mobil, dan Rp.2.000 untuk penumpangnya. Setelah menyebrang anda akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Pakis sekitar 1.5 jam. Jika sudah menemukan banyak tambak udang dan bandeng, artinya anda semakin dekat dengan tujuan.

Hamparan Pasir...

Hamparan Pasir…

 

Mencari Rebon

Mencari Rebon

 

Kerang

Kerang

 

Kelomang

Kelomang

Anda harus membayar sebesar Rp 25.000/orang untuk memasuki kawasan Pantai Tanjung Pakis, karena sudah dikelola dengan pihak pemerintah setempat, sehingga kondisi Pantai Tanjung Pakis sudah lebih baik. Disana anda bisa menyantap hidangan laut yang masih segar dari tangan para nelayan tambak yang menjual hasil tambaknya di rumah makan yang berjejer apik di pinggir pantai dengan tambahan buah kelapa hijau, anda juga bisa menyewa penginapan dari harga termurah Rp.100.000/kamar sampai yang paling mahal Rp.700.000/kamar, adapula olahraga pantai seperti ATV, bodat, dan permainan ketangkasan lainnya yang cocok untuk putra putri anda.

Menikmati Kelapa Hijau

Menikmati Kelapa Hijau

 

Merenung...

Merenung…

 

Hmm...

Hmm…

Nah selamat berlibur…..

Sumber :
1. Klik
2. Klik

Sudan & Semua Kisahmu…

Sudan sebuah kata yang cukup familiar di telingaku ketika pertama kali menjejakan kaki di tanah ini. Mungkin karena teringat kebiasan orang sunda yang selalu menyingkat dua kata menjadi satu kata seperti Gehu (Toge Tahu), sebuah cemilan ringan yang selalu ku beli ketika dulu masih menjadi mahasiswa d kota kembang bandung. Barangkali karena kebiasaan menyingkat kata tersebutlah yang membuatku berfikir keras sehingga menemukan arti dari kata Sudan ini. Ya.. Kota Satui atau biasa orang familiar menyebutnya Sudan (Sungai Danau), entah mengapa nama desanya lebih terkenal ketimbang nama kecamatannya. Satu fenomena unik di sini, para sopir travel lebih tahu lokasi sungai danau ketimbang satui yang merupakan ibukota kecamatan.

Rumah berlantai dua dengan pelataran cukup luas seakan menjadi saksi kehidupan di tanah rantau selama hampir 3 tahun kebelakang ini. Well… Life must go on, isn’t it…?i Selama beberapa waktu ini memang ada sedikit penurunan produksi yang berimbas pada tutupnya beberapa operasi penambangan batu bara di negeri tercinta ini. Apakah karena efek dari krisis global atau karena beberapa spekulasi dari para pengusaha untuk menurunkan target produksinya sehingga memaksa melakukan reduce cost yang berdampak pada turunnya pendapatan bagi sebagian karyawan. Sebagian orang memang beruntung dengan kondisi seperti ini, akan tetapi bagi sebagian lainnya yang menggantungkan ekonomi sepenuhnya pada sektor ini akan berdampak besar sekali. Begitulah memang kondisi yang terjadi ketika salah satu kontraktor tambang melakukan mogok operasi.

Keluarga Besar Sungai Danau

Keluarga Besar Sungai Danau


Karena kondisi seperti itulah, memaksa kami para karyawan yang ditugaskan untuk mensupport di area tersebut harus rela jika harus kembali di mutasikan ke tempat lain yang mungkin situasinya agak lebih baik. Bukannya menolak untuk dipindahkan ke tempat lain, akan tetapi ada alasan lain yang membuatku hati ini terasa kerasan tinggal di sini. Akses yang cukup dekat dengan bandara yang hanya memakan waktu perjalan darat sekitar 3.5 jam, dibandingkan site-site lainnya yang harus di tempuh dengan perjalanan minimal 6 jam. Begitupun dengan mess tempat kami tinggal selama menjalani tugas kantor yang merupakan mess terindah dan terbagus milik perusahaan 😀

Ada segurat asa tertinggal di tanah satui ini, kota penuh kenangan. Kenangan akan debu yang beterbangan hingga membuat olahraga yang kami lakukan serasa sia-sia. Kenangan akan keramah-tamahan ading-ading yang menjadi bahan ejekan kami, dan sejuta kenangan tentang arti sebuah persahabatan di mess H.Taufik. Bermain gitar melepas penat dan rasa rindu yang dalam pada keluarga yang ditinggalkan menjadikan satu titik terindah yang tidak akan terlupakan dalam hidup. Yang akan menjadikan satu cerita indah untuk anak cucu kami, bahwasanya leluhur mereka pernah membuat satu kenangan manis di tanah satui.

Semoga saja, semuanya cepat berlalu sehingga mereka yang menggantungkan hidup di sungai danau bisa kembali beraktifitas lagi. Sungai danau dan sejuta kenangan indahnya akan selalu membekas di hati ini…

Note : Maaf izin masang photo yach 😀